BAGIAN 7

1785 Words
Pagi itu seisi kelas sibuk berkutat dengan tugas geografi yang harus dikumpulkan di pelajaran pertama hari ini. Ada yang sibuk mengerjakan tugasnya sendiri, adanya berkelompok untuk mencontek tugas milik satu orang dan ada juga yang santai, entah karena ia memang sudah mengerjakan tugas atau karena tidak berniat berada di jam pelajaran hari ini dan memilih untuk cabut ke UKS. Rafma menit lagi kelas akan di mulai. Dara merapikan buku dan alat tulisnya di meja, kebiasaannya sejak kecil sebelum bel masuk berdering. "Eh sial! Bu Farah masuk, woy!" "Weh, anjeng! Gue belum beres nih!" "NYONTEK NYONTEK NYONTEK DONG!" "Mampus gua, abis nih di omelin!" Saat sosoknya mulai muncul di pintu kelas, sontak semua anak di kelas lari kocar-kacir ke bangku masing-masing dengan wajah panik. Bisa di bilang, guru yang mengajar di kelas bilingual adalah guru-guru pilihan yang sangat disiplin dan... galak. Tipikal guru yang sangat memperhitungkan ketepatan waktu dalam mengumpulkan tugas dan nilai tinggi bagi setiap muridnya. "Selamat pagi," sapa Bu Farah, sambil meletakkan buku dan bahan mengajarnya di meja. Sapaan itu intonasinya tenang, tapi aura horor seketika melingkupi seisi kelas. Bu Farah menatap wajah-wajah mereka dengan tatapan dingin, lalu tanpa basa-basi ia berkata. "Tugas minggu kemarin, kumpulkan sekarang!" Beberapa dari mereka menelan ludah, dan beberapa lagi ada yang langsung mengangkat bokongnya untuk mengumpulkan buku tulis mereka ke meja. Dara menghela napas lega, karena ia sudah mengerjakan tugas Geografi tadi malam. Yah, meskipun tadi malam ia sempat merasa kacau, tapi untungnya ia masih bisa mengatur waktu untuk menyelesaikan tugasnya. Dara membalikkan tubuhnya ke belakang untuk mengambil buku tulis Geografi ketika ia tidak menemukan buku itu di atas meja. Dara mungkin lupa mengeluarkannya. Ia sempat bertemu pandang dengan Rafka yang duduk di belakangnya. Laki-laki itu tiba-tiba tersenyum miring, tanpa sebab. "Lepas itu earphone lo. Nggak sopan, ada guru juga." tegur Dara, tanpa menatap Rafka. Namun sedetik berikutnya ia menyesal. Lahh?? Peduli gue apa? Rafka hanya terkekeh. Laki-laki itu melepas earphone yang sebelah kanan, tapi membiarkan yang sebelahnya menyangkut di telinga kiri. Dara hanya menggeleng kepala samar menyadari kepribadian Rafka kini berubah menjadi Rafka yang biasanya. "Hah?" tanpa sadar, Dara bergumam. "Kok nggak ada, sih?!" Dara menggeledah isi tas-nya sambil sesekali melihat ke arah Bu Farah dengan ekspresi panik. "Buku gue kemana, sih?! Perasaan tadi udah di masukkin, deh!" "Nyari apa, Dar?" Arsya muncul entah darimana, kini laki-laki itu berdiri di samping bangkunya. "Buku gue..." "Buku Geografi?" "Iya, lo liat nggak? Tadi pagi perasaan gue simpen di meja..." "Yakin?" Arsya memiringkan kepalanya, ia memeriksa kolong meja dan buku-buku yang Dara taruh di atas mejanya. "Nggak keselip, gitu?" "Enggak... beneran, deh." Arsya melirik laki-laki yang menghuni bangku di belakang Dara. Rafka masih santai dikursi, duduk sambil melipat kedua lengannya di bawah d**a sementara kepalanya menoleh ke jendela, entah apa yang ia perhatikan sambil mendengarkan lagu seperti itu. Sangat buang-buang waktu. "Semuanya sudah dikumpulkan?" Dara semakin panik, ia tidak pernah terjebak di situasi ini. "B-Belum, Bu." Suara Dara memang kecil, tapi wanita itu bisa membaca ekspresi Dara sekarang. Bu Farah menatap ke penjuru kelas yang kini berubah hening. "Apa ada yang nggak ngerjain tugas dari saya?" Semua orang diam, termasuk Rafka yang kini sudah merubah posisi duduknya menjadi tegap seperti biasa. Pandangannya tidak lepas dari sosok Dara yang tidak bisa tenang di bangkunya. Arsya juga sudah kembali ke tempat duduknya sendiri, sambil sesekali melihat ke arah Dara. "Ada?" tanya Bu Farah lagi. Tidak mendengar jawaban, Bu Farah melangkah ke depan kelas, menatap wajah-wajah mereka bergiliran. "Kalian tau, saya lebih menghargai orang yang mengerjakan tugas saya, meskipun hanya satu soal. Daripada orang yang nggak bawa buku mata pelajaran saya di saat saya masuk kelas." Atmosfer kelas berubah kelam, entah kenapa wanita ini selalu membawa aura seram bahkan hanya dengan suara langkah kaki dari sepatu hak yang ia pakai. Bu Farah kembali kemeja, menghitung jumlah buku dan membandingkannya dengan jumlah anak yang masuk kelas hari ini. "Dua orang yang nggak mengumpulkan?" tanya Bu Farah, memandangi wajah-wajah penghuni kelas yang mulai khawatir. "Siapa? Angkat tangan!" "Saya, Bu." Semua orang menoleh ke bangku paling belakang, termasuk Dara. Ia menatap Rafka dengan pandangan khawatir—lebih tepatnya, ia khawatir dengan dirinya sendiri. Dara penasaran hukuman seperti apa yang akan diberikan seorang Bu Farah kepada putra tunggal yang digadang-gadang sebagai anak dari pemilik yayasan sekolah. "Saya udah tau, pasti kamu salah satunya." ucap Bu Farah, sarkas. "Terus kenapa masih diem di bangku? Keluar sekarang!" "Saya nungguin Dara, Biar bareng keluarnya." Mendengar itu Dara langsung menolehkan kepalanya cepat. Melotot pada Rafka karena gemas. "Dara?" Mati. Bu Farah memanggil namanya. "Kamu nggak ngumpulin?" Dara berbalik, ia menelan ludah. "Anu... Bu, tadi buku saya—" "Kalo gitu kamu juga keluar," potong Bu Farah, final. "Bu, tapi saya ngerjain, kok!" "Mana?" "...ketinggalan," kata Dara, tertahan. "Keluar," kata Bu Farah, nada bicaranya memang biasa, tapi ekspresi wajahnya yang membuat kalimat itu terdengar seperti perintah yang tak terbantah. "Kalian berdua." Rafka langsung berdiri, berjalan masih dengan sebelah earphone yang menancap di telinga kanan. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana, dan rasanya Dara ingin terjun dari atap sekolah ketika Rafka masih sempat mengedipkan sebelah mata begitu melewati bangkunya. INI ORANG WARAS NGGAK SIH?! *** Selepas mereka diusir dari kelas, mereka tidak lepas sampai di situ. Bu Farah menyuruh mereka mengerjakan tugas minggu kemarin dengan tambahan essai. Karena Dara sudah mengerjakannya tadi malam, terpaksa ia mengerjakan ulang tugas yang susah payah ia kerjakan sampai larut malam. Dara berjanji akan membunuh siapapun yang berani mengusili buku Geografi-nya itu. Sumpah. Dan di sinilah mereka berdua sekarang. Di depan pintu ruang belajar perpustakaan. Dara tak berbicara sepatah kata pun, ia langsung melepas sepatunya untuk masuk dan meninggalkan Rafka di belakang. Ruang belajar siang itu kosong, jadi Dara bisa memilih meja mana yang ingin ia pakai. Perempuan itu memilih spot favoritnya, di pojok dekat jendela yang memberi akses pandangan ke halaman sekolah. Rafka datang dengan beberapa buku geografi yang mungkin akan berguna saat mengerjakan soal, Dara menatap Rafka tajam dan memperhatikan pergerakan laki-laki itu. Saat Dara mengira Rafka akan duduk di satu meja yang sama dengannya. Laki-laki itu justru menarik kursi dari meja lain. Mereka kini memiliki jarak sekitar dua meter. Dara berkedip. Baguslah. Tapi seperti ada yang salah. Seharusnya ia tidak perlu kecewa hanya karena Rafka tidak mengambil kursi di hadapannya. Harusnya begitu. Satu jam berlalu, dan tidak ada percakapan sama sekali, karena mereka juga tidak mungkin berbicara apalagi berdebat dengan jarak dua meter. Dara menarik napas dan menghembuskannya kasar, ia tidak bisa fokus. Perempuan itu tidak bisa memusatkan konsentrasinya pada soal Geografi, sesekali matanya melirik Rafka di sana. Laki-laki itu kelihatan kebingungan dan entah kenapa Dara ingin bertanya apa yang membuatnya kesulitan. Tapi gengsi. Jadi, Dara tetap mempertahankan posisi sambil berusaha mengumpulkan fokusnya. "Dar," "HAH?!" Dara kaget. Ia juga tidak tahu kenapa ia tiba-tiba kaget. Mungkin karena Rafka memanggil namanya tiba-tiba. "Pinjem penghapus," "O-oh," Dara mencari benda kecil itu dalan kotak pensilnya dan menunjukkannya pada Rafka. "Nih, ambil sendiri." Disaat Dara mengira Rafka akan berdiri dari kursi dan menghampiri mejanya, laki-laki itu justru berdecak. "Lempar aja, mager." as expected from the boss. Dara memutar bola mata, lalu melempar penghapus kecil itu dan langsung ditangkap oleh Rafka dalam waktu singkat. Yes, nice catch! "Aw!" Dara mengaduh ketika kepalanya dilempar penghapus dari kejauhan. Sakit, lumayan. Perempuan itu mendesis, "Bisa nggak sih, Ngembaliin baik-baik? Nggak usah di lempar!" "Lo minjemin juga dilempar, ya gue balikin juga dilempar lah!" "KAN LO YANG NYURUH, PANJUL!" "Sshhhh! Jangan berisik ini perpus!" "Maaf, Pak." ucap Dara pelan pada pria paruh baya yang barusan menegurnya. Dara menghembuskan napas kasar dan berdiri dari kursinya. Ada buku yang harus ia ambil. Dua detik setelah Dara menghilang dari ruang belajar, Rafka tertawa. Tapi, laki-laki itu bahkan tidak tahu kenapa ia tiba-tiba tertawa. *** Dua menit Dara menyisir pandang ke rak buku bagian Geografi yang tingginya hampir dua setengah meter. Buku yang ia cari berada di susunan rak paling atas dan hal itu membuat Dara mendesah berkali-kali. Kalau seperti ini, Dara kadang menyesal kenapa ia tidak bisa memiliki tinggi tubuh ideal. Saat sedang kebingungan, mata perempuan itu langsung fokus pada sebuah tangga susun kayu yang ada di sisi rak buku bagian fiksi ilmiah, tidak begitu jauh dari tempatnya berdiri. Perempuan itu mendorongnya susah payah karena cukup berat dan memposisikan tangga susun itu agar ia bisa langsung mengambil buku yang ia butuhkan. Kayunya sudah hampir rapuh, makanya Dara naik dengan sedikit hati-hati. Rasanya perempuan itu tidak ingin melihat ke bawah, sampai ia menarik buku lusuh dari susunan buku yang berada di rak paling atas. Dara tinggal menggerakkan kakinya untuk mulai turun, namun tiba-tiba Rafka muncul dari rak buku sebelah, ia juga baru saja mencari buku. Laki-laki itu melihat Dara, kemudian tersenyum dan menendang keras kaki tangga susun yang sedang Dara gunakan sebagai tumpuan hingga perempuan yang ada di atasnya kehilangan ke seimbangan. Iya. Mungkin siapapun yang suka menonton adegan romantis dalam film sudah tahu apa yang akan terjadi. Karena kenyataannya memang begitu, Dara jatuh, dan Rafka menangkap tubuh mungil perempuan itu persis seperti dua tokoh utama dalam film romantis yang cheesy. Jantung Dara berdegup kencang, entah karena ia terkejut atau justru karena Rafka kini menatap bola matanya lurus-lurus. Senyum laki-laki itu belum turun dan yah, seharusnya Dara bisa lebih cepat membaca senyum laki-laki itu karena detik selanjutnya Rafka melepas rangkulan tangannya pada tubuh Dara, membuat Dara terjatuh seketika dengan punggung yang membentur lantai. Sakit? Iya. Malu? Jangan ditanya. "Hehe, sorry," Rafka nyengir, ia masih sempat tertawa sebelum melangkahi tubuh Dara yang masih terlentang di lantai. "Sengaja." "SIALAN LO SETAAAANNNN!!" Dara berteriak, benar-benar berteriak karena ia tidak bisa membendung lagi rasa kesalnya pada laki-laki itu. Ia tidak peduli dengan penjaga perpustakaan yang kini menegurnya lagi dengan suara yang lebih keras. Dara bangun dan mengejar laki-laki itu dari belakang. Dara baru akan memukulkan buku tebal yang ada di tangannya ke kepala Rafka, namun laki-laki itu langsung berbalik seolah bisa membaca pikiran Dara dan sontak membuat langkah Dara terhenti. Perempuan itu membeku. Rafka tersenyum, menepuk pucuk kepala Dara dua kali. "Makanya, minum s**u Bonetto, biar tinggi." Dara menelan ludah, dahinya berkerut. Memikirkan beragam gagasan yang muncul di otaknya. Pada akhirnya perempuan itu hanya terpaku dan membiarkan Rafka kembali duduk di bangkunya. Bahkan dukun sekalipun sepertinya tidak bisa mengungkapkan apa yang ada di benak Dara sekarang. ASDFGHJKL?#(+$@)!!!!! Dara pusing, ia mendadak sakit kepala. *** "Dek," "Dek, bangun, dek." "nGHH?" Dara melengguh, kepalanya pusing dan lehernya terasa sakit. Ia melotot ketika yang ia lihat pertama kali adalah sosok pria setengah baya yang menjaga perpustakaan, Dara tidak tahu namanya. "Eh maaf, Pak!" Pria itu tersenyum kecut, "Pulang, dek. Udah mau saya tutup ini perpusnya..." Dara menoleh ke luar jendela, langit sudah mulai berubah oranye. "Eh? Emang jam berapa sekarang?" "Udah mau Maghrib, dek." jawabnya, sambil membereskan susunan meja dan kursi di ruang belajar. "Tadi aja teriak-teriak sampe berisik, sekarang malah ketiduran... tugasnya udah beres belum, tuh?" Pertanyaan itu terdengar seperti sindiran, tapi membuat Dara langsung menepuk keningnya dan menemukan sebuah sticky note berwarna kuning tertempel di sana. Ukurannya kecil dan tidak menghalangi ruang pandangnya, jadi Dara tidak sadar kalau kertas itu ada di kening. "Apaan, nih?" . Aku balikin buku kamu, maaf bikin kamu jadi kena hukuman. . Dara melotot ia kemudian langsung melihat buku geografi miliknya sudah berada di atas meja. hih, ngerjain banget ini orang!! Dalam hati Dara memaki, ia masih ingat janjinya untuk membunuh siapapun yang berani menyembunyikan buku geografinya, tapi daripada mencari tahu siapa orang yang membuatnya terjebak hampir lima jam bersama Rafka, ia justru menyelipkan sticky note itu di belakang sampul buku geografinya dan beranjak dari perpustakaan. Terakhir yang Dara ingat, ia sedang menulis essai nomor satu, lalu berhenti sebentar untuk meregangkan otot lengan, tapi akhirnya ia justru ketiduran saking lelahnya. Semalam kemarin memang ia begadang sampai pukul dua pagi untuk tugas geografi, dan hari ini harus menyalin tugas yang sama sampai dua kali. Dara tidak mau tahu kapan Rafka pergi meninggalkan ruang belajar. Semakin ia mengingat Rafka, ia merasa dirinya semakin aneh. Emosinya tak terkendali dan Dara seolah berubah menjadi orang lain. Rafka paling bisa membuat mood-nya terbolak-balik. . . . (TBC)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD