ATDK BAB 10

1045 Words
Di café ini, sepasang calon suami istri ini baru saja berbincang bersama. Dengan bahan obrolan yang menyangkut kebahagiaan orang tua mereka.  Di café ini, sepasang calon suami istri ini baru saja duduk berhadapan dengan begitu seriusnya.         Di café ini pula, dengan ketidaksadaran, sepasang calon suami istri ini tersenyum bersama.  Keesokan harinya Sinta sudah siap dengan persyaratan yang akan ia berikan untuk Ramdan sebagai tanda sepakat permintaan Ramdan antara keduanya.  Ting  Ponsel Ramdan berbunyi, segera Ramdan raih ponsel tersebut.  Ia buka lockscreen dan munculah notifikasi sebuah pesan masuk dari Sinta.  Kerutan kecil muncul pada dahi Ramdan, tak biasanya Sinta menghubunginya, pikirnya.  "Sekarang datang ke café biasa, ada yang mau gue omongin."  Mengingat jadwalnya Ramdan membalas  "Hari ini saya tidak bisa Sinta,"  Terkirim.  Tidak lama pesan masuk kembali.  "Bacot, gue udah mau nyampe ini."  Keras kepala sekali, pikir Ramdan.  "Saya tetap tidak bisa."  Setelahnya, Ramdan membisukan ponselnya itu kemudian masuk kedalam ruang meeting.  Ditempat lain Sinta mengirim beberapa pesan kepada Ramdan karena Sinta sudah sampai di café yang ia maksudkan.  Puluhan pesan dan beberapa kali panggilan dari Sinta, tak ada satupun yang Ramdan angkat. Tentu saja hal tersebut membuat Sinta kesal bukan kepalang.  Tak terasa sudah setengah jam Sinta menunggu didalam café, melihat jam tangan yang melingkar ditangannya menambah rasa kesal pada Ramdan.  Sintapun memutuskan untuk pergi dari café tersebut, membelah kemacetan jalanan kota dan menuju kantor Ramdan.  Pokonya urusan ini harus selesai hari ini. Batin Sinta.  Sampai dikantor Ramdan, Sinta bergegas menuju ruangan Ramdan.  Sinta membuka pintu Ruangan Ramdan.  Kosong.  Asstagfirullah hal'azim. Kerja lembur bagai quda – Canda ehehe garing.  Sintapun memutuskan untuk menanyakan keberadaan Ramdan pada receiptionist.  "Mba, saya mau tanya bapak Ramdan dimana ya ?" Tanya Sinta  "Oh bapak Ramdan sedang ada meeting, ibu." Jawab sang receiptionist dengan senyuman.  "Oh, bilangin saya mau ketemu ya."  "Maaf sudah ada janji ?"  "Bilang aja Sinta mau ketemu."  "Oh maaf ibu, sesuai dengan pesan dari pak Ramdan, yang bisa melakukan pertemuan tanpa janji terlebih dahulu hanya keluarga dari pak Ramdan saja bu,"  Mendengar penuturan sang receiptionist Sinta menjadi kesal.  Belaga sekali Ramdan, pikirnya.  Ia hanya akan membicarakan sebuah persyaratan saja, mengapa harus sesulit ini.  "Mba, saya istrinya Ramdan." Ucap Sinta penuh penekanan.  "Apa ibu yakin ? Bapak Ramdan belum menikah ibu." Terlihat wanita yang menjabat sebagai receiptionist itu mulai kesal pada Sinta.  Sinta menarik dalam nafasnya lalu berkata dengan lembut.  "Ya sudah, sampaikan saja dahulu. Tolong kamu maintain izin pada bapak Ramdan bahwa Sinta salah satu mitra kerjanya ingin bertemu. Dan sekarang saya akan tunggu di lobby oke."  Receiptionist itu balas tersenyum ramah.  "Baik bu, akan saya sampaikan. Silahkan menunggu."  Sinta membalikan tubuhnya dan berjalan dengan anggun kemudian duduk disalah satu sofa yang ditempatkan di ruang tunggu itu.  15 menit  30 menit  1 jam  2 jam  Woaaaaah hebat sekali bukan, Sinta kesal bukan kepalang.  Tidak pernah sedikitpun terpikirkan olehnya untuk menunggu seseorang hingga selama ini.  Sedari tadi ketika menunggu, Sinta melepon dan mengirimi Ramdan pesan. Namun see ? Sampai saat ini belum ada satupun pesan yang Ramdan balas.  Sudah  Sinta tak mau lagi lebih lama menunggu.  Dengan segera ia bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari kantor tersebut.  Baru beberapa langkah ia akan meninggalkan lobby tersebut, receiptionist datang menemuinya.         "Ibu sebelumnya maaf telah menunggu lama. Ibu sekarang di perbolehkan untuk langsung masuk ke ruangan bapak Ramdan."  Rasanya kepala Sinta ingin meledak, tapi mengingat keberuntungannya karena ia belum sempat meninggalkan kantor maka Sinta membalas receiptionist tersebut dengan anggukan disertai senyuman hambar.  Dengan langkah kaki yang santai walau otak sudah memanas, Sinta berjalan menuju ruangan Ramdan.  Pintu dibuka, terlihat Ramdan yang sedang duduk dengan berbagai dokumen diatas mejanya melihat kearah Sinta.  "Ya Sinta ?"  "Aduh gue udah kesel banget nungguin lo, sekarang tanda tangan dokumen ini terus gue langsung pulang. Kelar." Ucap Sinta sembari mengeluarkan sebuah dokumen dari map yang ia bawa lalu memberikannya kepada Ramdan.  "Dokumen apa ini ? Saya baca dulu."  "Halaaaah lama, gausah." Sinta mengambil kembali dokumen tersebut.  "Denger." Perintah Sinta, Ramdan mengangkat kepalanya bertanya  "Intinya nih ya, dalem suart ini tuh ga ribet, Cuma ada tiga point penting doang sebagai garis besarnya. Jadi lo ingetkan persyaratan yang gue kasih supaya gue mau ikutin permainan lo, nah ini persyaratannya." Sinta menjeda beberapa detik  "Point satu, masing-masing dari kita jangan ada yang menggangu atau mencampuri privasi. Point dua, kita berdua akan bersikap layaknya pasangan suami istri didepan orang tua dan sanak saudara. Dan point ketiga ita gak akan satu kamar dan berhubungan layaknya sepasang suami istri. Kalau ada yang melanggar diantara kita akan kena denda diatas lima puluh juta sesuai dengan keputusan Bersama."  Sinta tersenyum sinis "Liat, adil kan gue. Sekarang tanda tangan soalnya gue udah gedek disini, kelamaan." Ucap Sinta sembari menyerahkan kembali dokumen untuk ditanda tangani oleh Sinta.  Ramdan mengambilnya, "Tetep aku baca dulu ya"  "Ah kamprettt tinggal tanda tangan aja sih Ramdan apa susahnya. Gue juga ga bakal jebak lo ko."  Selagi Ramdan membaca surat perjanjian, Sinta tak henti-hentinya mendumel.  Selesai membaca Ramdan bertanya kepada Sinta, dan pertanyaan itu sukses membuat Sinta kembali emosi.  "Kenapa harus pake surat perjanjian seperti ini ?"  "Ih lo banyak omong ya, kan ini persyaratan dari gue. Tinggal tanda tangan aja kenapa si, terus-terusan gue gini bisa darah tinggi ini ah"  "Oke oke, saya setuju. Ini saya mau tanda tangan."  "Emm Sinta," Tangannya berhenti untuk menanda tangani dokumen.  "Apa lagi ?" Erang Sinta.  "Engga." Jawab Ramdan diakhiri kekehan  Kemudian Ramdan menanda tangani dokumen tersebut.  Hari-hari berlalu, pakaian pernikahan yang sederhana telah selesai dirancang, cincin pernikahan sudah diukir begitu eloknya, orang tua Ramdan sudah beberapa kali berbincang dengan Reyno – papa Sinta.  Kini saatnya telah tiba, Sinta sudah siap dengan segala penampilannya. Hanya polesan sederhana yang mampu membuat kecantikannya bertambah berlipat-lipat. Pun dengan Ramdan yang sudah siap dengan tuxedo sederhananya.  Orang tua, beberapa saksi beserta penghulu sudah bersiap didalam kamar rawat bernuansa putih ini.  Akad nikah berlangsung dengan lancar, pengucapan akad telah berhasil lolos dengan sempurna dari mulut Ramdan.  Tangan Sinta dengan perlahan meraih tangan kanan Ramdan, dituntunnya tangan Ramdan yang sudah resmi menjadi suaminya itu pada bibirnya. Ia cium punggung tangan itu sebagai seorang istri dihadapan semua orang.  Begitupun dengan Ramdan, dengan perlahan ia angkat dagu Sinta yang sudah sah menjadi istrinya itu. Ia tatap kedua bola mata yang cantik nan indah itu bergitu lekat, hingga akhirnya mendaratkan kecupan dari bibirnya pada dahi Sinta sang istri dihadapan semua orang. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD