Seminggu berlalu sejak Naya meninggalkan rumah Adrian. Hujan yang dulu menyelimuti kepergiannya kini berganti menjadi musim kemarau yang menyengat, seolah ikut menandai betapa kering dan kosongnya hati Adrian. Setiap sudut rumah megah itu kini terasa mati, tanpa tawa, tanpa senyum, tanpa Naya.
Adrian menatap foto Naya yang diam-diam ia simpan di layar ponselnya. Ia mencoba mencari Naya ke berbagai tempat, menyuruh orang kepercayaannya menelusuri terminal, rumah kontrakan, hingga panti asuhan. Tapi Naya seakan hilang ditelan bumi.
Ia mulai kehilangan kesabaran.
"Carikan dia, Rio! Aku tidak peduli berapa banyak uang yang harus aku keluarkan. Aku ingin Naya kembali di depanku!" teriak Adrian pada asistennya.
Rio, yang mengenal Adrian sebagai sosok tenang dan terkontrol, kini terkejut dengan sikap tuannya yang berubah menjadi obsesif dan mudah meledak.
"Saya sudah berusaha, Tuan. Tapi Nona Naya sepertinya sengaja memutus semua jejak. Bahkan nomor lamanya pun sudah tidak aktif."
Adrian mengepalkan tangannya. Dadanya sesak. Ia tak pernah merasa selemah ini.
Sementara itu, di sebuah kota kecil di pinggiran, Naya menjalani hidup barunya. Ia bekerja sebagai pelayan di sebuah kedai kopi sederhana milik seorang pria muda bernama Arman, yang tanpa sengaja menolong Naya saat hampir pingsan di terminal malam itu.
Arman, seorang pria berjiwa lembut yang pernah gagal membangun hubungan di masa lalunya, melihat sosok Naya seperti gadis yang penuh luka. Ia tidak bertanya banyak, hanya memberikan Naya tempat tinggal di atas kedai kopinya dan pekerjaan sebagai kasir.
Hari demi hari, Naya mulai merasa nyaman berada di sekitar Arman. Pria itu memiliki senyum yang hangat, dan tatapan matanya yang teduh selalu membuat Naya merasa dihargai tanpa dihakimi. Namun, jauh di dalam hatinya, luka akan Adrian masih terlalu dalam untuk sembuh.
Suatu sore, saat Naya sedang membersihkan meja, Arman mendekatinya dengan secangkir teh hangat.
"Naya... kau tahu? Wajahmu terlihat lebih cerah akhir-akhir ini. Aku suka melihatmu tersenyum," ujar Arman sambil menatap Naya penuh makna.
Naya tersipu, namun segera menunduk. "Mungkin karena tempat ini... nyaman."
Arman tersenyum tipis. "Atau mungkin... karena aku?"
Naya terdiam. Kata-kata Arman seperti tamparan yang mengingatkannya bahwa hatinya kini berada di persimpangan.
"Tidak, Arman... aku tidak ingin menipu diriku lagi," jawabnya lirih.
"Tidak ada yang salah dengan memulai dari awal, Naya. Aku tidak ingin tahu masa lalumu. Tapi... aku ingin menjadi masa depanmu."
Mata Naya memanas. Ia tahu Arman tulus, namun hatinya masih dipenuhi bayangan Adrian.
Di sisi lain, Adrian semakin kehilangan kontrol. Ia mulai datang ke tempat-tempat yang dulu menjadi tempat favorit Naya. Ia bahkan menyamar sebagai orang biasa, berharap bisa menemukan jejak gadis itu. Tapi semua sia-sia.
Pada malam yang sunyi, Adrian berdiri di balkon rumahnya, memandangi langit yang tak berbulan. Ia merasakan kekosongan yang menggerogoti dirinya perlahan.
"Apakah aku benar-benar sudah kehilanganmu, Naya...?" bisiknya.
Namun, Adrian tidak tahu... takdir sedang menyiapkan panggung baru untuk mempertemukan mereka dalam situasi yang lebih rumit dan menyakitkan.
Keesokan harinya, Adrian mendapat undangan gala amal di sebuah kota kecil, tempat bisnis ayahnya baru saja merambah. Ia hampir menolaknya, tapi entah kenapa hatinya memaksa untuk datang.
Saat malam gala tiba, Adrian melangkah masuk ke ballroom mewah di hotel kota kecil itu. Matanya yang bosan dan dingin segera terpaku pada sosok seorang pelayan wanita yang tengah membawakan nampan minuman.
Jantungnya berhenti berdetak.
Itu Naya.
Dalam balutan seragam pelayan yang sederhana, Naya tampak menunduk, tidak menyadari keberadaan Adrian di ruangan itu. Wajahnya terlihat lebih tirus, tapi tetap memancarkan keindahan yang sama. Adrian merasakan gelombang emosi menerjang dirinya tanpa ampun.
"Naya..." bisiknya tanpa sadar.
Namun sebelum ia sempat melangkah mendekat, Arman muncul dari balik kerumunan, menggenggam tangan Naya hangat. Senyum Arman kepada Naya begitu hangat, begitu intim, seperti milik seorang pria kepada wanita yang dicintainya.
Adrian membeku. Tangannya mengepal, matanya membara.
"Siapa dia...?" gumam Adrian, hatinya bergetar oleh kecemburuan yang memuncak.
Hari itu, cinta yang selama ini ia genggam perlahan berubah menjadi obsesi yang berbahaya. Ia bersumpah... ia akan merebut kembali Naya, apapun caranya.