Untuk setengah jam pertama, keduanya membersihkan toilet tanpa banyak bicara. Dara ingin cepat-cepat pulang ke rumah karena ia tidak ingin terjebak lebih lama dengan Rafka di sini. Mereka sibuk dengan bagian masing-masing. Dara membersihkan tiga bilik bagian kanan, sementara Rafka yang bagian kiri. Toilet ini jarang dipakai dan keadaannya benar-benar sudah tak terurus.
Saat Dara sedang konsentrasi menumpahkan cairan untuk mengepel lantai ke dalam ember, tiba-tiba ia mendengar suara gaduh yang berasal dari bilik bagian kiri disusul dengan sumpah serapah yang langsung Dara kenali dari mana asalnya.
"WOY ANJENG! APAAN NIH!"
"HUSH! HUSH!! PERGI NGGAK LO CECUNGUK!!"
"k*****t!"
Dara berdecak kesal, ia menendang ember berisi air itu lalu berjalan cepat ke arah sumber suara. Ia mendapati Rafka sedang sibuk mengayunkan gagang pel kesana kemari untuk membunuh satu binatang kecil yang biasa menghuni kamar mandi.
"Apaan, sih lo! Bacot banget!"
Rafka terkejut ketika melihat Dara sudah berada di belakangnya sambil bersandar ke salah satu bilik toilet dengan kedua tangan terlipat dibawah d**a. Laki-laki itu menelan ludah dan segera menjatuhkan gagang pel-nya. Ia berusaha menetralkan ekspresi wajahnya dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
"Nggak, Nggak ada apa-apa."
Dara menyipitkan matanya, "Kecoa?"
Rafka menelan ludah, mengusap ujung hidungnya lalu memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. "Nggak kok, Nggak ada kecoa, tuh."
"Ada," kata Dara. "Tuh, ngerayap di seragam lo."
Rafka seketika melotot, "SERIUS ANJENG??!!"
Laki-laki itu bahkan langsung melepas jaket denim yang ia kenakan dan mengepak-ngepakkan jaketnya berharap hewan yang membuatnya geli setengah mati itu pergi.
"HIII, WOY ITU LIAT DIA TERBANG KE BAJU LO PRILL!!"
Saat Rafka heboh berteriak, Dara justru fokus pada hewan kecil yang kini terbang menuju seragam-nya. Dara memang sedikit geli, tapi ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak heboh, karena jika semakin heboh, hewan kecil itu justru semakin sulit ditangkap.
"PRILL! GUE SERIUS ITU DI BAJU LO!!"
"Ini?" Dara menengok ke pundak kirinya, lalu menangkap kecoa itu dengan sekali genggaman.
"ANJING JOROK BANGET SIH LO!" teriak Rafka, semakin heboh ketika Dara membuang kecoa itu ke dalam kloset dan membilasnya dengan ekspresi santai.
Dara kemudian berjalan ke arah wastafel dan mencucintangan, sebelum akhirnya mengambil tisu untuk mengeringkan tangannya. Perempuan itu menatap figur Rafka dari refleksi cermin lebar di depannya sambil tersenyum sinis. Dara kemudian berbalik sambil menyeringai, ia melempar gumpalan tisu tadi ke arah Rafka. "Ngaku bad boy, tapi kok takut kecoa. Lucu lo!"
Kalimat itu sontak membuat Rafka membulatkan matanya. Ia hendak memaki tapi perempuan itu langsung melengos pergi dan kembali berjalan ke bilik bagian kanan untuk melanjutkan perkerjaannya yang sempat tertunda sia-sia.
"HEH GUE NGGAK TAKUT YA!! GUE CUMA—"
"CUMA PANIK??" potong Dara, dengan suara keras karena mereka kini sudah berada di bilik yang saling bersebrangan.
Rafka berdecak. Ia diam sebentar sampai tiba-tiba ia tertawa kecil tanpa sebab. Lalu sedetik setelah ia sadar bahwa ia baru saja tertawa sendirian, laki-laki itu menampar wajahnya sendiri. "Kok gue ketawa, sih?!"
***
Pukul setengah tujuh malam, keduanya baru bisa keluar dari toilet itu dengan penuh keringat bercampur bau antiseptik kamar mandi yang masih menempel di seragam mereka. Rafka dan Dara berjalan beriringan, namun jarak yang terbentang diantara mereka bisa mencapai satu meter. Rafka memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, sementara pandangannya lurus ke depan. Dan Dara, perempuan itu menatap langit yang sudah mulai berubah gelap ketika matahari tenggelam.
Keduanya berdecak saat melihat pagar besi setinggi dua meter itu telah tertutup dan yang paling buruknya adalah pagar itu sudah terkunci.
"s**t," umpat Rafka. "Kita kemaleman."
"Gara-gara lo," ucap Dara dengan intonasi tenang, tapi menyudutkan.
"Kok gue?"
"Ya elo bersihin gituan aja pake acara jerit-jerit segala! Jadi delay kan! Harusnya jam 5 kita bisa pulang! Lo belum beres!"
Rafka menyeringai, ia tidak terima dengan argumen Dara. "Eh, emang gue nyuruh lo buat nungguin gue?"
"Ya enggak!" Dara menelan ludah. "Tapi kan gue tetep nggak bisa pulang kalo lo belum kelar! Lupa, ya lo?"
Rafka berdecak, ia menggaruk ujung hidungnya. "Ya udah, lo naik."
Dara mengerutkan dahi, "Naik apaan?"
"Manjat maksud gue," koreksi Rafka.
"Manjat apaan?"
"Ya panjat pager lah! Masa panjat pinang, sih. Lo pikir kita lagi agustusan?!"
krik.
krik.
krik.
"Ha, gue mau ketawa tapi gigi gue kaku." cibir Dara sambil memutar bola mata. Dara sadar, bahwa Rafka masih belum bisa menghilangkan rasa malunya karena insiden kecoa tadi di toilet. Maka dari itu ia sangat menyadari perubahan sikap Rafka sekarang.
"Jadi lo mau manjat nggak?!" tanya Rafka, ia mulai tak sabaran.
"Enggak," jawab Dara santai. "YA LO MIKIR NGGAK SIH! GUE PAKE ROK!"
"Terus?"
"Ya gue nggak bisa manjat!" sungut Dara, keki. "Lagian lo kayak kehabisan akal gitu, deh. Tinggal telfon bokap lo, abis itu suruh dia datengin satpam ke sini, suruh buka gerbangnya. Simpel."
Rafka menaikkan sebelah alisnya, lalu menunjukkan iPhone X miliknya dengan layar mati itu ke hadapan Dara. "Kalo handphone gue nyala, udah gue telfon dari tadi."
"Ah, setan!" umpat Dara. "Ya terus gimana, nih! Lo jadi cowok mikir, kek! Inisiatif!"
"Pake handphone lo kalo gitu,"
"Gue nggak bawa handphone!"
"Yaudah, lo nggak mau manjat, kan? Gue tinggal." kata Rafka, ia mulai berjalan mendekati pagar. "Gue manjat duluan."
"Ih,"
"Apaaa? Mau ikut nggak lo?"
"Gue pake rok!"
"Ya makanya lo manjat duluan! Bodoh!"
"Nggak, ntar lo liat daleman gue!"
Rafka berdecih, lalu memutar bola mata. "Hell, bahkan sekalipun lo nggak pake daleman, gue nggak nafsu sama lo."
"Anjing," desis Dara. Meskipun ragu pada akhirnya perempuan itu mendekati pagar besi, bersiap untuk mulai memanjat. "Ya udah sana!"
"Apa?"
"Sana, balik badan! Jangan liat gue sampe gue selesai manjat!"
"Gue udah bilang gue nggak naf—"
"BRAFKAK BADAN AJA BISA NGGAK SIH LO! BACOT BENER!"
Mendengar teriakan Dara membuat Rafka memutar bola mata lalu mengangkat kedua bahunya angkuh. "Oke, terserah."
Laki-laki kemudian memutar tubuhnya memunggungi pagar besi, sementara Dara sudah menumpukan kakinua untuk mulai memanjat. "Gue itung sampe sepuluh hitungan, lo harus udah ada di luar pager."
"JANGAN LIAT!"
"Gue itung sekarang, satu... dua... tiga... empat... lima... enam... tuj—"
"JANGAN LIAT KE BELAKANG, b******k!"
"delapan... sembilan...sep—"
"BELUM! GUE BELUM TURUN!"
Rafka tersenyum tipis, "Sepuluh setengah... sepelu seperem—"
"JANGAN NGINTIP!"
"sepuluh seperempat! sep—"
"Udah! Gue udah di luar!" teriak Dara, kemudian Rafka berbalik dengan kedua tangan di saku celana.
"Tuh, bisa." Laki-laki itu tersenyum, tapi Dara menangkap makna yang berbeda dari senyumnya. Entahlah, Dara tidak tahu pasti. Tapi dadanya terasa aneh ketika senyum itu terbit.
"Cepetan lo manjat! Gue mau pulang!"
Rafka hanya menggerakkan kedua alisnya cepat, lalu tanpa basa-basi kedua kaki panjangnya mulai memanjat susunan-susunan pagar besi itu bahkan kurang dari sepuluh detik. Rafka melompat ke bawah dan hal itu membuat Dara mundur selangkah karena Rafka mungkin bisa saja menimpa tubuhnya jika lompatan laki-laki itu tidak tepat sasaran.
Rafka menyeringai ke arah Dara ketika menyadari bahwa kini tubuh mereka sudah berhasil melewati pintu pagar sekolah. Ia menatap Dara dengan tatapan arogan. Serius, laki-laki itu mudah sekali berubah. Dan kini Rafka kembali menjadi sosok arogan yang sangat Dara kenali gerak-geriknya. Dara berdecih karena ia kembali merasa muak dengan seringaian mengintimidasi milik laki-laki itu.
"Gue pulang," ucap Dara. Ia sedikit canggung ketika mengucapkannya, tapi entah kenapa kalimat itu lolos dari mulutnya.
"Ya udah sono, lah." jawab Rafka, sekenanya. "Lo kode minta gue anterin?"
"ENGGAK!"
"Ya udah, sana."
Dara berdecak. Arah pulang mereka memang bersebrangan. Saat Dara mulai berjalan ke arah barat, Rafka masih berdiri di depan gerbang dengan mata yang terpaku pada punggung perempuan berkuncir satu itu. Kedua tangannya ia tenggelamkan ke dalam saku celana. Rafka sempat terkejut ketika Dara tiba-tiba menoleh ke belakang setelah berjalan beberapa langkah. Rafka mengerutkan dahi.
"Oh iya, mobil lo gimana?" tanya Dara. "Kan masih di parkiran?"
Rafka menahan tawa, "Gampanglah. Biarin aja nginep di sini semalem."
Dara kemudian menggangguk. Ia kembali berbalik dan meneruskan langkahnya mencari halte terdekat untuk menjangkau transportasi umum yang bisa membawanya pulang ke rumah. Setelah beberapa meter ia berjalan menjauhi gedung sekolah, Dara tiba-tiba bergelut dan bermonolog dengan dirinya sendiri.
Lah, ngapain gue nanyain mobil dia coba?! Emang penting buat gue?!
***
"Gila lo, Raf. Malu-maluin gue aja, sih lo!" omel Farrel, ia menyesap kopi hitamnya yang masih panas.
"Ya elah! Masa pentolan sekolah takut cecunguk, sih!! AH PARAH LU!" tambah Nevin, ia mengapit leher Rafka dengan lengannya. Membuat laki-laki yang sedang memegang puntung rokok itu hampir sengaja menyulut ujung rokoknya ke tangan Nevin.
"Sakit, Vin! Sakit sumpah! Lepasin!" Rafka mendorong Nevin agar menjauh. "Ah, cerita sama lo semua nggak guna, dah! Gue malah dihina, bukan di semangatin!"
"Ya jelas, lah. Lo bukan bagian dari kita lagi, kalo lo takut kecoa!" Ares yang baru datang sambil menghisap vape-nya ikutan meledek Rafka.
"Kayak lo paling iya aja! Gue masih mending takut kecoa, Lah elu takut buah durian. Nggak masuk akal!" kata Rafka sambil tertawa, lalu Nevin dan Farrel ikut menertawakan Ares.
"Gue nggak takut buahnya! Gue takut bentuknya! Ngeri!"
"Alah, itu emang lo aja punya kelainan!"
"b******k! Sini gue bengkokin dah anu lo!" Ares berjalan ke arah Rafka, hendak menghajarnya tapi Rafka keburu menghindar sambil tertawa meledek.
Mereka berempat tertawa keras di warung tongkrongan Kang Ujang. Rafka tidak langsung pulang ke rumah, ia naik taksi ke sini untuk menghampiri teman-temannya. Rencananya ia ingin menginap di rumah Nevin sampai besok pagi. Laki-laki itu malas pulang ke rumah, dan ia tidak ingin ditanyai macam-macam karena mobilnya masih ia tinggal di sekolah.
Rafka bercerita mengenai apa yang menimpanya hari ini dan berharap mereka bertiga bisa sedikit menaikkan harga dirinya yang tadi sempat turun karena insiden kecoa di kamar mandi. Tapi yang ada, Rafka justru mendapat ledekan dari ketiga sahabatnya.
Farrel awalnya anteng, karena diantara yang lain, Farrel adalah yang paling dewasa dan paling minim bicara. Ia lebih sering menyimak obrolan kacau Rafka, Nevin dan Ares atau kadang sesekali nimbrung jika ada hal yang memang menarik perhatiannya. Laki-laki itu sedang anteng men-scroll timeline i********:-nya sampai satu postingan berhasil membuat ia menaruh gelas kopi hitam itu di meja—ditengah Rafka, Nevin dan Ares yang sedang membicarakan omong kosong mengenai kemunculan ayam berkaki empat.
"Guys," panggil Farrel, mengalihkan antensi ketiga sahabatnya.
"Kenapa?" tanya Rafka. Ia mematikan rokoknya yang tersisa kurang dari lima senti ke dalam asbak.
"Rian,"
"Kenapa si Rian?" kali ini Ares yang bertanya.
"Rian udah keluar dari rumah sakit," kata Farrel. "Dia mau masuk sekolah."
"Nggak jadi pindah?!" ekspresi Nevin terlihat tidak biasa, seperti tidak suka dengan kabar yang disampaikan Farrel. "Tau dari mana lo?"
"Ceweknya barusan nge-post, katanya minggu depan dia mau mulai sekolah lagi." ungkap Farrel.
Rahang Rafka mengeras, "Bangsat."
***
"Apa ini, Dar?"
Dara mengalihkan perhatiannya dari buku tulis Geografi yang sedang ia pakai untuk menyalin soal. Saat Dara menoleh ke arah Ratna, wajahnya langsung dilempari oleh beberapa bungkus rokok yang masih berisi dan sebagian ada yang sudah kosong tak berisi.
"Jawab! Ini apa?!"
Dara diam. Pulpen yang ada tangannya jatuh ke lantai. Tubuhnya seketika gemetaran dan ia tidak berani menatap Ratna yang kini berdiri dengan mata yang berkilat sarat akan emosi. "Bisa-bisanya kamu simpen bungkus rokok sebanyak ini di lemari kamu, hm?! Mau jadi anak perempuan macam apa kamu?!"
"Ma, Aku..."
"Kamu ngerokok?!"
"A-Aku..." Dara tidak bisa bersuara, tenggorokkannya mengering.
"JAWAB!" Ratna menarik tangan Dara agar berdiri dari sofa dan menatapnya. Ratna meremas kedua bahunya tapi Dara terus menunduk dan tidak berani melihat wajah Ratna.
Pada akhirnya Dara mengangguk, ia mengakui bahwa selama ini diam-diam ia selalu menghisap tembakau itu tanpa sepengetahuan Ratna. Ketika Dara merasa kacau, kelelelahan dan depresi, rokok adalah teman sejatinya. Ia bisa merasa lebih baik setelah menghisap ujung tembakau itu. Setiap kali Ratna menyuruh Dara ke mini market untuk membeli kebutuhan pribadinya, Dara juga diam-diam membeli untuk kebutuhannya sendiri.
"Kenapa? Kenapa kamu ngerokok?!"
Dara menggeleng, entah karena ia tidak tahu alasannya atau karena ia memang tidak ingin memberikan alasannya.
Rahang Ratna mengeras, begitupun juga cengkraman di kedua bahu Dara, "Kamu memang anak saya, anak dari perempuan yang nggak bener, tapi kamu—"
"Kenapa?!" Dara berteriak, ia tiba-tiba mengangkat wajahnya dan menatap Ratna dengan berani untuk pertama kali dalam hidupnya. "Kenapa aku harus lahir dari rahim perempuan yang nggak bener?!"
Plak.
Seketika satu tamparan keras mendarat di pipi kirinya. Bahkan sampai wajah Dara berpaling saking kerasnya tamparan yang diberikan Ratna ke wajah anaknya sendiri. Seketika suasana rumah ini menjadi mencekam, bahkan suara TV yang menyala di ruang tengah seolah sayup dengan sendirinya.
"Kenapa?" tanya Dara dengan suara lirih, ia menggerakkan kepalanya, menatap Ratna sekali lagi. "Kenapa aku harus dituntut buat jadi anak perempuan terhormat, padahal aku lahir bukan dari rahim perempuan yang nggak bisa jaga kehormatannya sendiri?"
Kalimat itu membuat Ratna bungkam. Tangan wanita itu mengepal kuat-kuat, menahan segala emosi yang campur aduk hatinya. Dara kemudian membereskan buku-buku yang ada di meja dan beranjak dari ruang tengah. Ia membanting pintu kamarnya dengan sangat keras lalu menenggelamkan diri dalam selimut tebal.
Dara tahu bahwa kalimat itu adalah kalimat paling mengerikan yang pernah ia ucapkan, Dara tahu bahwa kini alam semesta akan mengutuknya karena mengucapkan kalimat itu untuk Ibu kandungnya sendiri dan Dara tahu, seberapa terlukanya hati Ratna karena kalimat itu. Tapi Ratna tidak pernah tahu, bahwa apa yang telah ditanggung Dara sejak ia lahir ke dunia sudah begitu berat.
Kalau Dara bisa memilih, jujur ia tidak pernah ingin lahir ke dunia, karena bahkan Ibunya sendiri tidak mengharapkan keberadaannya.
.
.
.
(TBC)