09

4410 Words
Dengan semangat, Agnia membawa piring yang berisikan kentang goreng panas buatannya ke ruang tamu, dimana sang ibu berada. Semangat Agnia kian berapi-api manakala membayangkan bahwa selama kurang lebih satu minggu ini, dia akan ditemani ibunya.  Agnia terkadang merasa bosan harus tinggal sendirian di Jakarta, tanpa kedua orangtuanya. Tetapi, tuntutan pekerjaan memang membuat Agnia harus berkorban lebih banyak. “Kentang kesukaan Ibu nih!” seru Agnia masih menunjukkan semangat ketika baru saja menginjakkan kaki di karpet bulu ruang tamunya.  Cukup hanya dengan berjalan sejumlah empat langkah ke depan. Agnia sudah sukses menempatkan piring yang dia bawa di meja kaca berbentuk persegi panjang tersebut. “Harus dihabisin ya, Bu,” pesan Agnia seraya mendudukkan diri di samping sang ibu. Kepala Agnia kemudian menyender di bahu ibunya. Kenyamanan yang dia peroleh seakan mampu menghilangkan sebagian besar rasa lelah yang mendera akibat bekerja seharian. “Terima kasih,” ujar Sasmita kepada putri kesayangannya. “Enak nggak, Bu?” Sasmita menganggukkan kepala sembari mengunyah sepotong kentang goreng yang buat oleh putrinya. “Enak sekali, Sayang.” Agnia lantas mempertontonkan sikap manja dengan mengalungkan kedua tangan di lengan sang ibu. “Kangen sama Ibu. Sendirian di sini nggak asyik, Bu. Pengin pulang.” Sasmita mengulum senyum. Dia bisa memahami bagaimana perasaan putrinya itu. Namun, Sasmita hanya tak menyangka jika sifat Agnia masih saja sama. Belum mau berubah menjadi sosok wanita dewasa seutuhnya.  Akan tetapi, Sasmita tidak terlalu ingin mempermasalahkan hal tersebut, selama Agnia masih dapat beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang yang berinteraksi dengannya. “Kalau begitu pulang ke Bali.” Agnia kini mengambil posisi duduk tegak dan menatap lembut ibunya. Sesungguhnya dia juga ingin pulang kampung atau bahkan menetap di sana untuk selamanya. Tetapi, Agnia sampai detik ini belum menemukan alasan logis dan tepat untuk pindah.  Jika pun akhirnya Agnia memilih menetap di Bali, maka desakan agar segera menikah akan terus ditujukan padanya.  “Mau pulang sih, Bu. Tapi, aku nggak bisa ninggalin pekerjaan di sini. Gajinya juga gede. Sayang aja aku harus berhenti ntar kalau pulang ke Bali.” Sasmita yang merasa gemas dengan gaya bicara ceplas-ceplos Agnia pun langsung menangkupkan kedua tangan di masing-masing pipi putrinya itu. Dan, sebagai bentuk ekspresi senang, Agnia tersenyum lebar. “Tidak mau pindah karena pekerjaan atau sekarang di sini sudah ada Sanata dan Sandy?” goda Sasmita. Agnia seketika melebarkan bola matanya. Tidak terpasang senyuman lagi di wajah perempuan itu. “Ibu kenapa jadi bahas mereka sih? Apalagi si Sandy. Bikin aku malas.” protes Agnia secara gamblang. Dia sudah terbiasa untuk bersikap terbuka dengan ibunya. Agnia tanpa ragu menceritakan hampir seluruh masalah pribadi yang sedang dialaminya. Termasuk hubungan pacaran yang dia jalani bersama Sanata. “Kenapa, Nak? Ibu tidak boleh bertanya tentang mereka?” Agnia kembali menjatuhkan kepalanya di bahu sang ibu. “Aku lagi malas ngomongin mereka, Bu. Apalagi tentang Sandy. Pokoknya malas.” Tawa Sasmita pun lolos. Bukan rahasia lagi jika putri kesayangannya akan mengutarakan uneg-uneg dengan terang-terangan di depannya. Sasmita tak pernah ambil pusing atau mengeluhkan tingkah putrinya. Tetapi, bukan berarti juga Sasmita akan terus memberikan pembelaan saat Agnia berbuat salah. “Memangnya apa yang dilakukan Sandy?” “Dia orangnya menyebalkan, Bu,” jawab Agnia dengan kekesalan terisi dalam suaranya. Sasmita diam sejenak dan memperbolehkan jeda menyambangi mereka. Namun, senyum di wajahnya tidak sekalipun memudar. Meski, umurnya telah memasuki ebih dari setengah abad. Tak tampak banyak kekeriputan di kulit wanita itu. Sasmita masih tampak segar. “Menurut Ibu, Sandy anak yang baik dan sopan, Nak. Tapi, kenapa bisa Sandy membuat putri Ibu yang satu ini kesal?” “Sandy itu orangnya sok cool, Bu. Suka lagi bikin aku kehabisan kesabaran. Kita nggak akan cocok kayaknya, Bu. Gimana batalin aja perjodohannya?” Agnia senantiasa mengeluarkan jurus andalan. To the point mengutarakan keinginannya lagi dan lagi sampai membuahkan hasil akan dibatalkannya perjodohan. “Karena tidak cocok atau ada Sanata yang jadi alasan untuk membatalkan rencana perjodohan dengan Sandy?”  Agnia menelan ludah dengan cukup kesusahan. Ibunya selalu bisa membuat dia tak memiliki jawaban mudah untuk dilontarkan. “Salah satunya karena Sanatalah, Bu. Udah pasti itu. Di samping aku merasa nggak cocok sama Sandy.” Agnia terus melakukan pembelaan dilihat dari sudut pandangnya sendiri. “Coba Ibu tanya sekarang,” Sasmita berucap lembut. Menjeda sebentar sebelum melengkapi dengan sebuah pertanyaan. Agnia mengangkat kepalanya dan menatap penuh penasaran ke arah sang ibu. “Kok aku jadi curiga ya sama pertanyaan Ibu?”  Mau tak mau, tawa kecil Sasmita kembali lolos. “Ibu ingin tanya. Apa kamu sudah benar-benar yakin dengan perasaanmu pada Sanata, Nak?” “Ibu percaya kalau Sanata anak yang baik. Kalian juga sudah bersahabat lama ‘kan? Ibu hanya tidak ingin melihat putri Ibu patah hati lagi karena suka sama sahabatnya sendiri.” Agnia menggeleng dengan cepat dan yakin akan keputusannya. “Tidak, Bu. Aku udah strong. Nggak akan patah hati kayak dulu.” Sasmita mengusap lembut rambut putrinya. “Kalau gitu nanti Ibu bilang ke Ayah kamu, Nak. Mengenai rencana perjodohan bisa Ibu bicarakan lagi dengan Sandy pelan-pelan.” Untuk meluapkan kebahagiaan, Agnia lantas memeluk tubuh ibunya dengan erat. “Makasih, Bu. Aku sayang sama Ibu deh pokoknya. Aku yakin Ayah juga akan mendukung secara penuh.” “Kenapa jadi yakin sekali?” Sasmita merasa sedikit keheranan akan ucapan sang putri yang terkesan menyimpan sesuatu. “Ayah itu sebenarnya juga nggak begitu suka sama Sandy yang notabene keponakan Om Dipta. Kata Ayah, dulu Om Dipta sempat suka sama Ibu, ya? Ayah cemburu tahu, Bu. Sampai sekarang malah.” “Waktu ini Ayah juga bilang kalau Ibu janjian makan bareng sama Sandy dan Om Dipta. Terus Ayah nggak bisa ikut karena ada rapat.” Sasmita hanya bisa terus tertawa mendengar celotehan putrinya itu. Lucu. Terlebih, aksi ‘curhat’ yang dilakukan oleh sang suami kepada putri mereka tanpa sepengetahuan darinya. “Kalian ada-ada aja.” Sasmita lantas berkomentar. “Makanya batalkan perjodohanku sama Sandy, Bu. Terus jangan ketemu Om Dipta pas Ayah nggak ada. Jangan buat Ayah cemburu lagi,” pesan Agnia dengan nada cerewetnya. “Membela Ayah kamu ceritanya?” “Aku ‘kan pembela setianya Ayah,” jawab Agnia bangga. Sasmita memilih mengangguk agar sang putri tidak terus menerus mendesaknya. Kemauan Agnia terkadang memang keras dan sulit untuk dibujuk saat putrinya sudah mengatakan tidak mau. “Oh ya, Bu.” Agnia memotong ucapannya. “Apa, Nak?” tanya Sasmita. Kali ini Agnia tampak sedikit gugup. Terlebih harus mengingat perkataan Sanata yang membuat darahnya berdesir tanpa diminta. “Mungkin beberapa hari lagi. Aku akan mengajak Sanata ke sini. Dia bilang pengin bertemu Ibu dan Ayah.” Butuh waktu empat detik bagi Agnia untuk menghela napas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya yang masih tertinggal di dalam kepala. “Sanata ingin mengajakku menikah, Bu.” “Jawaban apa yang kamu berikan, Nak?” Agnia memilin tepian baju kausnya untuk menetralisir kegugupan yang kian menyandera. “Aku bilang ‘iya’. Aku bersedia menikah dengannya, Bu.” Sasmita meraih tangan putrinya yang terasa dingin. “Jangan buru-buru, Sayang. Kami tidak akan menuntut Agnia untuk segera menikah, walau nantinya perjodohan dibatalkan.” “Aku su—” Ucapan Agnia menggantung karena bel rumahnya yang tiba-tiba berbunyi dan menandakan ada tamu sedang bertandang. Agnia tidak tahu siapa. “Siapa yang datang?” gumam perempuan itu kemudian dengan suara pelan. Namun, masih dapat didengar oleh Sasmita. “Tamu spesial Ibu, Nak.” Kepekaan Agnia berkurang drastis. Dia bahkan tak bisa menerka-nerka siapakah tamu spesial yang dimaksud oleh sang ibu. “Ayo cepat buka pintunya.” ………………. Kegugupan begitu kental ditunjukkan Sanata di depan Ibu Agnia. Hal tersebut terlihat nyata pada cara Sanata duduk dan mengatur napasnya. Cuaca malam ini tidak terlalu panas atau bahkan sebentar lagi bisa dikatakan akan turun hujan, karena sejak sore langit sudah tampak mendung. Kondisi yang berbanding terbalik malah menyelimuti Sanata. Keringat dingin mulai membasahi kedua telapak tangannya. Setitik buliran keringat pun jatuh dari dahinya.  Sanata benar-benar merasa canggung saat harus berada dalam satu ruangan bersama Ibunya Agnia. Dengan situasi yang bisa terbilang cukup serius. Sebab, dia datang bukan lagi sebagai sahabat perempuan itu. Melainkan, kekasih yang akan meminta izin dan restu secara resmi untuk melangkah ke tahap hubungan lebih pasti dan serius. “Tante, apa kabar?” Sanata mengambil start terlebih dahulu. Sasmita yang duduk di sebelah kekasih sang putri itu pun memamerkan senyum hangat layaknya seorang ibu. “Tante sehat. Bagaimana juga kabar Nak Nata?” Sanata membenahi posisi duduknya. Menegakkan tubuh agar rasa canggung yang melingkupinya tidak disadari oleh ibunya Agnia. “Saya juga baik, Tante.” “Tante rasa Nak Nata banyak berubah, ya? Apa karena kita sudah lama tidak bertemu?”  Usapan kedua telapak tangan Sanata yang menyatu semakin cepat saja. Meski, Ibu Agnia bersikap terbuka menerima kehadirannya, Kegugupan Sanata belum mau menghilang juga. Masih terdapat semacam beban dipikulnya. “Berubah gimana, Tante? Saya tambah ganteng ‘kah?” Sanata berdoa dalam hati dan berharap lelucon yang dia katakan tidak garing. Sasmita tak mampu mencegah tawanya keluar ketika dihadapkan pada guyonan dari kekasih putrinya itu. “Iya, Nak Nata tambah ganteng dan keren.” Sanata menggaruk lengan kirinya yang tak gatal untuk meredakan rasa malu akibat guyonannya sendiri. Dia belum bisa mengambil sikap rileks. Sanata pun mengakui di dalam hati bahwa dia tidak pernah merasa segugup ini sebelumnya jika diharuskan mengobrol dengan orangtua mantan-mantan pacarnya. “Tante Sasmita juga cantik,” puji Sanata disertai senyum sopan. Bukan bualan belaka. Dia hanya mencoba untuk lebih dapat mengakrabkan diri dengan calon ibu mertuanya itu.  “Cantikan mana antara Tante atau Agnia?” tanya Sasmita menanggapi santai candaan kekasih sang putri. “Kalau boleh jujur, jelas cantikan Agnia. Dia ‘kan putri Tante, pasti cantiknya nurun dari Tante. Atau mungkin nanti Agnia pas seusia Tante Sasmita, belum tentu dia bisa secantik Tante.” Sanata mengutarakan pendapatnya tanpa ada kecanggungan seperti tadi. “Mulut lo kalau ngomong nggak bisa absen dari kata-kata pedas ya?” sindir Agnia sembari berjalan mendekat ke arah sofa setelah membuatkan secangkir teh untuk Sanata di dapur. “Tuh Tante, cantiknya Agnia hilang kalau sifat galak dia keluar,” celetuk Sanata cuek seolah tidak acuh dengan cibiran perempuan itu. Sasmita hanya dapat mengeluarkan tawa, melihat kelakuan dua sosok anak muda di hadapannya yang sempat memutarkan memori-memori di kepala Sasmita tentang masa mudanya. Tentu, pada zaman yang berbeda. “Habis mulut lo kebanyakan pedas kalau ngomong,” Agnia tak mau terlihat salah. Apalagi, di depan ibunya. “Gue tuh membicarakan fakta yang sebenarnya.” Sanata membela diri. Agnia masih menampakkan ekspresi ketidaksukaan akan ucapan Sanata. Mendengar sebagian besar cerita teman-teman perempuannya, yakni tentang bagaimana pacar-pacar mereka akan melontarkan kata-kata pujian saat berada di depan calon mertua. Tetapi, Sanata tak melakukan seperti apa yang diperkirakannya. Agnia pun ragu jika pemuda itu akan dapat memenangkan hati dan memperoleh restu ibunya dengan mudah. “Meski gue nggak selalu kelihatan cantik, tapi lo tetap suka ‘kan?” Agnia sungguh menyesal karena telah meluncurkan pertanyaan bodoh tersebut. Perasaan Agnia semakin tak enak ketika melihat senyum aneh yang Sanata tunjukkan. “Iya,” jawab pemuda itu singkat, namun terkesan serius dan dalam. Karena memang kenyatannya dia menyukai sosok Agnia yang apa adanya. Dia menerima segala bentuk kekurangan dimiliki Agnia, termasuk ketidakpekaan yang melekat keras dalam diri sang kekasih. “Kalian ada-ada aja,” tanggap Sasmita cukup menikmati momen kebersamaan dengan Sanata dan Agnia. “Bela aku dong, Bu. Masa putri Ibu dibilang jelek sama calon mantu, eh Ibu kelihatan tenang terus.” Agnia bersuara. Dia mengambil tempat di sisi kanan ibunya. Bukan malah duduk bersama dengan Sanata. “Calon mantu?” Sasmita mengulang dua kata yang tadi ikut terlontar dalam ucapan sang putri. Agnia mengangguk mantap. “Calon mantu buat Ibu sama Ayah. Terus calon suami untukku," ceplos perempuan itu. Rasa malu Agnia telah enyah dan terlempar jauh. Topeng untuk menjaga sikap elegan bak putri juga sudah dipersiapkan Agnia dengan rapi. Mungkin segala bentuk cara akan dia coba lakukan agar dapat meyakinkan ibunya tentang pembatalan perjodohan. Dan, memberi restu secara penuh akan hubungan yang dirinya jalin bersama Sanata. “Tante Sasmita. Boleh saya menyampaikan sesuatu yang penting?” Sasmita mengalihkan perhatian sejenak pada sosok pemuda yang kini tampak serius. Baik dari segi mimik wajah maupun nada suaranya. “Iya, Nak Nata. Silakan.” Degup jantung Sanata semakin terasa berdetak cepat, seiring dengan serangkaian kalimat yang telah siap untuk dia ucapkan sebagai salah satu bentuk janji dan keseriusannya pada Agnia.  “Mungkin ini terkesan mendadak. Tapi, saya berencana untuk mengajak Agnia melangkah ke jenjang hubungan lebih serius lagi. Saya ingin melamar anak Tante untuk menjadi istri saya. Maaf kalau saya tidak pintar dalam menyampaikan keinginan saya ini di depan Tante.” “Dalam waktu dekat saya berniat mengajak orangtua saya untuk menemui Tante dan Om Radika di Bali. Saya sangat berharap Tante dan Om mau memberi kesempatan bagi saya untuk membuktikan keseriusan saya ini.” Sanata menarik napas dalam-dalam dan mengumpulkan segenap keberanian tanpa harus berada terlalu lama dalam lingkaran keraguan. “Saya mungkin bukan pria paling baik buat anak Tante. Tapi, kalau Om dan Tante nanti benar-benar memberi kesempatan pada saya. Maka, saya akan mencoba menjaga Agnia dengan baik. Maaf kalau saya tidak pandai bicara, Tante.” Lagi-lagi Sanata memilih menggaruk kepalanya sebagai bentuk dari sedikit kelegaan atas berkurangnya beban karena telah mengungkapkan maksud dan keinginannya. Sementara itu, Agnia tampak tersentuh oleh setiap kata Sanata yang diuntai dengan nada serius. Seperti tak terlihat niatan Sanata untuk main-main. “Kasih kesempatan ya, Bu? Sanata nggak kalah baik kok dari Sandy yang Ibu suka itu. Aku yakin Ayah pasti bakal kasih kesempatan juga buat Sanata.” Agnia merayu ibunya dan coba meyakinkan bahwa keseriusan Sanata memang patut untuk diberi restu. Sasmita tersenyum ke arah pemuda yang rupanya sudah berhasil mengambil hati putrinya secara penuh itu. “Nak Nata kapan akan terbang ke Bali? Biar Tante bisa bilang ke Om, kalau ada tamu-tamu spesial yang akan berkunjung ke rumah kami.” Sedetik itu juga, sebentuk senyuman cerah dan sedikit kelegaan menghiasi wajah Sanata. “Terima kasih banyak, Tante.” ................ Sandy menjatuhkan tubuh lelahnya pada deretan kursi-kursi yang tertata dengan rapi di pinggiran-pinggiran lorong rumah sakit. Rasa capek dan pegal seakan menjalar hampir ke seluruh otot-otot, hingga turut menguras energi serta tenaganya. Kedua lutut Sandy pun terasa kian melemas dan meninggalkan kesan bahwa kondisi pria itu memang sedang jauh dari kondisi baik-baik saja. Raut kesedihan tidak dapat terlepas dari wajah Sandy,  ketika kemarin siang menerima kabar jika nenek satu-satunya di dunia ini yang masih dia miliki tengah sakit dan harus menjalani rawat inap di sebuah rumah sakit swasta. Kekhawatiran Sandy semakin diperparah dengan pemberitahuan dari dokter yang menyampaikan bahwa kondisi neneknya kian melemah. Kecil kemungkinan untuk sembuh. Dan, saat itu juga Sandy segera memanjatkan doa serta menggantungkan harapan setinggi mungkin, jika dia tidak harus mengalami sebuah rasa kehilangan yang teramat dalam waktu dekat. Bahkan, untuk sekadar membayangkan saja tidak pernah terlintas dalam kepalanya. “Minum dulu. Nanti kamu bisa dehidrasi." Sandy dengan sigap menolehkan kepala ke arah pemilik suara yang entah mengapa secara ajaib berhasil menciptakan sebuah ketenangan baru untuknya. Sandy segera meraih botol air mineral yang dipegang oleh si pemilik suara.  Tak sampai lima detik, sudah berhasil dua matanya menangkap sosok cantik Agnia. Ia pun spontan menarik sudut-sudut bibirnya guna memerlihatkan sambutan yang baik dan juga hangat. “Makasih, Agnia.” Senyum ramah Sandy seakan menjadi hal wajib dilakukan saat berhadapan dengan Agnia. "Sama-sama. Cepat diminum airnya supaya kamu nggak kurang cair atau dehidrasi." Sandy mengangguk dengan cepat sembari membuka tutup botol air mineral. Lantas, diminumnya. Habis sekitar seperempat. Rasa haus seketika menghilang. Arah dari pandangan Sandy tak ingin dipindahkannya. Masih memandang dengan lekatnya sosok Agnia. Perempuan itu balas menatap. “Duduk di sini.” Sandy memberi isyarat agar perempuan itu mengambil tempat di sisi sebelah kanan. Tangan ditepuk-tepuknya. "Aku mau bicara sesuatu denganmu. Bisa duduk sebentar? Aku tidak akan berbuat hal yang macam-macam padamu. Percayalah." Agnia mengangguk tipis, kemudian dengan gerakan hati-hati menempatkan diri di samping Sandy. Kekikukan tampak begitu jelas membentang di tengah-tengah mereka berdua. Dan, suasana di sekitar pun ikut menghantarkan Sandy serta Agnia pada momen yang kian terasa canggung. Mereka seolah-olah telah menyepakati sebuah perjanjian untuk saling diam dalam hening hingga beberapa menit berikutnya. Sandy tak merasa atau sungkan ketika memusatkan fokusnya ke arah Agnia yang hanya terus-menerus bungkam, mengikuti alur kesunyian yang menemani mereka sejak tadi. Dari sudut matanya, Sandy kian asyik memerhatikan sosok Agnia dan mulai mengagumi paras cantik perempuan itu. “Kabar kamu gimana?” Sandy membuka obrolan dengan pertanyaan klasik yang kerap dilakukan kebanyakan orang. Agnia segera memutar kepala ke kiri guna mengarahkan pandangannya pada sosok Sandy. “Aku baik-baik saja. Sehat selalu aku." Senyum Agnia melengkung tipis di kedua ujung bibirnya. Tak butuh waktu terlalu lama bagi perempuan itu untuk kembali menaruh intensitas perhatian ke depan, tepatnya tertuju ke arah halaman rumah sakit yang ditumbuhi beberapa jenis bunga bermekaran. Terlihat indah di matanya. "Kamu sendiri bagaimana? Aku tahu kamu pasti nggak tenang karena nenekmu lagi sakit. Tapi, kamu harus jaga kesehatan juga. Bagaimanapun kamu harus menjaga nenek kamu dengan badan yang kuat dan sehat." Sandy melebarkan senyum pada wajah. Ia lantas mengangguk dalam gerakan ringan. Tak henti memandang ke arah Agnia. "Aku masih sehat sejauh ini. Makasih atas saran kamu, Agnia. Akan aku ingat terus, ya." “Makasih juga karena kamu sama Tante Sasmi sudah jenguk nenek,” ujar Sandy dengan suara beratnya. "Kalian baik sudah mau meluangkan waktu untuk datang.* Dan mau tak mau, Agnia harus kembali mengubah titik fokusnya. Padahal, baru saja memandang ke arah lain. Dia pun menatap cukup intens wajah Sandy yang tampak sedikit memucat. Perasaan iba kepada pria itu semakin melingkupi diri Agnia. Dia coba untuk menempatkan diri di posisi Sandy, pasti tidak akan enak rasanya. Agnia merasa pasti kesedihannya jauh lebih besar. “Iya, sama-sama. Semoga nenek kamu cepat sembuh, ya Sandy.” Doa Agnia secara tulus. “Aku juga punya harapan kayak gitu. Tapi, kata dokter sulit.” Sandy terseret ke dalam pusaran kesedihan ketika harus diingatkan pada kenyataan tentang kondisi neneknya. “Kamu harus terus berdoa.” Agnia tak bisa banyak mengeluarkan kata-katanya. Namun, yang pasti dia juga harapkan kesembuhan untuk nenek Sandy. "Tuhan tahu jalan mana paling baik untuk kita," imbuhnya serius. “Thank you, Agnia. Aku akan terus berdoa. Aku yakin Yang Maha Kuasa akan berikan kesembuhan untuk nenekku secepatnya." Perempuan itu mengangguk pelan dan membiarkan bibirnya terkatup, tanpa memiliki keinginan memberi dukungan moril atau melanjutkan obrolan mereka. Begitu juga dengan Sandy yang memilih untuk hanyut jauh dalam pikirannya sendiri. Dan, ketika tak sengaja Agnia menangkap keanehan pada raut ekspresi wajah Sandy yang tak seperti biasa dilihatnya. Maka, rasa iba serta simpatik Agnia pun bekerja dan mengambil sebagian perhatiannya untuk ditunjukkan pada Sandy. "Iya. Kamu harus pegang terus keyakinan itu, ya. Aku sama Ibu juga akan berdoa agar nenek kamu bisa segera pulih. Karena, aku tahu juga kamu sangat sayang dengan nenek kamu, Sandy. Tuhan pasti mengabulkan." “Diminum lagi airnya.” Agnia membujuk pria itu dengan suara lebih lembut. Walau, terselip nada kecanggungan di suaranya. Sandy semakin ingin mengulas senyum tatkala Agnia menyodorkan sebungkus roti untuknya. Dengan refleks, Sandy segera memindahkan roti tersebut ke tangannya. Ada satu hal lagi dalam diri Agnia yang mampu memesonanya, yakni tentang kepedulian perempuan itu terpancar secara tulus. Walau, tak ditunjukkan dengan nyata. “Om Dipta bilang kalau pola makan kamu nggak teratur selama di rumah sakit.” Agnia memutar kembali ingatan akan ucapan Om dari Sandy itu beberapa menit lalu, sebelum dirinya meninggalkan ruang inap untuk menemani Sandy. “Aku nggak pengin makan aja saat lihat keadaan nenek kayak gitu. Nafsu makanku hilang, Agnia,” jelas Sandy apa adanya. “Jangan bikin diri kamu ikutan sakit. Nanti siapa yang bakal jaga nenek kalau kamu nggak sehat?” Agnia tidak ragu untuk memerlihatkan sisi pedulinya. Meski, dia tak mempunyai riwayat hubungan terlalu dekat dengan pria itu. “Nenek bisa dijagain sama calon cucu menantunya kalau aku sakit,” jawab Sandy dalam nada bercanda yang mendominasi suara beratnya. Agnia dengan spontan membeliakan kedua mata. Dia segera membuang muka ke arah lain untuk menghindari tatapan Sandy yang begitu lekat. Sedangkan, salah satu tangan Agnia merogoh ke dalam tas plastik guna mengambil bungkusan roti lain yang masih tersisa. Sandy tidak mampu menghilangkan senyuman di ujung-ujung bibirnya manakala memandang Agnia yang sedang asyik mengunyah dan menikmati rotinya. Ada semacam tarikan magnet yang membuat Sandy tak pernah bosan untuk terus memerhatikan setiap hal-hal kecil yang dilakukan perempuan itu. “Agnia?” Dengan rasa malas yang timbul karena ucapan ‘menggoda’ dari Sandy tadi, Agnia tampak memutar kepalanya sedikit ogah-ogahan. Tak butuh waktu lama untuk tatapan mereka saling bertemu. Meski, tidak secanggung seperti beberapa menit lalu, tetapi tetap saja Agnia belum dapat merasa nyaman saat harus terlibat dalam obrolan hanya berdua dengan Sandy. “Apa?” tanya perempuan itu mengeluarkan nada ketus yang rupanya malah membuat Sandy cukup terlibur. “Sebelum nenek koma, aku sempat bikin janji buat kenalin kamu ke nenek. Tapi, aku belum bisa menuhin janji itu,” cerita Sandy dengan senyuman yang bagi Agnia terlihat menyedihkan. “Nenek paling semangat kalau aku ceritain semua tentang kamu, Agnia,” lanjut Sandy. Suaranya kian terdengar berat. Ada luapan emosi yang coba senantiasa Sandy tahan dalam suaranya agar kendali atas dirinya tidak goyah. Agnia diam. Bukan berarti dia tak merasa simpatik akan pemberitahuan Sandy, hanya saja Agnia tak tahu harus menunjukkan sikap seperti apa. Terlebih dari perkataan pria itu, Agnia akhirnya memperoleh informasi bahwa ternyata nenek Sandy sudah mengetahui tentang perjodohan mereka. Tampaknya pula niatan Agnia untuk segera mengutarakan pada Sandy tentang pembatalan rencana perjodohan mereka harus ditunda. Mengingat situasi tak mendukung. “Aku khawatir kalau nggak bisa bayar janji ke nenek.” Sandy kembali buka suara. “Nenek kamu pasti akan sembuh kok. Jangan punya pemikiran yang buruk karena itu sama saja dengan kamu tidak menaruh harapan tinggi untuk kesembuhan nenek kamu, Sandy.” “Aku boleh minta sesuatu dari kamu nggak, Agnia? Semoga kamu nggak keberatan." “Minta apa? Asal jangan yang aneh-aneh aja.” Agnia secara tak langsung telah mengiyakan permintaan pria itu. “Kalau nenek nanti sadar dari koma. Apa kamu mau menemui nenek sebagai tunanganku?” Sandy mengumandangkan sebuah pertanyaan yang menimbulkan perubahan ekspresi di wajah Agnia. “Tapi Sandy. Aku sudah punya pa—” “Aku menyukaimu, Agnia. Beri aku satu kali saja kesempatan untuk menunjukkan semuanya. Terlepas dari ada atau tidaknya Sanata sebagai pacar kamu.” “Jangan memaksaku, Sandy.” Agnia menolak. Dia tidak akan dapat semudah itu memberi keputusan akan keinginan Sandy. “Apa karena kamu terlalu mencintai Sanata atau disebabkan oleh ketidaklayakan diriku untuk jadi pendamping kamu, Agnia?” “Bukan seperti itu, Sandy.” “Bisa tidak kita mencobanya? Belajar untuk saling mengenal lebih dalam satu sama lain?” pinta Sandy. ……….......................... Mungkin ungkapan terima kasih yang telah Sandy suarakan di dalam hati beberapa kali, tidak mampu mengekspresikan secara keseluruhan bagaimana sesungguhnya luapan syukur Sandy atas kondisi sang nenek yang sudah keluar dari masa kritis. Setelah beberapa hari berada dalam keadaan koma. Dan kini, tepatnya di depan ruang ICU, Sandy terus memanjatkan doa tentang kesembuhan sang nenek seraya menunggu hasil pemeriksaan dokter yang sedang mengontrol kondisi neneknya di dalam sana. Sandy belum dapat merasakan ketenangan yang mutlak. “Bagaimana perkembangan nenek kamu?” Sandy segera memutar kepala dan menoleh ke arah pria yang sebelumnya telah menempatkan tangan pada bahu kanan Sandy. Pria berumur sekitar 50 tahun itu memperlihatkan senyum hangat layaknya seorang ayah. “Kata dokter, nenek sudah melewati masa kritis. Cuma belum siuman,” jawab Sandy dengan nada sopan. “Om Dipta sudah selesai menghadiri rapat? Maaf karena saya tidak bisa hadir tugas Om di kantor jadi bertambah,” ucap Sandy mengutarakan rasa bersalah yang menggelayuti dirinya. “Tidak masalah.” Dipta lalu menurunkan tangannya dari bahu Sandy dan memberi isyarat agar sang keponakan ikut duduk bersamanya di kursi tunggu. Sandy pun menurut. Mereka lantas menempatkan diri pada deretan kursi tunggu yang ada di depan ruang ICU. Aliran keheningan sempat mengambil alih suasana di antara paman dan keponakan itu. Sandy mempunyai firasat bahwa pamannya akan menyampaikan sesuatu yang tergolong penting. “Kamu sudah memutuskan?” Suara khas sang paman memasuki indera pendengaran Sandy dan lantas berefek pada tubuhnya yang menegang. “Beri saya waktu, Om. Saya butuh waktu lagi untuk berpikir dan mengambil keputusan. Saya tidak mau menyesal nantinya, Om." "Saya ingin mendapatkan solusi yang paling baik dan tepat untuk diri saya sendiri." Dipta hanya memandang lurus ke depan dengan ekspresi serius di wajah. “Jangan terlalu banyak membuang waktumu jika akhirnya kamu memilih menyerah, Sandy.” “Saya tidak akan mundur begitu saja, Om. Saya akan menepati janji saya pada nenek dan Om.” Tekad Sandy semakin bulat. “Tapi, ingat jangan terlalu memaksakan kehendakmu nantinya,” pesan Dipta serius. Ketegangan yang tampak di wajah Sandy seakan menjadi bukti bahwa ucapan dari sang paman menimbulkan dampak yang serius baginya. Sandy menarik napas cukup dalam, demi kembali meraih ketenangannya. “Tidak akan terjadi, Om.” Sandy berjanji. “Saya harap Om tidak akan menentang keputusan yang saya ambil,” lanjutnya. Dipta menoleh sejenak pada sosok sang keponakan yang memang memiliki sifat keras kepala dan akan terus maju untuk mencapai tujuan yang dikendakinya. “Asal rencana kamu itu tidak menyakiti atau merugikan pihak lain. Om akan selalu mau mendukung,” tegas seorang Dipta Aryasatya. “Terima kasih, Om. Makasih banyak atas perhatian Om kepada saya selalu." Dan untuk yang kedua kalinya, Dipta pun menjatuhkan tangan di bahu kanan sang keponakan, lalu meremas pelan seolah ingin memberi kekuatan tambahan. “Ingat satu hal penting lagi, Sandy. Jika seorang pria tulus mencintai wanitanya. Dia tidak akan pernah ragu untuk mengutamakan kebahagiaan wanita itu. Meski, dia harus melakukan pengorbanan banyak nantinya.” "Mencintai seorang wanita bukan berarti kamu harus memiliki dia. Karena, belum tentu dia akan bahagia hidup bersamamu. Berikan dia kesempatan memilih. Saat, dia mau dengan orang lain. Terimalah. Belajar juga merelakan. Walau akan sulit bagimu." Sandy tidak segera menjawab, kali ini. Dia masih merenungkan apa yang disampaikan oleh sang paman. Setiap kata pun dirinya coba diartikan dengan pemahaman positif. Namun, hatinya belum mampu menerima. Kesesakan di dalam d**a terus menghantam lebih keras. Reaksi tak disangka-sangka. "Bagaimana, Nak? Kamu bisa dimengerti apa yang Om jelaskan? Om cuma tidak ingin kamu menjadi orang yang egois. Biarkan Agnia bahagia bersama pilihannya. Kamu pasti akan mendapatkan pasangan kelak." Sandy mengangguk cepat. Enggan membuat sang paman menunggu lama respons dari dirinya. "Baik, Om. Akan aku lakukan. Aku juga setuju dengan ucapan Om tadi." "Makasih Om sudah mengingatkan saya diawal  dan tidak menyebabkan saya terus egois ingin Agnia sebagai pendamping saya dalam perjodohan yang dia tidak inginkan." …………………….
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD