"Kamu nanyanya yang benar, Gia," ucap Pak Kastara dengan mata yang teruju kepadaku.
"Saya nanyanya benar, Bapak. Kan takut aja kalau Bapak tembaknya bohong-bohongan." Pak Kastara mengusap wajahnya sambil menarik napas berat.
"Mana ada tembak bohong-bohongannya. Saya udah mempersiapkan diri untuk menyatakan perasaan saya, jauh-jauh hari."
Aku terkekeh pelan. Ya maaf, aku kan enggak tahu kalau dia serius. Teringat aja sama permintaan dia yang kemarin memintaku untuk jadi tunangan bohong-bohongan.
"Terus gimana?"
"Apanya?"
"Ya jawaban kamu."
Aku menyengir. "Oh, perlu dijawab. Saya kira Bapak cuma mau nyatain perasaan aja."
Dia lagi-lagi menarik napas berat. Aku kan enggak tahu harus bagaimana, ini pertama kalinya ada pria yang menembakku secara terang-terangan. Aku enggak punya pengalaman sehingga bingung harus bertindak apa.
"Ya, dijawab, Gia Anggita."
Aku terkekeh pelan lantas menegakan tubuhku. "Saya enggak tahu, Pak, tapi saya nyaman aja kalau dekat sama, Bapak. Itu cinta bukan, Pak?"
Dia terdiam sebentar lantas berdeham. "Cinta diawali dengan rasa nyaman. Kamu butuh waktu buat PDKT, berapa lama?" tanyanya yang sontak membuat aku mendadak terdiam.
Aku kan enggak tahu. Maksudku, masa PDKT ada jangka waktunya. Aku kan enggak tahu, kapan aku bisa jatuh cinta sama dia. Apa sebenarnya aku udah jatuh cinta ya? Entahlah.
"Jawab, Gia."
"Saya enggak tahu, Bapak."
Pak Kastara sepertinya benar-benar frustasi menghadapiku, terlihat dengan jelas bagaimana dia menatapku dengan sorot mata sebal. "Kamu cukup jawab iya atau tidak. Enggak ada jawaban lain selain dua opsi itu."
Aku mengangguk.
"Kamu sudah punya pacar belum?" pertanyaan pertamanya.
Aku langsung menggeleng. Teman dekat aja enggak punya, apalagi pasangan. "Enggak, Pak. Saya single dari lahir."
"Bagus," pria itu menggeser tubuhnya lebih dekat denganku, "kamu berkeinginan menjalin hubungan serius tidak dengan saya?" tanyanya semakin mempersempit.
Aku mencoba membandingkan kehidupanku sebelum ada Pak Kastara dan sesudah dia ada. Memang jauh berbeda. Saat pria itu ada, kehidupanku berubah. Hidupku jauh lebih berwarna dan menyenangkan.
Aku memandang kedua mata pria itu lalu mengangguk. "Iya, Pak."
Pria di depanku ini benar-benar potensial untuk dijadikan pasangan. Wajahnya tampan banget. Fisiknya mendekati sempurna. Dompetnya tebal. Pekerjaannya sudah mantap. Apalagi yang perlu aku risaukan dari pria ini. Sepertinya enggak ada.
"Mulai sekarang hubungan kita enggak bohong-bohongan lagi."
Dia mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah lalu membukanya dan terlihatlah cincin dengan permata di atasnya. "Sini, tangannya." Belum juga aku ulurkan, dia sudah menarik tanganku pelan.
Sudah dipersiapkan tenyata. Ya, ampun. Takut diabetes aku diperlakukan manis terus.
"Mulai sekarang bukan tunangan bohong-bohongan lagi," ucapnya sambil memakaikan cincin itu di jari manisku. Agak kekecilan sih, tapi untungnya masih bisa masuk.
"Bapak. Kalau kita enggak cocok gimana? Putus? Terus cincinnya balikin?" tanyaku yang langsung mendapatkan decakan sebal darinya.
"Kamu ya. Ini saya lagi berusaha buat romantis. Jangan bahas perpisahan dulu," ucapnya kesal.
Aku menyengir sambil terkekeh pelan. "Bapak," panggilku lagi, "ini enggak bohong-bohongan kan?"
"Tahu, ah. Kamu nanya terus." Aku tertawa lebih kencang. Gemas banget kalau lihat dia lagi kesal begitu.
"Bapak. Kali ini serius nanya," aku menyentuh cincin di jari manisku, "ini cincin maksudnya apa?"
Enggak mungkin dong kalau tunangan. Gila apa ya, belum lama kami kenal masa aku udah jadi tunangannya. Sebenarnya enggak apa-apa sih, tapi aku butuh waktu lebih lama untuk saling mengenal satu sama lain.
"Maksudnya, saya dan kamu sudah memiliki hubungan serius."
"Oh, gitu."
"Makannya sudah belum? Kalau sudah, ayo pulang."
"Sudah." Dia meminta pelayan untuk memberikannya bills setelah itu dia mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah.
"Ayo, pulang." Dia mengandeng tanganku lantas kami bersama-sama menuju parkiran mobil.
Cerita ini sudah tersedia versi lengkap di k********a!
Bagi yang ingin baca cepat, bisa diakses di sana ya, Luv!
Terdiri dari:
- Full e-book Mr. Controller and Me (54 Part ; 181 Halaman)
- Bagian Tambahan versi podcast/audio [Eksklusif di k********a]
Hanya dengan Rp29.000 kalian bisa akses semuanya tanpa menunggu
Cara belinya:
1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web.
2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Full _ E-book _ Mr. Controller and Me _ TheDarkNight_)
3. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih.
4. Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, s****e Pay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank.
5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR).
6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka".