Naya duduk di kamar kecilnya, memeluk lutut yang gemetar. Dadanya sesak oleh berbagai perasaan yang berputar tanpa arah. Ia tahu dirinya sudah melangkah terlalu jauh. Sentuhan itu, tatapan itu, janji yang diucapkan Adrian... semua mulai membentuk simpul yang sulit ia urai.
Sementara itu, di lantai atas, Adrian berdiam di ruang kerjanya. Gelas anggur merah di tangannya tak tersentuh. Tatapannya kosong memandang jendela yang dipenuhi hujan. Untuk pertama kalinya, ia mempertanyakan dirinya sendiri. Seorang Adrian Wiratama, pewaris keluarga pengusaha terbesar di kota ini, yang selama ini dikenal dingin dan rasional... kini terjebak dalam pusaran perasaan yang bahkan tak bisa ia kendalikan.
Ponselnya berdering. Nama ibunya, Ny. Ratna Wiratama, tertera di layar. Dengan malas ia angkat.
"Adrian, aku dengar dari sekretarismu kau mulai membawa pulang seorang pembantu baru? Siapa dia?" suara ibunya tajam, penuh curiga.
Adrian menarik napas dalam-dalam. "Hanya pembantu, Mama."
"Hanya pembantu? Jangan macam-macam, Adrian. Kau tahu garis keturunan kita. Jangan pernah campuradukkan darah keluarga kita dengan—" suara ibunya terhenti saat Adrian memotong.
"Aku sudah cukup besar untuk menentukan hidupku, Ma. Dan aku tidak akan biarkan Mama mencampuri semua hal."
Klik.
Adrian memutus panggilan tanpa menunggu ibunya selesai. Ia menutup matanya, mencoba menenangkan diri, tapi gagal. Semua ini menjadi lebih rumit dari yang ia kira. Cintanya pada Naya bukan lagi sekadar permainan atau obsesi singkat. Ia tahu... ia mencintai Naya lebih dari apapun.
Malam semakin larut. Naya terbangun oleh ketukan pelan di pintu kamarnya.
"Naya... buka pintunya, ini aku."
Suara Adrian.
Naya menggeleng, berusaha menguatkan diri. "Tidak, Tuan. Jangan seperti ini. Tolong..."
"Naya... kumohon. Aku tidak bisa tidur jika kau terus menghindariku," suara Adrian terdengar lelah, berbeda dari biasanya.
Akhirnya, Naya membuka pintu. Adrian berdiri di sana, tanpa jaket, tanpa sepatu. Seolah ia melepas semua atribut kebanggaannya hanya untuk menjadi seorang pria biasa yang mencintai wanita sederhana seperti Naya.
"Aku serius, Naya. Aku tahu kau takut. Tapi aku... aku lebih takut kehilanganmu."
Naya menatap mata itu. Ada luka, ada ketulusan, dan ada ketakutan yang sama seperti yang ia rasakan.
"Tuan... saya... saya juga takut. Tapi... saya tidak ingin jadi penyebab kehancuran hidup Tuan," suaranya gemetar.
Adrian menghela napas. Ia menarik Naya ke dalam pelukannya yang hangat.
"Aku... tidak peduli dunia berkata apa. Aku ingin kau, Naya. Aku ingin hidup bersamamu. Mungkin semua orang akan melawan, mungkin keluargaku akan membenciku... tapi aku siap menanggungnya."
Air mata Naya jatuh lagi. Ia ingin percaya, sungguh ingin. Tapi bayang-bayang status sosial itu seperti tembok yang terlalu tinggi untuk mereka lewati.
"Tuan... ini gila," bisiknya lemah.
"Ya, ini gila. Tapi lebih gila lagi kalau aku terus membohongi diriku sendiri."
Mereka berdiri dalam keheningan yang menyakitkan. Sampai suara keras dari arah pintu depan mengagetkan mereka.
"Naya!" panggil Bibi Warti dari dapur.
Naya segera berlari turun, meninggalkan Adrian yang kini berdiri terpaku.
"Naya! Ada tamu... dari keluarga besar Tuan Adrian," ujar Bibi Warti sambil berbisik cemas.
Naya menelan ludah. Dari ruang tamu, terdengar suara-suara orang kaya yang menyebalkan itu. Ia tahu, dunia luar Adrian mulai masuk, mulai menuntut, mulai merenggut.
Dengan langkah gemetar, ia berjalan ke ruang tamu, di mana Ny. Ratna Wiratama dan beberapa kerabat Adrian sudah duduk dengan wajah angkuh dan sinis.
"Kau Naya, ya?" tanya ibunda Adrian dingin, menatap Naya dari ujung kaki hingga ujung rambut seperti menilai barang murahan.
"Saya... benar, Ny. Ratna," jawab Naya menunduk.
"Tinggalkan rumah ini. Sekarang juga," perintah wanita itu tanpa basa-basi.
Naya membeku. Adrian yang baru turun tangga langsung berdiri di samping Naya, melindunginya.
"Mama, cukup!" Adrian membentak.
"Kau benar-benar sudah gila, Adrian! Apa kau ingin mempermalukan keluarga ini hanya demi seorang pembantu kampung?"
"Mama... mulai sekarang, Naya adalah pilihanku. Jika Mama atau siapapun tidak terima... aku siap keluar dari keluarga ini!"
Semua orang terdiam. Kata-kata Adrian menggema di seluruh rumah, memecah segala batas yang sebelumnya mereka hormati.
Naya menatap Adrian dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak tahu harus bahagia atau takut. Tapi satu hal yang pasti... hidup mereka tidak akan pernah sama lagi.