BAGIAN 10

1874 Words
Sudah hampir pukul sebelas malam, Dara berjalan hingga akhirnya ia keluar dari area komplek. Perempuan itu masih dalam pengaruh alkohol dan sesekali meracau, menangis, dan tertawa seperti orang gila sepanjang perjalanan. Satpam yang menjaga pintu komplek juga sempat bertanya apakah Dara baik-baik saja dan perempuan itu mengangguk, hingga akhirnya satpam itu membiarkan Dara keluar meskipun sedikit ragu. Pandangan Dara memang sedikit buram, tapi ia bisa melihat cahaya terang yang berasal dari sebuah mini market yang buka 24 jam. Dara menyeret kaki yang hanya beralas sendal karet itu ke arah mini market. Saat masuk, perempuan itu langsung berjalan ke arah lemari pendingin dan mengambil air mineral, Dara baru pertama kali merasa mabuk dan ia tidak tahu apakah air mineral bisa menetralkan kadar alkohol dalam tubuhnya atau tidak. Perempuan itu kemudian berjalan dengan sedikit sempoyongan ke arah kasir, hingga seorang laki-laki yang baru saja membayar rokok di sana sedikit tertegun dan bergeser. Dara memberikan uang seratus ribuan, padahal ia hanya membeli satu botol air mineral. "Ada uang pas, mbak?" Dara menggeleng, ia membuka botol air mineral dan meneguknya. Tapi kepalanya masih terasa berat. Penjaga kasir itu menghela napas dan segera memproses struk pembayaran Dara dan menyiapkan uang kembalian. "Mau sama pulsa, mbak?" "NGGAK! Aduh, mas jangan banyak tanya, deh!" Yaudah, sih. Ngga usah nge-gas, batin penjaga kasir itu dalam hati. Ia berusaha tersenyum dan memberikan  uang kembalian beserta struk pembayaran kepada Dara. Perempuan itu langsung meremas uang kembalian dan memasukkannya ke dalam saku hoodie. Laki-laki berjaket denim itu masih memperhatikan Dara, ia bahkan membukakan pintu kaca untuk Dara meskipun perempuan itu bahkan tidak mengucapkan terima kasih. Gemas, laki-laki itu menarik bagian belakang hoodie kuning milik Dara dan memaksa agar melihat wajahnya. "Dar!" "Hng?" Dara menyipitkan matanya. "Siapa?" "Rafka," jawab si pemilik nama. "Lo mabuk, ya?" Dara berdecak, sambil berusaha menyingkirkan tangan Rafka dari pakaiannya. "Ck, ah! Bukan urusan lo!" "Dar, serius?" Dara hanya mendesah jengah, ia berjalan ke menyusuri parkiran mini market yang sepi, tapi Rafka lagi-lagi bisa menjangkau tangannya. "Dar lo—ASTAGA! TUH KAN!" Rafka tahu bahwa Dara mabuk, tatapan matanya kosong dan aroma alkohol menguar dari tubuhnya. Rafka memekik ketika Dara memuntahkan isi perutnya tepat di belakang mobil Rafka yang terparkir di halaman mini market. Dara berjongkok, ia masih berusaha untuk mengosongkan isi perutnya. Rafka juga ikut berjongkok, ia memijat pangkal leher bagian belakang Dara agar perempuan itu sedikit merasa nyaman. "Hey, are you okay?" Rafka memiringkan kepala untuk memastikan, ia juga memegang rambut Dara yang terurai agar tidak terkena muntahan. Jelas, tidak. Rafka tahu jawabannya. Dara berdiri, perutnya masih terasa mual, ia belum makan sama sekali dan langsung meminum alkohol membuat reaksi tubuhnya dengan minuman itu menjadi lebih cepat. Dara mengusap ujung mulutnya dan masih berusaha untuk menghindari kontak dengan Rafka. "Gue bisa sendiri," "Lo mau kemana?" Dara tidak menjawab, ia terus berjalan meskipun kepalanya masih terasa sangat berat. Tentu saja Rafka masih bisa mengejarnya. "Ikut gue," "Nggak!" "Dar!" "Udah apaan, sih lo! Nggak usah sok peduli! Mau gue tendang lagi anu lo, hah?" Rafka diam, ia mundur sedikit. Tapi pada akhirnya ia kembali memegang tangan Dara. "Lo mau pulang? Kemana? Gue anter." Dara meringis, "Kenapa? Lo ngerasa bersalah sekarang?" Rafka menggaruk keningnya, ia menghela napas kasar. Dara melengos. Ia masih marah dengan Rafka. Bukan masih, tapi sepertinya Dara memang selalu marah dengan Rafka. Laki-laki itu mudah sekali berubah, sulit terbaca, dan susah dipahami bagaimana karakternya. Soal tadi siang, Dara sama sekali tidak mempermasalahkan ponselnya yang retak atau memaksa Rafka untuk mengganti miliknya dengan yang baru. Ia hanya kesal karena Rafka sama sekali menganggap bahwa yang telah ia lakukan adalah hal spele. Semuanya begitu gampang di mata Rafka, dan itu yang membuat Dara marah. Rafka selalu menganggap segala sesuatu terasa mudah. "Jangan pegang!" Dara mendorong Rafka agar menjauh, tapi perempuan itu justru yang malah kehilangan keseimbangan hingga Rafka terpaksa harus memegangi kedua bahunya. Kepala Dara sempat beberapa kali terantuk dengan d**a bidang laki-laki itu. "Gue bilangin, lo tuh rese' ya lama-lama!" Rafka kesal. Ia kemudian melepaskan bahu Dara hingga perempuan itu berjongkok di tengah halaman parkir mini market yang kosong. "Terserah, gue tinggal!" Pada akhirnya Rafka benar-benar meninggalkan Dara. Ia berjalan dan baru akan membuka pintu mobil, tapi perhatiannya masih belum bisa teralih karena Dara. "HEH CEPET MAU IKUT GAK LO?!" Dara tidak menjawab, kepalanya pusing jadi ia masih tetap berjongkok sambil terus menenggelamkan kepalanya diantara lipatan lengan, tubuhnya semakin terlihat kecil dengan posisi seperti ini. Rafka mendesah frustrasi dan mengacak belakang rambutnya sebelum kembali menghampiri Dara. Laki-laki itu berdiri di depan Dara, menyenggol pelan kepala Dara dengan lututnya. Nggak sopan, memang. "Cepet... lo mau ikut apa jadi gembel disini?" Dara masih tidak menjawab sampai akhirnya Rafka kehabisan kesabaran, ia tidak peduli apapun dan cara terakhir adalah mengangkat tubuh Dara di bahunya seperti karung beras. "HEH TURUNIN GUEEEE!!" teriak Dara, ia memukuli punggung Rafka agar laki-laki itu menurunkan tubuhnya, atau paling tidak memperbaiki posisi menggendong tubuhnya supaya lebih berkelas. "Aduh, gue kejeduk!" Rafka bahkan tidak peduli ketika bagian dari bingkai pintu mobil mengenai kepala Dara saat Rafka berusaha memaksa Dara masuk ke mobilnya. Laki-laki itu langsung menutup pintu mobil dan memutarinya untuk sampai ke kursi kemudi. "Lo tuh jadi cowok lembut dikit, kek! Lo nggak tau apa tadi gue kejeduk kepala gue sakit, kalo bocor ntar gimana terus gue—" "Bacot," Rafka membekap mulut Dara. Tubuhnya condong ke arah perempuan itu karena Rafka harus memasangkan seat belt untuknya. "Gue baru nemu orang yang kalo hangover bisa jadi secerewet elo?" Dara menyingkirkan tangan Rafka dari mulutnya, "Ck, ah! Tangan lo asin!" Rafka hanya memutar bola matanya sebelum ia siap untuk menyalakan mesin. Di sebelahnya, Dara masih meracau tak karuan dan sesekali mengeluh pusing. "Iya sama gue juga pusing denger lo bacot mulu." gumam Rafka, meskipun ia tahu bahwa Dara tidak akan mendengarnya meskipun telinganya terpasang. Iya, karena perempuan itu sedang tidak waras. *** Selama delapan jam, Dara tertidur di mobil dengan posisi duduk membuat perempuan itu terbangun dan langsung meringis sambil memegangi lehernya yang sakit. Kepalanya masih pusing dan ia masih kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Begitu dirasa kepalanya mulai stabil, Dara mengedarkan pandangannya ke segala arah. "Eh gila? Gue dimana, nih?!" Dara bergumam panik, ia merapikan rambutnya yang acak-acakan dan memastikan bahwa ia masih mengenakan pakaian yang sama dengan yang ia kenakan tadi malam. Hell, Dara bahkan lupa ia mengenakan pakaian apa semalam. Yang pasti, Dara terbangun di dalam sebuah mobil yang mesinnya mati. Kaca jendela mobil itu diturunkan sedikit sebagai rongga sirkulasi udara bagi orang yang berada di dalamnya dan ketika Dara menengok ke depan, ia berada di depan sebuah mini market yang cukup Dara kenali. Berarti ia masih berada di daerah dekat rumah, pikirnya. "Hah?! Rafka?!" Dara terkejut ketika ia melihat sosok laki-laki berjaket denim keluar dari dalam mini market dan berjalan ke arah mobil yang ia tumpangi, dengan dua cup minuman di tangannya. Dara panik, ia tidak tahu harus berbuat apa karena Dara benar-benar sedang tidak ingin bertemu Rafka dan sekarang ia tidak mau menerima fakta bahwa dirinya terjebak dalam mobil Rafka. "Please... Jangan bilang... ini mobil dia?" Saat Rafka membuka pintu mobil, seketika Dara lemas. "Yah, beneran mobilnya." Rafka menatap Dara dengan kedua alis terangkat naik, "Udah bangun lo?" Dara diam, tidak menjawab. Perempuan itu menatap Rafka canggung ketika laki-laki itu menyodorkan sebuah cup minuman. "Kopi?" Dara menatap cup minuman itu dengan ragu. Membuat Rafka mendesah dan berdecak, "Jangan diliatin aja, ini cepet pegang! Panas, nih!" Dara mengerutkan hidungnya sebelum mengambil cup minuman itu dari Rafka. Aroma kopi langsung menguar di dalam mobil ketika keduanya sama-sama sedang menikmati segelas kopi hangat di depan mini market pukul delapan pagi. Tidak ada yang berbicara, Rafka sibuk menyesap kopi hangat di tangannya sambil sesekali mengecek ponselnya. Laki-laki itu menaruh ponselnya ke dashboard mobil dan menolehkan kepalanya ke arah Dara sambil tersenyum. "Sama-sama Rafka," "Hah?" Dara mengerutkan dahi. Ia bingung dengan Rafka yang tiba-tiba berbicara sendiri. "Sama-sama Rafka," ulang laki-laki itu. Kemudian menggerakkan dagunya untuk menunjuk cup minuman di tangan Dara. "Kopinya." "O-ooh, ini.." Dara mengusap belakang lehernya malu, kemudian menatap Rafka canggung. "Thanks." Rafka menyeringai puas. Senyum itu terbit lagi, senyum arogan yang sekarang dipandang berbeda oleh Dara—seperti kebanyakan anak perempuan sekolahnya bilang, kalau Rafka memiliki senyum yang membuat siapapun bisa tenggelam. Dara ingin menanyakan banyak hal, tapi ia malu untuk membuat suara. Ah, bukan malu, lebih tepatnya gengsi. Tapi Dara benci jika harus terjebak di atmosfer canggung bersama laki-laki yang berada di nomor satu dalam daftar orang yang paling ia benci. Rafka menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu memiringkan posisi tubuhnya ke kiri, ke arah Dara dan otomatis membuat perempuan itu merasa tidak nyaman karena laki-laki itu memandangnya cukup lama tanpa bersuara. "Lo hutang budi sama gue," "Iya, tau. Ntar gue bayar." jawab Dara, cepat. "Kapan?" Dara menolehkan kepala, pandangannya bertemu dengan mata hitam milik Rafka. Sialnya, Dara tidak tahu kenapa ia sekarang tidak berani menatap Rafka dengan tatapan tajam seperti kemarin-kemarin. Perempuan itu segera mengalihkan pandangannya ke depan tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun lagi. Rafka terkekeh, "Sans aja. Lo bisa bayar, pake..." Dara langsung menoleh cepat dan mendapati Rafka tengah menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan ambigu. Laki-laki itu tersenyum lebar sambil menggigit bibir bawahnya. Ekspresinya terlihat usil dan membuat Dara seketika langsung kesal. "Heh, jangan bikin gue harus numpahin kopi panas ini di muka lo ya?! Ini masih pagi!" seru Dara berapi-api. Rafka tertawa dan merubah posisi tubuhnya menghadap ke depan, ia menaruh kopinya pada cup holder di sisi jok dan mulai menyalakan mobil. "Hehe, bercanda." Dara memutar bola matanya dan mendengus. Ia tidak ingin mengingat insiden di ruang ganti kemarin karena hal itu membuatnya geli setengah mati. Rafka menyalakan mesin mobil, ia menghubungkan ponselnya dengan tape mobil dan memilih lagu tanpa bertanya pada Dara. Tapi begitu lagu itu mengalun, Dara mengenalinya. Judulnya, To Make You Feel My Love, milik Kris Allen. Rafka kemudian meletakan ponselnya kembali di dashboard dan menggenggam setir. "Gue anter lo pulang, rumah lo dimana?" Dara mengerutkan dahi. "Wait, ini jam berapa, sih? Kita nggak sekolah?" Tidak ada jam digital dalam mobil Rafka, otomatis laki-laki itu hanya memperlihatkan jam tangannya ke arah Dara. "Jam delapan, bolos aja kali. Lo bukan anak sekolah kalo lo nggak pernah bolos." Dara berdecak, "Ya itu, kan di kamus lo. Di kamus gue mana ada." "Mulai sekarang, adain." jawab Rafka enteng. "Udah tunjukin aja rumah lo dimana?" "Jalan aja dulu, ntar gue arahin." Rafka mengangguk, ia kemudian mulai mengeluarkan mobilnya dari area parkir mini market. Jarak dari komplek rumah Dara dengan mini market tidak begitu jauh. Hanya memakan waktu kurang lebih lima menit. Tapi untuk Dara, lima menit bersama Rafka terasa sangat lama, tapi juga mengesankan. Duduk bersebelahan dengan jarak kurang dari satu meter membuat Dara sedikit mengenal Rafka dari hal-hal yang tidak penting. Seperti Dara menjadi tahu aroma parfum Rafka, barang apa saja yang Rafka simpan di dalam mobil, dan gantungan singa berwarna oranye yang tergantung di spion depan mobilnya. "Abis ini belok kemana?" Dara terkejut dan segera tersadar dari lamunan singkatnya. Perempuan itu tidak sadar bahwa orang yang menjadi objek tatapannya baru saja berbicara. "O-oh, masih lurus, abis itu belok kanan. Ada gapura pertama, berhenti di situ aja." Rafka mengangguk, ia kembali fokus menggerakkan setir dan menatap jalan raya, tapi sudut bibirnya terangkat naik. "Jangan ngeliatin gue terus, ntar lo suka lagi." Dara berkedip, ia kemudian mengalihkan pandangannya ke depan salah tingkah. "Lah? Siapa yang ngeliatin?" "Iya, lo nggak ngeliatin. tapi lo mengamati. Baru nyadar ya, muka gue cakep?" jawab Rafka, tanpa menoleh ke arah Dara. "Iya, banyak orang bilang sih gitu. Tapi, gue enggak." kata Dara dengan nada sinis. "Ntar juga lo bakal bilang." "Mimpi." Rafka hanya merespon dengan seringaian kecil. Laki-laki itu menolehkan kepalanya ke arah Dara sekali sebelum menghentikan laju mobilnya tepat di patokan yang Dara sebutkan tadi. "Disini?" "Hm, disini aja." jawab Dara, sambil berusaha melepaskan seatbelt. "Need help?" Dara tidak menjawab, tapi Rafka tahu perempuan itu kesulitan membuat seatbelt mobilnya yang memang sedikit macet, di tambah dengan satu tangan Dara yang repot memegang cup minuman. Dara harus menahan napas sejenak ketika Rafka mencondongkan tubuh untuk membantunya membuat seatbelt, perempuan itu segera membuka pintu mobil tanpa basa-basi lagi. Saat Dara menutup pintu mobil, tiba-tiba Rafka menurunkan kaca mobil sebelah kiri hingga keduanya bisa saling melihat wajah masing-masing. Dua detik mereka bertatapan, dua detik itu pula mereka tidak saling berbicara. Rafdah Dara terlalu kelu untuk mengucapkan kata terima kasih meskipun ia ingin sekali mengucapkannya. Terakhir, Rafka tersenyum dan menaikkan kaca mobilnya lagi sebelum laki-laki itu membawa mobilnya meluncur menjauhi pintu gerbang komplek. Dan ketika Dara sudah tidak melihat mobil itu di ruang pandangnya, perempuan itu menatap cup minuman di tangannya. Dara sekarang memahami bahwa setiap orang memiliki sisi lembut dalam dirinya. Rafka mungkin tidak se-kasar dan se-menyebalkan yang ia kira, jika saja Dara mau mengenal laki-laki itu lebih dalam lagi. *** . (TBC)  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD