10

1335 Words

Langkah kaki Agnia pun kian memelan saat dirinya tinggal berjarak sekitar dua meter dari pintu masuk utama rumah Sanata. Keraguan Agnia muncul mengiringi kegugupan yang terus bertambah seiring dengan pemikiran-pemikiran tentang apa yang mungkin bisa saja terjadi saat dirinya nanti masuk ke dalam. Sudah dipastikan dia akan dihadapkan pada situasi untuk bertemu dengan orangtua Sanata. Deringan dan getaran berasal dari handphone yang menandakan panggilan masuk pun lantas menghentikan lamunan Agnia. Tangan perempuan itu segera bergerak guna mengambil ponsel yang tersimpan di tasnya. “Lo di mana?” Suara milik Sanata di ujung telepon menyapa gendang telinga Agnia. “Gue udah di depan rumah lo, San.” “Tunggu bentar, gue buka pintunya.” Agnia langsung menjauhkan handphone yang tadi menempel d

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD