08

1596 Words
Agnia terperanjat kaget ketika menerima sebuah pesan dari Sanata yang berisikan pemberitahuan bahwa pemudq itu tengah berada di depan pintu rumahnya sekarang. Dengan langkah secepat mungkin, Agnia langsung bergerak menuju pintu utama kediamannya. Sanata memang kerap suka begitu. Mendadak datang tanpa meminta persetujuan atau izin darinya terlebih dahulu. Jelas saja, Agnia juga dilanda kaget. Jika saja Sanata tidak mengatakan sudah tiba di sini. Maka, Agnia pasti akan melarang pemuda itu datang berkunjung. Dia sedang malas menerima tamu pada jam istirahat, apalagi waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam lebih. Ditambah dengan kondisi tubuhnya yang terasa tak enak. Agnia benar-benar sedang tidak inginkan kehadiran Sanata atau orang lain sekalipun. “Kenapa nggak angkat telepon gue?” Saat daun pintu sudah dibuka Agnia dengan sempurna, maka pertanyaan dari pria itulah yang pertama kali memasuki indera pendengarannya. Agnia lantas memerhatikan gestur tubuh Sanata yang tampak sedikit lain menurutnya. Begitu juga dengan pancaran kedua mata pemuda itu yang kini tertuju ke arahnya. Agnia cukup kesulitan untuk mengartikan tatapan tersebut. Radar kepekaannya tengah tidak aktif. “Kenapa lo nggak angkat telepon dari gue, Agnia?” Sanata bertanya sekali lagi. Dia sangat penasaran dengan alasan yang akan diutarakan Agnia. Harus dijawab jujur. “Terus lo ngapain malam-malam ke rumah gue, San? Ada keperluan yang mendesak? Atau lo mau punya hal penting mau dibilang ke gue? Tapi, memang apaan itu, ya?" Sanata jadi mendengus kesal. Bukannya menjawab, Agnia malah balik melontarkan pertanyaan. “Gue pengin tahu alasan lo nggak angkat telepon dari gue. Lo masih marah sama gue, Ag?” Sanata ingin kembali memastikan dugaannya yang terpikirkan. Perempuan itu menggelengkan kepala beberapa kali. “Kagak. Gue cuma lagi nggak enak badan. Gue malas cek hp. Gue silent mode aja,” jelas Agnia. Lagipula, dia sudah melupakan peristiwa kemarin. Bahkan, tidak terdaftar dalam sesuatu yang harus diingat dalam memori kepalanya. “Lo sakit?” Sanata kian intens memandang Agnia. Wajah perempuan itu memang terlihat memucat. Tatapannya juga sayu. Agnia mengangkat bahunya. “Cuma nggak enak badan aja gue. Mungkin karena capek kali, ya. Nanti gue mau tidur yang cepat biar lelah gue bisa hilang semua besok lagi." Untuk kedua kalinya Sanata mengeluarkan dengusan. “Sama aja Agnia b**o!” seru pria itu kesal. Nada suaranya pun ditinggikan. “Terserahlah!” balas Agnia tak mau acuh dan mendelik. "Terserah," tegasnya kembali. Sanata pun tak dapat mencegah kedua sudut bibirnya tertarik ke atas dengan refleks, sehabis menyaksikan ekspresi cemberut Agnia yang berhasil dia kerjai. Dua detik berikutnya, Sanata melangkah sebanyak empat kaki mendekati Agnia. Mempersempit jarak di antara mereka. Tangan Sanata lantas bergerak menuju kening Agnia untuk mengecek suhu tubuh perempuan itu. “Badan lo panas, Ag. Kayaknya lo juga lagi demam ini. Tapi, perlu pakai termometer buat memastikan berapa panasnya." “Pantes gue merasa meriang,” balas Agnia dengan nada pelan. Volume seperti berbisik. "Merindukan kasih sayang gue?" Mata Agnia mendelik pasca mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Sanata dengan penuh percaya diri tersebut. Jelas saja dia muak dan geli. Kemudian, kepalanya digeleng-gelengkan ringan. Ingin tunjukkan respons yang negatif akan ucapan pria itu. "Apa tadi lo bilang? Sembarangan aja. Mana mungkin gue kangen sama lo. Lagian, kalau gue emang benaran kangen. Ya, tadi pasti gue akan meluk lo. Nyatanya nggak, 'kan?" Sanata terkekeh. "Oh, lo mau meluk gue? Ya, dengan senang hati akan gue kasih, Ag." "Ogah! Nggak usah cari gara-gara sama gue saat kondisi badan gue lagi nggak enak." “Lo udah minum obat?” tanya Sanata serius kali ini. Dia mulai menunjukkan sikap empatinya. Tidak tega juga melihat perempuan itu dalam keadaan sakit. Lagi-lagi Agnia menggeleng. “Makan aja gue belum. Tadi bawaannya pengin tidur terus karena kepala gue pusing. Perut gue yang keroncongan gue biarkan. Lagian, di rumah lagi nggak ada makanan," jawabnya jujur “Ck. Nyari penyakit aja lagi anak,” sindir Sanata. Padahal sesungguhnya dia sedang khawatir. Tentu, Sanata tidak akan pernah menampakkannya di depan Agnia. "Lo mau sakit dan nggak sembuh-sembuh?" “Gue nggak pengin debat ya sama lo, San. Kalau urusan lo udah selesai. Pulang aja sana. Gue mau istirahat.” Agnia tak mau membuang-buang waktunya untuk sekadar meladeni Sanata. “Dih, ngusir. Gue padahal lagi baik hati dan pengin beliin lo bubur ayam. Tapi, lo malah ngusir gue. Ya udahlah, gue pulang.” Sanata lalu membalikkan tubuh dan hendak bergegas pergi. Namun, tangan kirinya segera ditarik oleh Agnia. Sanata pun menghentikan langkah kakinya. “Sebelum pulang. Lo harus beliin gue bubur dulu pokoknya,” paksa perempuan itu. Dan, tanpa sepengetahuan Agnia pula. Sanata tengah mengulas senyum puasnya. ……………… Sendok demi sendok bubur ayam masuk ke dalam mulut Agnia tanpa adanya jeda yang terlalu berarti. Hanya butuh waktu sekitar 10 menit bagi Agnia untuk melahap semua hingga tak bersisa. Lezatnya rasa bubur tersebut di lidah membuat nafsu makan Agnia bertambah. Sayang, Sanata hanya membelikan satu bungkus. “Pas sakit atau nggak. Lo tetap doyan makan yak.” Mendengar cibiran Sanata, Agnia lantas mengeluarkan cengiran cukup lebar hingga memerlihatkan deretan giginya. “Maklum, habis gue lapar. Terakhir tuh cuma makan mie instan sama telur ceplok buatan lo kemarin. Di kantor gue nyemil roti sama air mineral doang.” “Makanya jaga pola makan biar lo nggak sakit. Ingat ntar minum obat,” pesan Sanata mengingatkan. Tangan kanannya kini telah mengacak-acak rambut Agnia karena merasa gemas sendiri dengan ekspresi mendramatisir yang sengaja ditunjukkan perempuan itu. Agnia mengangguk paham. Tak berselang lama, tatapan curiga dia layangkan kepada Sanata. “Ceritanya lagi perhatian sama gue?” “Emang nggak boleh gitu gue perhatian sama pacar sendiri?” Sanata seolah ingin menantang lewat pertanyaannya. Smirk pun turut dia persembahkan ke arah Agnia. “Mulai deh lo pakai alasan itu lagi, San.” Tawa kecil Sanata kemudian tertangkap oleh kedua gendang telinga Agnia. Alhasil, mood perempuan itu seketika berubah dibuatnya. Agnia terkadang tidak suka dengan sikap Sanata yang menyebalkan seperti ini. “Muka lo jelek kalau cemberut gini, Ag. Coba deh lo ngaca di cermin kalau nggak percaya sama kata-kata gue,” ejek Sanata tak berperasaan. Agnia hampir saja ingin menoloyor kepala sahabatnya jika saja Sanata tidak mencuri start dan mencubit kedua pipinya dengan cukup keras. Dan, tawa Sanata yang semakin mengeras pun menandakan bahwa dia telah puas mengerjai Agnia malam ini. “Apa-apaan sih lo! Sakit pipi gue woi! Sanata s****n!” umpat perempuan itu sangat kesal menerima perlakuan iseng dan memang disengaja oleh Sanata. Agnia juga memukul lengan kanan sang sahabat beberapa kali sebagai balasan. “Kasar banget dah lo, Ag! Kalau kayak gini lo bakal dieliminasi sebagai calon istri gue.” “Bodo amat! Lo duluan yang nyari gara-gara Sanata s****n! Lo kira pipi gue nggak sakit apa saat lo cubit?” Agnia semakin meletup-letup mengeluarkan kekesalannya. Seringaian nakal tergambar dengan sempurna di wajah Sanata. Lagi-lagi terlintas begitu saja ide jahil untuk terus mengusik Agnia. “Pipi lo yang mana sih sakit, Sayang? Sini biar gue kasih ciuman mesra.” Dan seketika itu juga. Kedua mata Agnia melotot. Dia bergidik ngeri. Secara spontan Agnia menggerakkan tubuhnya mundur dan menciptakan jarak yang semakin melebar di antara mereka “Astaga! Kepala lo habis kebentur di mana, San? Sampai bisa konslet dan error kayak gini? Atau lo salah minum obat?” Gelak tawa Sanata terus menerus  membahana dari detik demi detik di ruang tamu rumah Agnia. “Bukan kepala gue yang kebentur. Tapi, hati gue yang udah kepentok sama lo! Tahu nggak Agnia, Sayang?” Kedua bola mata perempuan itu tampak melebar. “Asli pengin muntah gue.” “Hahaha, gue bercanda lagi, Ag.” Sanata membentuk huruf V dengan dua jari tangan kanannya. “Candaan lo receh, Sanata. Yang ada gue mual dengar kata-kata lo!” seru Agnia tanpa segan-segan meluncurkan sindiran. Sanata belum berniat untuk menghentikan tawanya. “Salahin Agra sama Angkasa yang bikin gue kayak gini.” “Lo diapain sama mereka? Nggak mungkin dah mereka macam-macam sama lo, San.” “Mereka nyuruh gue buat segera melamar lo buat dijadiin istri,” ungkap Sanata dengan intonasi suara dan tatapan yang mendadak serius. Kedua mata Agnia membulat seolah tak percaya. “Seriusan? Ngelamar gue jadi istri?” Sanata mengangguk mantap. “Mau nggak lo jadi istri gue?” tanya tanpa menunjukkan adanya keraguan. Tawa Agnia langsung lepas. Ekspresi wajah sok serius Sanata menurutnya gagal total. Dia sama sekali tak merasa tersentuh ataupun terkejut. “Kok lo ketawa? Ada yang lucu?” Sanata keheranan sendiri melihat tingkah Agnia. “Haha. Sumpah ya. Walau, gue nggak pernah pacaran. Tapi, pas lo ngomong dan minta gue buat jadi istri tuh romantis dikit kek,” ejek Agnia sembari masih tergelak. Sanata memandang cukup tajam ke arah kekasih tidak pekanya itu. “Yang penting gue serius,” tanggap Sanata dengan nada jutek. Disaat dia benar-benar ingin mengutarakan keseriusan. Agnia malah menganggap sebagai guyonan belaka. “Tapi, romantis dikitlah, San. Biar berkesan.” “Mending lo istirahat. Kalau perlu dosis obat ditingkatin biar lo peka jadi cewek,” cibir Sanata mulai menampakkan kekesalan. Pria itu segera bangun dari kursi yang didudukinya. Kemudian, hendak pergi meninggalkan meja makan. Namun, Agnia dengan buru-buru dapat menarik pelan kemeja lengan pendek dark blue yang dikenakan Sanata. “Jangan marahlah, San. Gue bercanda juga.” Sanata belum menjawab. Dia hanya memandang Agnia dengan tatapan yang masih tajam seperti tadi. Kekesalan Sanata belum hilang. Walaupun, sudah coba untuk dibujuk. Perlu beberapa menit agar dapat mengembalikan mood menjadi normal lagi. “Jangan marah ya calon suami gue yang baik hati.” Agnia ingin muntah karena kata-kata yang dilontarkannya sendiri. Dan, tanpa diketahui oleh perempuan itu. Kedua sudut bibir Sanata terangkat sedikit hingga menciptakan senyuman tipis. “Jadi lo mau nggak nikah sama gue, Agnia Jyotika? Jadi istrinya gue?” ................  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD