Satu bulan kemudian......
(Di kediaman keluarga Al Forenza)
Angin mendesis menggoyangkan dahan pohon. Seorang anak berambut coklat dengan gaya model rambut mangkok ala Koreanya di padukan dengan belahan tengah sedang duduk di sebuah pandopo.
Mata sayunya sebiru lautan, Indah nan berkilau. Bibirnya ranum berwarna pink sedikit terbuka. Sambil menatap seekor burung yang sedang bersarang di sebuah pohon.
" Wah ... Pasti enak jadi bird bisa terbang, Falah juga pengen. biar bisa lihat pemandangan kota, He-he." Gumamnya dengan sedikit mengaga dan tersenyum kecil.
Seorang pria berjas hitam berdiri di balik pohon didekat pandopo mengawasi anak itu.
" Roger, Tuan muda ingin terbang untuk melihat, Pemandangan kota, Ganti." Ucapnya sambil memegang sebuah walkie talkie.
" Siap laksanakan ... Permintaan." Balas seseorang dari seberang walkie talkie.
" Falaaah!" Teriak lembut seorang wanita dari depan pintu kaca.
" Ayo sarapan dulu sayang." Lanjut wanita itu.
Falah yang tadi sedang larut dengan damainya alam taman rumahnya, terpecah lamunannya karena mendengar namanya di panggil.
Dia tak membalas namun langsung beranjak dari duduknya, Jalannya tertatih-tatih perlahan terlihat imut ditambah lagi dia sekarang masih memakai baju tidur dengan gambar Winnie the Pooh berwarna biru.
" Kyaa!... Falah! " ucap wanita itu sambil membekap mulutnya lalu berlari ke arah falah yang sedang mendekati dirinya.
"Muach ... Muach ...Hmm...Anak Mommy bisa se-imut ini ... Kyaa! "
Ciumanan beruntun Mommynya dilayangkan ke seluruh wajah falah. Karena sangking gemesnya dengan putranya yang terlihat sangat imut di matanya. Padahal kini usia falah sudah 16 tahun.
Falah hanya diam sambil sedikit mengaga, dia sudah biasa di perlakukan begitu. Hampir setiap hari, Wajahnya pasti tidak akan luput dari bibir keluarganya yang setiap bertemu padanya selalu melayangkan kecupan.
"Sayang... Kan kita udah janji, kalau hari ini aku yang pertama cium Falah." Ucap seorang pria paruh baya dari balik pintu.
"Tapi aku enggak kuat ...Falah sangat imut, Kyaa..." Jawab Mommynya dan kembali melayangkan kecupan.
" Ihhhss... Daddy kan juga mau bukan mommy aja, sini Falah." Ujarnya mengambek seperti anak kecil dan manarik pelan putranya itu.
Falah hanya masih mengaga kecil sedangkan dirinya kini tengah diperebutkan oleh kedua orang tuanya yang ingin menciumi dirinya.
" Muach... Muach... Muuuuaaa. " Daddy Falah lebih membabi buta menciumi sang putra hanya dalam waktu 30 detik dirinya telah melayangkan 60 ciuman diseluruh area wajah Falah.
Falah sedikit tertawa kecil saat sang Daddy menciumi dirinya, akibat bulu- bulu halus di wajah Daddy Falah yang membuat dirinya kegelian.
" Dad, stop... Hahaha... Geli." Ucap Falah merapatkan lehernya yang tadi terkena Bulu halus di wajah daddynya.
Dan ahkirnya Daddynya pun berhenti menciumi Falah, Meski rasanya dia terlihat sangat belum puas menciumi sang anak.
Namun tiba- tiba Falah terlihat lemas, sambil memegang dadanya.
"Haa... Haaa... Haa..." Seketika Falah terlihat sesak nafas.
" Fa- Falah... Kamu kenapa sayang, Falah!."
Kedua orang tuanya langsung memasang ekspresi panik bukan main, keduanya membulatkan mata sambil ketika Falah terlihat susah bernafas.
"FALAH!" Teriak Mommynya histeris, sambil menggoyangkan tubuh Falah.
"Haa... Watashi... Ber-syanda...heheh... Ber-syanda." Ucapnya seraya tersenyum karena berhasil membuat Mommy dan Daddynya nyaris khawatir.
Seketika wajah kepanikan berubah menjadi lega, syukurlah anak kedua mereka ini tak kenapa-napa. Sungguh jail sekali dirinya.
" Falah!" Ucapnya dengan nada penuh penekanan. "Daddykan sudah bilang jangan bermain- main dengan penyakit kamu. Nanti jika suatu saat kamu beneran sakit,amit-amit jabang bayi jangan sampai lah. Takutnya kami ngira kamu cuma main- main, Falah." Tegas Daddynya kepada sang anak.
" Pokoknya jangan ulangi lagi,Mommy enggak suka kamu mainin tentang penyakit kamu Falah." Timpal sang mommy, dengan raut sedikit kesal.
Yang di tegur, malah merasa menjadi korban. Mengerucutkan bibir sambil menunduk yang menandakan dia ngambek. Padahal Daddy dan Mommynya selalu membercandai dirinya, namun ketika ia yang melakukan malah dimarahin.
*******
Sekarang waktu tengah menunjuk ke arah jam tujuh. Falah dan kedua orang tuanya kini tengah berada di meja makan untuk sarapan.
TING!
Suara pintu lift yang terbuka.
"Kakak!, Daddy! ...Mommy! " Panggil seorang bocah, seraya berlari menuju meja makan.
Seluruh netra mata orang di meja makan mengarah ke sumber suara.
Seorang anak Perempuan dan Laki- Laki yang menggunakan seragam, keluar dari lift. Di ikuti dua orang perempuan paruh baya yang terlihat sebagai baby sister kedua bocah tersebut.
"Iya sayang, jangan lari- lari begitu nanti jatuh." Ucap Daddynya.
Setelah kedua bocah itu mendekat, sang Daddy lepas dari duduknya.
Lalu kemudian sedikit menyetarakan tinggi kedua bocah yang kini tengah berada di hadapannya dan menciumi mereka bergantian, setelahnya membantu mereka untuk duduk ke kursi makan mereka.
"Kakak... Kakak Falah, kakak tau enggak di sekolah Alicia sama Elior akan ada pentas seni hari ini." Ujar Alicia, yang sangat bersemangat menceritakan.
Sedangkan Falah hanya mendegarkan celotehan adik perempuan kecilnya yang baru berusia 8 tahun itu. Sedangkan Elior adalah tipe anak yang tidak suka membuang kata-kata seperti Alicia, meski mereka kembar namun sifat mereka bertolak belaka. Bagai langit dan dasar laut. Sama-sama biru namun berbeda.
Begitu panjang lebar celotehan si Alicia, sedangkan yang mendengar hanya Falah saja. Karena hanya Falah sajalah yang sangat amat tertarik dengan dunia luar, karena hanya di saat liburan keluarga sajalah dia dapat melihat pemandangan baru.
Selebihnya, dia hanya menghabiskan waktu hidupnya di mansion keluarganya tinggal.
TING!
Lift kembali terbuka, terlihat seorang remaja keluar dari sana, berpakaian seragam sekolah berwarna putih dan biru disematkan juga almet hijau tosca. Yang membuat dirinya terlihat keren nan tampan. Dengan nama sekolah "ARISTOCRAT SCHOOL" tertempel indah di seragamnya bagian d**a kiri.
Iyaa... Dialah Fahri, saudara kembar Non identik Falah. Yeng berarti keduanya kembar, namun tidak terlalu mirip. model dan warna rambut juga warna mata membuat orang lain tidak akan percaya bahwa mereka kembar.
Falah lebih cenderung terlihat seperti anak laki-laki yang manis dan sopan menuruni sifat sang ibu namun pendiam seperti Elior. sedangkan Fahri cenderung terlihat lebih berkharisma seperti Daddynya.
Jika Falah bermata biru sayu bersinar dengan rambut model mangkok ala Korea berwana coklat turunan sang ibu, lain lagi Fahri matanya hijau namrud diturunkan sang ayah, dengan rambut mengikuti gaya Justin Bieber era 20an berwarna hitam pekat. Namun gaya tersebut amat sanagat cocok dengan wajahnya.
"Pagi Mom! Dad! " Sapa Fahri pada orang tuanya.
"Pagi sayang..." Balas Mommynya seraya sibuk mempersiapkan sarapan keluarganya.
Meski dirumah itu memiliki 8 orang koki, namun Nyonya Laura damier selalu menyiapkan sarapan dan makan malam keluarganya.
Para koki hanya membantu saja, mereka akan sibuk hanya pada saat para keluarga besar nyonya dan tuan mereka datang berkumpul atau ada acara besar di mansion keluarga Al Feronza.
"Pagi Falah... Muahh"
Satu kecupan di dapat lagi oleh Falah hari ini, dari Fahri. Hal rumlah dan sebuah kebiasaan pagi-pagi yang dilakukan kakak kembarnya itu.
"Iya... Watashi juga mengucapkan selamat pagi, haa..." Ucap Falah, terlihat lemas seperti biasanya. Bukannya terlihat malas menyapa, namun memang nada bicaranya saja yang seperti itu.
Falah sama seperti Elior, sedikit berbicara. Namun diamnya Elior dan Falah berbeda. Jika Falah berbicara sekali walau jarang, sangat amat terasa kehangatan di setiap kata-katanya yang terlontar. Berbanding terbalik dengan Elior, ucapan yang keluar dari mulutnya sedingin kulkas 10 pintu. Tak tersentuh.
Setelah itu hal serupa Fahri lakukan kepada kedua adik kecilnya, setelahnya dia pun duduk di kursinya juga. Dan kini lengkap sudah. seluruh keluarga kecil Tuan Al Forenza telah berkumpul di meja makan.
Fahri dan Falah hanya terpaut waktu lahir sekitar 10 menit saja.
Namun Sayang Falah terlahir dengan tubuh lemah, sehingga membuat perasaanya berpengaruh buruk terhadap kondisi tubuhnya.
Karena itulah sejak lahir kedua orang tuanya terus mengekang Falah dari dunia luar yang mungkin bisa menjadi ancaman bagi kesehatan putranya itu.
"Mom, aku langsung pergi aja yaa... Soalnya ada Tugas kelompok yang harus di kumpul hari ini, jadi aku mau mastiin tugas yang di pegang sama temen aku." Ucap Fahri seraya mengoleskan selai ke roti panggangnya.
"Loh, Fahri... Enggak mau makan berat dulu ? " Tanya Mommynya.
"Iya mau, Karena itu... Minta tolong dong Mom buatin bekel aja. Nanti aku makan di mobil." Balas Fahri, lalu melahap roti miliknya tadi.
"Jerry! " Teriak nyonya Laura, memanggil salah satu Chef mereka.
"Iya Nyonya ? "
"Tolong yaa, wadahin bekal buat Fahri." Pintanya.
Sang Chef itupun hanya membalas dengan sebuah anggukan. Setelahnya mulai melakukan perintah yang di suruh majikannya.
Sedangkan sang pemeran utama kita, tak luput pantauannya dari kakak yang lebih tua 10 menit darinya itu. Dia terus melihat Fahri yang kini tengah fokus memakan roti sambil bermain gawai miliknya.
"Tu-gas apa ? " Tanya Falah, sambil memiringkan kepalanya.
Fahri dan Daddynya melihat ke arah Falah yang bertanya hal tersebut. Lalu mereka berdua saling menatap satu sama lain.
"Iyaa... Tugas kakak, Fal. Tugas buat replika gunung meletus." Jawab Fahri, sembari tersenyum manis ke arah Falah.
"Haa... Gu-nu-ng me-le-tus...." Ulang Falah sembari sedikit membuka sisi bibir.
Sedangkan Fahri hanya membalas dengan anggukan yang berarti iya, dan juga seuntai senyuman manis tanpa takaran dosis. Yang mungkin saja bila ada kaum hawa melihatnya akan diabetes akibat senyuman manis si Fahri.
"Daddy... Apa Falah bo-..."
"No! sayang, kita sudah membahas ribuan kali soal itu." Titah Daddynya, yang seakan tau bahwa Falah ingin bersekolah seperti kakak kembarnya itu.
Wajah Falah yang awalnya berseri penuh binar harapan langsung beralih begitu cepat menjadi sendu. Secepat kata penolakan yang di berikan oleh Daddynya.
Selalu saja begitu! Ribuan kali Falah sudah bertanya apakah dia bisa keluar seperti saudara-saudaranya jawabannya pasti selalu tidak.
Walau Falah pun tau adik- adiknya dan juga Fahri tak sebebas itu. mereka keluar saat ada tugas sekolah saja. Selebihnya mereka menghabiskan waktu bersama keluarga di mansion dan menemani Falah.
Tapi tetap saja tidak adil, meski kebebasan yang dimiliki saudara- saudaranya terbatas, setidaknya mereka lebih beruntung dari Falah. Yang hanya bisa melihat indahnya dunia luar setahun sekali setiap keluarga mereka liburan.
Selebihnya hanya dari balik layar televisi dan ponsel.
Falah hanya bisa menunduk seperti biasanya, seperti saat ribuan kali dia mencoba mencari harapan namun sirna hanya dengan 2 huruf "NO".
"Fahri, ini bekal kamu... Jangan lupa dimakan ya sayang." Titah Mommynya, seraya memberikan sebuah tas bekal berwarna biru.
"Sure Mom, Thanks. Thanks For you Too Chef Jerry." Ucar Fahri dan diangguki Jerry.
"Kalau begitu aku pergi dulu ya Mom."
Fahri mencium Mommy dan Daddynya, setelah itu kedua adiknya dan juga tak lupa Falah. Yang masih menunduk kecewa.
"Hey, brother. It's okay Daddy melakukannya karena sayang dengan kamu." Ucap Fahri lalu mencium pucuk kepala kembarannya itu.
*******
Setelahnya sih Adik kembar mereka juga pergi sekolah. Mereka melakukan hal yang sama yang dilakukan Fahri. Dan kini tinggal lah Falah, Mommynya yang sedang makan sambil fokus ke tabnya, juga Daddynya yang Fokus ke komputernya sedang melihat kerjaannya.
"Falaaah! " Panggil seseorang.
Serentak saja ketiga orang itu melihat ke sumber suara. Terlihat sepasang paruh baya sedang tersenyum sambil menghampiri meja makan tempat keluarga Falah berada.
"Grandpa...Grandma..." Ujar Falah, dengan wajah berseri.
Lalu Falah turun dari kursinya, berjalan lantas berlari kecil kearah grandpa dan grandmanya itu. Lalu mereka berpelukan. Saling mengeratkan.
"Mama! Papa! Kok enggak bilang mau ke sini." Tanya Tuan Zevan.
"Memangnya kenapa tidak boleh? " Sinis si pria paruh baya.
"Bu-bukan gitu pa, ya ampun... Sama anak sendiri sebegitunya banget."
" Ya kamu nanyanya kayak enggak seneng papa di sini, papa di sini karena kangen cucu lah. Pake ditanya lagi." Ketusnya.
Daddy Falah hanya mengelus d**a, setiap berhadapan dengan Papanya. Hanya Papanya Tuan Xavier Al Forenza lah yang berani memarahi seorang Tuan Zevan Al Forenza, Mafia kejam di kota Z.
"Udah- udah, Papa nih. Setiap ketemu anak berantem Mulu. Pusing!" Ucap grandma Falah.
Nyonya Sarah Al Forenza, seorang wanita yang besar di panti asuhan. wanita beruntung yang berjodoh dengan tuan Xavier sang Mafia kejam pada Era-nya. Bagai cerita romansa cerita kisah cinta mereka. hingga mereka mampu membangun keluarga hangat mereka seperti sekarang.
*******
Setelahnya pun mereka semua mengobrol, dengan topik yang tidak di mengerti oleh Falah. Awalnya Falah asik melihat isi Oleh-oleh yang diberikan Grandpa dan Grandmanya. Namun pandangannya kini teralih melihat Daddynya yang tampak diam saja saat Grandpanya memarahi sang Daddy membuat sebuah ide muncul di kepalanya.
"Ah benar, Daddykan takut sama Grandpa. Falah coba minta bantuan Grandpa aja deh." Monolog Falah.
"Grand-pa..." Panggil Falah, sayu.
"Eh ? Iya sayang ada apa, kenapa?" Ucap Grandpa yang berhenti berbicara ketika sang cucu memanggil.
Yang memanggil kini malah hanya diam, dengan ekspresi sayu menatap yang dipanggil. Seakan ragu untuk berbicara.
"Kenapa sayang ? Hmm " Kini yang bertanya sang Grandma.
Falah yang awalnya terlihat ragu untuk berbicara, namun ahkirnya dia memberanikan dirinya. Lagi pula kapan hari dia akan punya kesempatan kalau tidak mencoba sekarang.
"A-apa Falah boleh ber-sekolah ?"
Bersambung.......