Kenapa Harus Dia?

1290 Words
"Syah! ini Mami buka pintunya!" pinta Maryam yang berdiri di depan pintu kamar Aisyah sambil mengetuk pintu. Aisyah berangsur turun dari tempat tidur. Kemudian berjalan malas ke arah pintu kamarnya lalu membukanya. "Kenapa, Mi?" tanya Aisyah dengan suara berat karena habis menangis. "Kamu gapapa?" Aisyah menggeleng. "Gapapa. Cuma sedikit batuk jadinya suara Aisyah begini," jawabnya berbohong. Aisyah tak kuasa menjawab dengan jujur. Ia tidak mau menambah masalah, karena akan percuma saja. Hanya akan menambah kekhawatiran orang tuanya. Tapi rencana pernikahan itu pasti tetap terjadi. Jadi untuk apa ia berkata jujur. Maryam merangkul Aisyah dan membawanya masuk ke dalam kamar. "Sekarang, kamu ganti baju ya." "Emang mau kemana, Mi?" "Gak mau kemana-mana. Cuma ke ruang keluarga aja. Kerabat Mami sama papi sudah datang." Aisyah melepaskan rangkulan Maminya. "Terus apa hubungannya dengan Aisyah?" tanya Aisyah curiga. Maryam tersenyum lalu berbicara, "Mami dan papi ingin memperkenalkanmu pada mereka." "Hah! Memperkenalkan aku pada mereka?" "Iya, mereka pasti senang ketemu kamu." Aisyah langsung cemberut. "Aisyah gak mau ketemu mereka." "Kenapa?" "Karena pasti Mami dan papi mau menjodohkan Aisyah kan? Aisyah gak mau!" "Aisyah tenang dulu. Jaga sikap kamu, ini Mami orang tua kamu. Jangan pernah berani menentang. Gak sopan namanya. Pokoknya Mami dan papi tunggu kamu. Dalam waktu 5 menit kamu sudah harus turun menemui mereka. Mereka itu calon mertua kamu. Jika kamu gak turun, Mami kecewa sama kamu." Maryam langsung keluar kamar dengan pandangan kecewa melihat anaknya yang tak mau menurut. "Mami jahat! Semua orang di sini jahat!" teriak Aisyah kesal pada semua yang menurutnya terlalu menuntutnya pada sesuatu yang tak diinginkannya. "Semuanya jahat!" ... Di ruang keluarga. "Udah lama ya kita gak ketemu. Gimana kabar kalian?" tanya Hamdan memulai pembicaraan. "Alhamdulillah baik. Kabarmu juga bagaimana?" tanya Adam-kerabat Hamdan. "Alhamdulillah," jawab Hamdan. "Syukurlah," kata Hawa-istri Adam. Mereka bercengkrama dengan amat akrab. Memang dari dulu mereka sudah berteman baik. Adam dan Hamdan dulu satu pesantren. Sedangkan Hawa dan Maryam sekampus. Walaupun sama-sama sudah membangun rumah tangga dan jarang bertemu seperti sekarang ini, mereka masih berhubungan baik. "Semoga rencana perjodohan anak kita ini berjalan dengan baik," harap Hamdan. Disahuti dengan serempak oleh mereka berempat. "Aamiin." "Semoga kita bisa jadi besanan ya. Jadi hubungan kita jadi tambah erat," tambah Maryam. Semua jadi mengaminkan lagi. "Semoga, tapi itu tergantung merekanya aja. Kalau kami setuju-setuju aja," timbal Adam. "Oh iya, ngomong-ngomong anakmu mana Dam, gak ikut?" tanya Hamdan. Hamdan jadi bingung sendiri, kenapa anak Adam tidak ada, bukankah acara pertemuan ini untuk pengenalan antara anak-anak mereka yang mau dijodohkan. "Masih di jalan katanya, mungkin sebentar lagi sampai," jawab Adam. "Emangnya anakmu kemana, sampai-sampai gak barengan?" tambah Maryam yang jadi ikut bertanya juga. "Tadinya berengan. Tiba-tiba minta diturunkan di pinggir jalan, katanya handphonenya ketinggalan," jawab Adam. "Jadi gitu," ujar Hamdan. "Iya. Bahas soal anak, anakmu kemana Ham kok dari tadi gak keliatan? Jangan diumpetin lah Ham, kami juga mau lihat," canda Adam. Membuat semuanya jadi tertawa. "Sebentar lagi juga turun," sahut Hamdan. "Mi, kok Aisyah belum turun-turun," bisik Hamdan ke Maryam tanpa didengar oleh Adam dan Hawa. "Mungkin bentar lagi Pi," ucap Maryam dengan amat pelan. ... Dengan langkah malas dan terpaksa. Aisyah keluar dari kamarnya. Ia menuruni satu persatu anak tangga dengan amat pelan, supaya ia tak cepat sampai ke tempat tujuannya. Sejujurnya ia tak mau menemui calon mertua yang kata orang tuanya itu. Rasanya itu bukan calon mertua tapi malaikat maut yang mau mencabut nyawanya. Sangat miris nasibnya hari ini. Mimpi apa ia semalam, sampai-sampai mau dijodohkan? Mau sepelan apapun Aisyah tetap saja sampai ke tujuannya. Jantungnya terasa sangat berdegup kencang. Bukan grogi, tapi rasa kekhawatirannya amatlah besar. Ia tak mau dijodohkan. Ia tak ikhlas. Namun, mau bagaimana lagi orang tuanya menginginkan hal itu. Kalau ditolak papi-maminya jadi kecewa padanya. Dan pasti, ia akan dibilang anak durhaka. Bisa-bisa seumur hidup ia diceramahi terus-terusan. Apalagi sampai dapat karma. Ia ogah banget. Takut diazab. "Ya Allah kuatkan aku," ucap Aisyah dalam hati. "Itu Aisyah?" tanya Hawa sambil menunjuki gadis yang tengah berjalan mendekat. Maryam menoleh. "Iya, itu Aisyah," jawabnya. Maryam jadi mengelus dadanya. Dia jadi lega, melihat anaknya itu mau bertemu dengan kerabatnya. Yang rencananya mau membahas pernikahan. "Syukurlah," batin Maryam. Aisyah berdiri di belakang kursi Maminya. Dengan senyum terpaksa ia tampilkan kepada orang-orang yang di sekitarnya. "Syah, salim dulu sama kerabat Mami dan Papi. Mereka itu calon mertua kamu," ujar Maryam. Adam dan Hawa jadi tertawa kecil mendengar ucapan Maryam. Aisyah menuruti perintah Maminya. Ia pun mencium punggung tangan calon mertuanya, lalu ia mendudukkan dirinya di dekat Maminya. "Cantiknya..." puji Hawa. Aisyah hanya senyum membalas pujian itu. "Calon menantu kita Mi, cantiknya gak kalah sama Umi," puji Adam. Dibalas senyuman oleh Hawa. "Anak kamu sangat cantik, Ham," tambah Adam. "Bisa aja kamu Dam," balas Hamdan. Aisyah yang duduk dari awal terus memperhatikan orang tuanya yang tampak sangat akrab dengan tamu yang tak ia kenali. Ia jadi kesal. Ia merasa diabaikan. Seharusnya soal perjodohan ini konfirmasi dulu dengannya. Ini malah sudah mau menikah baru dikasih tahu. Bisa-bisanya orang tuanya melakukan hal itu padanya. Pernikahan bodoh ini seharusnya tidak terjadi, menurutnya. "Jadi kapan niat baik kita dilaksanakan?" tanya Hamdan tiba-tiba. Membuat Aisyah jadi tambah down. Pasti yang dimaksud Papinya soal pernikahannya. Ia benar-benar belum siap untuk segera menikah. "Terserah saja. Asalkan anak-anak kita setuju," jawab Adam. "Bohong, aku gak setuju tapi tetap aja Papi memaksaku untuk setuju," kalut Aisyah dalam hati. "Anakmu kok gak sampai-sampai, Dam?" tanya Hamdan. Adam baru teringat anaknya belum tiba sedari tadi. Padahal janji anaknya itu akan tiba dalam waktu cepat. Tak tahunya anaknya itu tak muncul-muncul. "Macet mungkin," jawab Adam. "Segera menyusul, dia sudah di depan" kata Hawa. "Anak kita udah di depan, Mi?" tanya Adam pada istrinya. "Iya, barusan dia kirim pesan." "Alhamdulillah," ujar Adam. Aisyah diam saja. Namun, otaknya terus berpikir. Ia terus memikirkan siapa lelaki yang akan dijodohkan dengannya. Bukan cuma berfikir, ia juga sedang sedih. Ingin rasanya ia menangis, tapi ia tahan-tahan saja. Kalau menangis sekarang pasti bikin suasana jadi kacau karenanya. "Assalamualaikum," ucap seorang pemuda yang tiba-tiba muncul tanpa disadari kehadirannya. "Waalaikumsalam," sahut serempak antara Hamdan, Maryam, Adam, dan Hawa. Hanya Aisyah yang tidak menjawab karena ia tidak mendengar salam itu. Ia sibuk dengan masalahnya. Sampai tak sadar ada tamu yang baru datang. Pemuda bernama Ali itu mendekat, dan bersalaman pada orang tuanya lalu Hamdan dan Maryam. Hamdan memeluk Ali. "Udah besar sekarang. Masih ingat Om gak?" tanyanya lalu melepaskan pelukannya. Ali senyum sambil berfikir. Ia mencoba mengingat siapa orang yang memeluknya barusan. "Em... kalau gak salah Om Hamdan ya," jawab cowok bernama lengkap Ali Alaska Fajarsyah itu. Disapa Ali, cowok 17 tahun. Kelas XII IPA¹. Siswa pintar dan dikagumi di sekolah. Tampangnya rupawan, alis tebal, gaya rambut berponi, bulu mata tebal, lentik, dan ia cowok berkulit putih. "Alhamdulillah, masih ingat sama Om." "Iya, soalnya Abah sering cerita tentang Om. Abah bilang Om adalah sahabat sejatinya." "Wah Dam, makasih loh udah bilang saya sahabat sejati segala," ucap Hamdan ke Adam. "Sama-sama," balas Adam. "Duduk-duduk." Hamdan mempersilahkan Ali untuk duduk. Ali mendaratkan bokongnya. "Maaf ya semuanya, Ali terlambat," ujarnya merasa tidak enak karena kehadirannya yang telat. "Gapapa," kata Maryam. "Ya Allah Dam, anakmu tampan sekali," puji Hamdan. "Alhamdulillah, Ham," sahut Adam. "Bulu matanya itu dari kecil gak berubah-ubah ya, tetep aja lentik," tambah Maryam memuji. Ali jadi tersipu. Ia hanya membalas pujian itu dengan senyumnya. "Waktu kecilnya itu cengeng sekali, mungkin itu gara-garanya," canda Hawa. "Ada-ada aja kamu," ujar Maryam. "Syah, calon suami kamu tuh, coba lihat," bisik Maryam ke Aisyah. Aisyah yang tadi menunduk tak kuasa, jadi mendongakkan kepalanya. Melihat seseorang yang kata Maminya itu calon suaminya. Suami yang tak diinginkannya. Lantas siapa lelaki itu? Dan seperti apa rupanya? "Kamu!" ucap Aisyah tak percaya. "Kenapa harus dia? Banyak manusia di bumi ini. Tapi kenapa dia?" Batin Aisyah tak terima kenyataan. "Kalian sudah saling kenal?" tanya Maryam dan Hawa serempak. "Gak!" ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD