Suara air dari keran wastafel yang terbuka itu berhenti ketika Dara menutupnya. Perempuan itu menepuk-nepuk kulit pipi dan dahi yang masih basah dan menarik tissue untuk mengeringkan wajahnya. Matanya masih sedikit kemerahan dan sembab, membuat Dara meringis sambil memandangi refleksi tubuhnya di cermin.
"b******k," desis Dara, ia memejamkan mata sebentar berharap emosinya sudah cukup teredam. Tapi ketika ia membuka kembali matanya, perasaan aneh itu justru semakin ia rasakan. Dara marah tapi perempuan itu tidak bisa sepenuhnya marah, entah kenapa.
Dara benci ketika jantungnya selalu berdegup kencang saat berada di dekat Rafka. Perasaan ingin melawan dan melenyapkan keberadaan Rafka, tapi juga ingin selalu berurusan dengan laki-laki itu. Sebenarnya perasaan macam apa ini?
Dan tadi, Dara masih bisa merasakan hembusan napas Rafka di lehernya sampai sekarang. Dara kembali merinding ketika ia memegang lehernya sendiri, membayangkan apa yang baru saja terjadi. Membuatnya jijik sekaligus aneh dalam waktu yang bersamaan. Saat itu Dara takut, tapi Dara tidak bisa berbohong kalau ia sempat tenggelam. Jantungnya lagi-lagi berpacu ketika ia semakin mengingat kejadian itu.
"Dar?!"
"Astaga," Dara terkejut. Arsya tiba-tiba mendorong pintu toilet perempuan dan menemukan Dara berdiri di depan wastafel. Laki-laki tu menghela napas lega.
"Lo nggak papa?"
Dara mengangguk pelan, ia tidak menolak ketika Arsya menariknya dan merengkuh tubuh mungil perempuan itu kurang dari satu menit. Arsya tahu Dara baru saja menangis, tapi ia tidak ingin bertanya.
"Ayo pulang," ajak Arsya. Ia kemudian memberikan tas Dara yang tadi tersampir di bahu kanannya.
"Makasih," ucap Dara. Ia jadi merasa bersalah ketika melihat Arsya. Laki-laki itu sudah berjalan selangkah di depan, kemudian Dara menarik tangannya. "Sya,"
Arsya berhenti, ia berbalik. "Ya?"
"Lo jadi ke toko buku nggak?"
"Enggak deh, nanti aja," jawabnya, seraya tersenyum. "Gue mau anterin lo pulang aja."
Dara menggeleng. "Gue nggak mau pulang, kita ke toko buku sekarang aja. Gue temenin."
Arsya memiringkan kepala, "Yakin lo?"
"Iya." Dara mengangguk, lalu berusaha memasang senyum.
***
"WEH, Apa kabar brooooo, yang abis di serang..."
Rafka mendengus ketika Nevin membawa Farrel datang memasuki ruang UKS yang hari ini kebetulan sedang tidak ada penjaga. Aura senyap yang tadi melingkupinya ketika Rafka di sini sendiri langsung berubah begitu mereka datang.
"Ah telat lo pada, apaan." cibir Rafka, sambil fokus bermain game online pada ponselnya.
"Mana? Masih sakit nggak?" Farrel usil menarik selimut yang menutupi sampai sebatas pinggang Rafka. Lalu iseng memegang bagian sensitif laki-laki itu.
"g****k, jangan di pegang!" pekik Rafka, ia menendang tangan Farrel dan yang ditendang justru hanya cekikikan lalu mengambil posisi duduk di pinggir ranjang.
"Halah, lebay lu. Masa di tendang doang langsung loyo," Nevin meledek, laki-laki itu satu mengambil kursi dari jajaran kursi kosong yang ada di UKS.
"Samlekum," Ares tiba-tiba datang menyusul ke UKS masih dengan baju futsal yang melekat di tubuhnya. "Gila lo, Raf! Selimutan kayak abis sunat aja."
"Abis di tendang, tuh tititnya!" sahut Nevin santai.
Ares melotot, "SIAPA YANG NENDANG?!"
"Ya siapa lagi lah kalo bukan si Pr-"
Rafka bangun, lalu membekap mulut Nevin sebelum laki-laki itu selesai bicara. "Cot."
Tapi giliran Farrel yang berbisik ke arah Ares, membuat Ares seketika tergelak begitu tahu siapa yang membuat Rafka berakhir di UKS. "Gila lo apaain dah, sampe dia nendang titit lo?!"
Farrel menggerakkan dagunya menunjuk Rafka, "Noh, tanya sendiri sama orangnya."
Yang ditanya hanya diam. Pura-pura tak mendengar suara teman-temannya yang usil itu. Rafka malah fokus bermain game, seolah tak menganggap keberadaan Nevin, Farrel dan Ares. Merasa jadi kacang Ares menarik selimut Rafka, rupanya laki-laki itu melepas celana abu-abunya dan hanya mengenakan boxer hitam.
"Ah anjing, bisa diem nggak, sih lo pada?!" sungut Rafka. "Gue lagi keki, nih."
"Gimana nggak keki, kan baru pertama kali dia ditolak cewek, udah di tolak, di tendang lagi," ledek Nevin dan mendapat toyoran kepala dari Rafka.
"Diem lu, kudanil."
"Lo tau ceritanya, Vin?" tanya Ares.
"Tau, lah. Orang dia yang telfon gue minta gendong sampe UKS,"
"Kok gendong sampe UKS? Dia dimana?" tanya Farrel.
"Di ruang ganti cowok, mau anu-in Dara tadinya."
"HEH SEMBARANGAN!!" Rafka berteriak heboh. "NGGAK GITU, g****k!"
"Lah tadi lo bilang gitu sama gue, panjul!"
Perdebatan Nevin dan Rafka berakhir dengan tawa dari keempatnya. Awalnya Rafka hanya menelfon Nevin untuk menghampirinya ke ruang ganti, karena Ares sedang berada di lapangan dan ponselnya tidak bisa dihubungi. Farrel sudah pulang dan berada di tongkrongan saat itu. Tapi berkat Nevin, mereka berempat bisa berkumpul untuk menengok Rafka.
Sebenarnya sakit yang Rafka rasakan juga memang sudah tidak sesakit saat Dara menendangnya pertama kali. Tapi alasan itu cukup menjadi alasan yang kurang masuk akal lkenapa Rafka absen ekskul futsal hari ini.
"Lo suka, ya sama dia?" tanya Farrel tiba-tiba. Mereka berempat meredam tawanya dan menatap Rafka serius.
"Kenapa liatin gue begitu?" Rafka memandang satu persatu temannya dengan tatapan sebal.
"Gila sih, lo tuh emang kadang masih kayak anak kecil, Raf." ucap Ares, lalu ikut duduk di samping ranjang bersama Farrel. Ia menjitak kening Rafka keras. "Ini, nih. Suka nggak di pake."
"Iya lo tuh, suka nggak to the point! Kalo lo suka, ya kejar lah. Nggak usah lo usilin terus, cewek juga lama-lama kesel kalo lo isengin. Kita bukan anak SD lagi man, yang kalo suka cewek kita tarikin kuncirannya. Norak banget, sih lo." omel Nevin, panjang lebar.
"Lagian kapan, sih ada sejarahnya si Rafka ngejar cewek? Ada juga dia yang di kejar! Gue sampe risih kadang liatnya." tambah Ares.
"Halah, bukan risih itu namanya lo iri, k*****t!" cibir Farrel, ia kemudian menolehkan kepalanya ke arah Rafka. "Tapi lo serius, tadi nyosor? Kok tiba-tiba, sih?"
Ditanya seperti itu Rafka menghela napas. Ia menyimpan ponselnya di balik bantal, lalu kedua lengannya di lipat ke belakang untuk menopang kepala. "Gue juga nggak tau, kayak... apa ya? Gue tiba-tiba kalap aja sama dia. Rasa penarasan gue udah nggak bisa di tahan lagi, gue kira dia sama kayak cewek lain, tapi ternyata enggak."
"Kemana aja, sih lo? Ampun, dah." Ares tiba-tiba bersuara dengan intonasi nyolot-nya. "Harusnya lo tau lah dari pas dia ngelawan lo di kantin waktu itu?! Lo lupa?"
"Masa, sih gue suka sama dia?" Rafka merubah posisi tidurnya miring ke kiri, membelakangi teman-temannya. "...atau gue cuma penasaran kali, ya?"
Kalimat Rafka membuat sebelah alis Farrel naik. "Cuma penasaran pengen ngajak tidur?"
Rafka diam. Ia tidak tahu. Farrel menjentikkan jarinya di depan wajah Rafka. "Coba, ajak dia tidur. Lo bisa apa enggak?"
Ares dan Nevin melotot, "Sinting, lo?! si Rafka mau cium aja ditendang duluan, apalagi ngajak bobo? Bisa kena sunat dua kali dia!"
Farrel berdecak, "Ya makanya, liat aja dulu..."
Dalam kepala Farrel banyak gagasan-gagasan mengenai Rafka. Masalahnya, jika Rafka benar-benar menyukai Dara dengan tulus, Farrel berani bertaruh kalau laki-laki itu tidak akan bisa merusak Dara.
***
Pukul setengah tujuh malam, Dara baru sampai rumah. Arsya mengantarkan Dara dengan motornya sampai ke pintu gerbang komplek. Dara menolak tawaran Arsya untuk mengantar perempuan itu sampai ke rumah, jadi Dara harus berjalan kaki sekitar lima puluh meter lagi untuk sampai ke rumahnya. Ia kelelahan, seharian ini mereka berkeliling toko buku untuk mencari buku yang cocok.
Maka dari itu tadi perempuan itu langsung tertidur tanpa mengganti baju seragamnya saking ia merasa kelelahan. Ketika Dara seharusnya terlelap sampai esok pagi, perempuan itu justru terjaga sekitar pukul sepuluh malam lewat karena suara berisik di luar kamar. Seperti ruang tamunya sedang di huni oleh banyak orang. Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, Dara bangkit dari ranjang dan membuka lemari pakaian untuk berganti baju.
Perempuan itu menukar bajunya dengan piyama tidur dan hoodie kuning pisang yang kebesaran. Tadinya Dara berniat untuk melanjutkan tidurnya, tapi perutnya begitu berisik. Dara lapar, ia belum makan sejak tadi siang karena nafsu makannya hilang saat jam istirahat tadi.
Dara kemudian mengambil beberapa uang dari dompet dan keluar kamar, ia berharap mungkin masih ada tukang roti bakar atau penjual makanan lain yang masih berjualan di sekitar komplek. Dara menutupi kepalanya dengan topi hoodie saat melintasi ruang tamu. Dan benar saja, banyak orang disana. Mereka sedang pesta minuman keras.
Dara melirik sekilas, banyak wanita berpakaian minim duduk di ruang tamu sambil meneguk sebuah Vodka. Ada sekitar dua atau tiga p****************g yang juga bergabung bersama mereka. Semuanya terlihat kehilangan akal dan meracaukan kalimat macam-macam yang tidak bisa Dara dengar dengan jelas. Wanita-wanita dengan pakaian minim yang memperlihatkan belahan d**a itu tampak seperti teman-teman Ratna, tapi kemana Ratna?
Dara rasanya ingin kembali mengunci diri di kamar, namun seorang wanita memanggil namanya dengan wajah merah karena sudah mabuk. "Eh, Dara ya?"
Dara mengepalkan tangannya kuat-kuat, sekarang ia jadi menyalahkan jaketnya yang berwarna cerah karena terlalu menarik perhatian. Wanita itu berdiri dan menarik tangan Dara. "Sini dong, mau kemana?"
Dara diam, ia sebisa mungkin menahan dirinya untuk tidak mengeluarkan suara. Wanita itu begitu cantik dan lembut, tapi sayang, mungkin di luar ia sama bejatnya seperti Mamanya sendiri. Lalu seorang pria berkemeja putih bertanya dengan tatapan setengah sadar, "Siapa tuh, dia?"
Wanita yang tadi menarik tangannya menyuruh Dara duduk diantara dua wanita lain yang berpakaian minim, ia bersyukur karena ia tidak harus duduk ditengah-tengah beberapa pria yang mabuk. "Santai sayang, jangan grogi. Kita nggak jahat, kok."
"T-tante, aku mau-"
"Mau kemana malem-malem gini, hm? Anak cewek kok keluar malem?" tanya wanita yang duduk di sebelah kanan Dara, aroma parfumnya begitu menyengat bercampur dengan aroma alkohol yang begitu kuat.
"Anaknya Ratna, nih. Udah besar, ya?"
"Ooh ini anaknya yang perempuan itu?"
"Haha, sinting si Ratna, gue kira anaknya udah nggak ada..."
"Nggak, dia akhirnya milih buat rawat sendiri aja... Buktinya udah segede gini, nih!"
"Padahal dulu gugurin aja ya, biar nggak repot. Kayak gue, kebobolan dua kali, ribet deh."
Rasanya Dara ingin menutup telinga dan menangis sekencang-kencangnya mendengar percakapan mereka. Tapi ia mengerti bahwa orang-orang ini semuanya tidak ada yang waras. Dara baru akan memaksakan diri untuk berdiri dan beranjak dari ruang tamu, tapi lagi-lagi wanita yang sama menarik tangannya untuk kedua kali.
"Ey, jangan pergi dong. Maklumin mereka lagi mabuk, jadi nggak jelas ngomongnya, jangan dimasukin ke hati ya, sayang?"
"Tante, aku mau ke atas..." ucap Dara, lirih.
"Ahh, udah.. di sini aja," Wanita itu menahan Dara agar tidak pergi, ia justru malah menuangkan botol Vodka ke dalam sebuah gelas kecil dan memberikannya pada Dara. "Mau nyoba?"
Dara menggeleng tegas, "Enggak."
"Heh..., udah jangan takut, coba aja, ntar kalo udah minum kamu ketagihan," sahut wanita lain yang duduk bersebrangan dengannya.
"Nggak, makasih."
Wanita itu justru semakin mengarahkan gelas kecil itu ke mulut Dara, memaksa Dara agar mau meminum setidaknya beberapa teguk. "Eh.. nggak papa, coba aja dulu. Nanti kalo nggak suka, ya udah jangan minum lagi. Tapi tante jamin, deh, kamu pasti bakal suka."
Jantung Dara berdegup kencang, ia menatap lama minuman dalam gelas kecil di depan wajahnya. Dengan tangan bergetar Dara meminum habis isi gelas kecil itu dalam sekali tegukan. Tenggorokannya perlahan seperti terasa panas, dan ia merasakan aneh pada perutnya.
Tapi benar juga. Minuman itu terasa adiktif. Dara diam, tubuhnya sedang menyesuaikan minuman Vodka yang baru saja ia minum. Wanita disebelahnya tersenyum simpul, "Mau lagi?"
Dara tidak langsung menjawab, ia menatap botol Vodka di depannya dengan tatapan ragu sebelum akhirnya ia mengangguk. Mereka yang berada di ruang tamu itu sontak tertawa. "Aduh, polos banget ini anak..."
Orang-orang itu terus membiarkan Dara meminum Vodka, entah sudah berapa gelas yang Dara minum tapi sekarang kepalanya terasa sangat berat, ia seperti melayang di langit-langit dan Dara merasakan perasaan yang sulit untuk di deskripsikan, seperti sebuah kebebasan. Untuk beberapa saat, Dara merasa seperti beban di kedua bahunya terangkat naik. Sekarang Dara mengerti alasan kenapa orang-orang banyak meminum alkohol ketika mereka merasa tertekan.
"DARA!!" pekikan seorang wanita membuat seisi penghuni ruang tamu itu memusatkan perhatian pada seorang wanita yang baru saja keluar kamar dengan hanya mengenakan sebuah selimut tipis yang membalut tubuhnya, kemudian seorang pria juga turut keluar sambil berusaha merapatkan resleting celananya. "SINI KAMU! Ngapain disitu?!"
Ratna langsung menarik kasar tangan Dara, agar bangkit dan menjauhi teman-temannya. Ratna menampar Dara, namun Dara hanya diam, meskipun ia sempat kehilangan keseimbangan. Dara bisa mendengar suara Ratna, tapi untuk mencerna kalimat sesederhana itu ia sedikit kesulitan karena kadar alkohol yang mempengaruhi dirinya sudah cukup tinggi.
Ratna tahu, Dara sudah mabuk. Wanita yang tadi mengajak Dara untuk bergabung itu kemudian menarik tangan Dara dari jangkauan Ratna. "Rat, kok lo tampar, sih? Kasar banget! Ya biarin lah dia minum, orang udah besar, kan?!"
Ratna menarik Dara lagi, "Nggak ada yang boleh macem-macem sama dia, ya! Sekali lagi gue liat kalian nyekokin dia, nggak usah datang ke rumah gue lagi!!"
Teman-teman Ratna hanya menatap kemarahan Ratna tanpa suara. Ratna kemudian mendorong Dara keluar dari rumah, "Pergi kamu! Nginep di rumah temen kamu atau siapa, lah! Pokoknya jangan pulang sampai besok pagi!"
Ratna masuk ke dalam sebentar, lalu dua menit kemudian ia melemparkan beberapa lembar uang seratus ribuan tepat ke wajah Dara. "Nih, terserah kamu mau nginep di hotel atau dimana, yang penting malam ini kamu jangan pulang!"
Dara diam, ia berjongkok untuk memungut lembaran uang di lantai dan memasukkannya ke dalam saku hoodie. Sadar bahwa Dara belum merespon, Ratna menjewer telinga Dara, "Denger nggak?!"
"Aa, Aa, sakit, Maa!"
"Denger nggak tadi bilang apa?!"
"I-iya, iya."
"Udah! Sana pergi!!"
.
.
(TBC)