Chana turun saat seorang pelayan memanggilnya untuk makan malam bersama keluarga. Dia tak memiliki pakaian yang pantas, namun dia juga telah mengambil keputusan bulat untuk tidak menutupi semuanya.
"Pakaian apa yang kau kenakan?" Tegur Mesya dingin saat melihatnya baru saja duduk dengan patuh.
Elden yang sedari tadi menikmati kopi dari gelas di hadapannya sebelum acara makan di mulai mengangkat wajahnya lurus. Matanya jatuh pada jejak merah yang terlihat mencolok di antara kulit seputih salju.
"Aku tak memiliki pakaian lain,"
"Chana!" Bentak Elden tak tertahankan bahkan Chassy yang baru saja tiba berjangkit kaget. "Kau! Jejak apa yang ada di tubuhmu! Apa yang telah terjadi!"
Mesya yang sedari tadi diam kini mulai meneliti tubuh Chana dan matanya tiba-tiba membulat. "Oh, Chana, bagaimana bisa kau - tidak, sayang ini tidak mungkin. Itu adalah jejak-"
"Siapa yang melakukannya?" Potong Elden tak menutupi amarahnya.
Mendengar itu Chana sama sekali merasa tak terganggu. Dia hanya menatap ayahnya sekilas lalu pada ibu tirinya, Mesya dengan datar. "Apakah kita tak akan memulai makan malamnya? Ayah, aku sangat lapar," itu benar, dia tak memiliki makanan dengan benar sejak malam panas yang telah terjadi bahkan untuk satu ini. Perutnya saat ini telah memberontak ingin diisi.
Melihat tanggapan Chana yang acuh tak acuh, Chassy tersenyum tipis. Sepertinya kakaknya ini masih saja bodoh sampai harus mengatakan hal yang tak patut di acara makan malam keluarga. Tapi kali ini tak akan membantu untuk memberikan dorongan agar ayah dan ibunya mengampuni Chana. Dia hanya akan menonton dan memperlihatkan posisinya yang di rumah utama keluarga ini lebih stabil dan kuat dari Chana yang putri tertua.
"Chana!" Tekan Elden sekali lagi. Kedinginan melintasi matanya dengan jejak kekhawatiran yang samar. Dia adalah putrinya yang sangat patuh dan jarang mengeluh, tapi kali ini dia mendapati tanda yang memperjelas kekhawatirannya. Belum lagi, kini putrinya itu terlihat dingin dan acuh tak acuh.
"Sayang, hentikan. Tekanan darahmu akan naik jika kau seperti ini. Aku akan bicara dengan Chana-"
"Itu bukan masalah besar." Potong Chana jelas. "Aku melewatkan malam bersama pria asing yang meninggalkan tanda ini di tubuhku," lanjutnya santai seoalah itu bukan masalah besar.
"Apa?" Kini Elden dan Mesya tampak syok akan kejujuran Chana yang tak mereka duga. Mereka jelas tahu tanda apa di tubuh Chana, hanya saja mereka tak menyangka bahwa Chana akan jujur semudah itu tanpa menutupi segalanya.
"Kak, jadi maksudmu kau tidur dengan pria acak yang bahkan tak kau kenali?" Chassy menutupi mulutnya dengan tangan kanannya namun di balik tangannya senyum puas terlihat. Matanya menyampaikan tatapan polos yang begitu kaget dengan karakter Chana yang semakin tak ia kenali. Tapi dia sangat puas dengan hal ini. "Astaga, bagaimana kau bisa seperti ini padahal-"
"Apa kau akan mengangkat tema kesucian?" Potong Chana dingin. Matanya beralih menatap Chassy seakan memperjelas kata 'aku tidak peduli', pada tatapannya. "Itu hanya sebuah kata 'perawan' dan aku melepaskannya. Apakah itu masalah besar?"
Brak! Elden menggebrakan kedua tangannya di atas meja membuat piring dan sendok bergeser dari tempatnya. Matanya menatap Chana marah dan menampilkan jejak kekecewaan yang dalam. Putrinya yang lugu kenapa menjadi nakal seperti ini?
"Bisa-bisanya kau mengatakan hal itu dengan mudah. Apakah kau gila?"
"Sayang,"
Chana menarik sudut mulutnya dengan helaan panjang. Matanya menatap ayahnya lembut. "Ayah, bukankah kau seharusnya bertanya, apakah putrimu ini baik-baik saja? Siapa yang mengatur semua ini pada putrimu mengingat selama ini putrimu sangat patuh dan pendiam? Aku pergi bersama Chassy, dan berada di kamar yang sama, namun Chassy, bahkan tak memiliki satu pun jejak kekhawatiran di tubuhnya? Apakah ini sudah memperjelas semuanya? Dia bahkan mengatakan orang yang tak kukenal itu sebagai temanku,"
"Kakak!" Chassy bangkit dan langsung menangis. "Apa yang kau katakan? Aku-"
"Oh, sekarang air mata? Chassy, kau tahu aku tak bisa minum, tapi kau memberikan satu botol penuh yang membuat tubuhku terasa panas. Apakah itu kurang jelas?"
"Kak, aku tak tahu apa yang kau katakan."
"Oh, jika tidak maka ingatanku ini sangat bermasalah. Mengingat aku adalah orang yang bodoh,"
Elden dan Mesyaa menatap pertengkaran dingin antara Chana dan Chassy. Elden menatap Chassy curiga namun menyembunyikannya dalam-dalam. Dia bukan tak tahu karakter Chana, tapi semua hal yang Chana katakan cukup masuk akal.
"Kalian hentikan! Chassy, duduklah di tempatmu," tegur Mesya menengahi. "Dan Chana, ibu akan katakan ini. Apakah kau benar-benar tak tahu pria yang tidur denganmu?"
Chana menggeleng, samar dia hanya mengingat wajah tampan yang dapat menggulingkan kota.
"Karena sudah seperti ini, keluarga Logan tak akan menerimamu dengan mudah. Tidak, sebelumya keluarga Logan sudah tak menyetujuimu, tapi dengan kasus ini kurasa-"
"Dia sudah tahu," potong Chana cepat.
"Apa?" Kini Elden terhenyak, meneliti ekspresi Chana dan lebih terkejut saat melihat tak ada jejak kecewa atau penyesalan di sana. "Chana, Logan ...,"
"Kita akan menjaga jarak. Tidak, aku tak masalah jika rencana pernikahan antara aku dan Logan akan dibatalkan. Lagi pula aku tak ingin menikah."
Mata Chassy berbinar, namun dia menyembunyikan kesenangannya dengan rapat. Mesyaa juga menatap Chana heran, namun kemudian menatap Chassy dengan penuh arti. Sedangkan Elden memiliki ekspresi rumit yang sulit diartikan. Elden sangat tahu bagaimana putrinya, Chana, begitu bergantung pada Logan. Tapi sekarang putrinya mengatakan tak ingin menikah. Tidak, kenapa dia merasa putrinya begitu banyak berubah?
"Apakah itu tidak masalah bagimu?" Tanya Elden sedikit lembut. "Ayah bisa-"
"Ayah, aku baik-baik saja," potong Chana meyakinkan.
Elden mengangguk kemudian, menyembunyikan jejak kekhawatiran dan rasa marahnya. "Kita mulai makan malamnya,"
Di tengah suasana makan yang hening, suara Chassy terdengar kemudian.
"Ayah, kudengar Kak Agraf akan segera kembali."
Chana mengehentikan sendoknya sesaat namun kemudian meletakkannya dengan hati-hati. Saat nama Agraf terdengar, senyum sangat samar muncul di sudut bibirnya. "Apakah akhirnya Agraf kembali? Apakah dia telah menyelesaikan hukumannya di Kota G?"
"Chana!" Tegur Mesya lembut dengan penuh penekanan. "Dia juga kakakmu."
"Tidak," bantah Chana tak kalah cepat. "Aku tak ingat memiliki kakak laki-laki. Tapi yang kutahu, dia adalah putra luar ibu dan merupakan kakak tiri Chassy. Apakah aku salah?"
"Kak Chana!" Kali ini Chassy merasa tak terima.
"Chana, ada apa denganmu?" Tegur Elden dingin. Ini sudah kesekian kalinya, Chana mampu mengaduk emosinya. Putrinya harusnya tidak seperti ini. Tidak, jika dia mengingat Chana haruslah orang yang sangat mengidolakan Agraf bahkan menuntut pengakuan Adik dari pria itu. Tapi kini, Chana seolah merasa bahwa kembalinya Agraf adalah masalah baginya.
"Apakah kata-kataku salah ayah?"
Elden menatap lurus tatapan Chana yang tenang, menekan emosinya dalam satu garis yang tak dapat ia mengerti. "Itu,"
"Karena aku telah menyelesaikan makan malamku, maka aku akan pulang." Putus Chana tak sabar, dia berdiri dengan cepat.
"Kau tak ingin menginap?"
Chana menoleh, menatap ayahnya dingin. "Bukankah ayah mengatakan bahwa aku harus hidup mandiri?"
Jawaban dingin yang tak kenal batas, membuat Elden bungkam. Benar, itu adalah keputusannya, mengasingkan Chana untuk hidup terpisah di sebuah apartemen sederhana yang Mesya tentukan sebagai pembelajaran karena putrinya sangat boros. Mesya mengatakan bahwa kebodohan Chana dalam menghamburkan uang juga sangat suka berbelanja hingga dia harus menekan semua kegiatan Chana. Tapi, saat melihat mata jernih itu, pikirannya sangat ragu. Benarkah putrinya seperti itu?