Bab 7 - Antara Cinta dan Takdir

640 Words
Hening menyelimuti ruang tamu yang megah itu. Naya berdiri kaku di sisi Adrian, matanya menunduk, namun hatinya berontak. Ia tak pernah bermimpi menjadi alasan Adrian berani menentang keluarganya sendiri. Tapi semua ini benar-benar terjadi di hadapannya. Dan ia, Naya, hanya seorang pembantu yang terjebak di pusaran konflik keluarga kaya raya yang penuh intrik dan gengsi. Ny. Ratna Wiratama menyilangkan tangan di d**a, wajahnya memerah oleh amarah dan rasa malu yang bercampur menjadi satu. "Kau berani mengancam ibumu sendiri, Adrian? Kau pikir hidupmu itu milikmu sendiri? Semua yang kau nikmati sekarang adalah hasil jerih payah keluarga kita. Tanpa nama keluarga ini, kau bukan siapa-siapa!" Adrian menatap ibunya tanpa gentar. "Kalau keluarga ini hanya akan menjadi penjara untuk hatiku, Mama... maka aku lebih baik jadi bukan siapa-siapa." Semua orang tercekat. Ny. Ratna bahkan hampir menjatuhkan cangkir teh porselennya. Ia menatap Naya dengan mata penuh kebencian yang menusuk. "Semua ini gara-gara perempuan murahan ini!" sentaknya. "Tolong, Bu..." Naya akhirnya angkat bicara, suaranya bergetar. "Jangan salahkan Tuan Adrian. Semua ini... salah saya. Saya yang tidak tahu diri." Air matanya jatuh, tangannya gemetar saat ia membungkukkan tubuh dalam. "Saya mohon, izinkan saya pergi. Saya akan keluar dari rumah ini, saya tidak akan mengganggu Tuan Adrian lagi." Adrian menatap Naya dengan kekecewaan yang dalam. "Naya, jangan lakukan ini..." Namun Naya menggeleng cepat, menahan isak yang nyaris pecah. "Saya hanya pembantu, Tuan. Saya tidak pantas berdiri di samping Tuan." Adrian menahan tangan Naya, genggamannya kuat, tapi Naya dengan perlahan melepaskannya. "Terima kasih atas semua kebaikan Tuan... tapi saya harus pergi." Tanpa menunggu persetujuan siapapun, Naya berlari ke kamarnya. Ia mengemasi barang-barangnya yang sederhana, memasukkan pakaian ke dalam tas lusuh. Setiap langkah yang ia ambil terasa seperti merobek hatinya sendiri. Tapi ia tahu, ini yang terbaik... untuk Adrian, untuk dirinya sendiri. Air matanya terus mengalir saat ia melewati koridor panjang rumah itu, meninggalkan kenangan manis yang tak akan pernah ia lupakan. Ia tahu, hatinya tak akan pernah sama lagi. Di halaman depan, Adrian mengejarnya. Hujan kembali turun, membasahi tubuh mereka. "Naya! Berhenti!" teriak Adrian. Naya menatap pria itu dengan mata yang penuh air mata. "Tuan, biarkan saya pergi. Ini lebih baik." "Tidak! Aku tidak akan biarkan kau menghilang dari hidupku begitu saja, Naya!" Naya tersenyum getir. "Saya sudah menghilang, Tuan. Bahkan sejak pertama kali Tuan menyentuh hati saya, saya sudah tahu... saya tidak pernah benar-benar punya tempat di dunia Tuan." Adrian memeluk Naya erat, seolah ingin menahan wanita itu agar tidak lepas. "Kita bisa melawan mereka bersama, Naya. Kumohon, percayalah padaku." Naya membalas pelukan itu, menangis di d**a Adrian. "Saya percaya, Tuan. Tapi dunia kita terlalu kejam." Ia melepas diri perlahan, menatap Adrian untuk terakhir kalinya. "Jangan cari saya lagi, Tuan." Tanpa menoleh lagi, Naya melangkah pergi di tengah hujan yang semakin deras. Adrian terdiam, mematung di tempatnya. Tubuhnya basah kuyup, tapi yang lebih sakit adalah hatinya. Ia kalah... untuk saat ini. Sementara itu, Naya berjalan menyusuri jalanan kota yang dingin dan asing. Ia tidak tahu harus ke mana, tapi satu hal yang ia tahu... ia harus menjauh dari Adrian, dari rumah itu, dari segala perasaan yang mulai menjeratnya lebih dalam. Ia berhenti di depan terminal bus. Ia memutuskan naik bus ke kota lain, memulai hidup baru. Meninggalkan semua kenangan, walau hatinya tahu... luka itu akan tetap membekas. Dari kejauhan, Adrian berdiri memandang kepergian Naya, dadanya sesak, hatinya remuk. Ia tahu, ini bukan akhir. Ia berjanji pada dirinya sendiri... ia akan menemukan Naya lagi. Dan saat itu tiba, ia tidak akan melepaskannya lagi, apapun risikonya. Sementara itu, Ny. Ratna Wiratama berdiri di balik jendela, tersenyum puas. Ia mengira semuanya sudah selesai. Tapi ia tidak tahu... cinta yang terlanjur tumbuh di hati Adrian dan Naya adalah api yang tak mudah padam. Dan api itu... kelak akan membakar semua dinding yang mereka bangun untuk memisahkan mereka. Cinta mereka baru saja dimulai... di antara luka, air mata, dan kehancuran yang menanti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD