Di jam istirahat pertama, Dara tidak menggunakannya untuk makan, padahal ia belum sarapan pagi ini. Perempuan itu justru pergi ke kantin sebentar untuk membeli sesuatu lalu bergegas menuju ruang detensi. Dara menarik napas, ia ragu dan ia pikir dirinya sudah gila karena berada di sini. Tapi pada akhirnya Dara mendorong pintu ruang detensi setelah mengintip ke dalam.
Rafka melirik Dara yang masuk dan langsung menutup pintu. Ruang detensi ini sepi, hanya ada Rafka. Dara juga pernah masuk ke sini ketika ia mendapat pelanggaran. Ruangan yang membuat orang justru merasa ingin tidur di bandingkan tegang ketika memasukinya. Terlampau sepi, senyap, dingin dan nyaman.
Dara melangkah menghampiri Rafka yang sedang duduk di salah satu meja, laki-laki itu sedang menulis essai yang cukup banyak, bahkan sudah ada satu kertas polio bergaris yang ditulisi oleh tulisan tangannya. Rafka diberi hukuman dengan menulis essai mengenai mimpi untuk masa depannya, ditambah dengan hukuman menulis kalimat saya berjanji tidak akan membuat masalah lagi berulang kali sampai selembar penuh kertas polio bergaris.
Rafka tidak banyak bicara, meskipun ia penasaran kenapa Dara datang ke sini, rahangnya terlalu ngilu untuk berbicara jadi ia diam saja. Sementara Dara langsung meletakkan sebuah botol air mineral dan dua lembar plester dengan motif lucu berwarna kuning.
Rafka mengangkat wajah, menatap Dara yang berdiri di depannya. "Kenapa?"
Dara mengerutkan dahi, "Kenapa, apanya?"
"Kenapa tiba-tiba?" tanya Rafka, pelan.
Dara mengerti maksud pertanyaan Rafka. Ia juga sama ingin menanyakan itu pada dirinya sendiri. Dara juga tidak tahu kenapa ia berada di sini dan memberikan empati kepada Rafka ketika seharusnya ia tidak perlu peduli. Dara menelan ludah, "Nggak papa. Emang nggak boleh?"
"Enggak," Rafka menggeleng. "Karena gue nggak suka."
Dara menautkan kedua alisnya. Idih, nggak tau terima kasih banget ini anak!
Rafka meletakkan pulpen di meja, dan bersandar pada kursi. "Kalo alesan lo datengin gue karena kasian atau karena lo keganggu sama apa yang Rian bilang tadi di par-shh, aw!"
Rafka berhenti bicara ketika ia merasa rahangnya seolah akan patah. Dara memutar bola mata. "Jangan banyak bacot makanya, udah tau masih sakit!"
Rafka diam. Ia lanjut memegang pulpen dan menulis kembali hukuman essai yang entah kapan akan selesai. Sementara Dara menarik sembarang kursi dan duduk di hadapan laki-laki itu. "Gue ke sini bukan karena kasian, tapi gue mau bayar utang gue sama lo."
Dara menarik napas, "Mungkin ini emang nggak seberapa, tapi-"
"Pasangin," potong Rafka cepat.
"Hah?" Dara memiringkan kepalanya ketika ia tidak bisa mendengar apa yang Rafka bicarakan dengan jelas.
"Iya, pasangin plesternya, ke muka gue." Rafka menghentikan aktifitas menulisnya. Lalu menatap Dara dengan tatapan menuntut.
"Lo bisa sendiri," ucap Dara.
"Kalo gue nggak mau?"
"Terserah,"
"Ya udah selamanya gue anggap lo utang budi sama gue," Rafka menaikkan sebelah alisnya. "Pasangin doang, kek. Tangan gue sakit."
Sakit, tapi masih bisa nulis. Sayangnya, Dara hanya bisa mengatakan itu dalam hati. Akhirnya perempuan itu menghela napas. "Ya udah sini."
"Lo yang ke sini, lah."
"Siapa yang butuh?"
Rafka mingkem. Laki-laki itu akhirnya mengerutkan hidung dan menyeret kursinya ke samping Dara. Sementara Dara memiringkan kursinya supaya ia bisa saling berhadapan dengan Rafka. Dara berusaha mengontrol dirinya agar tidak terdistraksi oleh Rafka meskipun laki-laki itu kini menatapnya intens. Bahkan dengan jarak sedekat ini, Rafka bisa mengamati fitur wajah perempuan itu lebih leluasa.
Dara menggerakkan tangannya. Menyibak rambut Rafka yang menutupi kening. Rafka bisa merasakan tangan dingin Dara menyentuh keningnya dan mulai menempelkan plester di sana. Luka lecet itu ada di sekitar kening dan tulang pipi. Tapi Dara baru menempelkan plester di kening, "Udah."
"Satu lagi,"
Dara memejamkan mata jengah, "Lo bisa sendiri, Rafka."
"Gue-nggak-mau,"
Dara berdecak kesal, lagipula tanggung. Maka dari itu perempuan itu membuka perekat plester satunya untuk menempelkan plester itu di area tulang pipi Rafka. Saat Dara sedang berkonsentrasi menempelkan plester, tiba-tiba Rafka memajukan kepalanya, jarak mereka semakin dekat dan Dara yang sadar bahwa Rafka bergerak langsung menekan plesternya dan mendorong wajah laki-laki itu dengan satu telapak tangan.
"Jangan macem-macem!" desis Dara, memberi peringatan.
"Bercanda, kali."
"Bercandaan lo nggak lucu!" Dara segera berdiri dari kursinya, meminimalisir sebisa mungkin kontak mata dengan Rafka yang sekarang justru cengengesan tanpa rasa bersalah. "Gue mau ke kelas."
Dara segera beranjak dari ruang detensi dan menutup pintu. Sementara Rafka menyeret kursi kembali ke tempatnya. "Yeeuh, ngaku aja kalo salting!"
***
"Dia baru aja diputusin, makanya kayak gitu,"
"Serius? Lo kata siapa?"
"Kata temen-temennya, lah! Udah tau geng-nya dia itu tukang rumpi, temen sendiri aja diomongin!"
Dara yang baru saja masuk kelas saat itu iseng menyembulkan kepala diantara dua orang yang tumben sekali sedang nge-rumpi. "Heh, ngomongin siapa lo berdua?"
"Ih, kaget!" Ghina sontak langsung mencubit Dara karena datang dengan tiba-tiba. Sementara Arsya langsung memundurkan kepalanya karena juga ikut terkejut, lalu mengangkat wajahnya untuk menatap Dara. "Lo dari mana?"
Dara menelan ludahnya, "Dari... kamar mandi. Kenapa emang?"
"Ooh," Arsya mengangguk. "Nggak."
"Lagi ngomongin siapa, dah?" Dara ikut nimbrung, ia menarik salah satu kursi milik temannya yang kosong. Kali ini tidak ada guru yang masuk di pelajaran matematika, jadi kebanyakan dari mereka keluar kelas.
Ghina mendekatkan mulutnya ke telinga Dara. Lalu berbisik. "Bianca,"
Tadinya Dara enggan untuk mengikuti topik tentang perempuan itu, tapi Ghina terlanjur nyerocos dan mau tidak mau membuat Dara penasaran. Ngomong-ngomong, Ghina dan Arsya adalah teman sejak SMP dan baru kali ini mereka akhirnya berada di kelas yang sama. Kalau Arsya orangnya tertutup, maka Ghina adalah sebaliknya. Perempuan itu humble, ia mudah bergaul. Tapi sayang, tukang rumpi.
Dara dan Ghina baru pertama kali mengobrol sedekat ini. Maksudnya, mengobrolkan hal yang benar-benar berbobot. Biasanya Ghina hanya sekedar menegur Dara di kantin atau menyapanya ketika Dara baru masuk kelas.
"Eh iya, Dar. Denger-denger lo di tampar Bianca ya kemarin?" Ghina memelankan suaranya.
Sementara Arsya langsung menatap Ghina sambil menegur, "Ghin..."
Tapi ketika Arsya berpikir Dara akan merasa tidak nyaman dengan topik ini, ternyata tidak. Dara justru tersenyum simpul seraya mengangguk. "Iya."
"Tuh, kan. Lebay abis deh anaknya, sumpah! Tau nggak dia kayak gitu kenapa?" tanya Ghina. Tapi pada akhirnya ia yang menjawab pertanyaannya sendiri. "Abis diputusin Rafka, makanya dia sensi, terus ngincer lo."
"Kok, gue?" Dara menunjuk dirinya sendiri. "Logikanya aja, nih. Rafka itu sering ngajak gue berantem, bukan ngajak gue jalan?"
"Ya kita mana tau Rafka kalo sama Bianca gimana? Bisa aja dia kalo lagi sama Bianca ngomongin lo terus, terus Bianca jadi salah tangkep. Ngiranya Rafka suka sama lo?" ucap Arsya.
Ghina menjentikkan jarinya. "Nah, pinter banget aduh temen gua!"
"Masa, sih? Emang bisa kayak gitu?"
"Bisa aja," jawab Arsya. Entah mengapa Dara menangkap nada sarkas dari intonasi bicara laki-laki itu. "Apalagi kalo emang pada dasarnya Bianca nganggep sikap Rafka yang suka gangguin lo itu artinya Rafka punya interest sama lo, kan?"
Ghina mengangguk-angguk setuju. Lalu ia memiringkan kepalanya sebagai bentuk rasa ingin tahu. "Tapi by the way, lo suka nggak sama Rafka?"
Mendengar itu bukan Dara saja yang terkejut. Tapi Arsya juga terkejut. Laki-laki langsung tegang dan menantikan jawaban Dara yang kini menaikkan kedua alisnya karena masih belum tahu harus memberi respon apa. Sedetik berikutnya, Dara langsung tertawa getir. "Haha, ya elah, mana adaaa... Yang ada gue sebel kali, dia usil mulu. Gue dari awal emang nggak suka sama dia. Lo nggak inget apa? Gue pernah ngehajar dia di kantin waktu awal-awal semester?"
Mata Ghina membulat lucu. "Oh iya, iya! Gue inget. Yang sampe semua satu sekolah hari itu bener-bener ngomongin lo, sumpah!"
Dara terkekeh. "Hehe, emang iya?"
"Iyalah, Dar. Secara belum ada cewek yang berani ngehajar dia kecuali lo, selama Rafka sekolah di sini!" seru Ghina. Lalu ia memelankan kembali suaranya sebelum lanjut bicara. "Tapi ya Dar, gue pernah baca di buku, kalo benci sama cinta itu bedanya cuma ibarat sehelai benang tipis. Lo gitu nggak?"
Dara tergelak, lalu berdecih. "Gue nggak hidup di dunia fiksi ya. Lagian ini bukan Novel. Jangan di sama-samain."
"Novel juga diambil dari dunia nyata kali, Dar." sahut Arsya.
"Ya itu, kan dalam kamus lo." jawab Dara sekenanya. Ia kemudian berdiri dan mengembalikan kursi yang tadi ia duduki ke tempatnya. "Udah, ah. Jangan ngomongin orang, nggak enak kalo ada yang denger."
"Eh iya, sya! Gue tuh hampir aja lupa tadi nyamperin bangku lo mau apa!" seru Ghina lalu mengeluarkan sebuah kartu undangan dan menyelipkannya di buku matematika milik Arsya. "Dateng, ya."
"Apaan, tuh?" ledek Dara.
"Oh iya, gue lupa bawa buat lo Dar. Besok ya." Ghina menepuk pundak Dara.
"Emang apaan, sih?"
"Undangan ulang tahun gue, ntar dateng ya. Cuma orang-orang tertentu doang yang gue undang." bisik Ghina sambil cengengesan dan beranjak meninggalkan mereka berdua.
"Ya ampun! masih dua minggu lagi juga?!" Arsya melotot ketika melihat tanggal undangan yang tertera disana.
"Hehe, itu undangan yang gagal, sih sebenernya. Tapi gue kasih ke lo doang, Sya. Ntar undangan yang bagus nyusul!" seru Ghina.
"Sialan, lu."
Dara hanya tertawa karena baru tahu Ghina sekonyol itu. Dara baru akan berjalan kembali ke kursinya namun tiba-tiba saja Rafka masuk dengan terburu-buru dengan botol air mineral pemberian Dara tadi di tangannya. Ia langsung membawa tas-nya keluar kelas dan tidak memberi Dara kesempatan untuk bertanya atau sekedar menebak kemana laki-laki itu akan pergi.
"Mau kemana, Raf?" tanya satu anak laki-laki yang berdiri di depan pintu kelas. Untungnya hal itu bisa menjawab rasa penasaran Dara.
"Cabut," jawab Rafka singkat.
Lalu tepat saat Rafka keluar kelas, Bianca baru akan masuk ke dalam bersama dengan teman-temannya. Rafka tadinya akan mengabaikan Bianca, namun perempuan itu menahan lengan Rafka.
"We need to talk," ucap Bianca. Bersamaan dengan itu, teman-teman yang tadi berada di belakangnya duluan masuk ke kelas.
Rafka berdecak, ia memutar bola mata. "Apalagi sih, Bi?"
Bianca menariknya sedikit lebih jauh dari kelas, ke bagian koridor yang sepi. Baru ketika Bianca yakin tidak ada yang mengawasi mereka, Bianca mengeluarkan suaranya. "Gue nggak mau putus."
"Lah, gue maunya putus, gimana?"
"Rafka, please. I gave anything for you, and now you leave me just like a s**t?!"
Rafka tertawa kecut, "Lo bahkan ngasih gue sesuatu yang nggak pernah gue minta. Lo bisa aja nolak, tapi apa? Lo ternyata enggak. Ya itu namanya imbang, lah. Lo ngasih, ya gue terima."
"Tapi, Rafka-"
"Udahlah, Bianca. We're over." potong Rafka, jengah. "Gue yakin, dari awal lo sendiri juga tau, kalo lo mau jadi cewek gue, ya lo harus siap gue tinggalin kalo gue udah bosen."
"And ...so?" Bianca menaikkan kedua alisnya, suaranya bergetar tapi ia sedang berusaha terlihat kokoh.
"Kalo sekarang gue ninggalin lo, ya berarti gue bosen sama lo. Paham?"
Saat itu mata Bianca berkaca-kaca, ia merasa sakit hati. Perempuan itu mengepalkan tangannya ketika Rafka langsung berbalik hendak meninggalkan ia sendirian di tengah koridor. "Segampang itu ya buat lo, b******k! Gue nggak pernah tidur sama cowok selain lo, dan sekarang lo ninggalin gue, what the f**k is this?!"
Rafka berhenti. Lalu berbalik dengan seringaian brengseknya. "Terus aja teriak, biar semua orang tau, segimana murahnya elo."
Bianca berteriak, ia frustasi. Perempuan itu menghentak-hentakkan kakinya ke lantai koridor sambil menangis. Sementara punggung Rafka semakin lama semakin mengecil ketika ia berjalan menjauh. Bianca kesal, karena ia ingin menampar Rafka, tapi ia juga tidak bisa ditinggalkan begitu saja oleh laki-laki itu.
You choose her over me. Okay, let's see what will happen soon...
.
.
(TBC)