BAGIAN 11

2149 Words
Pria paruh baya yang tadinya sedang duduk di teras sambil membaca koran pagi itu segera berdiri begitu anak tunggalnya menginjakkan kaki di undakan tangga pertama. Rafka memainkan kunci mobil dan berjalan tanpa menatap pria itu sama sekali. "Rafka!" panggil Rendra. Dua langkah kemudian, Rafka berhenti. Memutar tubuh untuk memberikan sedikit perhatian untuk Ayahnya. Rafka menatap Rendra dengan sebelah alis terangkat, seolah menunggu pertanyaan. "Tadi malem kamu nggak pulang? Clubbing lagi sama temen-temen kamu, hm?" Rafka tidak menjawab, ia terlalu malas membuka suara. Laki-laki itu hanya menghela napas kasar dan berbalik untuk masuk ke dalam rumah. Membuat Rendra kembali naik darah dan meneriaki nama anaknya berkali-kali. "Udah kelas 12 kamu itu mau ujian! Jangan malu-maluin Papa!" "HEY, RAFKA! DENGER NGGAK?!" "Nggak denger... pake headset!" jawab Rafka sekenanya, sebelum masuk dan menutup pintu kamar. Laki-laki itu langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur, melipat kedua lengannya di belakang kepala dan memandang langit-langit kamar cukup lama. Ia sibuk memutar memori tadi malam dan entah mengapa ia bersyukur karena hanya Dara saja yang mabuk saat itu. Rafka ingin mengenangnya sendiri. Delapan jam bersama Dara, di dalam mobil, dengan hembusan angin pukul dua belas tengah malam, membuat Rafka kini semakin mengenal perempuan itu. Perlahan satu persatu dinding yang pernah membatasi mereka roboh. Momen dimana Rafka pada akhirnya menemukan satu perempuan unik yang tak pernah ia temui sebelumnya. Dara memiliki banyak warna, ungkapan itu mungkin cocok untuk mewakilinya. Dan mungkin, Rafka akan menemukan rangkaian warna lain seiring berjalannya waktu. Tadi malam, ketika Rafka baru akan menyalakan mesin mobil untuk membawa Dara pulang, perempuan itu meracau, "Gue nggak mau pulang.. di sini aja." Rafka menurut. Ia mematikan mesin mobil dan membuka kaca mobil sebagai sirkulasi udara. Matanya memperhatikan proporsi wajah Dara yang tersorot penerangan dari mini market di depan sana. Wajahnya terhalang oleh rambut berantakan yang terurai, membuat Rafka gatal untuk menggerakkan tangan dan menyingkirkan rambut-rambut itu dari wajahnya. Lalu kemudian Dara menangis, sedetik selanjutnya ia tertawa sambil uring-uringan sendiri, "Sialan lo b******k, haha. Dikira gue sama kayak cewek-cewek lo apa?!" Laki-laki itu tersenyum di bawah kendali otaknya, mengingat bagaimana Dara memaki dirinya tepat di depannya sendiri. Dibandingkan marah, respon pertama Rafka justru tertawa dan memiringkan posisi duduknya untuk menaruh perhatian untuk perempuan itu. "Iya, gue b******k. Terus kenapa?" Mungkin saat itu mata Dara terlalu berat untuk terbuka, hingga akhirnya perempuan itu hanya tersenyum sendu, sementara tangannya yang lunglai itu bergerak, menjewer telinga Rafka tanpa tenaga. "Gimana kalo gue suka sama lo, karena lo b******k, hm?" "Lo? suka sama gue?" Rafka menunjuk dirinya sendiri, lalu menyeringai. Tangan Dara terlepas dari telinga Rafka. Dara mengangguk seperti anak kecil yang polos, matanya setengah terbuka, sementara senyumnya terlihat seperti orang yang kurang waras. "Gue suka sama lo, tapi gue nggak mau di samain kayak cewek-cewek lain yang suka sama lo. Mereka murahan, and i'm not one of them." Mendengar itu Rafka tersenyum, lalu menunduk sebentar, kedua tangannya ia lipat di bawah d**a dan ia menggeser posisi duduknya semakin ke kiri, untuk menatap wajah Dara lebih jelas lagi. Memang benar, setiap perempuan yang berada di dekat Rafka selalu mendapat cap sebagai perempuan murahan, namun dengan kelas yang berbeda. Singkatnya, mereka murahan, tapi mereka berkelas. Kenapa mereka di bilang murahan? karena demi bisa bersama Rafka, mereka mau menyerahkan apa saja. Termasuk tidur dengan laki-laki itu, sementara mereka tahu bahwa setelah itu Rafka akan meninggalkan mereka. Jahat? iya. Reputasi Rafka sebenarnya sudah bukan dipandang sebagai anak baik-baik. Itu tentu bukan rahasia lagi. Rafka b******k. Rafka b******n. Tapi masih saja ada orang-orang yang berlutut di depan laki-laki itu. Kecuali Dara, tentunya. "Gue nggak mau jadi murahan, kayak Mama gue." Dahi Rafka berkerut, "Kenapa sama nyokap lo?" Dara bersandar pada jok mobil, matanya terpejam. "Mama p*****r, itu makanya gue benci laki-laki b******k kayak lo." Satu sisi, Rafka bersimpati. Entah karena apa. Ia memaknai kalimat Dara tadi seperti sebuah penyesalan. Senyumnya seketika turun mengingat bagian percakapan mereka yang ini. Rafka merubah posisi tidurnya, dan memutar kembali memori tentang tadi malam setelah percakapan itu. "Udah tidur aja, daripada lo makin ngomong ngawur kayak gitu." kata Rafka dan Dara meresponnya dengan tawa kecut. Saat itu Dara diam, matanya terpejam. Entah ia sedang menenangkan pikiran atau ia mulai benar-benar tertidur. Sebelah tangan Dara bertumpu pada bingkai kaca mobil, menopang pipi kirinya tapi hal itu tidak bertahan lama karena semakin lama posisi Dara merosot dan justru ambruk ke kanan. Rafka menahan tubuh Dara dan men-setting jok mobilnya ke belakang agar bisa lebih nyaman ditiduri. Semalaman Dara tertidur di dalam mobil Rafka, selama itu pula Rafka terjaga hingga pagi berikutnya. Laki-laki itu mengamati Dara selama tertidur, berusaha memanfaatkan waktu yang ada bersama perempuan itu. Lalu hari ini Rafka mulai mengakui perasaan kecil yang sudah mengakar di hatinya. Mungkin memang benar, apa yang dikatakan orang-orang, bahwa kita bisa saja menyukai satu orang kurang dari satu menit. Begitupun juga Rafka, untuk pertama kali ia merasakan dentuman-dentuman aneh dalam dirinya. Perasaan yang tulus, lebih dari sekedar nafsunya untuk lawan jenis. Rafka mengambil bantal, menaruhnya di belakang kepala. Ia belum tidur semalaman dan sekarang laki-laki itu menguap lebar-lebar. Rafka butuh tidur. *** "A-Rafka," Bola mata Dara membulat antusias ketika Rafka menghampiri bangku dan menyimpan tas-nya di kursi. Sedetik kemudian Dara menggeleng, ia menyesal menegur laki-laki itu. "Hng? Kenapa?" tanya Rafka, memastikan. Dara menggeleng lagi, meyakinkan Rafka bahwa ia tidak memiliki sesuatu untuk di katakan. Tadi malam sebelum tidur, Dara memimpikan sesuatu yang aneh. Entah itu mimpi atau bukan, tapi Dara merasa seperti malam kemarin ia sempat mengobrol dengan Rafka di dalam mobil. Tapi pagi ini, Rafka menjadi Rafka yang seperti biasanya. Dingin. Jadi, mungkin itu hanyalah halusinasi anehnya saja. Pelajaran pertama hari ini adalah Olah Raga. Seharusnya ada di jam pelajaran ke tiga, tapi guru yang seharusnya mengisi pelajaran pertama hari ini melakukan pertukaran jam pelajaran, sehingga pelajaran Olah Raga bergeser ke jam pelajaran pertama. Seperti biasa, Dara turun ke lapangan sendirian setelah mengganti pakaian. Untuk sesi hari ini adalah latihan bola voli di lapangan outdoor. Tapi sebelum itu, semua siswa diwajibkan untuk melakukan pemanasan dengan membentuk barisan kelompok. Dara termasuk orang yang fleksibel, ia bisa bergabung di kelompok mana saja selama orang-orang dalam kelompok tersebut adalah orang yang bisa diajak bekerja sama. Awalnya ketika Dara akan bergabung dengan kelompok Bianca dan teman-temannya. Perempuan itu mundur, dan mulai mencari kelompok lain. Sejak kemarin Bianca menatapnya dengan tatapan yang tak biasa. Ralat: bahkan sejak minggu kemarin di pelajaran olah raga. Dara merasa tidak pernah mencari masalah dengan perempuan itu, jadi Dara hanya mengalihkan pandangan dan bergabung dengan kelompok lain. Pemanasan selesai. Pak Bondan meniup peluit dan mengumpulkan setiap muridnya untuk pengarahan. Saat itu Rafka entah darimana asalnya bisa berdiri di sebelah Dara. Laki-laki itu terlihat santai, sementara Dara justru yang merasa canggung. Perempuan itu menelan ludah ketika menyadari Rafka mengamatinya dari samping. Suara Pak Bondan yang lantang seolah menyusut ketika Dara mulai kehilangan fokusnya. "J-jangan ngeliatin," gumam Dara, tanpa menoleh ke arah Rafka. "Gue nggak ngeliatin," jawab Rafka, lalu tersenyum. Ia mencondongkan bahunya ke kiri hingga menyentuh bahu kanan Dara, seolah ingin memberitahukan sesuatu yang rahasia. "Gue mengamati." Dara menghela napas kasar, lalu bergeser sedikit untuk memberi jarak dengan Rafka. Dara kesal, kenapa ia harus merasa gugup karena sikap tengil laki-laki itu. Seharusnya Dara marah ketika Rafka melakukan sesuatu yang membuatnya mengganggu. Perempuan itu melepas kunciran rambutnya yang mulai longgar, lalu merapikan lagi rambutnya agar lebih rapi. "Nih, nggak kebawa." Dara terpaku sejenak, ia melirik ke kanan, Rafka memegangi sejumput rambut panjang Dara yang tak terjangkau oleh jarinya. Dara buru-buru menguncir rambutnya cepat. Lalu memastikan bahwa semua rambut sudah terkuncir rapi. Dara semakin tidak nyaman ketika Rafka terus saja mengamatinya, padahal Pak Bondan sedang berbicara di depan mereka. "Ekhem, Rafka?" Tuh kan. Dara memejamkan matanya. Ia benar-benar tidak mau membuat masalah lagi seperti minggu kemarin. Rafka mengalihkan pandangannya, menatap Pak Bondan. Mereka tidak berdiri di barisan paling depan, jadi beberapa siswa yang berdiri di depan langsung menoleh ke belakang untuk menjadikan Rafka pusat perhatian. "Ya, Pak?" "Denger nggak tadi saya bilang apa?" Rafka menggeleng, ia tersenyum tanpa rasa bersalah. "Hehe, nggak denger Pak. Ulangin lagi." Pak Bondan memutar bola matanya, "Saya ngomong panjang lebar nggak di perhatiin! Emang tadi kamu liatin apa, sih?" "Rafatin orang cantik, Pak." seru Rafka. Jawaban Rafka sontak langsung membuat seisi kelas ricuh. Beberapa anak laki-laki langsung sibuk bersiul dan mendorong Rafka sambil bercanda. "Halah, si Bianca, nih pasti!" sahut salah satu anak laki-laki. "Bi, lo lagi diliatin tuh, Bi!" "Bi, lagi dikodein tuh, Bi! Diem-diem baeeee." Dara hanya menunduk, di tengah ledekan anak laki-laki terhadap Bianca yang posisinya memang sejajar dengan tempat Dara berdiri. Rafka hanya tersenyum, ia tidak berniat untuk meralat siapa yang sebenarnya sedang ia perhatikan. Sementara Bianca yang sedang diledek oleh teman-temannya sama sekali tidak senang atau bahkan tersipu malu. Perempuan berwajah campuran itu hanya tersenyum simpul menanggapi teman-temannya. Padahal di dalam hati ia kesal setengah mati, karena Bianca juga tahu, siapa yang sebenarnya sedang Rafka perhatikan. *** Permainan voli dimulai dengan kelompok putri yang akhirnya terbagi menjadi dua tim. Dara ikut bermain melawan tim yang di dalamnya ada Bianca sebagai anggota. Di balik jaring net yang terbentang di tengah lapangan, Bianca masih menatapnya lurus-lurus. Tatapannya mengintimidasi, tapi Dara tidak takut. Rafma menit pertama permainan berjalan lancar. Anak laki-laki dipinggir lapangan sangat berisik menyoraki anak perempuan yang sedang bermain voli di lapangan. Sekalian cuci mata, katanya. Mereka begitu heboh, begitupun juga Rafka yang ikut-ikutan berisik meskipun tidak bersama dengan Ares, Nevin dan Farrel yang berbeda kelas dengannya. Rafka termasuk orang yang humble, meskipun beberapa orang memandangnya sebagai orang yang paling dominan. Sebenarnya semua itu bergantung pada bagaimana cara pandang setiap orang. Di menit-menit terakhir sebelum waktu pertandingan selesai, bola berada di tangan Elsa, anggota tim Dara. Perempuan itu melakukan teknik chest pass, namun Rafka menangkap sesuatu yang aneh, karena Elsa seolah memiliki sasaran sendiri. Dan benar saja, bola itu melambung tepat ke arah Dara, dan sukses mengenai wajah Dara hingga perempuan itu ambruk. Anak laki-laki yang tadi heboh bersorak langsung terdiam dan berdiri untuk melihat apa yang terjadi. Rafka ikut berdiri, tapi ia tidak menghampiri Dara yang di kerubungi oleh teman-temannya. Anggota tim lawan termasuk Bianca juga menghampiri Dara, namun ketika laki-laki itu melihat hidung Dara berdarah, Rafka langsung menarik tangan Bianca kencang dari kerumunan. "Rafka! Sakit! Lo apaan, sih!" "Elo, kan?!" "Apa?!" Bianca menaikkan nada bicaranya dan mengangkat dagunya berani. "Lo mau nuduh gue yang lempar?! Jelas-jelas itu Elsa! Lo liat sendiri, lo juga tau—" "Lo emang nggak ngelempar! Tapi lo yang nyuruh orang ngelempar!" seru Rafka. "Orang g****k juga tau!" Bianca menarik napas. "So what?! Kalo gue yang nyuruh emang kenapa? What's your problem?!" "She is my problem." ucap Rafka penuh penekanan. "The only one who can touch her is only me! Not you. Jadi, Nggak usah ikut campur." Rahang Bianca mengeras, matanya berkaca-kaca dan tangannya mengepal kuat. Ia ingin menampar Rafka, tapi seluruh tubuhnya terasa kaku. Laki-laki itu pergi begitu saja dari hadapannya setelah melontarkan kata-kata yang tertangkap seperti ancaman untuknya. Teman-temannya langsung menyentuh pundak Bianca dan membuat perempuan itu menarik napas ketika ia hampir saja lupa bernapas. "Are you okay?" tanya Elsa. Sedari tadi  ia memperhatikan Bianca dengan Rafka dari kejauhan, ia merasa bersalah. "Sorry, tapi tadi kan lo yang nyu—" Bianca menggeleng ia menghela napas dan menutup kedua telinganya. "Nevermind." *** Rafka meneguk air mineral dingin sebelum ia mendorong pintu UKS. Ia menemukan Dara di sana, tapi bersama Arsya. Perempuan itu masih menutup hidungnya dengan tisu. Pelajaran Olah Raga masih tetap berlangsung, bahkan sekarang giliran Voli untuk putera, tapi Rafka justru meninggalkan lapangan dan datang ke sini. Rafka menatap Arsya, "Sya. Voli, tuh. Ntar lo di cari Pak Bondan." Arsya menghindari kontak mata dengan Rafka, ia masih mengumpulkan tisu-tisu yang di penuhi darah ke kantung sampah. "Lo sendiri ngapain?" "Mau mabal, ke UKS. Lo emang ngapain?" tanya Rafka, arogan. Ia duduk di salah satu ranjang UKS, bersebrangan dengan Dara. "Gue yang anterin Dara ke sini tadi." "Gue nggak nanya." Arsya berkedip. "Tadi barusan lo—" "Gue nanya lo ngapain di sini, bukan nanya siapa yang nganterin dia ke sini." Dara diam-diam tersenyum. Padahal tidak ada yang lucu dari kalimat Rafka. Arsya menggaruk belakang lehernya. "G-Gue... Gue mau nemenin Dara di sini," "Gue maunya lo keluar." sanggah Rafka cepat. Tangan Arsya mengepal, ia kesal. Tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa. "Kok jadi lo yang—" Dara memegang lengan Arsya, lalu tersenyum tipis. "Gue udah nggak papa, kok. Lo ke lapangan lagi aja. Sayang ntar nilai praktek voli lo kosong." Arsya menatap Dara lama, sebelum akhirnya ia menghela napas. "Ya udah gue duluan, ntar abis pelajaran olah raga beres, gue ke sini lagi." Dara mengangguk, lalu tersenyum. "Oke, thanks ya." Setelah suara pintu UKS yang tertutup oleh kepergian Arsya, ruangan itu kembali senyap. Tadinya Dara ingin kembali ke kelas dari pada harus terjebak di atmosfer canggung bersama Rafka untuk yang ke sekian kali, mengingat hanya ada mereka berdua di sini sekarang. Saat Dara hendak menuruni ranjang, Rafka tiba-tiba berdiri menghampirinya. "Udah diem disitu," seru Rafka. "Hah?" Rafka berdiri tepat di hadapan Dara yang duduk di atas ranjang UKS. Laki-laki itu mengamati hidung Dara yang masih berdarah. Tangannya menarik tangan Dara, seolah meminta agar Dara tidak menutupi hidungnya dengan tisu. Dara terkejut ketika Rafka menaruh tangannya di dagu Dara dan menaikkan dagunya. "Lo... Lo mau ngap—" "Kalo mimisan jangan nunduk, ntar darahnya keluar terus." jawab Rafka, kemudian melepaskan tangannya dari dagu Dara. "Udah gini aja terus, jangan nunduk-nunduk." "Kalo gue pegel?" Rafka menyeringai, ekspresinya masih arogan, tapi entah mengapa Dara melihat sesuatu yang berbeda dari cara pandang laki-laki itu terhadapnya. Rafka kemudian berbalik dan membaringkan tubuhnya ke ranjang UKS di sebelah Dara sambil menopang kepalanya dengan kedua tangan di belakang kepala. "Tiduran aja, asal jangan nunduk." Dara melirik Rafka, posisi wajahnya yang sedikit terangkat membuat Dara kesulitan melihat wajah Rafka dengan jelas. Perempuan itu akhirnya mulai melakukan hal yang sama, membaringkan tubuhnya di ranjang. Jarak antara ranjang Rafka dengan ranjang Dara hanya sekitar satu meter. Meskipun Dara menatap langit-langit UKS, ia bisa merasakan kehadiran Rafka di sebelahnya dari sudut mata. "Rafka," "Hm?" Rafka hanya merespon dengan gumaman, karena laki-laki itu hampir terlelap. "Lo aneh, ya. Lo gampang berubah. Gue jadi bingung." ungkap Dara dengan suara kecil. Namun, suara kecil itu seolah bisa membuat Rafka terkejut hingga seketika matanya yang sudah tertutup kembali terbuka dan menatap perempuan di sampingnya lama. Mereka terus bertahan dengan posisi itu bahkan sampai pelajaran olah raga selesai. Dara ketiduran selama berada di UKS dan ketika ia terbangun, ia tidak menemukan Rafka. Melainkan Arsya. . . (TBC)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD