3. Kesempatan untuk Bersama

2490 Words
“Wah! Ruanganmu sangat luas Jason.” Ucap Allena seraya mengamati seluruh interior ruangan itu yang didominasi warna hitam dan juga silver, ruangan itu juga memancarkan wewangian kayu seperti berada di tengah hutan lebat. Allena menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya lagi seraya tersenyum. Setelah itu ia kemudian berjalan kearah dinding kaca yang sangat luas. “Pemandangannya juga sangat indah.” Ujarnya lagi ketika melihat pemandangan kota dari puncak gedung pencakar langit itu.  Jason tersenyum tipis mendengarnya, pria itu menatap punggung Allena dari kursi kebesarannya. Menatap punggung sempit itu dalam beberapa saat. “Kau suka?”   Allena mengangguk dengan antusias seraya berbalik, menatap Jason dengan senyuman merekah yang terpatri begitu indah diwajahnya. “Suka, aku sangat suka. Disini juga sangat nyaman Jason.” Allena berbalik ke arah dinding kaca itu lagi kemudian bergumam seraya mencebik pelan. “Tidak seperti tempat kerja Daddy. Sangat membosankan.” Allena menatap pemandangan itu dengan melipat kedua tangannya didada. Sejujurnya ia sengaja memandangi dinding kaca itu lagi karena tadi ketika ia berbalik, jantungnya berdetak sangat amat kencang saat bertatapan dengan Jason secara langsung. Jason sekarang dengan penampilannya yang sangat tampan benar-benar membuat jantungnya berdebar kencang, sekarang ia bahkan merasakan kupu-kupu yang mulai beterbangan diperutnya. Sensasi yang begitu menggelitik tapi menyenangkan secara bersamaan.   Tanpa Allena sadari, Jason berjalan mendekati perempuan itu lalu membungkuk tepat dibelakang telinga Allena. Setelah itu ia berbisik. “Apakah dinding kaca itu lebih menarik daripada aku?”   “Astaga! Jason!” Seru Allena seraya berbalik lalu memukul pelan d**a bidang pria itu. “Kau itu ya! Bisa tidak jangan mengagetkanku?”   Jason tergelak melihat wajah Allena yang memerah.   “Jangan tertawa!” rajuk Allena seraya memukul d**a Jason lagi. “Ih! Menyebalkan!” Allena menghentakkan kakinya sebelum memunggungi Jason lagi, menatap dinding kaca yang ternyata memantulkan bayangan mereka didalam sana. Diam-diam Allena menatap pantulan wajah Jason yang masih sedikit tertawa dalam diam. Jantungnya kembali bergetar melihat wajah tampan itu tertawa dihadapannya lagi. Setelah sekian lama. Rasanya ... rindu. Sangat rindu.   Tubuh Allena menegang, ketika Jason menumpukkan dagunya pada bahu kanan Allena. Jantungnya serasa terjatuh kedasar perut, tubuhnya pun seketika menegang saat merasakan hembuskan nafas Jason menerpa leher bagian kanannya. Tubuh Allena merinding, hingga bulu-bulu halus pada tubunya serasa berdiri seketika.   Allena memejamkan matanya dengan nafas tertahan, ia bahkan menggigit bibir bagian dalamnya beberapa saat. Hingga tanpa sadar memiringkan kepala, memberi akses pada Jason untuk lebih mendekat. Ketika ujung hidung Jason tanpa sengaja menyentuh lehernya, tubuh Allena seperti tersengat oleh listrik. Tubuhnya benar-benar memberikan reaksi luar biasa atas gdodaan-godaan yang diberikan Jason.   “Allena ... sekarang kau sudah dewasa ya?“   Allena menegakkan tubuhnya seraya mengerjapkan mata, ia tak langsung menjawab pertanyaan itu. ia justru membasahi bibirnya beberapa saat lalu meneguk ludahnya dengan sukar.   “Allen.”   “Tentu saja.” nafas Allena tercekat. Ia menarik nafas panjang terlebih dulu, kemudian berucap. “Sudah sangat lama kita tidak bertemu Jason.”   “Ya ... dan aku menyadarinya sekarang.” Ujar Jason seraya menegakkan posisi berdirinya.   “Apa?”   “Kau tidak tercium seperti bayi lagi.”   Kening Allena mengerut ia berbalik sebelum bertanya. “Maksudmu?”   “Wangi bayi, kau tau? Wangi minyak pengusir nyamuk dan bedak tabur.”   “Jason! Ih!” Allena berseru lagi seraya memukul d**a Jason untuk ketiga kalinya. “Kalau cuma ingin membuatku kesal aku akan ke lobi saja, menemui temanku. Awas!” Allena mendorong lengan Jason, namun percuma saja. Jason yang berdiri dihadapanya dengan tersenyum jenaka sengaja menghalangi Allena.   “Jason!”   Jason meraih tangan Allena kemudian membawanya duduk pada sebuah kursi. “Duduk disini.”   “Kenapa? Aku mau keluar saja. kau menyebalkan!” seru Allena, ia masih kesal disebut bayi oleh pria itu.   Tangan Jason terangkat membelai kepala Allena beberapa saat hingga rengekan itu berhenti. “Kau pikir kau bisa masuk perusahaan begitu saja Allena?”   Allena mendelik, menatap Jason. “Bukannya memang begitu?”   Jason menggeleng kemudian menyeringai. “Aku akan mengujimu sendiri.”   Apa katanya? Menguji sendiri? Jangan gila! Bagaimana jika hasilnya tidak maksimal? Bagaimana jika ia melakukan kesalahan dan membuat semuanya berantakkan?   Jason memberikan tiga buah dokumen didepan Allena, kemudian ia duduk disamping perempuan itu. “Ini dokumen penting yang harus aku periksa hari ini. Periksalah kesalahan yang terdapat dalam dokumen ini dan setelahnya buat laporan untukku.”   “Kenapa pengujiannya sesulit ini? Mereka semua hanya melakukan wawancara.” Allena menatap Jason dengan sengit. “Kau sengaja?”   “Kau tak bisa? Kau tak mampu mengerjakannya Allena?” tanya Jason seraya mengeluarkan seringaiannya lagi. “Aku lihat nilaimu baik, aku pikir kau mampu melakukannya. Tapi belum apa-apa sudah menyerah.”   Allena mendengus. “Tidak! Aku tidak menyerah! Siapa bilang? Lihat saja. aku akan mengerjakannya dengan sempurna.” desis Allena kemudian memalingkan wajahnya dari Jason, setelah itu mengambil salah satu dokumen didepannya. Setelah beberapa saat Allena melirik dengan ujung matanya ketika merasakan Jason yang mulai menjauh. Allena lalu mendengus lagi seraya mendelik Jason lagi sesaat dengan mata yang menajam. Lelaki itu ... sangat menyebalkan! Untung ia suka. Batinnya kemudian tersenyum simpul.   Jason menyandarkan punggungnya pada kursi kebesarannya, ia tak langsung mengambil dokumen untuk ia periksa. Ia justru menatap Allena terlebih dahulu dalam diam, setelah beberapa detik ia lalu menarik ujung bibirnya saat melihat Allena yang sudah mulai membaca dokumen yang ia berikan, wajah perempuan itu benar-benar menggemaskan, apalagi ketika melihat rona kesal yang masih tersisa diwajah cantiknya itu. Sangat menggemaskan.   Sebuah ketukan membuat perhatian Jason teralih. Ia menatap ke arah pintu sesaat sebelum meraih dokumen dihadapannya.   Zahira, sekretaris Jason memasuki ruangan itu dengan dokumen lain dalam pelukannya. “Mr. Archilles. Ini dokumen hasil rapat kemarin dan ini laporan dari team marketing.” Wanita itu memberikan dokumen ditangannya satu persatu kehadapan Jason.   Jason bergumam pelan, tidak memberikan reaksi yang lebih dari itu. Namun wanita dihadapannya itu masih saja berdiri dihadapannya. Seketika ia mendongak, ternyata dia sedang memperhatikan Allena.   “Kembali ketempatmu. Mrs. Vishaka.” Desis Jason   “Ah ya Mr. Archilles. Apakah anda ingin dibuatkan sesuatu? Untuk ... .”   “Tidak perlu. Keluar.” Ujar Jason lagi seraya mulai membaca dokumennya.   Zahira melirik Jason sesaat sebelum akhirnya berpamitan dan undur diri, meninggalkan ruangan tersebut. wanita itu sangat aneh bukan? Jason bukan tidak menyadari tingkah aneh sekretarisnya itu. Ia bahkan sudah merasakan tingkah aneh itu sejak beberapa minggu ini. wanita itu terlihat lebih banyak mencari perhatian padanya dan banyak tingkah aneh lainnya, termasuk menggunakan pakaian yang menurutnya terlalu berlebihan. Biasanya ia akan segera memecat sekretarisnya yang sudah bertingkah, namun ia lebih memilih membiarkan wanita itu karena selama ini pekerjaan dia lebih bagus daripada sekretaris terdahulunya.   ***   Lebih dari empat jam Allena memeriksa tiga dokumen itu seraya membuat laporan dalam diam, meskipun sesekali sekretaris Jason masuk namun tak membuatnya kehilangan konsentrasi, bahkan memalingkan wajahnya sedikitpun tidak. Ia hanya terus membaca dokumen tersebut secara teliti dengan sesekali menuliskan laporan seperti yang Jason inginkan.   “Allen.”   “Hm?” Allena melirik Jason sesaat dengan tangan yang masih sibuk mengetik. “Sebentar Jason, sebentar lagi laporannya selesai.” Ujarnya seraya memalingkan wajah pada laptop dihadapannya lagi.   Jason menghela nafas sesaat kemudian menutup laptop dihadapan Allena tanpa permisi, membuat perempuan itu berjengit dan menatap Jason dengan cepat. “Jason!”   “Saatnya makan siang Allen.”   “Hng?” Allena mengerutkan keningnya kemudian melihat jam yang melingkar ditangan kanannya. “Ah! Benar. Waktunya makan siang.”   Jason menaik ujung bibirnya. “Ayo.”  Jason mengintruksi dengan matanya kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan ruangan itu, diikuti oleh Allena yang mengejar langkahnya. “Kau ingin makan dimana?” tanya Jason ketika Allena menyamakan langkah dengannya.   “Kantin kantor saja, bagaimana?” Allena melirik Jason ketika mereka memasuki lift.   “Boleh.”   Keduanya tak berbicara lagi setelah itu karena Allena yang sibuk bertukar pesan dengan seseorang. Sementara Jason hanya diam memperhatikannya, menunggu perempuan itu menyelesaikan urusannya terlebih dulu. Jason menarik ujung bibirnya ketika melihat wajah Allena yang merengut kesal dengan mulut yang mencebik.   “Kenapa?” tanya Jason ketika melihat Allena sudah memasukkan ponsel kedalam tasnya lagi.   “Aaren benar-benar menyebalkan. Dia yang mengantarku tapi dia ingkar janji untuk menjemputku. Padahal aku tidak membawa kendaraan karena dia mengatakan akan menjemputku Jason.” Allena mendengus. “Tapi ternyata bohong. Tahu begini aku berangkat sendiri saja.”   Tangan Jason terangkat, mengusak puncak kepala Allena sesaat, hingga membuat wajah Allena memerah sempurna, bagaikan tomat yang sudah masak. “Tenang saja, aku antar. Bagaimana? Mau?”   Senyuman Allena perlahan merekah, iris mata yang menatap membulat penuh antusias ketika menatap Jason. “Benar? Kau akan mengantarku?”   Jason terkekeh pelan. “Tentu saja Allen. Hanya mengantarmu apa susahnya ‘kan?”   Senyuman pada wajah Allena merekah sempurna setelah mendengar hal itu, terlihat begitu cantik dan sangat menawan apalagi ketika matanya ikut melengkung karena senyuman itu. Jason kembali mengusak kepala Allena kemudian merangkul bahu perempuan itu.   “Janji mengantarku Jason?” Allena menatap Jason penuh minat. Jason yang melihatnya kembali mengangguk.   “Kau bisa memegang janjiku Allen, memang kapan aku mengingkari janjiku?”   Allena mengulum senyumannya, tak membiarkan senyuman itu terlalu merekah. Apalagi ketika lift itu terbuka, ia berusaha menahan senyumannya agar tidak terlihat berlebihan. Mereka keluar secara bersamaan dengan Jason yang masih merangkul bahunya., membuat beberapa karyawan menatap mereka aneh lalu saling berbisik dan menggunjingkan mereka. Namun baik Jason maupun Allena mengabaikan hal itu. Karena Jason memang tak pernah peduli sementara Allena berusaha tidak memedulikan mereka.   Ketika kabar Jason yang akan makan dikantin terdengar, suasana dapur kantin menjadi cukup heboh kemudian dengan cepat menyiapkan beberapa makanan spesial untuk sang pemilik perusahaan itu.   “Tunggu disini, biar aku pesankan.” Ujar Jason ketika mereka sampai pada satu tempat duduk.   Allena mengangguk, setelah itu ia mengambil ponsel dari dalam tasnya untuk membunuh kebosanan. Allena membuka ponselnya secara acak, hanya untuk mengalihkan perhatiannya dari tatapan orang-orang, sesekali ia melirik mereka semua yang menatapnya secara terang-terangan dengan ekor matanya. Ia bahkan mendengar bisikan-bisikan aneh tentang dirinya yang mungkin kekasih sang CEO hingga ada yang menilai dirinya mantan wanita satu malamnya Jason. Allena hanya mampu menghela nafas panjang. Berusaha tidak terganggu dengan ucapan-ucapan itu.   “Hei. Melamun?”   Allena menolehkan kepalanya kekanan ketika Jason memanggilnya. Lalu tersenyum. “Tidak Jason. Mana makanannya?”   “Itu.” Jason menunjukkan dua orang yang mengantar makanan untuk mereka dengan matanya, sesaat. Tangan kanannya terangkat kembali, menepuk pelan kepala perempuan itu. “Makan yang banyak.” Ujarnya sesaat setelah makanan itu sampai dihadapan mereka.   Jason mengambil bagiannya, kemudian menikmati makanan tersebut. “Cukup enak.”   Allena menatap Jason ketika mendengar komentar itu. “Seperti baru saja makan disini.”   “Memang.”   Mata Allena membulat sempurna. “Kau serius Jason? Pertama kalinya kau makan disini?”   Jason mengangguk.   “Bagaimana bisa?”   Jason tersenyum simpul kemudian menunjukkan suasana sekelilingnya dengan mata, lalu menatap Allena lagi yang mengikuti arah pandang Jason.   Kursi disekelilingnya, yang jaraknya dekat semuanya kosong. Orang-orang bahkan makan dengan tubuh yang tegak, terlihat sangat tegang.   “Lihatlah mereka makan dengan sangat tegang ketika aku berada disini. Jangankan makan, ketika aku hanya melihat menu untuk para karyawan saja, mereka seperti ketakutan. Padahal aku tak pernah mempermasalahkan cara makan mereka.”   Allena menatap Jason dengan mulut yang masih mengunyah, setelah makanan itu tertelan ia kemudian berbicara lagi. “Tapi masuk akal mereka takut padamu Jason. Wajahmu jika dilihat-lihat menyeramkan juga, tatapanmu pun seperti penuh intimidasi. Selain itu kau snagat dingin Jason. Jika ini pertemuan pertamaku denganmu mungkin aku akan gemetar ketakutan.”   Mendengar hal itu, Jason terkekeh pelan. “Berlebihan.”   Bibir Allena mencebik. “Kau saja yang tak sadar diri.” Desisnya. Setelah itu Allena menghabiskan makanannya tanpa berkomentar lagi. Sementara Jason yang mendengar komentar itu tersenyum kecil. Memang, hanya Allena yang berani mengatakan hal itu. karena selama ini yang ia dengar hanya pujian-pujian mengenai rupanya yang tampan atau bahkan karena kekayaannya yang melimpah. Tapi Allena? Dia justru mengatakan dirinya menyeramkan. Benar-benar aneh.   ***   Selesai makan siang Allena kembali berkutat dengan laporannya yang hampir ia selesaikan. Ia hanya perlu mengedit di beberapa bagian kemudian memberikannya pada Jason dengan bangga. Sayangnya ia harus menunggu beberapa jam untuk memberikan laporan tersebut karena Jason harus menghadiri rapat mendadak yang dilakukan team-nya.   Sehingga disinilah Allena sekarang, berdiri dihadapan dinding kaca yang menjadi tempat paling ia sukai. Menatap gedung-gedung pencakar langit dihadapannya. Sesekali Allena menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Pikirannya melayang, memikirkan ucapan karyawan-karyawan Jason.  Jujur saja, awalnya ia bisa mengabaikan semua ucapan mereka yang sangat beragam itu. Namun ada satu hal yang membuatnya sangat terganggu. Ketika ia ketoilet saat berada di kantin, karyawan Jason  secara terang-terangan mengatakan bahwa kesempatan mereka mendapatkan satu malam dengan Jason sepertinya sirna karena kehadirannya. Jujur saja, dari sekian banyak opini yang mereka katakan. Hanya itu yang sangat mengganggunya. Karena hanya ucapan itu yang melahirkan berbagai pertanyaan dalam benaknya.   Apakah Jason benar-benar orang seperti itu? Benar-benar menghabiskan malam dengan wanita berbeda? Dan ... karyawannya sendiri? Bukankah itu terdengar lucu?   Pertanyaan dalam benak Allena seketika sirna ketika mendengar pintu terbuka, ia kemudian berbalik dan mendapati Jason memasuki ruangannya kembali.   “Selesia laporannya?” tanya Jason.   Allena mengangguk, “Aku sudah menyimpannya dimejamu.” Ujarnya seraya menatap kearah dinding kaca itu lagi. Ia menarik nafas panjang lagi lalu menghembuskannya perlahan. Menatap Jason membuatnya sangat ingin menanyakan tentang ucapan orang-orang itu. Namun ia sadar jika itu bukan haknya untuk bertanya. Karena ia bukan siapapun.   Rasanya seperti ada goresan didalam d**a Allena ketika memikirkan itu. Terasa sakit, namun tidak berdarah.   “Kenapa hm? Ada masalah?”   Allena terjengit ketika mendengar Jason bertanya tepat dibelakang telinganya. Ia kemudian melirik Jason yang kini berdiri disampingnya dalam diam, setelah beberapa saat barulah ia berujar.   “Jason.”   Pria itu kini menghadap kearah Allena, membuat Allena pun berdiri dengan menghadap Jason. Menatapnya dengan tatapan sendu.   Tangan Jason terangkat, membelai wajah Allena yang sedikit tampak aneh. “Apakah seseorang menyakitimu Allena?” tanya Jason.   Allena menggelengkan kepalanya. “Hanya terganggu sesuatu.”   “Apa?”   Allena mengalihkan pandangannya seraya membasahi bibir yang mendadak terasa mengering. Setelah itu ia menatap Jason lagi masih dengan tatapan sendunya. “Kau ... benar-benar berganti wanita setiap malam Jason?”   Jason tak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia kemudian menyunggingkan sebuah senyuman sebelum menjawabnya. “Tidak setiap malam, hanya ketika aku ingin.”   “Kau benar-benar berganti wanita?” tanya Allena lagi dengan tatapan penuh selidik. Berharap Jason mengatakan tidak. Sayangnya, jawaban Jason tidak sesuai dengan harapan.   “Ya ... aku belum pernah tidur dengan wanita yang sama.”   Allena mengalihkan pandangannya dari Jason. Mendengar kejujuran itu membuat hatinya sungguh terluka, terasa sangat perih dan juga hancur. Bagaimanapun Jason adalah pria idamannya. Tentu saja, ketika ia mendengar hal itu wajar saja ‘kan jika ia kecewa?   “Mau bagaimana lagi Allena? Kau tidak berpikir selama empat puluh delapan tahun hidupku, aku hanya pria kesepian yang tidak pernah bersenang-senang ‘kan?” Jason menatap Allena yang masih menghindari tatapannya. Ia kembali berujar. “Aku juga harus menyalurkan kebutuhan biologisku, Allena. Tentu saja aku melakukannya.”   “Tapi apa harus dengan karyawanmu sendiri?”   Kening Jason berkerut. “Kapan? Aku tidak pernah melakukannya.”   Mata Allena membulat. Ia menatap Jason tak percaya. “Bohong.”   “Untuk apa aku berbohong?”   Allena menunduk, menatap kedua tangannya yang saling bertautan. Sungguh ia takut dengan tatapan penuh intimidasi yang diberikan Jason sekarang. Apalagi dengan nada suara yang terdengar sangat dingin.   “Aku memang sering melihat karyawanku ditempatku bersenang-senang. Tapi aku selalu menghindari mereka. Kecuali ... .”   “Kecuali?” Allena menatap Jason lagi.   “Kecuali mereka ingin meninggalkan perusahaan.”   Pundak Allena yang sebelumnya terasa tegang, seketika melemas ketika mendengar hal itu. Perasaannya sedikit lebih lega setelah mendengar hal itu secara langsung. Ya ... sangat lega. Karena ia meyakini bahwa Jason jujur. Jason memang tidak pernah membohonginya sama sekali.   Melihat hal itu Jason terkekeh pelan kemudian menarik Allena masuk kedalam pelukannya. Ia membelai punggung Allena beberapa saat dengan sesekali mencium puncak kepala perempuan itu. Berusaha menenangkannya. Sementara itu tanpa Jason sadari, senyuman Allena mengembang begitu lebar, jantungnya kembali berdebar hebat, dadanya kembali menghangat dan terasa penuh ketika merasakan ciuman-ciuman hangat yang terus menghujani puncak kepalanya.   “Jason ... .” Allena menarik kepalanya dari d**a Jason. Ia menatap pria itu dengan mata yang sudah berbinar indah penuh kehangatan lagi.   “Hm?” gumam Jason seraya merapihkan rambut Allena dengan tangan kanannya.   “Aku ... .”   Tok tok tok!   Allena mengalihkan pandangannya kearah pintu. Tangannya perlahan terurai ketika Jason memberi ijin masuk.   “Mohon maaf Mr. Archilles. Seseorang mengatakan ingin menjemput Ms. Davidson.”   Kening Allena berkerut, heran sekaligus merasa aneh. Bukankah Aaren mengatakan tak bisa menjemputnya? Lalu siapa yang .... seketika rahang Allena mengeras, matanya pun menajam. Ketika melihat eksistensi lelaki yang paling tidak ia sukai berdiri dibalik pintu. Dia Ax, Axelle Wesley. Seseorang yang orangtuanya sebut sebagai calon suaminya.   Sementara itu disisi lain Jason dan Ax bertukar pandang dengan tatapan dingin, saling menyelidik dan seolah ingin saling membunuh.   ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD