Suasana hati Allena pagi itu tidak begitu baik. Sejak semalam ia masih berpikir tentang Jason bahkan hingga membuatnya sulit tidur. Memang terdengar berlebihan, tapi jujur saja pikiran buruknya malam tadi membuatnya benar-benar terganggu dan membuatnya tidak bisa terlelap.
Allena menghembuskan nafas pelan seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dengan pandangan yang tak lepas dari jalanan macet ibu kota.
“Ada apa?” tanya Aaren yang duduk dibalik kemudi. Pagi menjelang siang kakak-beradik itu memang sedang dalam perjalanan menuju kampus dalam kendaraan yang sama. Sang adik melirik Kakaknya yang masih bergeming, melamun menatap pemandangan didepannya dengan pandangan kosong. “Mom bilang semalam kau berdebat dengan Dad lagi?”
“Hm.” Gumam Allena sebagai jawaban. Perempuan itu membasahi bibirnya sebelum berujar. “Tapi bukan itu masalahnya.”
“Lalu?”
“Jason.” Allena menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan. Mengingat nama itu, mendengar nama itu keluar dari mulutnya sendiri. Membuat perasaan Allena kembali terasa buruk. Ia benar-benar sangat terganggu dengan kenyataan Jason yang bersenang-senang bersama wanita lain. Sungguh, ia masih belum bisa menerima kenyataan itu dengan lapang d**a. “Aku mendengar dia sering mengganti pasangannya, maksudku ... .” Allena menghembuskan nafasnya, tak sanggup melanjutkan kalimat yang berada di ujung lidahnya.
“one night stand?” Aaren menoleh sekilas pada Allena yang menghembuskan nafasnya lagi. “Jason pria dewasa. Sudah menjadi rahasia umum dia selalu berganti pasangan ‘kan? Menurutku juga wajar jika Jason seperti itu. karena laki-laki tetaplah laki-laki. Mereka memiliki kebutuhan yang harus diselesaikan. Terlebih Jason memang incaran banyak wanita. Kau pikir hanya kau yang menginginkan Jason?”
“Tapi apakah harus selalu berganti?” Allena melirik Aaren. “Bukankah lebih baik jika dengan partner yang sama?”
“Memang kau rela Jason memiliki kekasih?”
“Bukan begitu maksudku!” seru Allena tak terima. Ia mendengus kesal. “Jangan membuatku tambah emosi Aaren! Ini masih pagi!”
Aaren tertawa mendengar rajukan Allena, bersamaan ia kembali menjalankan mobilnya ia melirik Allena sesaat. “Jason pria bebas, dia berganti pasangan karena tak ingin terikat dengan seseorang. Karena bagaimanapun jika ia memberikan kesempatan kedua atau ketiga, bisa saja akan hadir cinta yang tidak Jason inginkan bukan? Perempuan rawan terbawa perasaan.” Jelas Aaren membuat Allena menatapnya dengan tatapan aneh dan penuh selidik.
“Darimana kau tau tentang Jason?”
Aaren mengedikkan bahunya lalu melirik Allena sekilas. “Aku hanya menebak.”
“Jangan coba-coba berbohong!” sergah Allena membuat Aaren mendesis.
“Buat apa aku berbohong? Lagipula aku tak ada urusan dengan Jason Archilles.” Setelah mengatakan itu, tangan Aaren terulur menepuk bahu Allena beberapa kali. “Aku hanya mengkhawatirkan Kakakku, itu saja.”
***
“Telpon aku jika urusanmu sudah selesai.” Ucap Aaren setelah Allena keluar dari dalam SUV hitam mengkilatnya. “Dan jangan terlalu banyak melamun. Kau tidak seperti Kakakku jika seperti itu.”
Allena menarik ujung bibirnya kemudian mengusak kepala Aaren sesaat. “Adik manis. Sana kuliah yang benar. Biar cepat lulus.”
Aaren mendengus ketika mendapatkan perlakuan seperti itu, setelahnya berdesis. “Aku bukan anak kecil lagi Allena. Sudahlah. Sana masuk. Aku pergi sekarang.” Pamitnya seraya menutup kaca mobilnya sebelum ia berlalu.
Hembusan nafas terdengar keluar dengan pelan dari hidung Allena. Sekarang hatinya sedikit lebih lega setelah menceritakan seluruh keluh kesahnya pada sang adik. Ya ... setidaknya, perasaan buruk yang ia rasakan tidak seburuk sebelumnya.
“Tumben kalian akur.”
“Astaga! Azura! Kau mengagetkanku.” Seru Allena seraya menepuk pelan lengan sahabatnya itu.
Azura tertawa pelan mendapatkannya, setelah itu merangkul lengan Allena memasuki gedung fakultas bersama. “Memang benar ‘kan? Tak biasanya kalian sangat amat akur sepeti itu. Biasanya kalian akan terus berdebat hingga kau selalu mengeluh tentang adikmu itu.”
“Hari ini dia cukup baik. Jadi aku juga baik padanya.” Ujar Allena diiringi dengan kekehan pelan.
Allena dan Azura memutuskan untuk menyelesaikan terlebih dahulu beberapa hal yang berkaitan dengan magang. Beberapa mahasiswa yang sudah melangsungkan wawancara kemarin memang sengaja dikumpulkan untuk mendapatkan beberapa pengarahan. Terlebih mengenai aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Archilles mengenai berbagai hal dasar seperti tata cara berpakaian dan juga kedisiplinan yang sangat Archilles junjung tinggi.
“Aku mendengar semua yang diminta datang hari ini adalah orang-orang yang sudah dipastikan mendapatkan posisi untuk magang.” Bisik Azura setelah mereka sampai di kantin kampus.”Sepertinya kita mendapatkan posisi itu Allena.” Lanjutnya diiringi dengan senyuman yang sangat lebar. “Ah! Tapi kau pasti di terima Allena, Mr. Archilles bahkan langsung mengenalimu.”
Bukannya senang, Allena justru menghembuskan nafasnya pelan. ia tak bisa tenang terlebih dahulu sebelum surat pernyataan itu benar-benar menyatakan menerimanya. Karena bagaimanapun kemarin benar-benar kacau. Ax mengacaukan semuanya.
Bagaimana jika Jason tidak menerimanya magang karena Ax yang tiba-tiba datang kemarin?
Terlebih pertemuan mereka kemarin terbilang tidak cukup baik. Meskipun hanya saling pandang dengan tatapan dingin, kemudian Ax pamit dan membawanya pergi dari tempat itu, tapi sayangnya lelaki itu membawanya pergi begitu saja tanpa memberikan kesempatan padanya untuk berpamitan pada Jason secara benar.
Lalu pantaskah sekarang ia diterima disana?
Entah mengapa, sekarang ia justru berpikir bahwa Jason tak akan menerimanya karena kehadiran Ax.
“Jika aku sampai tak diterima. Aku akan membenci Ax seumur hidupku!”
“Kenapa tiba-tiba begitu?” tanya Azura dengan kening yang berkerut. “Ah! Ya ... Ax menjemputmu ‘kan kemarin?”
Allena mengangguk. “Darimana kau tau?”
“Aku tanpa sengaja melihatnya.” Azura kemudian berbisik pada Allena. “Apa dia melakukan sesuatu? Seperti menghajar Mr. Archilles. Secara kau tunangannya.”
“Jangan gila! Tidak, tentu saja tidak sampai sejauh itu. Hanya saja semuanya sangat kacau. Aku bahkan tak tau bagaimana caranya bertemu dengan Jason lagi.” Allena menutup wajah dengan kedua tangannya. “Aku benar-benar pusing memikirkannya Azura. Aku pusing.”
“Apa Jason tahu jika Ax itu tunanganmu?”
Allena menggeleng pelan. “Tapi dia pasti akan mencari tahu.” Allena merengut, ia mencengkram rambutnya sesaat sebelum kembali berujar. “Aku benar-benar akan membenci Ax seumur hidupku jika dia membuat Jason jauh dariku! Aku akan membencinya! Lihat saja.”
Azura duduk dengan menghadap kearah Allena yang masih menunduk dengan mencengkram rambutnya. “Sepertinya kau sangat mencintai Mr. Archilles Allen. Apa dugaanku benar?”
“Tentu saja, jika bukan karena itu untuk apa seumur hidupku aku tidak pernah memiliki kekasih? Kau pikir aku menolak laki-laki lain karena apa?” Allena menarik nafas panjang, lalu merapihkan rambutnya lagi.
“Karena kau mencintai orang hebat seperti Mr. Archilles dan selain Mr. Archilles tidak ada lagi yang bisa memenuhi ekspektasimu? Tidak ada yang sesuai keinginanmu?”
Allena menatap Azura. “Intinya, aku hanya menginginkan Jason. Titik.”
Ketika Allena berbicara, tanpa ia sadari seorang lelaki berjalan kearahnya. Lalu berhenti dibelakang Allena. Mendengarkan kalimat yang baru saja Allena layangkan.
“Allena.”
Azura berjengit, kemudian berbalik kearah sumber suara. Sementara Allena tidak memberikan reaksi apapun ketika namanya dipanggil. Ia hanya diam seraya menikmati minumannya.
“Ax.” Ujar Azura ketika melihat sosok dibelakangnya. “Sejak kapan kau disini? Duduklah, kita makan siang bersama.” Ajak Azura seraya menunjuk kursi dihadapan mereka.
Lelaki itu tak menolak, dia duduk tepat dihadapan Allena, menatap sahabatnya itu yang tidak menatapnya sama sekali. Dilain sisi Azura yang merasakan kecanggungan diantara dua orang itu berdiri. Berniat menghindari dua orang itu dulu. karena sepertinya Ax terlihat ingin membicarakan sesuatu dengan Allena.
Allena mendongak menatap Azura. “Kemana Ra?”
“Aku ke toilet sebentar. Tenang saja menyimpan tasku disini, aku tidak akan meninggalkanmu Allen.” Ujar Azura sebelum ia beranjak pergi.
Allena mendengus, ia kemudian berdiri namun ketika hendak beranjak, tangannya ditahan Ax. Lelaki itu menarik tangan Allena dengan paksa, bahkan ketika Allena akan menghempaskannya.
“Ax!”
“Duduk. Aku ingin berbicara.” Ujar Ax dengan tenang.
“Tapi aku tak ingin melihat wajahmu lagi! Aku muak melihat wajahmu Axcelle!” desis Allena dengan tajam. Ia sengaja tidak menaikkan nada bicaranya karena mereka sedang berada di tempat umum dan jika mereka membuat keributan mereka hanya akan menjadi pusat perhatian dan mempermalukan diri sendiri.
“Duduk Allena.” Titah Ax mutlak.
Allena melongos. Perempuan itu mendengus lalu menatap Ax dengan tatapan tajam. “Kau pikir aku akan mengikuti keinginanmu? Jangan bermimpi.”
Ax menarik ujung bibirnya, lalu mendongak menatap Allena dengan tatapan tanpa minat. Lelaki itu membasahi bibirnya sesaat sebelum berbicara. “Kau pikir aku mau duduk bersamamu? Kau pikir hanya kau yang muak?”
Mata Allena mengerjap ketika mendengar kalimat itu. Tatapannya pun kini melunak, tak setajam sebelumnya. Jujur saja, Allena terkejut dengan pertanyaan yang Ax ajukan. Karena selama ini Ax tidak pernah membalas sekalipun ucapannya dengan ucapan seperti itu. meskipun mulutnya memang sangat tajam ketika berkomentar. Tapi dua pertanyaan itu benar-benar menohoknya.
“Aku datang untuk mengajakmu bekerja sama Allena. Duduk.” Ujar Ax lagi. “Jangan keras kepala.” Tegas Ax ketika melihat Allena yang masih berdiri dihadapannya.
Kali ini Allena mengikuti keinginan Ax, ia menghempaskan cengkraman Ax terlebih dulu kemudian duduk dihadapan lelaki itu lagi.
“Langsung saja.” ujar Allena tanpa menatap kearah Ax sama sekali.
“Kau sangat menyukai pria itu?” tanya Ax tiba-tiba.
Allena mendelik, menatap Ax dengan tatapan tajamnya. “Tak bisakah kau katakan langsung saja dengan maksudmu itu?”
“Tidak bisakah kau jawab saja pertanyaanku?” tanya balik Ax.
Allena mendesis. “Tentu saja. kenapa? Kau mau laporkan pada Daddy? Kau mau membuatku tak diterima di Archilles? Hah?!”
“Aku akan membantumu.” Ujar Ax, memotong ucapan Allena. Membuat Allena yang sedang menatap Ax tajam kini justru mengerutkan keningnya, menatap lelaki dihadapannya itu dengan penuh tanya. “Maksudmu?”
“Aku juga tak suka dengan gagasan perjodohan dan pertunangan yang kita lakukan, aku juga sangat muak ketika harus selalu menghadapimu.”
Allena memicingkan matanya. “Kau balas dendam?”
Ax mengedikkan bahu. “Itu yang aku rasakan.” Ax menjeda ucapannya sebelum kembali berujar. “Karena itulah aku akan membantumu mendapatkan pria itu.”
Apa katanya? Membantunya?
Bertepatan dengan itu ponsel Allena berdering, menandakan sebuah pemberitahuan masuk. Namun perempuan itu abaikan. Ia masih menatap Ax dengan mata memicing dan dengan tatapan penuh selidik. “Kau hanya menjebakku ‘kan?”
Ax mendesis lagi seraya mengalihkan pandangannya. “Aku tanya, untuk apa? Apa untungnya buatku aku melaporkan semuanya pada ayahmu Allena?” Ax menghembuskan nafasnya. “Bagiku akan lebih untung aku membantumu daripada melaporkanmu dengan cara picik.”
Jadi lelaki itu benar-benar akan membantunya? Mau membantunya bagaimana? Kembali bertemu Jason saja sekarang akan sangat sulit. Apalagi keputusan mengenai penerimaannya belum dipastikan. “Kalau kau muak seharusnya kemarin kau tak datang Axcelle, kau datang hanya merusak semuanya. Bisa saja aku di tolak karena tindakanmu kemarin.”
“Allena!!!” panggil Azura, membuat perhatian perempuan itu teralih pada sahabatnya yang tiba-tiba datang dengan berlari kecil. “Allen! Cek emailmu cepat. cek! Aku sudah diterima di Archilles. Aku diterima!”
Allena meraih ponselnya dengan cepat kemudian memeriksa email masuk melalui ponsel pintarnya. Setelah beberapa saat membaca email tersebut, senyuman Allena perlahan mengembang, merekah bagaikan bunga yang mekar sempurna.
Apakah ini yang disebut dengan takdir? Ternyata ketakutannya tidak terbukti. Akhirnya ... akhirnya ternyata besok ia akan bertemu Jason lagi.
Karena Allena diterima juga untuk magang ditempat itu.
Jason ... ternyata kau memberiku kesempatan?
***