Haikal berbalik badan dan langsung menangkap tatapan mataku dengan netranya. Kami hanya saling pandang selama beberapa saat. Tiba-tiba Haikal melangkah menuju arahku. Aku sedikit mengubah posisi kakiku. Bukan ingin memutar badan lalu lari secepat kilat, tapi hanya ingin sedikit bergeser saja dari posisi berdiriku yang terasa kurang nyaman saat ini. Haikal makin mendekat ke arahku. Tatapan matanya tidak lepas dari menatapku. Sepertinya dia sudah mengunci tatapanku hingga membuatku sulit berpaling dari tatapannya. Jantungku mulai berdegup kencang saat posisiku dengan Haikal hanya berjarak sekitar satu meter saja. Dia mendesah, mungkin sadar kalau ekspresi terlihat tidak nyaman saat ini. "Kenapa? Kamu sedang berpikir bagaimana caranya lari dari hadapanku?" Aku tersenyum sinis mendengar ka

