Semenjak beberapa hari kemarin, intensitas konflik konyol antara Rafka dan Dara sedikit demi sedikit berkurang. Mereka jadi jarang bertengkar ataupun berdebat karena hal-hal spele seperti awal-awal Dara mengenal Rafka. Dan satu-satunya orang yang merasa aneh adalah Dara sendiri. Perempuan itu masih belum sadar bagian mana yang berubah hingga Rafka tidak lagi menyebalkan di matanya.
Di pertengahan semester, Rafka jadi jarang masuk kelas. Laki-laki itu lebih banyak absen tanpa keterangan dan hal itu entah mengapa jadi berpengaruh untuk Dara. Bangku di belakangnya jadi lebih sering kosong, laki-laki yang sering mengusilinya dengan menendang kursi atau menarik rambutnya kini jarang terlihat dan tidak ada anak kelas yang bertanya kemana laki-laki itu pergi. Guru-guru juga jadi terbiasa melewati nomor absen enam—nomor absen Rafka—karena sudah bisa menebak bahwa si pemilik nama tidak berada di kelas.
Bel jam istirahat kedua sudah berdering sejak lima menit yang lalu, dan disinilah Dara sekarang, mengantri jatah makan siang yang belum ia ambil untuk hari ini. Berada di posisi antrian membuat Dara tiba-tiba memutar memorinya mundur ke belakang. Saat ia pertama kali terlibat dengan laki-laki yang paling disegani oleh satu sekolah.
"Di situ aja, Dar. Kosong." seru Arsya, menunjuk sebuah meja yang kosong dengan dagunya. Dara mengangguk dan mengekori Arsya dari belakang.
Arsya menarik kursi dan duduk, sementara Dara menaruh nampan di meja, lalu menarik kursi untuk dirinya sendiri. Baru saja Dara akan menjatuhkan b****g di kursi seorang perempuan bertubuh ramping menarik tangan Dara kasar, lalu menampar pipi kirinya sekeras mungkin.
Plak.
"Bianca!" Arsya berdiri dari kursinya. Menarik Dara yang sekarang memegangi pipinya yang perih. "Lo apaan, sih?"
Bianca tidak menghiraukan Arsya, perempuan dengan ombre merah itu justru maju selangkah untuk menjangkau Dara yang berada di belakang tubuh Arsya. "Sini lo! Ngapain ngumpet-ngumpet, hah?"
Arsya menutupi tubuh Dara, tapi perempuan itu menggeser tubuh Arsya dan maju untuk menghadapi Bianca. Ia mengangkat wajahnya, menatap tajam perempuan itu tanpa berkedip sekali pun. "Kenapa? Ngomong sini sama gue baik-baik, nggak usah nampar dulu."
Tangan Bianca semakin mengepal, "Nggak ada yang bisa diomongin baik-baik sama cewek gatel kayak lo! Emang dasarnya lo tuh jab—"
Plak.
Dara gantian menampar Bianca. Mata Dara memerah dan berkaca-kaca. "Jaga mulut lo,"
Bianca bungkam. Ia menyibak rambutnya ke belakang, lalu memutar bola mata dengan arogan. "Apaan tadi? Lo berani nampar gue?!"
"Kenapa gue harus takut? Harga diri gue bahkan lebih tinggi dari lo!" seru Dara. Ia tidak peduli kalau sekarang ia sudah menyita perhatian seluruh penghuni kantin untuk yang ke sekian kalinya setelah insiden dengan Rafka tempo lalu.
"Kalo alesan lo nampar gue itu karena Rafka. Lo salah," Dara maju, menarik kerah seragam milik Bianca yang super ketat itu. "Dengan lo nampar gue, lo pikir gue takut? Oke, lo anggep gue ngerebut Rafka dari lo? Gue terima, tapi itu bukan salah gue kalo Rafka ninggalin lo. Itu karena lo sendiri. Lo murah, Lo terlalu gampang buat Rafka. Lo nggak menantang. Ngerti?"
Dara mendorong Bianca, seraya melepaskan cengkraman tangannya dari kerah seragam perempuan blesteran itu. Bianca kehilangan kata-kata dan ia tidak percaya bahwa Dara akan se-berani itu padanya. Wajahnya memerah karena malu, namun Dara masih berdiri tepat di hadapan Bianca dengan senyum arogan yang menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak takut dengan gertakan kecil Bianca.
"Awas lo, ya. Rafat aja nanti." desis Bianca, kemudian ia berjalan melintasi Dara sambil menabrak kerasa bahu kanannya.
"Rafatin aja, gue nggak takut." gumam Dara, lalu kembali menarik kursi dan duduk untuk melanjutkan makan siangnya.
Semua orang yang ada di kantin masih menjadikan Dara pusat perhatian, bahkan setelah Bianca meninggalkan area kantin. Arsya masih terpaku dan menatap Dara lama sebelum akhirnya mengambil posisi duduk di depan perempuan itu. "Gila lo, Dar. Harusnya gue tau dari dulu lo bukan cewek biasa."
Dara menaikkan kedua alisnya sebagai respon awal dari pernyataan Arsya. Ia menelan kunyahan dalam mulut, lalu terkekeh pelan. "Heh? Bukan cewek biasa, gimana maksud lo?"
"Kayak... Srikandi, hehe." ucap Arsya, disertai cengiran.
"Halah, lebay. Udah lanjutin aja makan lo."
***
"Malem ini ada yang ngajak balap, kuy kaga?" tanya Nevin, sambil menyalakan pemantik api di ujung rokoknya.
Lagi-lagi di warung Kang Ujang hanya ada mereka berempat: Rafka, Nevin, Farrel dan Ares. Biasanya tongkrongan ini di datangi oleh anak SMA dari sekolah lain juga, entah itu anak kelas 10, kelas 11 atau kelas 12 seperti mereka berempat. Jam masih menunjukkan pukul satu siang, wajar saja sebenarnya warung Kang Ujang sepi, karena anak kelas 10 dan kelas 11 memang biasanya datang ke sini mulai dari pukul tiga siang ke atas. Sementara dari kalangan anak kelas 12 hanya mereka berempat yang masih rajin nongkrong, sisanya sudah jarang datang ke sini karena mulai sibuk mengikuti bimbel dan fokus belajar.
Rafka baru saja menghabiskan segelas kopi hitam dan langsung fokus bermain mobile legend bersama Farrel. Sementara Ares sedang sibuk men-scroll akun i********: salah satu grup musik Korea Selatan, Blackpink. Belakangan ia teracuni oleh Dinda yang sering memutar berulang kali lagu Boombayah di mobil ketika mereka sedang berdua. Ares awalnya iseng, tapi ketagihan juga pada akhirnya.
"WEH, DENGER NGGAK?!" seru Nevin, emosi.
Rafka melirik Nevin sekilas sebagai bentuk simpati, "Balap apaan?"
"Balap keong," jawab Nevin asal. "Ya balap motor lah, g****k! Pake nanya lagi!"
Ares yang sedang duduk di sebelah Nevin reflek memukulkan ponsel ke kepala temannya, gemas. "Sans aja kali, lur! Nggak usah nge-gas itu mulut lo bikin gerimis!"
"YA ABIS GUE KALO NGOMONG SUKA NGGAK DI DENGERIN!" teriak Nevin, keki. "Gue tuh sebenernya dianggap nggak, sih di geng ini?!"
Farrel tertawa manly, mata dan tangannya masih fokus pada ponsel berlayar lima inci di tangannya. "Kita bukan geng, keluar aja gih sono. Gabung sama anak CherryBelle."
Ares dan Rafka menimpalinya dengan tawa ringan, sementara yang diledek menatap Farrel dengan tatapan garing, lur.
"Anjing, mati gue!" umpat Rafka. Ia kemudian melemparkan ponselnya yang sudah kehabisan daya ke meja.
Farrel menolehkan kepalanya pada Rafka, "Kenapa? Mati dadakan lagi?"
"Gitu, sih. Kalo beli iPhone yang nggak ori," cibir Nevin.
"Sembarangan ya, mulut lo minta di sabunin!" Rafka kemudian berdiri, pura-pura hendak melepas sepatunya untuk dilempar ke arah Nevin.
"Eh tapi, gue sih kuy aja." sahut Ares tiba-tiba.
"Kuy apaan?" tanya Rafka.
"Katanya tadi ada yang ngajak tanding?" Ares bertanya balik, lalu menepuk pundak Nevin. "Ya, kan tadi lo bilang?"
"Bebas, ngikut aja." jawab Rafka datar. Nevin memutar bola mata. Lalu, Rafka beranjak dari meja sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, ia masuk ke dalam warung dan keluar dengan sebatang rokok menyala di antara jari tangannya.
"Siapa, sih emang yang ngajak tanding?" tanya Farrel, acuh tak acuh.
"Anak-anaknya si Rian, yang belagu itu." jawab Nevin, lalu melihat ke arah Rafka.
Mendengar nama Rian, otomatis Ares dan Farrel juga melihat ke arah Rafka. Rahang laki-laki itu mengeras. Ia tahu ketiga temannya kini menatapnya penuh makna. Namun Rafka mengalihkan pandangan ke arah lain dan menghisap rokoknya kuat-kuat.
Rafka menghembuskan asap dari hidung dan mulutnya, lalu mengambil jaket beserta tas-nya yang tersampir di motor Nevin. "Gue cabut duluan, ya. Sampe ketemu nanti malem."
***
Pukul satu dini hari tadi, Rian memang tidak bercanda, anak tengil itu benar-benar mengajak Rafka balap motor di jalanan aspal kosong yang sudah beberapa kali di jadikan sirkuit oleh komunitas motor kota Jakarta. Mungkin hanya dua geng yang bertanding, tapi dari dua kubu keduanya membawa pasukan tambahan entah untuk sekedar menonton atau menjadi supporter.
Malam itu yang menjadi banteng lintasan adalah Rafka dan Rian sendiri. Rafka sudah lama menunggu momen dimana ia bisa bertanding langsung dengan Rian. Rafka tidak takut ketika ditantang balik oleh anak laki-laki yang hanya selisih satu tahun dengannya itu. Ternyata Rian belum mau kalah, Rafka pikir pengeroyokan di gudang beberapa waktu lalu bisa membuat Rian diam, tapi nyatanya anak tengil itu semakin menantang Rafka.
Dalam aksi balap motor tadi malam, Rian mempertaruhkan motor Ninja ZX-6R miliknya, sementara Rafka mempertaruhkan mobil civic putih yang biasa ia pakai pulang pergi tanpa takut kalah. Ares bahkan berulang kali bertanya pada Rafka apakah ia yakin ingin mempertaruhkan mobilnya, padahal Rafka bisa mempertaruhkan motor Ninja supaya seimbang, tapi Rafka dengan tegas menjawab tidak.
Saat tahu Rafka akan mempertaruhkan mobilnya, adrenalin Rian semakin terpacu, Rafka bahkan masih ingat apa yang Rian katakan malam itu.
"Yakin lo taruhan mobil? Emang ya, anak sok kaya, sih gitu. Cih." kata Rian dengan nada yang lebih terdengar menghina. "Rafat aja sampe duit bokap lo abis, ketar-ketir dah lo ntar."
"Bacot lo anjing! Baru keluar dari rumah sakit aja belagu!" Rafka terpancing, ia segera menaiki motor Ninja milik Farrel yang sudah sepakat akan dipakai untuk balapan.
Pada akhirnya Rafka membuktikan pada Rian dan semua orang-orang yang berada di arena balap malam itu, bahwa Rafka tidak bisa dikalahkan oleh pecundang seperti mereka. Dan paginya mereka tetap berangkat ke sekolah, Rafka masih datang ke sekolah dengan civic putihnya, sementara Ares dengan motor Ninja ZX-6R yang dipakai Rian balap motor tadi malam. Sengaja. Iya, Ares sengaja membawa motor itu ke sekolah pagi ini.
Entah kebetulan atau tidak, tapi setelah itu Farrel datang dengan mobil Audi A4 miliknya, bersamaan dengan Rian yang ternyata sudah berada di parkiran lebih dulu bahkan sebelum Ares datang dengan motor yang kemarin masih resmi menjadi miliknya. Rafka tahu ada Rian di sana. Parkiran ini memang luas, tapi jarak antara Rian dan Rafka kurang dari dua meter.
"Sayang banget yang kemarin ngajak tanding malah kalah, ADOOOH GIMANA SIH? PARAAAH." seru Ares mengompori. Lalu turun dari motor Ninja yang tadi ia tumpangi. Ia menepuk jok motor itu beberapa kali, seakan berkomunikasi dengan motor Ninja yang sekarang menjadi milik Ares. "Kasian dah elu, di jadiin barang taruhan sama tuan lo."
Farrel dan Ares tertawa, sementara Rafka masih sibuk berperang tatapan dengan Rian di seberang sana. Selang beberapa menit kemudian, Nevin datang ke parkiran, ia menghampiri teman-temannya dan mengamati motor di samping Ares dengan teliti. "Gimana tadi malem siapa yang men—HEH, INI KAN MOTORNYA SI RIAN RIAN ITU?"
Nevin tertawa, saat ia menoleh ke belakang, ia baru menemukan Rian di sana. Lalu ia merangkul pundak Rafka. "Serius, man? Lo yang menang? Gila, nyesel gue nggak dateng semalem!"
Nevin kemudian beralih menaiki motor Ninja itu seakan ingin mencoba dan melihat-lihat bentuknya secara keseluruhan. Nevin tidak bisa datang tadi malam karena Papa-nya baru saja pulang dari Australia, ia sudah pasti di tampar jika nekat kabur untuk datang ke acara balap motor. Jadi dengan sangat terpaksa Nevin harus puas diam di rumah. Dan sekarang ia menyesal karena tidak bisa melihat kekalahan Rian secara langsung.
Nevin menuruni motor Ninja itu dan menepuk jok-nya. "Mantep, dah."
"Gimana, udah malu?" tanya Rafka, dengan seringai arogan miliknya yang khas.
"Gue? malu?" Rian meludah ke samping. Lalu menatap Rafka tajam, "Lebih malu mana sama jadi anak haram, tapi masih punya muka buat sok berkuasa di sekolah ini?"
"b*****t," Rafka langsung melempar tasnya ke wajar Rian yang berjarak kurang dari dua meter. Laki-laki itu bahkan melompati beberapa motor agar ia bisa cepat meninju rahang Rian sekuat tenaga.
Pagi itu parkiran langsung ramai, Rafka meninju Rian habis-habisan, membanting tubuh laki-laki itu ke mobil di sebelahnya hingga kaca mobil itu bergetar. Tidak seperti pengeroyokan di gudang beberapa waktu lalu, kali ini seimbang. Satu lawan satu. Rian melawan Rafka dan menghajar Rafka, Rian mendorong Rafka ke tanah parkiran lalu meninjunya balik.
"b*****t!" umpat Rian.
"Lo yang b*****t, anjing!"
Rafka berdiri, ia meludahkan darah yang ada di mulutnya ke tanah dan menarik dasi abu-abunya yang membuat ia gerah, padahal ini masih pagi. "Maju sini! Jangan kayak cewek yang suka nyinyirin orang, malu tuh sama titit lo!"
Rian diam di tempat. Jujur, ia sudah kehabisan tenaga, ia masih dalam masa pemulihan paska pengeroyokan oleh Rafka waktu itu dan sekarang ia mengerahkan tubuhnya untuk menghajar Rafka membuat Rian sedikit lebih lemah dari seharusnya.
"PUNYA TITIT NGGAK LO?! HAH?! SINI MAJU!" teriak Rafka, emosi. Penampilannya sudah kacau, rambutnya berantakan, seragamnya kotor terkena tanah, kancing paling atasnya lepas dan dasinya sudah tak terikat dengan benar.
Ares dan Nevin sudah tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak membantu Rafka. Tapi begitu mereka berdua akan maju, Farrel menahannya. "Biarin aja, ini urusan Rafka."
Rian baru akan maju lagi untuk menggapai kerah seragam Rafka, namun seruan dari Bu Maria membuat Rian menahan diri untuk tidak meninju Rafka sekali lagi. Tangannya yang sudah terkepal di udara akhirnya turun perlahan. Mereka saling menatap tajam dengan d**a naik turun karena emosi dan kelelahan.
"Ayo, terusin aja. Masih saya liatin," ucap Bu Maria, wanita itu berdiri diantara mereka berdua dengan kedua tangannya terlipat di bawah d**a. "Jotos lagi dong, kok udahan, sih?"
Rafka tak berbicara, begitupun juga Rian. Lalu yang pertama kali mengambil langkah mundur adalah Rafka. Laki-laki itu menghela napas kasar dan mengusap ujung bibirnya yang berdarah dengan punggung tangan sebelum akhirnya mengambil tas miliknya yang berada di tanah. Tanpa basa-basi Rafka meninggalkan lahan parkiran.
"Rafka, saya tunggu di ruang detensi!" seru Bu Maria, ia kemudian menatap Rian. "Kamu juga, sekarang ikut saya ke BK!"
Beberapa siswa dan siswi yang berkerumun di lahan parkiran seketika minggir untuk memberi Rafka jalan menerobos sekumpulan orang-orang yang barusan menjadikan ia bahan tontonan. Tapi di tengah-tengah kerumunan, Rafka tiba-tiba berhenti, ia merasakan beberapa jari yang dingin menggamit jari tangannya yang lecet. Entah ia berhalusinasi atau tidak, tapi Rafka benar-benar merasakan ada jari-jari mungil memegang jari-jari panjang miliknya.
Lalu saat Rafka menoleh ke samping, ia menemukan perempuan berkuncir satu yang justru sedang tidak menatapnya. Perempuan itu menatap ke depan, tanpa memalingkan wajahnya sejenak untuk Rafka.
Rafka tidak yakin barusan adalah tangan Dara, tapi Rafka juga yakin, bahwa itu benar-benar Dara.
.
.
(TBC)