22

1092 Words

"Hahaha. Astaga, San. Astaga. Hahaha." Sanata seketika berhenti berjalan karena mendengar tawa kencang sang istri dalam melontarkan kalimat pengentaraan. Tetapi, terkesan seperti sebuah ejekan. Membuat Sanata juga cepat melepaskan genggaman pada tangan kiri perempuan itu sembari melempar tatapannya yang cukup kesal. Reaksi Agnia hanyalah berupa senyuman lebar. Belum diredamkan gelakan, meskipun telah dirinya berikan peringatan secara nyata lewat delikan. Namun, sang istri tak peka. Lebih tepat, sengaja melakukan demi menambahkan rasa jengkelnya. Sanata tentu sudah tahu tujuan Agnia. Jadi, dia berupaya tidak terlalu terpancing. Bukan berarti juga akan menunjukkan kekalahan. Sanata justru ingin mengetahui alasan istrinya tertawa. "Kenapa, Sayangkuh? Ada yang salah sama semuah yang akuh si

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD