Semoga keputusannya ini di ridhoi oleh Allah.
Setelah perbincangan mengenai pernikahan dan sedikit bertukar kabar dengan kedua orang tuanya, Ramdanpun berpamitan untuk kembali ke rumahnya.
Diperjalanan Ramdan menelpon asistennya untuk membantunya menyiapkan pernikahan ini dalam jangka waktu yang sangat singkat.
Indra sang asistenpun menyanggupi nya.
Untuk mengetahui fashion yang cocok dengan selera Sinta, Indra berinisiatif untuk meminta bantuan Yura selaku asisten Sinta yang dirasa lebih tahu segalanya mengenai Sinta.
Selesai menyocokan jadwal dari Sinta dan Ramdan, para asisten pribadi merekapun dengan segera membuat semua jadwal pribadi yang berkaitan dengan pernikahan ini.
"Jadi besok untuk pukul sebelas bapa akan melakukan fitting baju dengan bu Sinta di butik yang telah saya dan Yura pilih untuk selera bu Sinta pak" Ucap Indra pada Ramdan
"Baiklah, terimakasih. Adalagi ?"
"Kemudian pada hari berikutnya adalah pembelian cincin pernikahan untuk bapak dan ibu Sinta. Saya rasa hanya segitu pak, apa ada yang ingin bapak tambahkan ?"
"Oh oke oke,, berikan saya satu hari untuk melakukan pertemuan pribadi dengan Sinta ya." Titah Ramdan.
"Siap pa."
Sepeninggalnya Indra dari ruangan Ramdan, Ramdan berdiam dalam beberapa menit.
Mengatur nafasnya, dengan pikiran yang sedang melayang-layang.
Iya yakin dengan keputusannya ini.
Ada suatu hal yang ia nantikan dibalik semua ini.
Dengan menghembuskan nafasnya, Ramdan mengambil handphonenya dan menatap beberapa digit nomor dengan bernamakan Sinta.
Perlahan ia tekan tombol telpon pada kontak tersebut.
Tuuuut,,, Tuuuut,,, Bip
Telpon diangkat.
"Ya ? Apaan ?"
Lagi-lagi Ramdan menghembuskan nafasnya
"Assalamualaikum Sinta"
"Iya iya waalaikumsalam, ada apa ih ?"
"Saya Cuma mau kasih tahu besok kita fitting baju, SInta."
"Iya gue udah tau, apalagi ?"
"Lusanya kita beli cincin pernikahan"
"Iya iya ah ribet amat. Udah kan ?"
"Tunggu Sinta. Besoknya lagi kita ketemu ya, berdua. Ada hal penting yang mau saya omongin ke kamu."
"Apaan tuh, perasaan tadi asisten gue ga bilang ada pertemuan pribadi gue sama elo deh."
"Ada Sinta. Saya yang buat jadwalnya. Sudah ya assalamualaikum."
"Tapikan,,"
Telpon terputus.
Ramdan tahu ini adalah perbuatan yang tidak baik ketika perbincangan belum selesai tetapi ia sudah menutup panggilan. Namun ya Ramdan rasa itu lebih baik dari pada harus meladeni Sinta yang sedang marah.
Disisi lain Sinta kesal tiada tara karena Ramdan yang memutuskan panggilan dengan sepihak. Berbagai sumpah serapah ia lontarkan dengan Ramdan sebagai objek utamanya.
Hari berlalu dengan kesibukan mereka masing-masing, menguruskan beberapa hal penting dan mungkin akan mendesak untuk satu minggu kedepan.
Malamnya mereka – Ramdan dan Sinta berisitirahat dengan nyenyaknya untuk menyiapkan hari esok yang mungkin akan membosankan pikir Sinta.
Hari ini pukul sembilan Ramdan mengirimi Sinta sebuah pesan
"Assalamualaikum, Sinta hari ini kamu mau saya jemput untuk fitting baju ya ?"
Sinta yang mendapat pesan dari Ramdan memutar bola matanya tak acuh.
Segera ia balas pesan untuk Ramdan
"Gausah"
Baiklah, at least mereka akan berangkat masing-masing menuju butik tempat fitting bajunya ya.
Pukul sebelas Sinta dan Ramdan sudah berada disalah satu butik yang telah dipilih oleh kedua asisten mereka untuk memilih model baju pengantin dan mengukurnya.
Setelah tiga puluh menit mereka memilih pakaian, pilihan mereka jatuh kepada sepasang pakaian berwarna putih yang sederhana dengan sedikit hiasan kecil yang tak terlalu mencolok.
Yap, mereka memilih pakaian yang sederhana saja toh mereka hanya terlibat sedikit perbincangan. Mereka, ralat. Lebih tepatnya Sinta memilih pakaian dengan tidak meminta pertimbangan Ramdan untuk melihatnya terlebih dahulu.
Selesai dari butik, keesokannya mereka memiliki jadwal untuk membeli cincin pernikahan.
Seperti biasa Ramdan mengirimi Sinta sebuah pesan singkat
"Assalamualaikum, Sinta hari ini kamu mau saya jemput untuk beli cincin ya ?"
Lagi-lagi balasan dari Sinta
"Gausah"
(Sejujurnya jika author diposisi Ramdan, Sinta pasti sudah mati ditangan Author hahaha)
Pukul dua siang mereka sudah ada di toko perhiasan.
Dan kini dihadapan mereka sudah ada empat sampai lima box dengan berbagai jenis cincin pernikahan, ada yang berliannya besar ada yang kecil dan ada juga yang tidak disertai dengan berlian.
"Kamu pilih aja Sinta, kamu Sukanya yang mana."
SINTA POV
Kali ini gue ada di toko perhiasan sama si Ramdan buat nikahan gue nanti beberapa hari lagi.
Hufffft
Gakerasa ya, padahal gue masih muda, tapi udah mau kawin aja.
Hahaha muda dari hongkong onyon.
"Kamu pilih aja Sinta, kamu Sukanya yang mana." Kata si Ramdan
Ah oke oke, gue beli yang mahal mampus lo.
"Gue mau yang berliannya kecil aja tapi banyak. Gamau yang murahan pokonya." Ucap gue jutek gitu yaa haha
"Oh ini ?" Kata si Ramdan sambil nunjuk cincin dengan berlian yang ampir ada di setiap permukaan cincinya.
"Iya."
"Yaudah, mas kita ambil yang ini ya sepasang."
WHAT !!
SEPASANG ??
"EH MAS" Eh gasengaja teriak gue
Gila yang bener aja, itu sama aja gue bangkrutin si Ramdan. Lagian kan Cuma ngetes doang.
Ah s***p, gue yang kena malu ini mah.
Ngebayangin gue pake cincin berlian kaya gitu juga geli ah. Nanti disangka toko mas berjalan, kampungan.
Gue kan Sukanya yang sederhana.
"Ta,"
"Mba,"
"Sinta."
Eh gue ngelamun.
"Eh Ramdan lo ga sadar ya." Ucap gue kesel
"Kenapa ?" Tanya si Ramdan ogeb.
Dengan pelan gue deketin mulut gue ke telinganya.
"Lo tau itukan mahal,"
"Ya gapapa, saya yang bayar"
Gue mendelik.
"Gue juga tau lo yang bayar, tapi nantikan lo bangkrut ih. Gila juga modelnya."
Ramdan diem, mikir apa sih ya. Harusnya seneng gue aga baik gitu ya
"Gimana mba ?" Tanya si pelayan toko.
"Oh gini," Gue jeda dulu nih, mikir dulu sebelum ngomong, dari pada salah ngomong
"Saya tadi cuma ngetes dia aja mas."
Eh si masnya malah nampakin ekspresi bingung.
"Iya mas, kita gajadi beli yang itu. Yang simple aja, saya tadi cuma ngetes calon suami saya. Ternyata beneran baik gitu mas."
Sengaja tuh gue tekenin bagian calon suami sama beneran baiknya. Yaaa biar si mas nya juga ga ngeledekin gue nanti.
Gapapa lah jadi muji si Ramdan, yang penting ga ngejatuhin gue haha
AUTHOR POV
Sesuai kesepakatan Bersama antara Ramdan dan Sinta, akhirnya mereka membeli sepasang cincin pernikahan yang sederhana dan tentunya tidak terlalu mencolok.
Mereka berjalan beriringan keluar dari toko perhiasan tersebut.
(Maaf bukan beriringan maksudnya Sinta jalan di depan Ramdan gitu. Sinta jalannya gamau barengan sama Ramdan katanya)
"Kamu pulangnya saya antar ya" Tanya Ramdan membuka obrolan sambil mensejajarkan langkahnya dengan Sinta.
"Ga ah ribet, gue mau kerumah sakit. Nengok papa"
Ya memang Reyno belum diijinkan untuk meninggalkan rumah sakit. Toh memang Reyno belum sembuh dari sakitnya.
Dan berhubung sekarang Ramdan memiliki jadwal dengan sorang klien maka dengan terpaksa Ramdan tidak ikut menjenguk calon mertuanya itu.
"Oh baiklah, saya ada pertemuan jadi saya gabisa tengok papa. Titip salam ya."
"Oke."
Hening,
"Sinta." Panggil Ramdan
"Apa ?!"
"Besok, kita ketemu di.."
Belum sempat Ramdan menyelesaikan ucapannya, Sinta memotong
"Besok kita ketemu buat apaan si ?"
"Ada yang mau saya sampaikan ke kamu Sinta."
"Padahalkan ngomong ya tinggal ngomong Ramdan, kenapa harus dibuatin jadwal ketemu juga si Ramdan ?" Tanya Sinta jengah
"Ada suatu hal penting yang mungkin lama untuk kamu mengerti."
"Ya lah, oke oke. Gue bakalan datang"
"Ya, terimakasih." Jawab Ramdan dengan senyuman.