ATDK BAB 7

1024 Words
Dengan mengangkat tangannya bak seorang pahlawan yang sedang menyuarakan kekuatan dan keberanian, dengan suara yang mengeras Sinta melanjutkan ucapannya.  "Gue bakal nikah sama si Ramdan. SEMANGAT." Ditanggapi Ale oleh senyum yang tak kalah mengembang.  "Semangat Sinta" Ucap seorang pria yang tiba-tiba menanggapi ucapannya.  "Ramdan ?"  "Mampus"  Dengan segera Sinta menurunkan kepalan tangannya.  "Ngapain lo disini ?" Tanya Sinta ketus.  "Saya ga lagi ngapa-ngapain, kebetulan saya juga dapat klien yang meminta saya buat janji disini."  "Terus papa lo tinggal sendiri gitu ?" Seru Sinta membelalakan matanya  "Le, gua balik dulu ya." Tambahnya  "Eh gausah." Cegah Ramdan ketika Sinta akan melangkah pergi  Sinta terkekeh remeh  "Eh siapa elo larang-larang gue ketemu sama papa sendiri ? Jadi suami aja belom udah ngatur-ngatur hidup gue aja lo."  Melihat perdebatan calon pasutri didepannya, Ale mengambil inisiatif untuk mengundurkan diri. "Maaf ganggu, tapi gue pulang aja ya. Bay Sinta" Pamit Ale kemudian mengangguk kepada Ramdan.  Ramdan balas dengan anggukan kepala.  "Maksud saya bukan begitu Sinta. Maksud saya kamu ga usah kerumah sakit karena dirumah sakit papa sudah ada yang jaga."  "GUE.GA.PER-CA-YA."  SINTA POV  Ya, gue udah pergi sekarang.  Ninggalin si Ramdan yang tadi malah ada di tempat yang sama ketika gue ketemuan sama si Ale.  Katanya papa udah ada yang jagain ? Bodo amat, gue tetep mau ke papa.  Kepalang malu sama dia tadi.  Arrrrggggh  Ngapain juga sih si Ramdan meeting sama kliennya disana ? Kan malu gue tadi.  Huuuuffff  Oke Sinta. Tenang. Rilex. Santai.  Pokonya nanti kalo ketemu lagi, pura-pura seolah ga terjadi apa-apa aja ya.  Oke sip, SEMANGAT.  .  Menempuh beberapa menit, akhirnya gue sampe di rumah sakit. Setelah gue datang keruangan papa emang bener.  Papa udah di jagain.  "Pa, gimana udah baikan ?"  "Papa baikan ko. Gimana tadi ? Ramdan tadi bilang dia bakalan ada pertemuan di tempat yang sama kaya kamu tadi meeting ? Kalian ketemu ga tadi ?" Tanya papa ke gue.  Yaelah pa, bukan ketemu lagi. Tapi kepergok. Kepergok diwaktu yang tidak tepat.  Udah kaya razia guru bk aja dadakan elah.  "Iya pa ketemu, tapi galama ko."  "Oh iya syukur kalau begitu. Berarti kalian jodoh."  "Hehe" males ah gue ladenin papa kalo bahas si Ramdan. Ya udah iyain ajalah yaaaaa  AUTHOR POV  Disisi lain, Ramdan yang sudah selesai dengan urusannya pergi menuju rumah orang tuanya.          Ia berencana akan membicarakan pernikahannya dengan Sinta.  Sejujurnya, Ramdan belum pernah membicarakan perihal pernikahan ini kepada kedua orang tuanya. Jangankan pernikahan, membawa seorang wanita ke hadapan orang tuanya pun Ramdan belum pernah.  Ya semoga saja orang tuanya memberikan keputusan yang terbaik, batin Ramdan.  Dengan merogoh kantung celananya, Ramdan mengambil smartphone nya dan mengirimkan sebuah pesan kepada sang ibu.  "Assalamualaikum bu, Ramdan mau ke rumah. Ada yang mau Ramdan bicarakan sama ibu dan ayah. Ibu sama ayah ada di rumah ?"  Tidak perlu menunggu waktu lama, smartphone yang sama kembali berbunyi menyampaikan balasan dari sang ibu.  "Waalaikum salam, Iya Dan, ibu sama ayah ada di rumah. Baik ibu tunggu. Hati-hati dijalan ya Dan."  "Iya bu"  Ramdan tersenyum, lagi-lagi hatinya dilanda rasa khawatir. Tapi ia yakin ini adalah keputusan yang terbaik.  Rumah orang tua Ramdan berada di pinggiran kota, mereka sengaja meminta tinggal dipinggiran kota. Karena menurut orang tua Ramdan tinggal dikota terlalu ramai. Dimasa tua mereka ingin hidup tenang dengan bahagia.  Ya memang, orang tua Ramdan belum terlalu tua. Tetapi diumur yang menginjak lima puluhan, orang tua Ramdan sudah memiliki bekal yang cukup untuk di masa tua.  Dengan bisnis properti berupa kontrakan menghasilkan pendapatan pasif yang lumayan besar. Ditambah lagi Ramdan yang suka menyisihkan sebagian dari pendapatannya untuk orang tua nya.  Bahagia sekali bukan.  Jalanan tidak terlalu padat, menjadikan perjalanan Ramdan menuju kediaman orang tuanya tidak memakan banyak waktu.  Sampai di halaman rumah yang sederhana dengan pekarangan rumah yang luas, Ramdan keluar dari mobilnya dan segera masuk kedalam rumah.  "Assalamualaikum" Salam Ramdan memasuki rumah.  "Waalaikumsalam" jawab sang ibu  dengan senyuman.  "Gimana perjalanannya, lancar ?" Tanya Rani - ibu Ramdan.  "Lancar Bu, ayah dimana ?"  "Ayah ada didalam nunggu kamu"  Ramdan dan ibunya masuk untuk menemui Hendra - ayah Ramdan.  "Sudah sampai juga, mau makan dulu ?" Tanya Hendra ketika melihat anaknya.  "Engga yah, Ramdan udah makan."  "Oh iya." Jawab Hendra memahami diakhiri anggukan.  "Jadi mau membicarakan apa kamu kesini nak ?" Lanjut Hendra pada Ramdan.  Keluarga kecil itu sudah duduk berhadapan di ruang tengah.  Mendapatkan pertanyaan langsung dari sang ayah membuat Ramdan sedikit terkejut.  Ramdan berdeham  "Jadi begini yah, bu. Ramdan kan sudah memiliki usaha yang mencukupi, Ramdan juga jika dibilang sudah cukup umur untuk mendapatkan pasangan hidup." Ramdan menjeda ucapannya sekadar untuk melihat respon dari kedua orang tuanya.  Hendra dan Rani terlihat mengukir senyumnya mengerti.  Melihat senyuman itu, Ramdan melanjutkan ucapannya.  "Jadi Ramdan kesini untuk meminta restu dari ayah dan ibu untuk menikah dua minggu lagi."  "Eh," kaget sang ibu  "Ibu kira pasangan hidup yang kamu maksud, kamu akan mengenalkan seorang wanita kepada kami nak. Apakah tidak terlalu cepat dua Minggu lagi ?" Lanjut Rani  "Iya nak, kamu juga belum pernah mengenalkan wanitanya kepada kami. Apakah kalian baik-baik saja ? Maksud ayah, kamu gak ngehamilin wanita itu duluan kan ?" Tanya Hendra.  "Astagfirullah ayah ya engga lah. Ramdan juga minta maaf pada ibu dan ayah, karena kabar ini terlalu mendadak. Karena waktu pernikahan ditentukan sama papa wanita pilihanku yang sedang sakit." Jawab Ramdan.  "Kamu dijodohkan, merasa terpaksa atau tidak ?" Tanya Hendra selidik  "Engga yah, Ramdan udah kenal sama bapaknya sudah lama. Dan anak nya itu teman Ramdan ketika di SMA yah." Jelas Ramdan.  Kedua orang tua menarik dan menghembuskan nafas sebentar, saling berpandangan dan mencoba mengerti kepada Ramdan.  "Kalau Ayah setuju setuju saja, yang penting menurut kamu itu adalah pilihan terbaik untukmu." Ucap Hendra  "Ibu juga setuju, yang penting ibu juga sudah merasa bahwa kamu memang sudah sanggup untuk membangun rumah tangga ya silahkan. Ibu juga mengerti dengan keadaan calon besan." Tambah Rani.  Ramdan tersenyum mendengar jawaban dari kedua orangtuanya.  "Alhamdulillah kalau begitu, untuk acara pernikahannya Ramdan akan laksanakan dengan sederhana saja dirumah sakit, nanti ayah sama ibu datang ya." Ucap Ramdan dengan senyuman.  Hendra dan Rani tersenyum menanggapi.  Waktu mengalir, menceritakan Sinta dan Reyno serta bagaimana pernikahan ini akan dilangsungkan.  Ramdan berharap supaya acara pernikahannya dapat terlaksanakan sebagaimana mestinya.  Semoga keputusan nya ini di ridhoi oleh Allah. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD