Pagi itu Allena datang pagi-pagi sekali dengan SUV mewah merah miliknya. Ia sangat bersemangat, bahkan saking senangnya senyuman perempuan itu merekah sepanjang perjalanan. Tak bisa tertahan lagi. Sampai-sampai ia tiba di kantor sangat pagi sekali. Hampir belum ada siapapun, hanya beberapa orang saja yang baru tiba. Salah satunya Azura yang sedang berdiri dihadapan resepsionis untuk mengambil id card-nya.
“Azura! Kau tak bilang akan berangkat pagi? Untung aku tidak menjemputmu.” Ujar Allena ketika ia berbaris tepat dibelakang sahabatnya itu.
Azura mendesis lalu menoleh kearah Allena. “Basa-basi. Padahal halte bus tempatku menunggu kau lewati. Kau pasti tak berhenti saat aku tak ada disana. Dasar!” Azura menepuk lengan Allena sesaat.
Bukannya kesal, Allena justru terkekeh hingga tersenyum semakin lebar. Ia diam beberapa saat ketika Azura mengambil id card-nya. Setelah Azura selesai gilirannya maju.
“Nama?”
“Allena Davidson.”
Resepsionis itu menatapnya beberapa saat sebelum memberikan id card dengan warna dasar gold padanya. Tidak seperti Azura yang diberikan id card dengan warna biru. Allena tersenyum pada resepsionis tersebut kemudian bergumam terimakasih sebelum akhirnya mendekati Azura yang masih menunggunya.
“Allena! Dimana posisimu?” tanya Azura seraya meraih id card milik Allena yang sudah tergantung dileher. Setelah membaca dengan teliti Azura nampak terdiam beberapa saat sebelum menatap Allena lagi.
“Kenapa Ra?” tanya Allena dengan kening bertautan, merasakan ada yang aneh dengan ekpresi sahabatnya itu. “Apa ada yang salah?”
Azura tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, setelah itu ia menggerakkan hidungnya sesaat lalu terkekeh pelan. “Aku hanya iri. Kau magang dengan posisi tinggi.”
Allena menarik kedua ujung bibirnya, lalu merangkul Azura ketika mereka berjalan menuju lift, “Tidak begitu Ra, posisimu juga hebat. Aku hanya kebetulan saja mendapatkan posisi ini.” Allena menghela nafas panjang. “Sudah ya ... nanti kita bertemu saat makan siang. Bye bye ... .” Allena melambaikan tangannya pada Azura kemudian berjalan memasuki lift khusus untuk menuju lantai tempat ruangan presedir berada.
Begitu sampai Allena langsung berjalan dengan cepat menuju sebuah meja yang berada di depan pintu ruangan Jason. Sebelumnya hanya ada satu kursi yang selalu diduduki oleh Zahira, sementara sekarang ada dua, disebelah kursi itu ada satu kursi lain yang juga dilengkapi sebuah laptop didepannya.
“Apa ini tempat dudukku?” gumaman Allena, bertanya pada dirinya sendiri dengan senyuman yang semakin mengembang..
“Benar. Itu milik anda Ms. Davidson.”
Allena menjengit ketika mendengar kalimat itu. Ia segera berbalik lalu mendapati seorang pria berdiri dibelakangnya.
Lelaki itu tersenyum saat menyadari kebingungan Allena. Kemudian ia membungkuk sesaat sebelum berujar. “Saya Tommy Elton. Asisten pribadi Mr. Archilles.”
“Ah ... itu.” Allena membungkuk sesaat. “Aku Allena. Mr. Elton, kau tak perlu bersikap sesopan itu padaku. Aku hanya karyawan magang.” Ujarnya merasa tak enak hati dengan sikap Tommy padanya.
“Sudah tugas saya Ms. Davidson. Sekarang saya undur diri.”
“Hm, Mr. Elton.” Panggil Allena sebelum lelaki yang sepertinya seusia dengan Jason itu beranjak pergi.
“Ya? Ada yang anda perlukan?”
“Hm, jika pagi begini. Apakah Jason sering meminum kopi? Atau sesuatu yang lain? Ah! Maksudku Mr. Archilles.”
Tommy menyunggingkan senyumannya. “Jika ingin, anda bisa menyiapkan kopi dan juga kudapan ringan untuk Mr. Archilles di pantry dalam ruangannya. Saya juga sudah menyimpan stok kudapan kesukaan Mr. Archilles disana.”
Allena menatap Tommy ragu.”Apa aku boleh masuk? Maksudku, Mr. Archilles belum datang.”
Tommy mengangguk samar dengan senyuman yang masih terpatri pada wajah tampannya. “Silahkan Ms.Davidson.”
Senyuman Allena merekah kembali ketika mendapatkan ijin. Ia melangkah memasuki ruangan Jason kemudian berjalan kearah pantry yang sebenarnya lebih mirip dengan bar, setelahnya ia menyiapkan kopi dengan air panas dan juga memindahkan beberapa kue pada sebuah piring kecil. Beruntunglah ia sudah belajar membuat kopi dan menghidangkan sesuatu sejak kecil, sehingga tak ada alasan baginya untuk tidak percaya diri ketika menghidangkan kopi tersebut kehadapan Jason. Allena menarik nafas panjang.
Kira-kira bagaimana ya reaksi Jason nanti ketika meminum kopinya?
Clek!
Allena berbalik ketika pintu ruangan itu terbuka. Senyuman perempuan itu semakin merekah sempurna ketika sosok tampan yang ia bayangkan datang.
“Selamat pagi Jason.” Sapa Allena. “Kau sampai.”
Jason pun mengulas senyumannya. “Pagi Allena. Sedang apa kau diruanganku?”
Allena tak langsung menjawab, ia berjalan kearah Jason dengan nampan yang berisi secangkir kopi dan satu piring kudapan yang beberapa saat lalu ia siapkan. Setelahnya ia simpan dihadapan Jason. “Ini ... aku membuatkan ini.” Allena menghela nafas. “Maaf aku lancang masuk, tapi tadi aku sudah meminta ijin pada Tommy.” Ujarnya.
“Tak masalah. Aku memang sudah berpesan padanya. Kau tak perlu sungkan.” Ujar Jason kemudian meraih cangkir kopi itu. Ia menyesapnya sesaat sebelum menikmati satu seruput cairan hitam kental dalam cangkir tersebut. Sementara itu disisi lain Allena menatap Jason penuh minat. Ia berharap jika Jason menikmati kopi tersebut lalu ... memberinya sedikit pujian?
“Jam berapa kau datang?” tanya Jason seraya meletakkan cangkir itu kembali ketempatnya. “Padahal kantor masih cukup sepi.”
Allena merengut mendengar pertanyaan itu, ia kecewa Jason tidak memberikan komentar sama sekali terhadap kopi yang ia buatkan. Ia pikir setidaknya Jason akan mengatakan kopi itu tak buruk, atau cukup enak? Sayang sekali, pria itu tidak mengatakan apapun.
“Dasar pria berselera tinggi.” Ujar Allena dengan suara nyaris berbisik.
“Allena?”
“Ya. Mr. Archilles?” Allena tersenyum tipis. “Sebaiknya aku kembali ke tempatku dan menunggu Ms. Vishaka untuk menerima tugas pertamaku.”
Jason mengulum senyumannya ketika melihat ekspresi kecewa Allena. “Enak. Kopi yang kau buat enak Allena.”
“Hng?” Allena mendongak menatap Jason yang kini tersenyum tipis padanya. “Apa?”
“Kopi yang kau buat, sangat enak Allena.” Ujar Jason lagi dengan iris mata tak lepas dari wajah cantik Allena yang kini mulai menunjukkan semburat merahnya. “Kau benar-benar sudah dewasa sekarang. Sudah bisa membuatkan kopi untukku hm?”
“Itu karena aku selalu membuat untuk Dad, Papa atau Aaren.” Ujar Allena. “Lagipula seseorang mengatakan padaku kalau aku harus cerdas dan mandiri agar aku dinikahi. Jadi ... selama ini aku pikir aku sudah melakukannya dengan sangat baik.” Allena menunduk sesaat sebelum menatap Jason lagi. “Aku hanya perlu menunggunya, mungkin sebentar lagi?”
Jason terdiam, setelah beberapa saat kemudian ia tersenyum samar. “Suamimu dimasa depan pasti sangat beruntung mendapatkanmu.” Jason menghembuskan nafasnya. “Kembalilah kemejamu. Jam kerja akan segera dimulai.” Ucapnya lagi sebelum Allena menimpali ucapannya.
Allena yang baru saja ingin membuka mulut, segera menutupnya kembali. Setelah itu ia berpamitan lalu menunduk sebelum beranjak meninggalkan ruangan itu. Allena menghembuskan nafas panjang setelah duduk.
Kenapa sekarang, rasanya Jason sedang berusaha menghindarinya? Tapi kenapa?
***
“Pagi-pagi melamun?”
Allena mendongak, bersamaan dengan itu ia segera berdiri lalu menunduk pada wanita yang baru saja tiba dan duduk disampingnya. “Ms. Vishaka selamat pagi.”
Zahira yang baru saja duduk terkekeh pelan. “Tak perlu seperti itu. Duduklah. Jam kerja akan segera dimulai Ms. Davidson.” Ujarnya seraya mulai menyalakan layar didepannya. sesekali ia melirik kearah Allena yang juga mulai membuka laptop dihadapannya.
“Kau beruntung sekali bisa magang disini, Ms. Davidson. Aku dengar pesaingnya cukup banyak. Tak hanya dari kampusmu saja.” ujar Zahira, ia menatap Allena yang menatapnya dengan tersenyum begitu tenang. “Kau benar-benar beruntung, bahkan bisa magang diposisi ini. Kau pasti sangat pintar.”
“Ah tidak. Bukan begitu Ms. Vishaka. Aku merasa mungkin aku hanya ... dititipkan? Mr. Archilles adalah teman orangtuaku. Mungkin saja aku hanya beruntung karena mengenal Mr. Archilles sejak lama. Bukan karena hal lain.” Allena mengembangkan senyumannya. “Untuk itu saya memohon bantuan anda, Ms. Vishaka.”
Senyum Zahira kembali mengembang, tangan kanannya terangkat menepuk lengan Allena sesaat sebelum kembali menariknya. “Aku akan berusaha sebisaku. Tanyakan saja jika memang kau membutuhkan bantuan.”
Allena menganggukkan kepalanya.”Terimakasih Ms. Vishaka.”
Zahira menganggukkan kepalanya, lalu menatap lamat Allena yang sedang berkutat dengan laptopnya yang baru menyala. Setelahnya ia menyerahkan sebuah dokumen pada Allena. “Mr. Archilles kemarin mengatakan kau harus membuat laporan dari dokumen ini. Paling lambat sebelum makan siang kau sudah menyerahkannya.” Ujar Zahira sebelum berdiri dengan dokumen lain ditangannya. “Pelajari dulu, jika ada yang tidak kau mengerti kau bisa tanyakan nanti. Aku akan menemui Mr. Archilles sebentar.”
Allena menatap Zahira seraya tersenyum kemudian mengangguk sebelum ia mulai membuka dokumen ditangannya.
“Mr. Archilles.” Zahira memasuki ruangan Jason setelah mengetuk pintu itu beberapa kali. Kemudian ia berjalan kearah pria itu lalu menyerahkan dokumen ditangannya. “Laporan dari project pengembangan game online.” Wanita itu meletakkan dokumen tersebut dihadapan Jason. “Dari yang saya amati, sampai sejauh ini belum ada game yang memenuhi standar anda, terlebih untuk perancang game pemula. Menurut saya pribadi rencana dari para pembuat game masih mentah dan tidak ada sesuatu hal yang bisa dikatakan spesial dari setiap unsur yang mereka berikan. Selain itu, semua design dari karakter yang diberikan para perancang game itu semuanya cenderung sama. Mereka hanya menonjolkan keseksian dari semua karakter perempuan sebagai daya tarik tanpa memikirkan alur atau skenario dalam game tersebut.” Jelas Zahira ketika Jason mulai membaca lembar perlembar laporan ditangannya.
“Lalu menurutmu apa yang sebaiknya aku lakukan?” tanya Jason seraya menyimpan dokumen ditangannya. “Menolak rancangan mereka?”
Zahira tersenyum. “Tidak. Daripada kita menolak rancangan mereka secara langsung. Sebaiknya kita melihat demo dari semua game tersebut. Anda dapat menilai dan memutuskannya setelah itu.”
Jason mengalihkan pandangannya kearah Tommy yang sedang bekerja di ruangan lain dengan pintu yang berhubungan langsung dengan ruangannya. “Menurutmu bagaimana Tommy?” tanyanya.
“Saya merasa rencana Ms. Vishaka masuk akal. Kita bisa memutuskan setelah melihat demonya.” Ujar Tommy.
“Baiklah.” Jason menatap Zahira lalu menyerahkan kembali laporan tersebut pada wanita itu. “Hubungi mereka semua. Lakukan rapat dengan team setelah makan siang lalu beritahu mereka jika semua yang mengajukan proposal ini, harus membawa demo game dalam waktu tiga minggu. Dan ... satu lagi. Pastikan originalitasnya.”
Zahira menganggukkan kepalanya sesaat setelah itu ia berpamitan, lalu meninggalkan ruangan tersebut dengan senyuman yang merekah dibibirnya. Ia sangat puas dengan tanggapan Jason terhadap gagasannya. Ia senang setidaknya Jason mau mendengarkan sarannya dan tidak memandangnya seperti musuh lagi.
Ketika sampai di meja kerjanya ia melirik Allena yang sedang sibuk. Ia tersenyum sesaat sebelum kembali mengerjakan tugas yang baru saja Jason berikan. Ia harus segera menghubungi team yang bertanggung jawab untuk game ini dan menyampaikan seluruh pesan yang diberikan oleh sang pemimpin.
Zahira meraih gagang telepon dihadapannya lalu berbicara melalui telepon yang berada ditelinga kanannya. “Setelah makan siang siapkan untuk rapat.” Ujar Zahira, setelah mendapatkan jawaban ia segera mengakhiri panggilan itu lalu menatap kearah pekerjaan Allena.
Cukup bagus. Pikir Zahira sebelum ia sendiri melanjutkan untuk membuat laporan lainnya.
Baik Allena atau Zahira, mereka sibuk dengan laporan masing-masing, meskipun saling bersisian namun mereka tak mengeluarkan suara sama sekali. Mareka hanya diam dan fokus pada dokumen dihadapan mereka itu.
Zahira melirik jam dimejanya, ketika merasa Allena mengerjakan laporannya terlalu lama. Bertepatan dengan itu Allena berujar, yang membuat Zahira menoleh kearah perempuan muda itu.
“Selesai.” Ujar Allena diiringi dengan senyumannya yang merekah.
“Aku lihat.” Zahira memeriksa laporan Allena, ia membaca laporan tersebut dengan teliti hingga akhirnya ia berucap kembali. “Bagus, rapih juga..” Puji Zahira dengan tangan yang mulai sibuk untuk menghubungi pemimpin team itu.
Allena tersenyum tipis. “Saya hanya melakukan semampu saya Ms. Vishaka. Mungkin akan banyak sekali kekurangan.”
Anggukkan Zahira berikan. “Kalau begitu segera berikan pada Mr. Archilles. Sebelum dia pergi untuk makan siang.” Ujar Zahira yang segera diangguki oleh Allena.
***
Setelah mencetak laporan yang dibuatnya, Allena segera memasuki ruangan Jason dengan membawa laporan ditangannya. “Mr. Archilles.” Sapa Allena, ia membungkuk sesaat lalu menyimpan dokumen ditangannya tepat dihadapan Jason. “Ini laporan yang anda minta.”
Jason mendongak sesaat lalu segera membaca laporan yang diberikan oleh Allena padanya. Pria itu membacanya dengan mata setajam elang, terlihat sangat teliti seolah tak membiarkan kesalahan tertinggal dalam laporan itu. Beberapa saat kemudian Jason mendongak menatap Allena kembali.
“Bagus, laporanmu sangat rapih Allena. Pertahankan, aku harap kau selalu bekerja serapih ini dan lain kali buatlah laporan sedikit lebih cepat. seharusnya aku menerima laporan ini jam sebelas, tapi sekarang sebentar lagi waktu istirahat makan siang tiba. Kau hampir terlambat satu jam.” Jelas Jason tanpa melepaskan iris mata keemasan itu dari iris matanya.
Allena mengerjapkan matanya kemudian menunduk, senyuman yang sebelumnya merekah kini bahkan luntur karena ucapan itu. Jujur saja, ia kecewa. Kecewa pada diri sendiri yang begitu lambat. Tapi ia hanya ingin memberikan laporan yang sempurna. tidak bermaksud untuk bersantai atau berleha-leha dalam mengerjakan tugasnya.
Ketika Allena hendak berujar, suara Tommy terdengar menyela.
“Mr. Archilles saya pergi untuk makan siang lebih dulu.” pamit pria dewasa itu.
“Tommy.” Panggil Jason sebelum asistennya itu keluar dari dalam ruangannya.
“Ya?”
“Kau hadiri rapat bersama Zahira.”
Tommy mengangguk. “Saya pergi sekarang.” Ujar Tommy sebelum benar-benar meninggalkan ruangannya.
Sementara itu Allena masih berdiri ditempatnya dengan kepala menunduk. Menghindari tatapan tajam Jason yang begitu mengintimidasinya. Tubuh Allena menegang, kedua tangannya bahkan kini bertautan dengan erat ketika mendengar suara sepatu Jason yang mulai mendekat kearahnya. Kemudian ia rasakan usakan pelan pada puncak kepalanya.
“Kau sudah melakukan yang terbaik Allena, tidak perlu bersedih.” Ujar Jason. Tangan besar pria itu yang sebelumnya berada di puncak kepala Allena kini turun memberikan membelai dengan begitu lembut.
“Allena.”
“Aku tidak melakukannya dengan cepat.” ujar Allena. “Aku lambat.”
Jason terkekeh. “Tak apa, sudahku bilang kau melakukannya dengan baik. Seseorang tanpa pengalaman sepertimu sudah sangat bagus bisa menyelesaikannya serapih ini.”
“Tapi tadi ... .”
“Aku hanya memberimu saran.”
Mata Allena mengerjap. “Benarkah? Tapi kenapa aku merasa dimarahi?”
Kekehan kembali keluar dari mulut Jason. Kemudian dengan gemas ia mengusak puncak kepala Allena beberapa saat, sedikit mengacak rambut perempuan itu.
“Kalau begitu maafkan aku.” Jason mengembangkan senyumannya. “Aku tak bermaksud seperti itu.”
Allena menatap Jason dengan bibir yang masih mencebik. “Aku akan memaafkanmu asal kau memberikanku hadiah.”
“Hadiah?” kening Jason berkerut. “Hadiah seperti apa?”
“Jason!”
Jason tergelak. “Baiklah ... baiklah. Aku akan memberimu hadiah. Katakan. Kau ingin apa dariku?” Jason menatap Allena dengan tatapan yang lebih hangat, pria itu menunduk menatap Allena yang kini menatapnya dengan mata berbinar. Perempuan itu bahkan tersenyum begitu lebar sebelum akhirnya ia mengatakan hadiah yang diinginkannya.
.
.
.
“Menikahlah denganku.”
***