BAGIAN 5

1781 Words
Jam pelajaran berganti, Pak Wahidin selaku guru matematika itu pun segera membereskan buku-buku bahan ajar miliknya sebelum beranjak keluar kelas. Para penghuni kelas menghela napas karena pelajaran selanjutnya adalah olah raga. Yang perempuan sibuk berisik untuk mengajak teman-teman mereka untuk berganti pakaian, sementara yang laki-laki ada yang langsung ke ruang ganti atau bahkan sebagian memilih untuk berganti pakaian di dalam kelas. Saat Dara masuk ke dalam kelas, ia baru mengetahui kalau jam pelajaran sudah berakhir sebelum ia kembali dari kamar mandi. Perempuan itu minggir ke sisi pintu ketika Bianca dan teman-temannya berjalan keluar. Dara hanya menatap Bianca sebentar ketika perempuan berwajah campuran indo-aussie itu melewatinya. Dahi perempuan itu berkerut ketika kembali ke bangku, pakaian olah raganya sudah berada di luar tas, padahal Dara tidak merasa mengeluarkannya. Ada Rafka disana. Laki-laki itu sedang membuka kancing seragam putihnya dengan santai. Padahal masih ada anak-anak perempuan di kelas. "Apa?" tanya Rafka, lebih kepada menegur ketika Dara menatapnya tajam seolah menuduh. Ketika Rafka melepas kemeja putih yang otomatis memperlihatkan lekuk tubuhnya yang polos, Dara langsung menghela napas kasar dan membawa kaus olah raganya keluar kelas. Ia tidak ingin ambil pusing dan langsung menuju ruang ganti. Selama dua jam pertama, pelajaran olah raga berlangsung lancar, praktek hari ini adalah lari jarak jauh mengitari lapangan outdoor milik SMA Angkasa Jaya yang bisa membuat lutut lemas dalam sekali putaran saking luasnya. Mereka semua lari bersamaan dengan instruksi Pak Bondan yang merupakan guru pelajaran kebugaraan di kelas 12. Sambil berlari, beberapa anak laki-laki ada yang sesekali bercanda, sementara yang perempuan ada yang beberapa kali mengobrol ketika berpapasan dengan teman-temannya. Dan Dara, perempuan itu berlari sendirian tanpa memperdulikan teman-temannya. Ia terlalu malas bercengkrama dan yang terpenting untuk saat ini adalah nilai prakteknya. Di putaran kedua, saat Dara sedang berlari sambil beberapa kali menyelipkan anak rambut ke belakang telinga, seorang laki-laki menyamai langkahnya. Dara menoleh ke kanan dan tersenyum. "Hei," Sapaan kecil itu bahkan berhasil membuat Arsya hampir kehilangan tenaga di kakinya. Suaranya kecil dan sedikit terengah, tapi Arsya bersyukur karena ia masih bisa memperoleh kesadaran. "Capek?" Pertanyaan bodoh itu membuat Dara tertawa, "Ya jelas, lah. Lo masih berapa keliling lagi?" "Satu," jawab Arsya. "Lo?" "Ini yang terakhir." "Cepet banget larinya," Arsya terkekeh. "Kita kan, beda itungannya. Lo cowok, gue cewek-Anjrit!" "PERMISI!" Ketika Dara sedang berbicara dengan Arsya di tengah kegiatan larinya, tiba-tiba seseorang menyerobot di sela-sela jarak yang tersisa antara bahunya dengan bahu Arsya. Membuat keduanya terpisah dan hampir kehilangan keseimbangan ketika bahu mereka ditabrak tiba-tiba. Dara memegangi bahu kanannya yang terasa pegal. Ia berhenti berlari, membuat Arsya juga berhenti untuk memastikan Dara baik-baik saja. "Sakit?" "LAPANGAN INI LUAS KRAFKA! MATA LO PINDAH KE p****t YA?!" Dara berteriak dibandingkan membalas pertanyaan Arsya. Laki-laki yang penuh dengan ekspresi arogan itu memutar tubuh dan melangkah mundur, "Sorry, tapi gue nggak suka kalo pas nyetir mobil liat dua orang naik motor ngobrol di tengah jalan. Bawaannya suka pengen nabrak." Dara yang mendengar itu sontak melotot dan tensi darahnya seketika langsung naik, "Lo nggak liat apa?! Kita lagi lari pake kaki! Bukan naik motor!" "Ya, terus?" Rafka tersenyum. Dara membuang muka saking malasnya menatap senyum Rafka. Ia kemudian melangkah maju dan mendekati Rafka, menatap matanya tajam. "YA TERUS LO NGAPAIN NABRAK-NABRAK?!" Kedengaran spele, tapi Dara benar-benar tidak menyukai cara Rafka menganggunya. Laki-laki itu terlalu menyebalkan dan sulit terbaca sehingga membuat Dara muak. Tadinya Rafka masih memasang senyum arogan, namun ketika Dara melangkah maju dengan mata tajam sarat akan emosi, Rafka memudarkan senyumnya dan menatap Dara dengan tatapan yang sama. Bahkan lebih. Tatapan itu. Tatapan mata yang sama dengan yang Dara lihat saat di gudang ketika ia memergoki Rafka sedang memukuli orang hingga babak belur. Seketika Dara meremas tangannya karena ia takut, dan disaat yang bersamaan Dara tidak ingin terlihat lemah di depan laki-laki itu. Beberapa teman-teman sekelas yang melewati tubuh mereka sempat menaruh perhatian, tapi tidak ada satupun yang berhenti berlari karena tidak ingin ikut campur. Arsya tidak berani mengangkat wajahnya untuk menatap Rafka, ia menarik tangan Dara untuk menjauh, "P-Dar, udah ayo." Dara tidak merespon bisikkan suara Arsya dan masih menatap Rafka dengan sisa keberaniannya. Sampai Rafka tersenyum dan mengangkat dagu Dara dengan satu telunjuknya. "Lo tau apa yang nggak gue suka?" Dara diam tidak menjawab, pun tidak menyingkirkan sentuhan Rafka di dagunya. Rafka berdecih, kemudian berkata dengan intonasi rendah, "Gue nggak suka liat lo punya temen." Setelah itu Rafka menggerakkan dagu Dara hingga ia menoleh ke arah Arsya, lalu menarik tangannya dari dagu Dara. Ia kemudian berbalik dan lanjut berlari. Dara menatap Rafka yang kini mulai menjauh, ia menghela napas pendek. "Yuk, Ras. Orang aneh emang dia." Arsya mengangguk ia mulai berlari kecil di sebelah Dara kali ini mereka saling menyamakan tempo. "Sejak kapan dia jadi suka gangguin lo gitu?" Dara mengangkat bahu, "Nggak tau. Tapi gue kira, dia mulai ngarah gue semenjak yang di kantin waktu itu. Lo tau, kan?" Arsya menatap Dara sebentar, lalu mengangguk. Ia tahu, karena saat itu adalah pertama kalinya ia mengenal Dara. Perempuan itu memberikan piring jatah makan siangnya, disaat Rafka tiba-tiba menyerobot dan berdiri di depannya saat itu. Arsya tidak mau banyak berkomentar soal kejadian di kantin. Jadi ia memilih untuk diam dan berusaha tetap menyejajarkan langkahnya dengan Dara. "Dara!" Seseorang memanggil nama Dara. Tapi yang menoleh ke sumber suara bukan hanya Dara. Melainkan Arsya dan Rafka-yang masih berjarak sekitar dua meter di depan mereka. Seruan itu cukup keras. Seruan dari Pak Bondan selaku guru olah raga mereka yang terkenal galak dan keras. "Saya, Pak?" Dara menunjuk dirinya sendiri. Tapi Pak Bondan tidak menjawab dan menatap wajah muridnya itu seolah memperjelas bahwa ia tidak salah memanggil nama. "Ada apa, Pak?" Pak Bondan menarik napas, ia terlihat seperti menahan marah. Lalu tangannya ia ulurkan dari balik punggung sambil menunjukkan sesuatu. "Ini, punya kamu, kan?" "Rokok?" Dara mengerutkan dahi ketika melihat sepuntung rokok yang masih baru itu berada di tangan Pak Bondan. "Bukan, itu bukan punya saya, Pak." "Jangan bohong," kata Pak Bondan penuh penekanan. Arsya yang berada di situ juga mengerutkan dahi dan menatap Dara bingung. "Saya liat ini keluar dari saku celana olah raga kamu, terus jatuh ke tanah." Dara menelan ludah, "Tapi beneran, Pak. Saya nggak ngerokok." "Saya nggak nanya kamu ngerokok atau enggak, saya nanya kenapa ini bisa ada di saku celana olah raga kamu?" "Saya nggak tau, tapi itu beneran bukan punya saya." Pak Bondan berdecak, "Coba sekarang masukin tangan kamu ke saku, terus cium tangan kamu, ada aroma tembakau atau enggak?" Rafka yang menyadari bahwa perbincangan tiga orang itu makin serius, ia kemudian menghampiri mereka. Meskipun terkesan ikut campur, tapi keberadaan Rafka sontak membuat Dara meliriknya tajam. "Lo, kan?" "Apaan?" Dara menghela napas ia kemudian memasukkan satu tangannya ke saku, lalu menariknya lagi dan mencium aroma yang menempel di sana. Benar. Ada aroma tembakau. Pak Bondan menaikkan sebelah alisnya. "Bener, kan?" Dara berkedip dua kali. Ia memandang Arsya dengan tatapan khawatir. Arsya juga tidak tahu apakah ia harus percaya atau tidak dengan situasi ini. Arsya belum mengenal Dara, jadi ia tidak tahu apa Dara memang seperti itu tanpa ia ketahui. Tapi Arsya juga menolak untuk percaya karena Arsya pikir Dara bukan tipikal perempuan nakal. Dara kemudian menggerakkan tangannya ke arah hidung Arsya untuk memastikan bahwa ia salah mencium bau. Tapi tangan Dara segera ditarik oleh Rafka dan laki-laki itu langsung menghirup aroma disekitar telapak tangan Dara. Awalnya Dara terkejut, tapi ia buru-buru melepaskan tangannya dari tangan Rafka. "Mana liat rokoknya, Pak?" "Ini," Pak Bondan menunjukkan sepuntung rokok yang masih utuh di telapak tangan. "Ooh, itu punya saya, Pak." kata Rafka dengan intonasi yang tenang sehingga hal itu langsung membuat Dara dan Arsya juga ikut melotot. Pak Bondan mengerutkan dahi, "Kamu yang masukin ke saku celana Dara?" Rafka menatap Dara sebentar, lalu tersenyum miring. "Bukan, Tapi waktu itu saya pernah bagi rokok saya buat Dara. Belakangan dia kayak keliatan stress gitu, jadi saya tawarin dia aja. Eh ternyata dia beneran simpen rokoknya sampe sekarang..." Penjelasan tak bermutu yang keluar dari Rafka itu membuat Dara melotot lagi, ia menatap Rafka tak percaya dan tangannya mengepal seolah tidak tahan lagi ingin meninju hidung Rafka sampai berdarah. Ngomong apa sih lo, t*i?! "Nggak! Nggak gitu, Pak!" Dara melambaikan tangannya seolah tidak terima. "Dia ngawur, Pak. Rokok itu bukan punya saya!" "Iya, kan punya gue. Yang gue kasihin ke lo kemarin? Inget nggak?" "Gue nggak ngomong sama lo!" seru Dara kesal. "BERISIK!" Pak Bondan menginterupsi dengan intonasi tinggi. Lalu menatap Rafka dan Dara bergantian. "Kalian berdua, abis pelajaran olah raga, langsung temuin saya di ruang guru!" *** Setelah pelajaran olah raga selesai, Rafka dan Dara menemui Pak Bondan ke ruang guru. Pada akhirnya mereka berdua masuk ke ruang bimbingan konseling dan harus berurusan dengan kesiswaan sekolah. Selama di dalam ruang bimbingan konseling Dara terus berdebat dengan Bu Maria, selaku kesiswaan di SMA Angkasa Jaya yang terkenal tak pernah pandang bulu dalam menghukum murid-muridnya yang bandel. Termasuk Rafka. Untuk berurusan dengan Bu Maria, sebenarnya Rafka tidak takut. Hanya saja ia malas karena wanita yang terkenal dengan kalimat pedasnya itu selalu melaporkan kelakuan Rafka langsung kepada Ayahnya. Alhasil, diantara semua guru yang berada di sekolah ini mungkin Rafka akan menghindari Bu Maria. Perdebatan panjang itu akhirnya berakhir dengan sanksi final. Meskipun ratusan kali Dara mengelak bahwa gulungan tembakau yang ada di saku celana olah raga itu bukan miliknya, tapi semuanya sia-sia. Dan hal yang paling membuat Dara kesal karena Rafka bahkan tidak melakukan pembelaan dan malah terus menyudutkan posisi mereka berdua. Sederhananya, Dara tidak ingin di hukum sementara Rafka seolah menerima saja hukuman yang akan jatuh pada mereka berdua alias pasrah-atau mungkin sengaja pasrah? Dara mencubit hidungnya ketika ia sampai di toilet belakang kantin yang tak terurus. Dara membawa ember berisi air sementara Rafka membawa dua gagang pel. Mereka diberi hukuman untuk membersihkan toilet sampai se-selesainya atau skors tiga hari juga pemanggilan orang tua ke sekolah. Dan ya, mereka berdua sepakat memilih untuk membersihkan toilet. Opsi kedua terlalu rumit, apalagi sampai melibatkan orang tua. "Anjir! Bau banget, gila!" umpat Dara. Ia meletakkan ember berisi air karena tidak tahan dengan bau yang menyengat. Kedua tangannya ia gunakan untuk menutup hidung dan mulutnya. Rafka hanya menaikkan sebelah alisnya, meskipun ia juga sedang berusaha mati-matian menahan bau yang menguar di sini. Laki-laki itu menghampiri Dara yang berlari keluar dari area toilet dan menarik satu tangan Dara, memaksanya untuk segera memegang gagang pel. "Kalau mau cepet kelar, kerjain sekarang!" Dara menjatuhkan gagang pel itu ke lantai hingga menimbulkan bunyi. Ia menarik kerah seragam Rafka hingga laki-laki itu sedikit condong ke arahnya. "Lo, kan?!" "Apa lagi?" "Lo kan yang naruh rokok itu di celana olah raga gue?! Jelas-jelas pas gue masuk kelas, seragam olah raga gue ada di luar tas! Lo juga ada di sana! Lo sengaja, ya?!" "Hei.. calm down, girl." Rafka menyeringai, senyumnya liar. Ia memegang tangan Dara dan melepaskan cengkraman tangan perempuan itu dari kerah seragamnya. Laki-laki itu memiringkan kepalanya dan mendekati Dara. "Lo mau tau satu hal lain yang nggak gue suka?" Dara bergeming, ia menahan napas. Lagi-lagi ia kalah. Tapi Dara masih tidak ingin menunjukkan bahwa ia kalah sekarang. Hembusan napas Rafka begitu terasa ke wajahnya dengan perpaduan aroma mint dan tembakau yang khas. "Gue nggak suka dituduh. Ngerti?" Rafka menarik wajahnya dan memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana sebelum berbalik. Selangkah ia berbalik, laki-laki itu memutar kembali tubuhnya dan mencondongkannya lagi ke arah Dara hingga membuat Dara mundur sedikit. Rafka tersenyum miring, sisi arogan dan seksi itu tidak pernah luntur. Laki-laki itu mendekatkan wajahnya ke arah Dara bahkan kurang dari lima senti lagi ujung hidung mereka bisa bersentuhan. Rafka melirik mata dan bibir Dara yang terkatup itu secara bergantian, "Oh iya, jangan bikin gue kesel. Nanti lo bisa gue abisin di sini. Your lips looks not bad. Can i taste it?" Mendengar rentetan kalimat itu seketika membuat Dara merinding, wajahnya memerah. Tapi Dara langsung mendorong tubuh Rafka hingga laki-laki itu sedikit terhuyung ke belakang. "b******k," umpat Dara, ia segera mengambil gagang pel yang tadi ia jatuhkan di lantai dan berjalan duluan masuk ke dalam toilet. . . (TBC)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD