Aku Maunya Kamu.

1814 Words
Clarissa POV. Aku ini bukan jenis perempuan yang mudah baper dan tergoda pada jenis pemilik kecebong seperti mereka. Namun untuk mahluk yang bernama Ethan ini, dia adalah pengecualian. "Clarissa! kenalkan ini Pak Alexiethan Abraham!" Pak Wen memperkenalkan laki laki itu padaku. Ku rasakan tatapan Ethan seperti sedang menguliti diriku. Membuatku ingat bagaimana malam indah itu terjadi. Namun semua itu malah membuatku sangat menyesal karena telah menyerahkan semuanya padanya. Hingga saat ini aku tidak lagi percaya pada namanya seorang lelaki. Menurutku mereka sama saja. "Kami sudah saling kenal!" ujar Ethan secara mengejutkan. Membuat Pak Wen menatap kami secara bergantian. Aku jelas kaget, dia mengatakan ini. Apalagi, di depan peserta meeting, yang mana semuanya adalah staf khusus Global. "Oh, ini sangat mengejutkan sekali." Pak Wen menatapku. "Kamu enggak bilang, kalau kamu kenal Pak Abraham?" dia tersenyum masam. Ah, iya. Aku dan Pak Wen agak bermasalah. Karena kemarin, dia mengajaku makan malam. Namun pas aku ke restoran yang dia janjikan. Ternyata dia sedang mengobrol dengan seorang perempuan cantik dan muda. Aku malam itu kembali pulang dan Pak Wen mengejarku, dia ingin menjelaskan kalau mereka enggak memiliki hubungan apapun. Dan sejujurnya aku enggak apa apa meski dia memiliki hubungan dengan perempuan muda itu. Namun dengan melakukan itu, dia seperti tidak menghargai diriku sebagai perempuan. Dia memegang tangan gadis itu juga mengusap wajahnya, persis ketika aku baru saja sampai. Lalu dia gugup dan menjauhi gadis itu, seolah sedang tertangkap selingkuh. "Clarisa, mari silahkan dimulai saja." teguran Pak Wen membuatku kembali tersadar, dari lamunan kemarin. Aku melihat Ethan sudah duduk di temparnya, dan aku pun mulai membuka meeting ini. Selama penjelasan yang aku sampaikan, aku merasakan kalau Ethan tidak sedetik pun mengalihkan tatapannya padaku. Mungkin dia sedang menilaiku, aku jelek seperti dulu. Karena sekarang umurku sudah 27 tahun. Tapi sialnya Ethan tambah sexy dan tambah memabukan ku. Para lelaki memang aneh, semakin berumur, mereka semakin tampan dan berkharisma. Apalagi jika mereka beruang seperti Ethan ini. "Sekian penjelasan yang saya sampaikan, Saya tidak menerima tanya jawab, karena saya rasa, penjelasan saya sudah cukup maksimal. " kulihat semua peserta mengerutkan keingnya. Mungkin mereka merasa aneh dengan perkataanku yang tidak ramah ini. Oh, aku sungguh menyesal menjadi pembicara meeting hari ini. "Clarissa tunggu dulu!" Pak Wen menahanku, namun aku segera mematikan proyektor dan meninggalkan ruangan meeting. Aku sungguh tidak mau bertemu Ethan yang sepertinya memang tahu keberadaanku. Keluar dari kantor, aku berjalan menuju bagian pabrik. Aku akan menyuruh Neng Lia top Lider. Aku ingin dia menemani Ethan melihat lihat setiap bagian pabrik ini. Lagi pula Neng Lia juga cantik, bahkan aku meyakini kalau dia lebih cantik dari pada aku. "Ih, ibu ke sini, bikin kaget aja?" tanya Neng Lia dengan sungkan. "Ada apa Bu? ada yang bisa saya bantu?" tanya nya hati hati. "Ada buyer yang mau lihat lihat pabrik kita, dan semua proses produksi. Kamu temani gia gih, biar aku aja yang mengecek line." Aku tidak apa apa berdiri seharian, berjalan mengelingi setiap line, melihat jalannya prosuksi. Dari pada harus menemani Ethan dan berbicara berdua dengannya. itu sungguh menyebalkan sekali. Dan itu enggak akan pernah terjadi. Aku sangat membenci laki laki itu. SANGAT BENCI! meski perasaan cintanya pun masih sama besarnya. "Mm iya deh, bu." "Kalau gitu, sebentar lagi kamu temani dia. Dia akan ke sini bersama Pak Wen." "Baik, bu." Aku pun segera meninggalkan Lia, dan segera berjalan mengelilingi line. Ponselku terus bergetar, yang aku yakini adalah Pak Wen. Dia pasti akan marah padaku, karena sikapku yang kurang sopan ini. Aku tahu, kalau saat ini aku tidak profesional. Namun aku ini seorang manusia. Aku tidak bisa menghadapi seseorang yang sudah memberikan luka padaku. Terus berjalan mengelilingi line yang sedang berjalan, aku malah bertemu dengan sesosok Erlangga Pratama, dia kepala gudang berusia 30 tahun. Jika kalian bertanya bagaimana wajah dari seorang Erlangga? dia tampan persis seperti pemeran Arjuna yang ada di mahabrata. Dia memiliki kulit hitam manis dengan kedua mata berwarna gelap seperti malam. "Eh, ada bu manager?" tanya nya. Aku hanya memberikan senyuaman tipis saja. "Mau keliling bu?" tanya nya lagi. "Iya," "Kenapa enggak si lia aja?" "Dia harus nemenin buyer." "Loh, kan biasanya ibu yang nemenin buyer?" "Aku mau numpang duduk di sini ya, kakiku kayanya lecet." Meski aku kerja di bagian kantor, aku tetap harus memakai sepatu ket, karena sering keluar masuk pabrik. Sangat berbahaya kalau aku hanya memakai sendal atau pun heel. Di sini banyak alat berat seperti cetakan sepatu yang beratnya mencapai tiga kilo untuk sebelah sepatu saja. Belum lagi bahan kimia seperti lem, alkohol, dan benda benda lainnya yang sangat berbahaya untuk kulit yang mungkin akan mengalami alergi tanpa disadari. Kulihat Erlangga meraih kursi dan mempersilakan aku untuk duduk. "Mau minum bu? saya ambilkan?" tanya nya. Dia memang sangat menghormati kami para manager. "Terima kasih Erlangga." "Kalau ibu capek, mending ibu ke ruangannya aja. Biar aku yang keliling." tawarnya, dia memberikan air mineral. Di pabrik kami, kami memiliki air sendiri. Kami memiliki air minum yang langsung turun dari gunung. Semacam pabrik air mineral lainnya, air di sini sudah melalui proses pemeriksaan yang sangat ketat dan suda teruji kelayakannya. Kami bisa minum tanpa harus memasaknya terlebih dahulu. Hanya saja, kami tidak menjualnya. Semua air di sini dipersembahkan untuk semua karyawan yang jumlahnya sampai ribuan orang. "terima kasih Erlangga." aku meminum air itu. "Ibu pake kaos kaki enggak? aku punya cadangan nih, kadang kaki aku juga lecet sih, kalau sering jalan sana sini. Maklum lah, ini pabrik jauhnya lebih dari satu hektar. Tapi kita kepala gudang harus lari sana sini, untuk memastikan barang tetap tersedia kan? makanya aku suka bawa kaos kaki cadangan. Soalnya kaki cepet bau." "Ini baru dipake tadi pagi. Tapi kayanya sepatunya agak kecil, kayanya." Aku menyandarkan diri di sandaran kursi pelastik di belakangku. menatap taman yang ada di depan gudang ini. Bukan seperti taman yang ada di taman kota. Tapi memang di setiap bangunan, di sini diadakan tanaman hijau yang bisa membuat mata segar. "Gimana? pemasok masih orang yang sama?" tanya ku. "Masih Bu, kemarin sih, ada masalah sama mereka." "Masalah apa?" "Itu, benang katanya harus impor, karena di kita harga lebih mahal." "Ko bisa?" "Enggak tahu tuh." "Pak Wen bilangnya gimana?" "Pak Wen juga bilang, impor aja. Karena harga lebih murah." "Ko aneh ya, impor harga lebih murah. Kan justru di negara kita enggak usah naik kapal layar kan?" "Naik kapal sih enggak? tapi jalan menuju pemasok nya itu belum mulus. Jadi mungkin karena itu harganya lebih mahal bu." "Kalau minyak mesin dan alhokol?" "sama bu, kita semua impor." Aku mendesah pelan. Berarti yang diuntungkan orang luar terus nih. Mungkin aku harus menjadi istri simpanan pemerintah kota ini, dan merayu mereka. Agar jalan segera diperbaiki hihihi. "Aku mau lanjut jalan ya?" "Iya, bu." "Terima kasih airnya." aku segera berdiri, dan berjalan menuju sewing anak training. Aku harus bertemu dengan lidernya dan mengatakan bahwa aku meminta beberapa anak training yang sudah mahir, untuk masuk ke bagian produksi anak lama. "Aku kaget, pas lihat ibu masuk ke sini? ada komplen ya?" dia Ruslan, lider khusus anak training. Usianya sekitar 25 tahunan. "Enggak ko, aku gantiin lia dulu." "Oh, mbak lia sakit atau gimana?" "Enggak. Ada buyer, dan dia mau ditemani salah satu lider gitu, untuk menjelaskan tentang bagaimana cara produksi kita." "Oh. Jadi ibu nih, yang keliling?" tanya nya. Aku hanya terkekeh pelan. "Aku butuh anak training nih?" "Wah, yang mana bu?" "Yang udah mahir dong. Kan kita sebulan lagi mau ekspor. " "Emang anak sewing kurang ya bu." "Enggak. Anak sewing mau diangkat jadi QC soalnya." "Enak banget." "kenapa? kamu mau juga jadi QC?" ledeku. Ruslan menggeleng cepat. "Enggak lah, bu. Gajih lider lebih besar dari pada QC." kekehnya. "Kirain." "Kalau asisten ibu mau sih, biar bisa nemenin ibu setiap hari," godanya. Ruslan ini, meski terdengar sangat menghormatiku, tapi dia juga kadang menggodaku. Mungkin karena aku ini memiliki tubuh yang jauh lebih pendek darinya. Atau ... entahlah, mungkin lelaki kadang seperti itu. "Mana anaknya?" aku mengalihkan pembicaraan. "Ayo bu, ibu mau berapa orang?" "Ada lah dua puluh orang." ujarku. "Tapi aku maunya yang satu jam siap tiga puluh pasang ya?" "Mereka 50 pasang juga udah bisa kayanya." "Wah, itu lebih bagus. Kualitas bagaimana?" "Kualitas keren lah, secara aku ngajar mereka tuh, udah kaya singa. Jadi sebelum buat kesalahan, mereka udah takut duluan sama aku." kekehnya bangga. "Jangan galak galak, kalau tertekan nanti mereka pada resign." "Enggak galak juga bu. Intinya mereka mau belajar kalau sama aku tuh," "Iya tahu ... yang punya wajah ganteng mah beda." godaku akhirnya. Dan Ruslan terkekeh sembari mengusap rambut ala ala model sampo. "Ganteng tapi ibu malah deketnya sama pak Wen. Percuma lah bu." keluhnya, dia sangat suka sekali bercanda. "Siapa yang deket sama Pak Wen?" "Lah, ibu kan?" "Enggak ko. Kami biasa aja. Ya ... seperti atasan dan bawahan aja." "Ada gosip loh bu." "Gosip apa?" "Katanya sekarang ibu dan Pak Wen lagi berantem. Beneran enggak sih?" "Ya ampun, kalian udah kaya netizen aja." "Ya, kan, emang kami ini netizen." "Iya sih," "Aku dengernya, katanya Ibu sama Pak wen lagi berantem, gara gara Pak wen lirik karyawan baru yang masih seger gitu." Sialan! siapa pula yang bikin gosip kaya gini. Seolah aku adalah perempuan yang sedang dicampakan. Bikin keseul aja. Memangnya aku enggak laku ya, sampai aku dicampakan Pak Wen. Dih, suka juga enggak sama dia. Kalau baper sih, pernah. Ya perempuan mana yang enggak baper kalau di perlakukan manis kan? "Enggak tahu deh, aku punya hubungan juga enggak sama di--" "Clarissa!" dia kenapa di sini sih? "Bu, itu Pak Wen!" bisik Ruslan. Aku yang sedang memegang bahan pun, mau tidak mau menoleh padanya. "Iya, Pak." "Bisa kita bicara?" aku menatap Ruslan. Dan dia mengangkat kedua bahunya. "Iya, Pak. " "Ayo ikut saya." "Sebentar, Pak." Aku menatap pada Ruslan."Siapin dua puluh orang yang bisa produksi lebih dari 50 atau lebih perjam ya?" "Siap bu manager cantik." ujarnya tanpa beban. Membuat Pak Wen berdeham. Rulsan memang enggak ada obat. Dia sama buayanya kaya Wen. "Mari pak." Aku mengikuti Pak Wen. Dan di sinilah kami berada. Dikoridor yang menghubungkan departemen satu ke departemen lainnya. "Saya minta maaf untuk yang kemarin malam. Saya sungguh enggak ada hubungan apapun sama karyawan baru itu." Tapi dia meraih tangannya dan mencium punggungnya. Dasar BUAYA! "Mmm ... kalau pun ada apa apa. Saya pikir itu bukan urusan saya, ya Pak." "Clarissa, kamu tahu kan kalau saya suka sama kamu." Dasar cina buaya! "Begini, Pak. Sampai saat ini, saya masih belum bisa nerima laki laki manapun. " "Kamu masih belum move on dari pacar kamu?" Aku terdiam. "Dia hebat sekali. Aku sungguh ingin bertemu dengan laki laki itu. Siapa namanya?" tanya nya. "Saya saya, rasa bapak tidak perlu tahu." "Clasrissa!" dia hampir meriah tanganku, namun aku segera melangkah pergi. Tapi lagi lagi langkah ini terhenti, karena di depanku ada dia ... Alexiethan Abraham. Dia tersenyum menghampiriku. "Bu Clarissa di sini? saya mencari ibu ke mana mana." "Ada top lider yang akan nem--" "Saya inginnya kamu! Clarissa Putri!" Dan aku menegang dengan mengepal eratkan kedua tangan ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD