BRAK!
Allena menarik pintu mobil Ax dengan sangat kencang ketika ia menutupnya. Setelah masuk ia kemudian menyandarkan punggungnya pada kursi dengan tangan yang dilipat didada. Nafasnya masih memburu, rahangnya bahkan mengatup begitu keras, menahan amarah yang benar-benar menguasainya. Ketika Ax masuk dan duduk disampingnya Allena memutar mata, melongos, mengabaikan lelaki disampingnya itu. ia muak! Sangat muak! Bisa-biasanya dia menjemput tanpa permisi? Tanpa memberitahunya dan tanpa meminta ijinnya.
“Pakai sabuk pengamanmu.” Ujar Ax.
Allena tak bergeming, ia masih diam di tempat dengan kedua tangan yang dilipat didada, masih mengabaikan Ax dengan menatap keluar jendela.
“Pakai atau aku pakaikan?” tanya Ax dengan nada datar tanpa emosi, namun penuh dengan ancaman.
Allena mendelik pada Ax yang sedang menatapnya dengan tatapan yang tak kalan dingin dari ucapannya. Kemudian tanpa berbicara ia mengenakan sabuk pengaman itu, setelahnya kembali melipat tangan didada dan menatap jalanan dengan rahang yang masih mengeras.
“Kenapa kau datang? Kenapa kau menjemputku tanpa ijin Axelle?” tanya Allena dengan nada rendah menahan amarah. “Tidak ada yang memintamu datang dan tidak ada yang memintamu untuk menjemputku! Aku juga tidak membutuhkanmu! Aku tidak membutuhkan tumpanganmu!” Allena mengatur nafasnya yang mulai memburu. “Aku tidak membutuhkan semua hal darimu!”
Dada Allena naik turun, ia masih merasakan amarah yang membuncah ketika melihat Ax. Apalagi sikap dingin yang begitu mengganggunya. Sangat dingin. Dia benar-benar lelaki yang sangat dingin hingga rasanya ia tak ingin menghadapi lelaki itu. Sikap lelaki itu benar-benar membuatnya sangat muak, kesal dan selalu membuatnya marah.
“Kau mendengarkan aku tidak?! HAH?!” bentak Allena seraya menoleh kearah Ax dengan mata menyalang. Sementara yang ditatap masih mengemudi dengan sangat tenang. “Axcelle!!!”
Ax menarik nafas panjang kemudian dihembuskannya perlahan. Ia menoleh sesaat, menatap Allena ketika mereka berhenti saat lampu merah. “Ya ... lalu apa maumu Allena?”
“Mauku?! Kau masih tanya mauku? Aku mau kau pergi jauh-jauh dari hidupku! Aku mau kau tak menampakkan wajahmu lagi dihadapanku! Aku muak! Kau setiap saat membuatku marah! Kau membuatku sangat terganggu!” Allena mengatur nafasnya lagi, tangan kanannya berumpu pada daun pintu dengan telapak tangan yang memegang keningnya. Berusaha menahan amarahnya, agar tidak lebih meledak. Allena memejamkan matanya, lalu menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan sebelum kembali berujar. “Jangan pernah menjemputku lagi tanpa ijinku. Aku tak ingin melihat wajahmu lagi dikantor.” Ujar Allena dengan lebih tenang. Setelahnya tak ada percakapan lagi diantara kedua orang itu. Hingga akhirnya mereka sampai dikediaman Davidson.
Bertepatan dengan itu Darren Davidson, Ayah Allena pun sampai. Dia menghentikan kendaraannya tepat disamping kendaraan yang dikemudi Ax.
Allena melirik Ax yang masih diam di tempatnya. “Jangan berpikir untuk turun. Begitu aku keluar, pergilah. Aku tak ingin melihat wajahmu lebih lama lagi.” ucap Allena sebelum keluar dari dalam kendaraan yang dikemudi Ax.
“Dad, kau sampai.” Seru Allena seraya memeluk sang ayah sesaat. Sesekali ia melirik Ax yang masih diam ditempat, belum memberikan pergerakan apapun. Awalnya Allena pikir Ax akan menuruti ucapannya untuk segera pergi. Namun lelaki itu justru keluar dari dalam kendaraannya lalu menyapa Darren. Dia membungkuk sesaat dihadapan Darren seraya berujar pelan.
“Om, selamat sore.”
Senyuman Darren mengembang, “Ax, aku pikir siapa yang mengantar Allen, ternyata benar-benar kau. Ayo masuk, kita makan malam bersama.” tangan kirinya terulur menepuk pundak Ax beberapa kali. “Aku tidak menerima penolakan Ax. Masuk.” Tegas Darren seraya beranjak pergi membuat Ax mau tak mau mengangguk seraya tersenyum tipis.
“Aku bilang kau jangan turun! Apa kau tuli hah?!” bentak Allena, namun lagi-lagi Ax hanya menatapnya dengan sangat datar, membuat kepalanya kembali terasa berputar, pusing. “Kau ... terserahlah. Aku tak peduli.” Ujar Allena lagi seraya beranjak memasuki kediamannya dengan langkah lebar. Hingga ketika Allena hampir mencapai di ambang pintu, Allena menghentikan langkahnya ketika melihat sosok ibunya, Thalia. Berdiri disana, menyaksikan perdebatan mereka yang sangat sengit. Allena membasahi bibirnya yang tiba-tiba mengering.
“Mom ... .”
Thalia tersenyum tipis. “Masuklah, Mom sudah memasak makanan kesukaanmu.”
Allena mengangguk kaku, ia kemudian menatap Thalia dengan perasaan takut. “Mom ... .”
“Masuk Allen, Mom anggap Mom tak melihat apapun ... Jika itu yang kau takutkan.” Ujar Thalia dengan nada yang sangat tenang. Setelah itu ia mengalihkan pandangannya pada Ax yang sudah berjalan kearahnya dengan sebuah senyuman yang terlihat begitu tenang. Lelaki yang dijodohkan dengan puterinya itu menunduk sesaat sebelum menyapanya.
“Selamat sore Tante.”
Thalia tersenyum, ia menepuk lengan kiri Ax sebelum berbicara. “Ayo Ax masuk, Tante kebetulan memasak banyak masakan.”
Ax mengangguk. “Terimakasih Tante ... tapi Ax ada sedikit pekerjaan yang belum Ax selesaikan.”
“Pekerjaan bisa kau kerjakan nanti Ax, ayo makan dulu.” Thalia memaksa, membuat Allena mau tak mau melemaskan bahunya, pasrah. Pasrah tidak dapat menikmati makan malamnya, malam ini.
“Kenapa kalian lama sekali?” tanya Darren yang sudah duduk dikursi utama meja makan. “Kau tidak berusaha mengusir Ax ‘kan Allen?”
Allena melongos seraya mendudukkan dirinya. “Tidak, untuk apa?”
“Kau tidak berbohongkan?” tanya Darren seraya menatap puterinya penuh selidik.
“Cukup.” Tegas Thalia. “Ini meja makan, tak baik berdebat dimeja makan.” Thalia kemudian menyunggingkan senyumannya pada Ax. “Maaf membuatmu tak nyaman Ax. Ayo kita makan.”
Ax tersenyum tipis. “Tak masalah Tante. Terimakasih.”
“Ax, bagaimana pekerjaanmu? Lancar?” tanya Darren disela-sela aktivitas makan mereka.
“Sejauh ini lancar, aku dan team tidak mendapatkan kendala berarti Om. Semuanya baik-baik saja.” ujar Ax dengan tenang.
“Baguslah, Om sangat bangga padamu. Masih muda dan bisa mengembangkan perusahaanmu sendiri.” Ujar Darren seraya tersenyum. “Sangat langka anak sepertimu yang mau mandiri.”
Dalam hati Allena melongos, ia memutar bola matanya sesaat seraya mengunyah makanannya dengan cepat. mandiri apanya? Magang saja diperusahaan sendiri. Desis Allena dalam hati. Allena kemudian mengunyah makanannya dari sendokan lain masih dengan sangat cepat. jujur saja sebenarnya ia ingin segera lari dari tempat ini. ia sudah merasa tak nyaman berada di tempat ini. Karena keinginannya sekarang hanya segera mengurung diri di kamar lalu menghubungi Jason. Bercerita dan mencari ketenangan dari pria yang merupakan pujaan hatinya itu. Sebab sekarang rasanya hanya itu yang ia butuhkan. Hanya Jason yang ia butuhkan untuk menenangkan dirinya.
Sampai sepanjang makan malam Allena tidak mendengarkan percakapan ayahnya dengan Ax lagi. Allena hanya diam, menikmati makanan yang sebenarnya tidak bisa ia nikmati sesuka hati. Karena keinginannya untuk segera pergi meninggalkan tempat itu. Beruntungnya kali ini Ax terlihat lebih peka,karena begitu selesai makan, Ax segera berpamitan pergi dengan alasan pekerjaan. Meskipun dengan terpaksa ia harus mengantar lelaki itu sampai pintu keluar. Mengantarnya dan memastikan lelaki itu pergi.
“Tidak perlu kembali. Karena aku tidak ingin melihat wajahmu lagi Axcelle.” Ujar Allena sebelum Ax memasuki kendaraannya.
Dari tempatnya berdiri, Allena dapat melihat Ax menatapnya beberapa saat sebelum memasuki kendaraannya lagi tanpa mengatakan satu patah katapun padanya sebagai tanggapan.
Allena menghembuskan nafasnya pelan sebelum kembali memasuki rumah setelah menutup pintu dan menguncinya. Namun sayang, ketika ia berjalan melewati ruang keluarga Darren mengintrupsi.
“Allen ... kau tidak mengusirnya ‘kan? Kau tidak berbuat buruk ‘kan pada Ax?” tanya Darren pelan, berusaha selembut yang ia bisa.
“Memang sejak kapan Allen tidak mengusirnya? Dad pikir aku mau bersama orang asing?”
“Allena! Jaga ucapanmu. Dimasa depan Ax akan menjadi suamimu. Bukan orang asing.”
“Dad!”
“Kau begini karena Jason? Kau puas bersamanya seharian ini?” akhirnya Darren tidak dapat menahannya lagi, ia bertanya dengan tajam pada puterinya itu.
“Dad! Aku disana untuk magang! Apa maksud dari ucapan Dad itu? kenapa Dad selalu begini. Apa salah Allena? Apa salah Jason?” Allena manarik nafas panjang kemudian menghembuskannya lagi, ia menatap Darren lalu berujar. “Apakah Dad tidak ingin membuat Allena bahagia?” tanya Allena kemudian beranjak pergi meninggalkan Darren yang termenung ditempat duduknya.
Allena beranjak memasuki kamarnya dengan langkah yang lebar. Setelah itu ia memasuki kamar mandi lalu menanggalkan seluruh pakaian yang ia kenakan, kemudian ia berdiri dibawah shower, membiarkan kepalanya dihujani air dingin untuk membuat pikirannya lebih tenang. Sejak perjodohan itu ia memang jadi lebih sering berdebat dengan Darren. Karena ia selalu dengan terang-terangan mengatakan bahwa ia tak terima dengan perjodohan sepihak itu. bahkan terkadang jika emosinya sudah sangat memuncak ia selalu berpikir bahwa ayahnya itu sudah tak sayang lagi padanya. Ayahnya itu sudah tidak memikirkan kebahagiaannya lagi seperti yang sering sebelumnya selalu di lakukan padanya setiap saat.
Allena menarik rambut yang menutupi wajahnya. Menarik dan menggenggamnya dengan kuat seolah ia bisa menarik semua penat yang bersarang dalam benaknya.
Sejujurnya sejak awal Allena sudah menduga bahwa ia tak mendapatkan restu untuk bersama dengan Jason. Bahkan ingatan tentang masalalunya dengan Jason masih terpatri dalam ingatannya. Ia masih mengingat bagaimana Darren melarang Jason datang lagi padanya. Ayahnya itu melarang Jason menemuinya lagi meskipun tanpa disengaja. Allena sangat ingat, ia bahkan begitu mengingat hal itu. Namun yang ia tidak duga adalah ... rasa tidak suka Darren pada Jason. Ia pikir setelah berlalu selama belasan tahun rasa tak suka Darren pada Jason akan sirna. Tapi sepertinya masih bertahan tanpa berkurang sedikitpun.
Sampai kapanpun ... aku hanya ingin Jason. Jika bukan Jason, aku ... tak ingin. Aku lebih baik sendiri. Batin Allena dengan mata yang terpejam dan kepala mendongak menghadap kearah shower.
Setelah mengguyur diri selama beberapa saat, Allena akhirnya keluar dari dalam kamar mandinya. Ia pun segera berganti pakaian kemudian mengeringkan rambutnya. Sekali lagi Allena menghembuskan nafas dengan berat ketika melihat pantulan dirinya dicermin.
Allena jadi teringat Jason, bahkan tanpa sadar ia memegangi lehernya. Ia ingat ketika pria itu memeluknya, menumpukkan dagu pada bahunya kemudian membauinya. Menyentuhkan hidupng tepat pada lehernya.
“Jason ... .” Allena menghembuskan nafas. Semakin mengingatnya, ia semakin merindukannya. Hingga setelah rambutnya dirasa sudah mengering, ia segera meraih ponselnya untuk menghubungi Jason.
Karena jujur saja ... ia sangat ingin mendengar suara berat yang sangat ia rindukan itu.
Mulanya Allena pikir Jason mungkin sudah beristirahat, karena panggilannya tak juga dijawab. Namun ketika deringan itu hampir habis, panggilan itu tersambung.
“Jason.” Kening Allena berkerut ketika mendengar suara bising yang begitu memekakkan telinga. Allena bahkan menjauhkan ponsel tersebut dari telinganya untuk beberapa saat.
“Allena! Ada apa?!” tanya Jason seperti berteriak.
“Jason kau dimana?” tanya balik Allena dengan suara yang lembut.
“Apa?! Aku tak mendengarmu Allen. Disini sangat berisik. Jika kau ada sesuatu chat saja. Atau kita bisa berbicara besok! Bagaimana?!” teriak Jason lagi ditengah bisingnya tempat ditempat Jason berada.
“Jason! Ayo. Tutup teleponnya sekarang.”
Allena terdiam ketika mendengar samar suara seorang wanita diseberang sana, ia termenung hingga tak mampu menjawab apapun. Sampai-sampai Jason kembali melanjutkan ucapannya.
“Sudah dulu Allena! Sampai nanti!”
Panggilan itu berakhir, bersamaan dengan ponselnya yang jatuh dari genggaman tangannya.
Perasaan Allena memburuk. Apakah sekarang Jason sedang bersenang-senang? Apakah sekarang Jason ... sedang bersama dengan wanita satu malamnya? Dan apakah Jason ... akan menghabiskan malam dengan wanita itu?
Hati Allena tersayat ketika perasaan buruk dan berbagai pertanyaan terus menggerogoti pikiran sekaligus hatinya, perlahan melukainya hingga rasanya begitu sakit dan sangat perih. Rasanya ... begitu sesak. Hingga untuknya bernafas saja terasa sulit.
Sakit. Sangat sakit. Ketika bayangan orang tercintanya justru menghabiskan malam dan bersenang-senang bersama wanita lain.
***