Tiga hari berikutnya, tidak ada yang berubah. Rafka dan Dara masih sama. Diam-diam Dara pernah berpikir apakah ia harus meminta maaf lebih dulu kepada Rafka agar semuanya bisa clear. Dara tidak ingin berurusan lagi dengan Rafka atau paling tidak mereka menjadi seperti orang asing yang tidak pernah saling mengenal. Perempuan itu mulai lelah, karena setiap hari selalu ada saja hal yang membuat tensi darahnya naik karena kelakuan laki-laki itu.
Hari ini hari Kamis, kebetulan jadwal pelajaran hari ini tidak begitu padat dan para siswa bisa pulang dua jam lebih awal dari biasanya, kecuali bagi mereka yang memiliki jadwal ekstrakurikuler di hari ini. Kalau ada yang bertanya Dara bergabung dalam ekskul apa, jawabannya adalah nggak ada. Alasannya simpel; Dara hanya tidak mau direpotkan oleh kegiatan lain di luar jam sekolahnya.
Saat Dara hendak membereskan buku di meja, Arsya datang menghampirinya. "Dar, mau bareng nggak?"
"Eh?" Dara berkedip, ia tidak mengira kalau akan mendapat ajakan pulang dari Arsya. "Emang kita searah?"
"Enggak, sih," Arsya mengusap ujung hidungnya gugup. "Maksud gue tuh tadi gue mau ngajakin lo ke gramedia dulu, mau cari buku buat latihan SBMPTN."
Dara menelan ludah, ia mengeluarkan ponselnya untuk mengecek jam dan menyimpannya lagi di meja, "Yah, masih jam tiga, sih... Cuma gue mau—"
"Ya udah nggak papa," potong Arsya, disusul dengan senyum lebar. Seolah tahu bahwa ia akan mendapat penolakan. "Gue tau lo pengen pulang cepet, belakangan emang lagi banyak tugas, sih."
"Sorry... gue nggak maksud—"
Arsya tertawa, ia menaikkan kaca matanya yang agak merosot. "Santai, lah!"
"Besok deh, Besok! Gue temenin, janji." Dara mengacungkan jari kelingking kecilnya. Membuat laki-laki itu semakin tertawa lebar.
"Iya, besok, ya?"
Dara mengangguk. Ia lanjut memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Kelas masih belum sepenuhnya kosong, beberapa ada yang sedang mengerjakan tugas piket sebelum pulang dan beberapa lagi masih betah berdiam diri di sini untuk hal-hal yang tidak penting. Tiba-tiba dari pintu kelas seorang anak laki-laki menyerukan nama seseorang.
"RAFKA!"
"Oy?" si pemilik nama yang sejak tadi duduk di belakang bangku yang Dara duduki itu mengangkat wajahnya, melihat siapa yang memanggilnya.
Dara sengaja tidak menaruh perhatian pada Rafka yang sejak jam pelajaran terakhir itu molor di kelas. Begitu pun juga Arsya yang masih menunggu Dara selesai memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.
"Futsal, kuy! Gue tunggu di bawah yak!" seru Ares yang sudah memakai baju futsal bernomor punggung tujuh. Ares dan Rafka bergabung dalam ekskul yang sama sejak kelas 10, meskipun di kelas 12 mereka sudah jarang aktif, tapi terkadang mereka berdua masih sering dibutuhkan oleh tim untuk pertandingan melawan sekolah lain.
Ngomong-ngomong kalau soal ekskul, Rafka paling rajin. Ia bahkan bisa saja absen di kelas tapi sorenya orang-orang bisa melihat Rafka sedang latihan futsal di lapangan sekolah.
Rafka mengacungkan jempol, menguap sebentar untuk mengumpulkan kesadarannya. Laki-laki itu buru-buru mengambil baju futsal—satu-satunya barang yang ia bawa hari ini dengan satu buku tulis—lalu berdiri dari kursi untuk berganti baju di ruang ganti.
Rafka sempat bertatapan dengan Arsya selama beberapa detik, sebelum ia melintasi mereka berdua. Lalu tiba-tiba entah sengaja atau tidak, laki-laki itu menyenggol keras ujung meja Dara hingga membuat ponsel yang berada di atasnya bergerak dan jatuh ke lantai dengan menimbulkan suara keras.
"Sorry," ucap Rafka cuek, tanpa memastikan apa yang jatuh dari atas meja.
Arsya segera mengambil ponsel Dara yang terjatuh dengan posisi telungkup, lalu saat melihat kondisinya laki-laki itu menahan napas, "Dar. Pecah?"
"HAH?" Dara merebut barangnya dari tangan Arsya. Ia panik, Perempuan itu memang jarang membawa ponselnya ke sekolah, tapi benda itu benar-benar sangat penting untuknya.
Dara langsung melangkah cepat dengan emosi, ia mencegat Rafka sebelum melangkah ke pintu kelas. Perempuan itu berdiri tepat di depan Rafka, menahan dadanya. "Tanggung jawab,"
Rafka menaikkan satu alisnya, menatap Dara dengan tatapan arogan. Perempuan itu lantas menahan napas dan memejamkan mata sebelum menunjukkan layar ponselnya yang retak. "Iya, pecah. Terus?"
"Sinting ya, lo?" Nada bicara Dara mulai naik dan sukses menarik perhatian seisi kelas yang masih belum sepenuhnya sepi.
"Lo mau gue ngapain? Minta maaf?"
Dara diam. Ia semakin kesal. Perempuan itu mengepalkan kedua tangannya bahkan mulai menggenggam erat ponselnya sendiri. Matanya menatap Rafka lurus-lurus. Sementara laki-laki yang diajak perang tatapan itu hanya memutar bola mata dan mengeluarkan dompet untuk mengambil sebuah kartu kredit.
Rafka menarik tangan Dara, menempelkan kartu kredit itu ke telapak tangan, seolah memaksa Dara untuk menerima. "Nih, beli sana yang baru, yang lebih bagus."
Bersama dengan kalimat itu, Rafka langsung melengos begitu saja melewati tubuh Dara yang masih mematung. Harga diri perempuan itu seakan langsung terinjak-injak oleh apa yang Rafka lakukan tadi. Arsya baru menghampiri Dara ketika Rafka sudah benar-benar meninggalkan kelas. Dara masih berdiri di posisi yang sama dengan wajah memerah menahan emosi dan mata yang berkaca-kaca.
"Anjing," umpat Dara. Seumur hidup ia belum pernah menyumpahi seseorang dengan kata terkotor dalam kamusnya.
"PRILL! LO MAU KEMANA?!"
"DARA!"
***
Dara marah.
Sangat marah. Bahkan orang-orang akan mengira perempuan itu sedang kesurupan karena kini Dara nekat menerobos ruang ganti laki-laki secara membabi buta. Membuat anak laki-laki yang sedang bertelanjang d**a heboh sendiri.
"WEH ANJING CEWEK!"
"Kok ada cewek, sih?!"
"SETAN GUE BELUM PAKE CELANA!"
"k*****t, main masuk aja!"
"Mana Rafka?!" tanya Dara dengan nada yang bahkan lebih bisa disebut sebagai sebuah teriakkan.
"MANAA?!"
"Eh santuy dong, Lo nggak malu apa teriak-teriak di ruang ganti cowok?!"
"Bacot," umpat Dara. "MANA RAFKA?!"
"Ganti baju," jawab salah satu dari mereka.
"Dimana?!" tanya Dara lagi. Ia tidak peduli dengan anak laki-laki yang memandangnya seperti orang gila, karena targetnya hanya satu orang. si b******n yang arogan.
"YA MANA GUE TAU ELAH! CARI SENDIRI!"
Satu persatu anak laki-laki yang berada di ruang ganti pun keluar dan beberapa orang yang tadinya berada di bilik kayu juga langsung keluar ketika melihat keributan dari luar. Dara mendorong bahkan menendang setiap bilik hanya untuk menemukan orang yang dia cari.
"Keluar lo Rafka, b******k!"
"Gue nggak takut sama lo!"
Lalu saat Dara bertemu pada bilik yang terkunci, ia langsung tahu bahwa Rafka berada di baliknya. Perempuan itu langsung menggedor secara brutal bahkan tak segan untuk menendangnya meskipun kakinya sakit. "BUKA, setan! Gue tau lo ada di dalem!"
"Lo pikir gue sama kayak cewek-cewek yang udah lo pake, hah?!"
"Gue nggak butuh uang lo!"
"GUE NGGAK TAKUT SAMA LO YA!!"
"Keluar lo, b******k! Gue—"
Tiba-tiba pintu yang sudah berkali-kali ia tendang terbuka, membuat Dara terhuyung ke depan. Dan dalam interval waktu yang sangat cepat, Rafka menarik tubuh Dara dan membanting punggungnya di balik pintu bilik yang tertutup.
Mereka terkurung dalam bilik kayu berukuran dua kali dua meter—ralat: Rafka yang mengurungnya karena kini laki-laki yang bahkan belum selesai mengenakan baju futsalnya itu membuat batas teritorial dengan satu tangan tepat di samping telinga kanan Dara. Jarak mereka makin sempit, Rafka bisa merasakan deru napas Dara yang bercampur antara lelah dan emosi.
Aroma menthol dan musk yang begitu menyengat dari tubuh Rafka yang telanjang d**a itu membuat Dara hampir tidak betah. Tapi perempuan itu berusaha mengumpulkan keberanian untuk menatap tajam bola mata hitam milik Rafka.
"Ayo ngomong sini depan muka gue," ucap Rafka. Suaranya pelan, tapi mengintimidasi.
Dada Dara naik turun, napasnya belum teratur. Dara mengepalkan satu tangan di samping jaitan roknya, sementara tangan satunya memegang kartu kredit milik Rafka yang hampir ia tekuk karena terlalu emosi. Jarak mereka benar-benar dekat, kurang dari sepuluh senti meter mungkin ujung hidung mereka bisa saling bersentuhan.
"Ini," Dara mengangkat kartu kredit Rafka tepat di depan wajah dan sedikit menjadi penghalang antara kedua wajah mereka. Dara menamparkan kartu kredit itu ke kening Rafka, sebelum akhirnya dibiarkan jatuh ke lantai begitu saja. "Gue nggak butuh!"
Rafka menahan emosi. Mata Rafka terpejam beberapa detik, hingga Dara bisa melihat betapa panjang dan lebat bulu matanya. Lalu dua detik selanjutnya laki-laki itu menggebrak pintu bilik dengan satu tangan yang ia gunakan untuk mengurung Dara. Sementara satu tangannya kini ia masukkan ke dalam saku celana abu-abu.
Gebrakan tangan yang cukup keras di samping kepalanya itu membuat Dara berjengit, tapi Dara semakin memperkokoh pertahanannya. "Jangan bikin gue marah,"
"Kenapa? Lo mau marah sekali pun gue nggak akan—"
"Shut the f**k up! You, b***h!"
"I am not your b***h!"
"Yes, you are!"
Kalimat Rafka lantas membuat Dara menyeringai dan percaya atau tidak, seringaian Dara adalah satu-satunya hal yang membuat adrenalin Rafka naik dua kali lipat. Perempuan ini, perempuan yang membuatnya selalu ingin menyentuhnya. Satu-satunya perempuan yang membuat Rafka merasa kalah ketika ia bahkan tidak bisa menyentuh kulit perempuan pemberani ini. She is fuckin' sexy, but untouchable.
"Heh denger ya," Dara bersuara. Meskipun bergetar ia berusaha melanjutkan. "Gue nggak sama kayak perempuan-perempuan lain yang pernah lo pake, gue nggak butuh uang lo dan gue nggak bu-tuh apapun dari lo. Paham?"
Rafka menahan napas. Ia tidak bisa mengontrol dirinya untuk tidak mengalihkan pandangan dari setiap inci wajah Dara. Jika semua orang bisa mabuk karena sebuah wine, maka Dara lebih dari sekedar wine di mata laki-laki itu. Entahlah, hormon usia delapan belas tahunnya terlalu sulit untuk dikendalikan.
"Satu lagi," Dara berkata, membuat Rafka menahan napas karena suara perempuan itu semakin dalam dan bergetar. "Asal lo tau, lo itu di bawah standar gue."
"GUE BILANG, JANGAN BIKIN GUE MARAH!" Rafka berteriak, menggebrak pintu bilik sekali lagi. Di ruang ganti ini hanya ada mereka berdua. Suara Rafka sangat menggema ke penjuru ruangan, Rafka tidak peduli jika nanti seseorang akan menemukan mereka berdua.
Dara berjengit, kali ini ia memejamkan mata. Pertahanannya hampir roboh ketika kedua tangan Rafka bergerak mengunci pergelangan tangannya. Satu tangannya ia kunci di samping tubuh Dara, sementara tangan yang satunya ia kunci di samping kepala Dara.
"Rafka, lo jangan berani—"
"Gue udah bilang, jangan bikin gue marah," ucap Rafka dengan suara pelan disertai deru napas yang tak beraturan. "Gue bisa abisin lo di sini."
"J-Jangan," bisik Dara. Matanya terpejam dan keringat dingin mulai mengembun di sekitar dahi dan pelipisnya.
"Terlanjur," Rafka menyeringai. Seringaian yang seketika membuat lutut Dara lemas, bukan karena ia tenggelam, melainkan ia takut. Laki-laki itu menggerakkan kepalanya, hingga Dara bisa merasakan deru napas Rafka di lehernya. Rafka berbisik di telinganya, "Sorry, but you just turn me on."
Seketika nyali Dara menciut, kemarahannya menguap entah kemana digantikan oleh rasa takut yang luar biasa ketika ujung hidung Rafka menyentuh kulit lehernya. Bulu kuduk Dara meremang karena ia seketika merinding, "Please... don't."
Rafka tersenyum, ia tak peduli jika ia dipanggil psikopat karena mendengar perempuan itu memohon membuat kepuasan tersendiri untuknya. Rafka suka, ketika seorang perempuan bertekuk lutut untuknya. Dan mungkin sebentar lagi Dara akan menjadi salah satu dari perempuan itu.
"A-Rafka..." suara Dara mengecil, ia nyaris berbisik.
"Hm?" gumam Rafka, ia masih tersenyum penuh kemenangan, seraya menghirup aroma parfum khas Dara di sekitar lehernya. Laki-laki itu memang sama sekali belum menempelkan bibirnya di kulit Dara, ia hanya menikmati aroma tubuh perempuan itu.
"Ngh," Dara otomatis menekuk lehernya ketika ia merasakan ujung hidung Rafka lagi-lagi bergesekan dengan kulit lehernya. Matanya terpejam, ia tidak mau membukanya karena mungkin air mata akan mendesak keluar. Dara tidak mau menangis. Ia akan terlihat semakin lemah di hadapan laki-laki itu. "Rafka, s-stop it."
Rafka menarik kepalanya perlahan, untuk menatap ekspresi wajah Dara yang mulai cemas. Laki-laki itu tersenyum puas sebelum kembali memiringkan kepala untuk menghirup aroma di sekitar leher perempuan itu.
"Rafka, berhenti,"
"A-Rafka,"
"Gue bilang, berhenti!"
Dengan sekuat tenaga Dara menggerakkan tangannya dan mendorong Rafka hingga mundur beberapa langkah. Air mata itu pada akhirnya runtuh juga, mengalir tepat di kedua sudut mata perempuan itu. Meskipun matanya basah, tapi sorotan matanya masih mengkilat, menunjukkan kemarahan. Dara maju selangkah hanya untuk menampar keras pipi Rafka.
Plak.
Entah mengapa, Rafka juga tidak tahu. Ia hanya tidak bisa mengendalikan diri. Adrenalinnya naik, dan ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menyerang Dara tadi.
"Dar, gue—"
Plak. Dara menamparnya sekali lagi.
"Dar—"
Plak.
"Diem." desis Dara, dan entah kenapa Rafka menurut. Mulutnya terkatup, sementara satu tangannya memegangi area pipi yang masih terasa perih dan panas karena baru saja ditampar. Tatapan Rafka meredup, meskipun Dara sudah membuat batas tak terlihat antara mereka berdua, Rafka tetap nekat berusaha untuk merengkuh perempuan itu.
"Dar, gue—AW ANJING!"
Saat Dara membaca pergerakkan tubuh Rafka yang berusaha kembali mendekat, Dara tanpa pikir panjang langsung menendang area sensitif Rafka. Membuat laki-laki itu langsung mengumpat sambil meringis kesakitan. Tubuhnya ambruk di lantai, dan hal itu di manfaatkan Dara untuk keluar dari bilik toilet.
"b******k!!" umpat Dara, seraya membanting pintu toilet.
.
.
.
(TBC)