"Ada suatu hal penting yang mungkin lama untuk kamu mengerti."
"Ya lah, oke oke. Gue bakalan datang"
"Ya, terimakasih." Jawab Ramdan dengan senyuman.
Sesuai dengan ucapannya, Sinta pergi untuk menjenguk sang papa.
Tiba didalam ruangan rawat sang papa, Sinta masuk dengan senyuman yang terpatri di bibirnya.
"Hai pa, apa kabar ?"
Reyno menyambut anaknya dengan senyuman yang tak kalah mengembang
"Baik. Papa baik Sinta."
"Syukur kalo gitu. Papa udah makan ?"
"Udah tadi. Baru aja selesai."
"Gimana beli cincin pernikahannya ? Ko Ramdan ga ikut kesini ?"
"Udah tadi pa. Oh Ramdan ada pertemuan sama kliennya, titip salam aja tadi buat papa."
"Oh iya gapapa."
"Andai aja papa sehat ya, kamu nikahnya pasti bisa dengan layak dan engga dadakan gini." Ucap Reyno
"Ah ga papa pa, papa cepet sembuh aja ya. Buat nikahan meskipun dadakan tapi Sinta sama Ramdan bisa handle semua ko pa. Dan nikah kaya gini juga menurut Sinta udah layak. Sinta juga ga terlalu mau ko nikahan yang mewah. Yang penting beneran sah dimata negara dan dimata agama."
Reyno tersenyum, sungguh bahagia ia memiliki anak yang mengerti akan keadaan serta tidak banyak menuntut.
"Terimakasih ya. Semoga pernikahan kamu sakinah, mawadah, warohmah."
"Hehehe, a emm am amin." Jawab Sinta tersenyum kikuk.
"Oh iya pah, ada kabar gembira loh dari perusahaan. Pendapatan perusahaan kita naik hampir empat puluh persen loh pah." Ujar Sinta semangat
"Wah keren itu, Alhamdulillah. Papa ikut seneng."
"Nah rencananya Sinta bakalan kasih semacam hadiah gitu buat beberapa karyawan yang kinerjanya bagus. Pokonya yang paling berpengaruh sama meningkatnya pendapatan kita ini pa. Sekaligus jadi penyemangat juga buat karyawan lain kan pah."
"Iya itu ide bagus, papa seratus persen dukung kamu. Rencananya kamu mau kasih hadiah apa ?"
"Sinta bakalan kasih dua unit motor sama lima smartphone aja gimana ?" Tanya Sinta meminta pendapat.
"Gapapa, papa sih oke oke aja. Toh memang pantas bagi mereka yang campur tangannya lebih besar dalam peningkatan pendapatan kita ini."
"Iya pa. Ya sebenernya sih Sinta ada rencana buat bikin syukuran bareng papa. Tapi kan kondisi papa masih belum sembuh total, jadi nanti kalo papa udah sehat, udah bisa keluar dari rumah sakit kita langsungin acara syukurannya ya pa."
Reyno tersenyum dan mengangguk.
Tak terasa perbincangan antara ayah dan anak tersebut menjadikan waktu terasa begitu cepat. Sampai akhirnya Sinta pulang untuk beristirahat menyambut pekerjaannya dihari esok.
.
Hari ini pekerjaan dikantor Sinta tidak terlalu banyak, membuat ia bisa dengan leluasa bersantai-santai sejenak.
Ting
Ponsel Sinta berbunyi.
Ia raih ponselnya dan melihat bahwa sebuah pesan masuk dari seseorang yang memiliki nama Ramdan
"Assalamualaikum, Sinta. Hari ini saya ga bisa jemput kamu, kita ketemu disana aja ya."
Kerutan dalam muncul pada dahi Sinta.
"Hih, biasanya juga gue ga dijemput. Bacot banget dah ni orang."
Pukul dua, Ramdan sudah berada di salah satu café yang dijadikan tempat untuk bertemu dengan Sinta.
Ia harap Sinta akan mudah mengerti dalam hal ini, ia berdoa supaya ego Sinta sedikit turun untuk hal ini.
Tak menunggu waktu lama, Sinta sampai.
Sinta mengambil posisi duduknya.
"Saya sudah pesankan minuman tadi, kalau kamu tidak suka bisa pesan lagi. Gimana perjalanannya lancar ?" Tanya Ramdan
Sinta meminum sedikit jus yang telah dipesankan oleh Ramdan sambil bergumam.
"Iya lancar." Jawabnya sembari meletakkan gelasnya.
"Sebenernya kita mau ngomongin apaansi ?" Lanjut Sinta.
"Ini soal orang tua saya Sinta."
"Oh oke, kenapa ?" Kali ini Sinta menurunkan nada suaranya.
Sinta sadar meskipun ia tidak suka kepada Ramdan, tetapi ia harus menghormati orang tua.
Tah itu orang tua dari orang yang kita benci atau orang tua siapapun dan dimanapun.
"Orang tua saya sudah tahu bahwa kita akan menikah, tapi orang tua saya tidak tahu akan hubungan kita yang sebenarnya."
"Ya iya lah, kan emang kita ga punya hubungan apa-apa."
"Saya ada satu permintaan buat kamu, mengenai pernikahan ini. Menyangkut orang tua kita juga Sinta." Ujar Ramdan serius.
"Permintaan apaan ? Asal jangan yang aneh-aneh aja, awas lo." Ancam Sinta
Ramdan tersenyum
"Engga aneh, ini masih dalam batas wajar ko."
"Yaudah apaan ?"
"Saya minta, didepan orang tua saya kita harus hidup layaknya seorang suami istri ya."
"Apa-apaan ? Papa liat kita gini biasa-biasa aja tuh, kenapa orang tua lo harus beda ?" Cerocos Sinta
"Kan sudah saya katakana, orang tua saya tidak tahu hubungan kita yang sebenarnya."
"Ya tapikan realistis ajalah Dan, kita emang ga ada hubungan apa-apa kan. Hanya sebatas nikah karena gue pengen bahagiain papa."
"Iya Sinta saya mengerti, tapi coba kamu pikir dan ingat kembali. Kamu ingin papa kamu bahagia kan ?" Tanya Ramdan
"Ya iyalah."
"Begitupun saya, saya ingin melihat orang tua saya bahagia atas pernikahan kita ini Sinta."
"Ya nanti juga orang tua lo terbiasa sama kaya papa Ramdan."
"Sinta, kamu juga harus berfikir lagi, apakah papa akan bahagia jika melihat dalam pernikahan kita tak ada kemajuan ?" Tanya Ramdan.
Sinta mengangkat sebelah alisnya dan membusungkan dagunya meminta penjelasan.
"Maksud saya, kamu gamau kan bikin papa kamu merasa menyesal dan tidak bahagia karena melihat pernikahan kita yang tak ada kemajuannya. Perilaku kita tidak mencerminkan sebagai sepasang suami istri." Jelas Ramdan dengan pernuh kelembutan.
Sinta tertergun.
Membahagiakan ayahnya adalah tujuan awal dari semua rencana pernikahan gila ini. Sangat tidak mungkin ia membiarkan pernikahan ini terjadi tetapi sang ayah merasa tidak bahagia, lantas apa keuntungan dari pernikahan ini jika sang ayah tidah bahagia? Sia-sia sekali bukan ?
Tapi jika ia menerima saran sekaligus permintaan dari orang didepannya ini, bukan sebuah kemungkinan kecil ia akan merasa marah dan aneh terhadap Ramdan. Tentu saja hal ini akan menjadi sebuah hal yang tabu bagi Sinta.
"Aduh gimana ya ? Emang ga ada cara lain apa Dan ?" Tanya Sinta frustasi.
Ramdan mengangkat bahunya seraya tersenyum.
Si anjir malah sunyam-senyum Batin Sinta mencibir.
"Emmm, yaudah gue terima." Putus Sinta
"Tapi ada syaratnya," Tambah Sinta
"Apa ?" Tanya Ramdan
Senyum terbesit dibibir tipis Sinta.
"Nanti gue kasih tau nyusul. Sans ajalah, yang penting permintaan lo gue kabulin." Ujar Sinta diakhiri senyuman.
Ramdan membenarkan hal tersebut dengan senyumannya.
Di café ini, sepasang calon suami istri ini baru saja berbincang bersama. Dengan bahan obrolan yang menyangkut kebahagiaan orang tua mereka.
Di café ini, sepasang calon suami istri ini baru saja duduk berhadapan dengan begitu seriusnya.
Di café ini pula, dengan ketidaksadaran, sepasang calon suami istri ini tersenyum bersama.