Chapter I

1530 Words
Mata biru itu berkedip, menatap pada langit pagi. Ada sedikit kerutan di sekitar kelopak nan sendu milik Golsum, tapi itu tidak mengurangi kharismanya sebagai Raja Labierre sejak lima belas tahun lalu. "Bulan pagi ini terlihat lebih pucat," tutur seorang pria gagah yang berjalan bersamanya di area perkebunan istana. "Ya, anda benar, Yang Mulia. Bulan pagi ini terlihat lebih pucat." Golsum menoleh pada Raja Apollo. Tamu istimewa yang berasal dari Northely yaitu negara yang bekerja sama dengan Labierre dalam serikat perdagangan. Planet Zigrora memang memiliki dua buah bulan yang menghiasi langit mereka. Bulan pertama dengan jarak yang lebih dekat berwarna putih semu biru sedangkan yang satu lagi berukuran lebih besar dan lebih jauh. Sehingga baik siang atau pun malam, dua benda bulat tersebut selalu bertengger di angkasa. Kedua Raja berbeda usia itu menapaki rerumputan hijau, menikmati udara pagi yang segar dengan beberapa pengawal yang mengikuti di belakang mereka. "Kapan penobatan Selir Varsya sebagai Ratu?" tanya lelaki dengan tubuh tegap berambut hitam kecoklatan itu. "Dua pekan setelah Festival Musim Semi. Saya harap anda tidak keberatan untuk menghadiri acara ini." "Tentu saja saya akan hadir, My Lord. Nenek moyang kita adalah orang yang sama. Hubungan Northely dan Labierre bukan hanya sebatas ikatan perdagangan saja." Apollo tersenyum menawan. Menurut sejarah, para penduduk Labierre berasal dari Northely dan menikah dengan pemuda dari Nix, satu-satunya negara yang menghuni wilayah paling utara di belahan Planet Zigrora. Kedua insan tersebut jatuh cinta dan memilih tinggal di Labierre hingga kemudian beranak cucu. Golsum mengangguk membenarkan. Tanpa sengaja ia melihat beberapa pelayan wanita yang sedang memetik buah-buahan mulai berbisik sambil memandang Apollo dengan tatapan penuh kekaguman. "Sepertinya anda juga harus segera mencari pendamping, Yang Mulia," ujarnya setengah berbisik seraya mendekatkan wajahnya. Tampak wajah Apollo sedikit memerah malu karena tiba-tiba Golsum membicarakan tentang pendamping. "Apa My Lord punya calon untuk saya?" tanya Apollo yang juga turut berbisik. "Sayangnya, kedua anak saya adalah pria, Yang Mulia. Jadi saya tidak bisa memberikan calon untuk anda." Apollo berdecak sambil memasang seraut kecewa, tapi Golsum tahu tamunya ini hanya bergurau. Pasalnya, Apollo adalah pemimpin yang terkenal gemar bercanda. Sikap ini juga yang membuat para pelayan sering salah tingkah tiap kali Apollo menyapa dengan ramah. Seorang pelayan pria agak tua dengan beberapa helai rambut putihnya tiba-tiba menghampiri mereka dengan terseok-seok. Golsum mengenali sosok tersebut, dia adalah Constantice. Pengasuh Elzio, putra sulung sekaligus penerus tahta Labierre. Pengawal sempat menghalau pria berusia lebih dari seratus tahun itu. "Izinkan saya berbicara dengan My Lord sebentar," tutur Constantice cemas. Golsum yang melihatnya merasakan firasat tidak baik, karena tidak biasa Pengasuh Elzio sejak kecil ini terlihat panik. Maka, dengan terpaksa Raja Labierre meninggalkan tamunya untuk berbicara dengan Constantice di lain tempat. "Pangeran Elzio sepertinya kabur, My Lord," ujar Constantice tanpa basa-basi, kepalanya merunduk takut-takut. Golsum menghela napas berat, ia sudah duga cepat atau lambat anak itu pasti akan berontak. Sejak Ratu Ediza yang merupakan istri pertamanya meninggal lima tahun lalu, Elzio selalu menatapnya dengan pandangan kecewa. Terlebih mendengar Selir Varsya akan menggantikan posisi sang Ibu. Namun, biar bagaimana pun Golsum ingin Elzio mampu menerima dan menghadapi kenyataan. Sebagai calon raja berikutnya putra sulung itu harus kuat. "Akan aku kirim beberapa prajurit untuk mencari pangeran dalam diam." Lebih kepada agar Contantice berhenti panik. Dia belum siap kehilangan pengawal yang sesetia Constantice bila pria tua itu jatuh sakit karena memikirkan Elzio. "Dalam diam?" Constantice mengerutkan kening heran. Golsum tahu, seharusnya ia membuat pengumuman akan menghilangnya Putra Pewaris Tahta kemudian mengerahkan banyak prajurit agar dapat segera menemukan Elzio. Namun, jika Golsum melakukannya beberapa rakyat akan gehger. Kemudian dari kabar itu ada muncul banyak asumsi yang mengarah pada isu dari mulut-mulut tidak bertanggungjawab. Mereka akan menerka-menerka alasan kenapa Elzio kabur dari istana. Itu jugalah yang menjadikan alasan kenapa Golsum menjaga anak sulungnya dari dunia luar sejak ia menerima tahta sebagai Raja. Dia berharap Elzio lebih fokus belajar tentang kepemimpinan, karena mengemban tugas yang besar memerlukan tanggungjawab serta pengorbanan yang besar juga. Lagi pula, kursi Ratu sudah kosong sejak meninggalnya Ediza. Maka dari itu, untuk menghindari beberapa hal posisi Ratu harus segera diisi agar pemerintahan lebih teratur. Raja akan mengawasi negara serta hubungan antar wilayah dan Ratu akan pengurus peraturan istana dalam. "Akan ku kirim beberapa orang juga ke kediaman Neron. Mungkin saja pangeran sedang mengunjungi pamannya." "Ba-ba-baik, My Lord," sahut Constantice seraya merunduk, ia hanya menatap punggung Golsum yang meninggalkannya untuk kembali menjamu tamu. *** Kaki panjang itu melangkah gusar, membentuk segaris jalur kemudian kembali ke titik awal. "Sejak kapan Paman Neron pergi?" tanya seorang pemuda bermata biru pada wanita tua di hadapannya. "Sekitar dua hari yang lalu Pangeran Elzio," sahut si pengurus rumah. Elzio mendesah kasar, kedatangannya ke rumah sang Paman setelah kabur dari istana memang sudah ia rencana jauh-jauh hari. Ketika Labierre kedatangan tamu dari negara tetangga, pengawal serta ayahnya pasti akan lebih memfokuskan pelayanan terhadap tamu tersebut dan itu akan melemahkan pengawasan terhadap dirinya. Sehingga Elzio akan sedikit lebih mudah untuk keluar dari kerajaan yang sudah mengurungnya sejak lama. Namun, satu hal yang meleset diluar perkiraan adalah pamannya yang melakukan perjalanan keluar negara untuk beberapa hari. Bisa dipastikan, Neron akan kembali setidaknya tiga atau lima hari dari sekarang. Masalahnya ... Elzio tidak punya banyak waktu untuk menunggu. Dia yakin raja sudah mengetahui ketidakberadaannya di istana. Pikiran Elzio semakin keruh, dia harus mencari cara lain untuk mendapatkan benda tersebut dengan atau tanpa bantuan pamannya. Suara ketukan di pintu depan membuyarkan lamunan Elzio. Terdengar seseorang memanggil penghuni rumah dengan tidak sabar. Elzio bisa menduga siapa yang datang, ia pun segera mencari tempat bersembunyi sebelum meraih sebuah satchel kulit cokelat berisi hal berharga. Sial! Mereka lebih cepat dari yang kubayangkan, umpatnya geram. Saat melihat sekitar lima orang berpakain prajurit istana dengan lambang Bunga Peony di bagian d**a itu menerobos masuk sambil memanggil namanya. Para prajurit tersebut pasti bertugas membawa Elzio kembali ke istana. Dia juga yakin mereka sudah melihat kuda miliknya di samping rumah ini. Maka dari itu, sang Pangeran pun berniat mengendap dan melarikan diri melalui jendela. Namun, terlambat. "Itu Pangeran Elzio, dia kabur!" teriak salah satu prajurit. Serentak yang lain ikut keluar dari rumah untuk mengejarnya. Rupanya, bukan hanya lima ada beberapa prajurit yang juga berjaga di luar kediaman Neron dan sekarang ia terkepung. "Menyerah dan kembalilah bersama kami ke Istana, Pangeran!" Kedua tangan Elzio mulai memercikan api. "Jangan halangi aku! Atau aku terpaksa menyakiti kalian." Para prajurit sudah siaga. Beberapa dari mereka mencabut pedang dari sarungnya, ada juga yang mulai mengumpulkan sihir angin dalam genggamannya. Satu prajurit menganyunkan cambuk dari arah belakang, dengan gesit Elzio menghindar. Pria itu menangkap balik cambuk tersebut dan mengalirkan api hingga membakar sampai ke genggaman prajurit. Serangan lain kembali dirasakan Elzio, tapi pangeran tentu saja mampu menghindar. Sepuluh lawan satu, harusnya memang lebih mudah jika saja yang mereka lawan bukan pengendali api. "Kau! Melapor ke pusat segara! Minta bantuan dan katakan bahwa Pangeran ada di sini!" komando salah satu prajurit. Elzio mendengarnya. Sekalipun ia bisa melawan para prajurit-prajurit ini sesungguhnya pria itu sama sekali tidak ingin melukai orang dengan kekuatannya. Namun kali ini dengan terpaksa ia melempar semburan api pada prajurit yang mencoba memberi kabar itu. Pakainnya terbakar hampir ke seluruh tubuhnya, para prajurit lain sontak membantu. Itu dijadikan kesempatan oleh Elzio untuk melarikan diri. "Maafkan aku, sebaiknya kalian berhenti mengejarku!" ujarnya sebelum memasuki wilayah hutan. "Kalian! Kejar Pangeran!" Sekitar empat orang lainnya mengejar pangeran sementara sisanya membantu teman mereka yang masih terbakar. Kesalahan Elzio adalah dia meninggalkan kudanya di sana, sudah pasti jarak pelariannya tidak bisa jauh. Teriakan para prajurit di belakang yang memintanya untuk berhenti semakin terdengar semakin jelas. Sedangkan Elzio adalah pelari yang payah, tapi bukan berarti dia akan kehabisan akal, lalu memerima begitu saja dirinya dibawa kembali ke istana dengan paksa. Tidak, Elzio tidak mau. Sebelum dia mendapatkan benda tersebut maka dia tidak kembali. Lelaki berkumis yang memimpin pengawal berhenti sejenak untuk memindai area tersebut, ia mulai kehilangan jejak buronannya. "Menyebar! Temukan Pangeran El segera." perintahnya pada tiga anggota lain. Dengan serentak mereka berpencar kesegala arah. Mengamati sekecil mungkin pergerakan yang ada. Menyisir dengan teliti sambil terus meneriaki nama Elzio Lavetro. Tanpa seorang pun di antara mereka yang menyangka bahwa pria bernata biru yang dicari justu tengah bertengger diam di atas pohon. Beberapa waktu berlalu, para prajurit tersebut sudah tidak terlihat mau pun terdengar. Maka, dengan hati-hati Elzio pun turun dari tempat persembunyiannya. Kaki panjang yang beralaskan sepatu both kulit itu menapaki tanah. Mata Elzio terus memindai waspada. Sepertinya sudah aman, gumam Elzio dalam hati. Sekali lagi nerta birunya bergulir bergulir. Sebelum menggeser satchelnya kebelakang. Sedari tadi kantung kemihnya terasa berat. Pria setinggi 6 kaki itu berdiri menghadap pohon oak yang besar dan rimbun. Menurutkan sedikit celananya, Elzio memejamkan mata, bahunya bergidik. Raut wajah sang Pangeran pun terlihat lebih lega saat pelepasan tersebut. Namun, belum juga ritual itu berakhir. Sebuah suara seperti rekatan yang dipisahkan membuat ia membuka mata. Pohon yang berada persis di hadapannya ini seakan terbelah, lalu sesosok wanita berparas jelita dengan rambut cokelat dan netra hazel keluar dari pohon itu. Elzio bahkan melotot tak percaya, ia mundur selangkah. "Dasar manusia jorok! Kau pikir para pohon menyukai air seni kalian?" ***** To be continue... Nah loh, makanya para cowok jangan pernah pipis sembarang ya! Gak mau kan kalo terciduk begitu Thank you for reading ^^ Dont forget to vote & coment
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD