Bab 5 - Dinding yang Retak

681 Words
Keesokan harinya, Naya bangun dengan perasaan kacau. Pagi yang biasanya menjadi waktu favoritnya untuk menghirup udara segar kini terasa pengap. Kenangan tentang malam sebelumnya terus mengganggu pikirannya. Sentuhan tangan Adrian yang lembut tapi menjerat, tatapan mata pria itu yang dalam tapi mengusik... semua membuatnya kehilangan arah. Ia menatap bayangannya di cermin tua kamarnya. Matanya sembab, wajahnya terlihat lelah. Ia tahu, semua yang terjadi semalam adalah awal dari kehancuran yang pelan-pelan mulai menggerogoti dinding hatinya yang selama ini ia bangun kokoh. "Aku harus kuat... aku tidak boleh terjebak," gumamnya. Namun, hatinya mengkhianatinya. Setiap langkah yang ia ambil di dalam rumah itu, setiap detik yang ia lewati, ia selalu merasa diawasi. Seperti ada tatapan Adrian yang tak pernah berhenti mengikuti setiap geraknya. Dan benar saja, saat ia masuk ke dapur, Adrian sudah duduk di meja makan. Seperti biasa, tampan, rapi, dan... mematikan. "Selamat pagi, Naya," sapanya dengan senyum yang tak biasa. Naya menunduk cepat. "Selamat pagi, Tuan." "Masih memikirkan semalam?" tanya Adrian tiba-tiba, membuat Naya hampir menjatuhkan nampan. "Tuan... saya mohon... jangan buat ini sulit untuk saya," bisik Naya. Adrian tertawa pelan, seolah menikmati kekacauan emosi Naya. "Kenapa kau selalu melarikan diri, Naya? Apa sulitnya mengakui bahwa kita punya... sesuatu?" tanyanya tajam. Naya menahan napas. "Karena saya tahu tempat saya, Tuan." "Tempatmu... ada di sisiku, Naya," ujar Adrian tanpa ragu. Ucapan itu seperti cambuk yang memukul keras dinding hatinya. Naya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, mencoba menahan air mata yang kembali menggenang. "Tuan... kita berasal dari dunia yang berbeda. Dunia Tuan bersih, mewah, penuh gemerlap. Sedangkan saya... saya hanya seorang pembantu miskin yang hidup dari remah-remah belas kasihan," Naya menggeleng perlahan. "Saya mohon... jangan hancurkan saya, Tuan." Adrian berdiri, menghampiri Naya, mendekatkan dirinya begitu dekat hingga Naya bisa merasakan aroma maskulin pria itu yang hangat dan memabukkan. "Dengar, Naya. Aku tidak peduli siapa kau. Aku... menginginkanmu." Kata-kata itu membuat benteng yang selama ini Naya bangun mulai retak sedikit demi sedikit. Ia tahu, ia lemah. Dan semakin Adrian mendekat, semakin sulit baginya untuk melawan. "Tuan... ini tidak benar," bisiknya lagi. Adrian mengusap pipinya dengan lembut, menatapnya penuh perasaan yang sulit diartikan. "Aku yang menentukan apa yang benar dan salah di hidupku, Naya. Dan aku... memilihmu." Air mata Naya akhirnya jatuh tanpa bisa ia bendung. Ia tahu, ia tak bisa lagi berbohong pada dirinya sendiri. Ada bagian di hatinya yang mulai menyerah, yang ingin percaya pada kehangatan yang ditawarkan pria itu, walau ia tahu itu adalah racun yang manis. "Tuan... saya takut," lirihnya. Adrian tersenyum lembut, menatapnya dengan tatapan yang berbeda dari biasanya. "Aku juga, Naya. Tapi... maukah kau mengambil risiko bersamaku?" Naya terdiam. Seumur hidupnya, tak pernah ada orang yang menawarinya pilihan. Ia selalu menjadi orang yang harus menerima keadaan. Tapi kini... Adrian memberinya pilihan yang berbahaya. Sebuah jalan yang gelap, penuh duri, tapi di ujungnya... ada cinta yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. "Aku... aku tidak tahu, Tuan," suaranya nyaris tak terdengar. Adrian mendekatkan wajahnya, hampir menyentuh bibir Naya. Tapi sebelum keduanya benar-benar terjerat dalam emosi itu, langkah kaki seseorang terdengar mendekat. Naya langsung tersentak mundur, menyeka air matanya cepat-cepat. "Tuan Adrian, Anda ditunggu di ruang rapat," suara sekretarisnya memecah suasana. Adrian menatap Naya dengan mata yang penuh janji. "Kita belum selesai, Naya." Setelah pria itu pergi, Naya jatuh terduduk di lantai. Dadanya sesak, pikirannya kacau. Ia ingin lari sejauh mungkin, tapi... ia tahu, hatinya telah terikat. Semakin ia mencoba menghindar, semakin kuat magnet itu menariknya. Hujan kembali turun sore itu, seperti mengulang malam sebelumnya. Naya berdiri di balkon kecil belakang dapur, memandang langit yang kelabu. Ia tahu, perasaannya pada Adrian adalah kesalahan. Tapi... mengapa kesalahan itu terasa begitu indah? "Naya..." Suara itu mengejutkannya. Adrian berdiri di belakangnya, basah kuyup karena nekat menerobos hujan hanya untuk menemuinya. "Tuan... apa yang Tuan lakukan?" Adrian tersenyum, lalu menarik tangan Naya lembut. "Aku... hanya ingin memastikan kau tahu, Naya. Aku serius." Naya menatap Adrian yang kini menatapnya dengan tatapan tulus yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Mungkin... untuk pertama kalinya, Naya percaya. Bahwa di balik semua luka dan perbedaan status itu... ada cinta yang mulai tumbuh. Dan cinta itu... mulai menaklukkan hati Naya yang selama ini beku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD