Sumpah ko gue asal iya aja ya ?
Nikah ?
Minggu depan ?
Sama si Ramdan ?
Arrrhg s**t
Senyum papa bahagia banget sih, kan jadi kemakan perangkap sendiri gue.
Terus sekarang gue harus ngapain ?
AHA ! gue curhat aja kali ya ke si Ale-Ale siapa tau dia bisa punya solusinya.
Gue buka hp gue dan mulai nyari tuh roomchat nya dia sama gue, ketemu.
Langsung aja gue bombardier tu chatnya
Me
P
P
P
P
P
P
P
( √√ )
Wah gila centang dua tapi ga di baca.
P
P
P
P
P
P
P
(Read)
Udah di read, tapi liat aja sebelum dia bales gue BOM terus haha
Ale-Ale
(mengetik)
Me
P
P
P
P
P
(Read)
Ale-Ale
Woy woy woy berenti wooooy
Me
P
P
P
Hehehe
(Read)
Ale-Ale
Ngapa Bebkooh ???
Me
Ketemuan yok, ada yang mau gue ceritain
(Read)
Ale-Ale
Apaan emang ?
Me
Panjang pokonya ale-ale ih, cepetan iya aja napa
Ale-Ale
Ya deh iya iya, ayok dimana ? Cafe biasa ?
Me
Yups, gue otw sekarang ya.
Awas lo cepetan jangan lama.
Ale-Ale
Iya iya bawel bet dah
AUTHOR POV
Setelah mengajak temannya untuk bertemu, Aurel kembali ke kamar rawat ayahnya 2
Pintu terbuka menyuguhkan pemandangan sang ayah yang sedang berbincang bersama dengan Ramdan, sesekali Reyno - ayah Sinta juga tertawa kecil.
Sinta mendekat
"Emm pah, gimana udah baikan ?" Tanya Sinta mengalihkan pandangan Reyno dan Ramdan kepadanya.
"Eh kamu, dari mana ? Papa udah mendingan tadi ngobrol sama Ramdan, eh malah ngelucu haha" Jawab Reyno diakhiri dengan tawanya.
Setidaknya melihat Reyno tersenyum bahkan tertawa seperti ini membuat Sinta bahagia.
"Aku ga dari mana-mana ko pah. Tadi kebetulan ada yang telepon sebentar."
Reyno yang mengerti arah pembicaraan anaknya itupun tersenyum dan berkata
"Kalo sekiranya penting gapapa, papa udah baikan ko di tinggal sama Ramdan juga udah cukup. Huss kamu pergi aja sana"
Setelah mengucapkan itu, Reyno terkekeh melihat anaknya yang cemberut.
"Papa ko jadi ngusir aku gitu sih, ish"
"Yaudah iya engga, papa ga ngusir kamu. Oh papa tau, pasti kamu cemberut gitu bukan karena diusir tapi karena pengen perginya sama Ramdan ya ?" Tanya Reyno dengan aksen jenakanya.
Merasa mendapat tuduhan ingin bersama dengan Ramdan, Sinta pun membelalakkan matanya.
"Ih ya engga lah, aku sendiri aja. Kan dia jagain papa"
"Gimana Ramdan ? Kamu mau jagain papa atau anak papa itu ?" Tanya Reyno pada Ramdan.
Ramdan terlihat kikuk mendapat pertanyaan semacam itu.
"Ramdan kira lebih baik Ramdan sama pap-pa saja, sekalian kan siapa tahu Sinta memang ada kepentingan yang serius dengan kliennya."
"Oh iya ya, masa Sinta meeting sama kliennya bawa-bawa kamu hahaha"
Semenjak mengobrol beberapa saat lalu, Reyno meminta Ramdan untuk memanggilnya dengan sebutan papa.
Dan memanggil papa kepada Reyno dihadapan Sinta langsung cukup bisa membuat jantungnya terpompa dengan cepat.
"Emm, jadi Sinta pergi dulu ya pa. Maaf ya Sinta gabisa lama sama papa." Ucap Sinta dengan raut wajah sedihnya.
"Iya gapapa, hati-hati dijalan."
Sinta mengangguk lalu memeluk ayahnya dan bergegas menuju pintu untuk keluar.
Baru beberapa langkah Sinta beranjak, Reyno menegurnya.
"Sinta,,"
"Apa pah ?" Tanya Sinta setelah membalikan tubuhnya menghadap ayahnya.
"Kamu ga pamitan juga sama calon suami kamu ? Peluk gitu ?"
Dapat dilihat wajah Sinta sudah memerah antara malu bercampur marah.
Untuk apa peluk si Ramdan ? Ih engga banget, musuh. Ucap Sinta dalam hati
"Papa ish, ngapain mesti gitu gitu segala ah. Ga usah" Ketus Sinta
"Kan ke calon suami Sin"
"Kan ga muhrim juga pah"
"Ya udah nikahnya percepat biar jadi muhrim"
Arrrrrgh emang ya papa ko maksa bet dah
Dengan langkah seribu Sinta mendekati Ramdan. Tangannya ia rentangkan hendak memeluk Ramdan agar ayahnya bungkam.
Namun, Sinta tersadar akan siapa Ramdan yang sebenarnya.
Diurungkannya kembali tangan yang sudah mengapung diudara, lalu Sinta meraih tangan Ramdan dan menciumnya layaknya anak SD.
Dengan Sinta yang mencium tangannya, Ramdan diam tak bergeming sembari terus menatap lekat kepala Sinta yang berada di tangannya.
"Pah kita tuh bukan muhrim ya, jadi aku cium tangannya aja ya ?" Ucap Sinta kepada ayahnya dengan senyum yang merekah kemudian pergi meninggalkan ruangan rawat ayahnya tersebut.
Setelah mengendarai mobilnya dalam kondisi jalanan yang macet, akhirnya Sinta sampai di cafe tempatnya dan Ale sang sahabat bertemu.
Ale terlihat sudah duduk di meja dekat kaca cafe yang menghadap langsung ke jalanan.
"Hai le" Sapa Sinta dengan wajah lesunya.
"Oh, eh dari mana aja lu, baru sampe ? Gue nunggu udah satu abad tau ga ?"
"Ih si Aleeeee, gue mau curcol leee" Erang Sinta
"Apaan ?"
"Gue dijodohin"
"APA ?"
"Papa serangan jantung"
"WHAT ?"
"Yang dijodohin sama gue ternyata si Ramdan"
"WANJIR"
"Ish lu mah malu-maluin. Diem aja napa duduk trus dengerin beres"
"Ih anjrit gue masih ga ngerti." Ucap Ale dengan wajah polosnya
"ga ngerti apaan lagi ?" Tanya Sinta kesal
"Ko hidup lo banyak banget masalah sih"
"Ish gue juga kaga tau Le"
Mereka berdua terdiam. Hanyut dalam pikiran masing-masing
BRAKKK "MAMPUS LO TA !" Teriak Ale dengan menggebrak meja.
Sinta menatap sekeliling lalu menatap Ale tajam
Sama halnya dengan Sinta, Ale menatap Sinta dan mendekat.
"Mampus lo ta berurusan sama dia yang mungkin ngebales lo dengan bantuan langsung dari Tuhan."
"Maksud lo apaan sih ?"
"Ya diakan agamis, bisa aja dia bales dendam ke elunya dengan cara doa ke Tuhan. Dan Tuhan dengan mudahnya memberikan dia bala bantuan buat nyerang lo Ta." Jawab Ale dengan ekspresi seakan-akan sedang menyaksikan kengerian.
Sinta terdiam sesaat.
"Lah bodo amat, orang gue ga ngerasa punya salah apa-apa sama dia." Ucap Sinta kemudian dengan santainya.
"Euuuh,, yaudah trus itu gimana cerita lengkapnya ? Gue ga paham." Tanya Ale
Mengalirlah cerita Sinta yang dimulai dari pertemuannya dengan Ramdan yang menjadi seorang mitra kerjanya berlanjut kepada ayahnya yang jatuh sakit secara tiba-tiba dan terakhir pada titik dimana ayahnya menceritakan rencananya untuk menjodohkannya dengan Ramdan. Semuanya ia ceritakan kepada Ale sahabatnya.
"Ya lo b**o, udah tau perjodohan itu pasti nikah, eh elu malah nerima dijodohin tapi magau nikah gimana sih" Ucap Ale gemas
"Ya kan gue kaga engeuh leee, yang ada dipikiran gue cuma satu. Papa bahagia, titik."
Ale menarik nafasnya panjang dan memegang bahu Sinta
"Ya mau gimana lagi, gue juga bingung kalo ada diposisi lo. Ya tapi saran gue kalo kata hati lo lebih kuat buat bikin papa lo bahagia dari pada mementingkan ego lo sama si Ramdan lebih baik lo terima aja pernikahan ini."
Hufffft
"Oke. Gue yakin bikin papa bahagia." Ucap Sinta dengan lugas.
Dengan mengangkat tangannya bak seorang pahlawan yang sedang menyeruakan kekuatan dan keberanian dengan suara yang mengeras Sinta melanjutkan ucapannya.
"Gue bakal nikah sama si Ramdan. SEMANGAT" Di tanggapi Ale oleh senyum yang tak kalah mengembang.
"Semangat Sinta" Ucap seorang pria yang tiba-tiba menanggapi ucapannya
"Ramdan ?"
"Mampus"