Bab 2. Apakah Falah akan mati duluan ?

1190 Words
PoV Falah. Netra Grandpa dan Grandma saling bertatapan satu sama lain. Mata Daddy menatap datar ke arahku. Aku tau tatapan itu, tatapan bersikuh pandang Grandpa dan Grandma itu. tatapan yang mengartikan mereka sedang mencari alasan. Benar... Untuk mencari alasan yang bagus agar membuatku tidak kecewa. Alasan yang bagus untuk mengratikan "Tidak". Alasan yang halus untuk menolak permintaan sederhanaku. "Grandpa... Pleease, sekali ini aja. Falah cuma mau ngerasain sekolah seperti kak Fahri." Aku memelas. Ku keluarkan senjata andalanku, mata berkaca-kaca dengan penuh binar harapan. Walau aku tau untuk soal yang menuntut kebebasan pasti tidak akan mempan terhadap Daddy. Dan sekarang aku harus mencobanya kepada Grandpa. Hanya dia harapanku satu-satunya. "Falah, kenapa harus sekolah? Kamu enggak nyaman di sini? Bagaimana kalau kerumah Grandpa aja ? Mau? " Tanyanya mengalihkan pembicaraan seraya mengelus pucuk kepalaku. Aku melirik ke arah Daddy dia masih hanya kembali fokus ke komputernya. Sekarang jam sudah menunjuk ke pukul sembilan. Daddy akan pergi bekerja tiga puluh menit lagi. "Hanya itu, please. Watashi enggak pernah minta apapun kan ? Falah cuma ingin sekolah, itu saja. Emangnya susah yaa? ." Aku semakin memelas. Grandpa dan Grandma saling berpandang lagi. Ekspresi mereka seakan kasihan kepadaku. Namun disisi lain penyakit si*alan ini menjadi pengahalng terbesarku untuk mendapatkan izin. "Bagaimana kalau kamu bertanya pada Daddy kamu sayang, kalau Daddy sama Mommy menyetujui. Kenapa tidak." Ujar Grandma, seraya mengedikkan bahunya. Haaa... Aku lelah, seribu tiga ratus empat puluh tujuh kali. Sebanyak itu aku bertanya. Bukan hanya Daddy yang bosan akupun juga terlampau muak dengan pertanyaanku yang ingin bersekolah. Dan aku juga bosan mendapatkan penolakan. Aku selalu di suguhi kemewahan, namun aku tidak pernah meminta itu. Aku hanya meminta satu hal sederhana. Sebuah kebebasan untuk bersekolah seperti kak Fahri dan juga Alicia, Elior. Apakah begitu sulit hal itu aku dapatkan ? Aku melirik ke arah Daddy... Dia juga melirik ke arahku sedikit. dan banyaknya masih memandangi layar laptop. "Jawabannya, pasti selalu sama." Tukasku mengembungkan pipi, penuh dengan nada kecewa. "Itu kamu tau." Daddy berkata datar. Daddy adalah orang yang hangat kepadaku. Dia selalu tersenyum kepadaku walau terkadang aku sedikit menyusahkan. Namun hanya satu hal yang membuat Daddy bersikap dingin padaku Seperti saat ini. Saat aku bertanya tentang hal yang sedang aku perjuangkan sekarang. Suasana menghening ketika Daddy berkata demikian. Grandpa dan Grandma hanya diam, sepertinya mereka tak ingin membuatku lebih kecewa lagi dari ini. Meski nyatanya sudah dari dulu aku kecewa. Daddy melirik ke arah jam tangannya, lalu menutup laptopnya. Hendak pergi. "Pa, ma. Aku pergi dulu ya." "Loh... Van, sepertinya masih 1 jam kurang lagi kamu harusnya berangkat, kenapa terburu-buru ?" Tanya Grandma. " Aku pergi dulu ya sayang, Muachh..." Daddy mencium Mommy dan dibalas senyum dan juga anggukan oleh Mommy. "Iya ma, aku ada meeting dengan klien dari luar." "Aku pergi dulu ya ma, pa." Setelah itu Daddy berjalan ke arahku. Se_dingin- dinginnya Daddy denganku saat marah, dia tak akan pergi tanpa meninggalkan aku tanpa sebuah kecupan. "Falah..." Panggilnya Lalu memelukku dari samping kursi. lalu menciumi keningku, pipiku dan daguku setelahnya pucuk kepalaku. "Daddy pergi dulu ya, Boy." Sedikit mencubit pipiku. Aku memasang wajah sendu. Sudahlah tak ada harapan lagi bagiku, kini semua terlampau pias. Kenapa tubuh ini sangat lemah ? Apa aku harus terkurung disini selamanya ? Jika takdirku ditulis demikian. Maka mau dibuat bagaimana lagi ? Jika itu memang sudah takdirnya. Daddy berjalan menjauh menuju lift, karena ruang makan kami berada di lantai dua. "Dad." Panggilku lemah. Daddy terhenti, dia menghela nafasnya. Sebelum ia berputar balik, lalu menyunging sebuah senyum padaku ketika sudah berbalik. Aku tau dia sudah lelah denganku, namun dia tidak akan pernah mengabaikan panggilan anak-anaknya. sedikit saja, sedikit lagi. Aku harap kali ini percikan harapan itu ada. Dan meluluhkan hati Daddy. "Iya ? "Jawabnya dengan senyum seperti di paksa. Aku diam, tak tau mau berbicara apa. Seakan semua kata-kata ku telah habis dimakan waktu yang telah lalu. Daddy kembali berbalik. Hendak pergi lantas berjalan menuju lift kembali. "Apa Falah akan mati duluan ? " Tanyaku tiba-tiba. Daddy memutar cepat tubuhnya ke arahku duduk. Grandpa, Grandma dan juga Mommy juga menatapku. "Falah... Kenapa kamu bicara seperti itu sayang." Ujar Mommy, seraya berdiri dari duduk lantas berjalan ke arahku. Bulir mata turun begitu saja, tanpa disuruh, tanpa di undang, tanpa direncakan. Namun dia tau aku membutuhkan dirinya sekarang. Terkadang seseorang benci dengan kesedihan.Namun menurutku mereka adalah teman terbaik yang selalu merangkul kesedihanku bersama agar tidak kutanggung sendiri. Lalu setelahnya aku baik-baik saja. Dan dia pergi begitu juga Setelah aku membaik. Datang hanya saat aku terpuruk jatuh atas penolakan Daddy. Dan pergi ketika aku sudah membaik, bayangkan saja dimana letak salahnya kesedihan itu. adakah teman yang Seperti itu? Tentu saja tidak! jika dihidupku. "Falah, kenapa kamu berbicara seperti itu. Boy! " panggilnya namun aku semakin terisak. "La-lalu apakah... Daddy dan yang lain akan mati duluan? " tanyaku tersedu. "Sayang, kenapa kamu bicara tentang mati dari tadi. Jangan bicara tentang itu, sayang." Ujar Mommy, seraya membelaiku pipiku yang mulai basah oleh air mata. "Fa- Falah, akan tidak apa-apa ji-jika Falah mati duluan." Ucapku menjeda. " ta-tapi bagaimana kalau kalian duluan, Fa-falah akan sendiri. Dan Falah tidak bisa apa-apa, haaa...." Pecah sudah tangisku, semua kata-kata itu terlontar dari hati yang paling dalam. Mulut dan hatiku mengarahkan. Mungkin kini mereka tau bahwa bahwa aku benar-benar menginginkannya. Mommy dan Daddy saling berpandang, begitu juga Grandpa dan Grandma. "Ji-jika suatu saat nanti, Falah sendiri... Dan Falah tidak tau cara melanjutkan hidup bagaimana ? Hmmm... Apa Falah nyusul Daddy aja ?" "Fa-falah..." Ucap Daddy dengan bibir bergetar, lalu memelukku dalam dekapannya. "Jangan bilang begitu sayang, kamu... Kamu tidak akan sendirian. bakal, bakal ada kak Fahri, Alicia dan Elior yang bakal nemenin kamu. " "E-emangnya... Daddy tau darimana kalau mereka enggak akan ninggalin Falah duluan? " ucapku ter-sendan. "Ka-kamu..." Ucapnya lirih. Daddy sudah tak bisa berkata apapun. Entalah mungkin ahkirnya aku menang, Kemenangan pertamaku yang membuat Daddy tidak bisa membalas. Aku merasakan setetes air hangat jatuh di daerah punggungku, menembus baju tidur yang masih aku kenakan. Daddy menangis. Apa ? Tunggu. Ini, ini bukan kemauanku. Aku tidak berbohong semua kata-kataku itu keluar dari hatiku yang paling dalam. Apakah Daddy menangis karena aku ? Apakah aku yang membuat Daddy menangis ? Apakah kata-kataku menyakitinya ? Aku tidak mau. Aku tidak ingin. Ini pertama kalianya aku membuat Daddy menangis. Aku lebih baik tidak pernah merasakan sekolah jika hal itu membuat Daddy bersedih. "Da-daddy..." Panggilku panik. Daddy tak menjawab, pelukannnya semakin mengerat. "Daddy, Daddy menangis? Daddy? " Aku semakin panik.Ingin melepas peluk namun tidak bisa. Sekali lagi aku bertanya, sekali lagi Daddy tak menjawab. "Mommy!" Aku mulai panik aku tidak pernah membuat Daddy menangis, bagaimana ini ? " Mom, Daddy menangis ? " Tanyaku pada Mommy. Mommy tak menjawab. Mommy diam. dia juga langsung memelukku. Tubuh Daddy bergetar hebat aku dapat merasakannya. Seluruh tubuhnya mengigil. Sepertinya aku melakukan kesalahan. "D-a-d-d-y..." Ucapku di ujung nafas." Ja-jangan menangis, ma-...maaf Falah, Falah janji tidak akan bertanya tentang sekolah lagi. Ja- jangan menangis Daddy." Derai air mata mulai turun. Hatiku membuncah. Mataku mulai memudar. Rasa kantuk entah datang dari mana tiba-tiba datang. Penglihatanku kelam, apa yang terjadi ? Dadaku mulai terasa sesak. Sakit! "D-a-d-d-y...M-o-m-m-y... Sakit." Aku terpejam. Aku lemas. Gelap. Aku tidur? Aku pingsan ? Bersambung.......
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD