Aster telah sampai pada satu keputusan yang telah ia pikirkan baik-baik dari semalam sampai tak sempat untuk tidur. Bahkan ia sudah berkomunikasi dengan Pandu salah satu temannya yang bisa dipercaya perihal ini tadi malam. Saran kecil dari temannya cukup terlibat dalam keputusannya ini.
Selain itu, beberapa pertimbangan telah ia pikirkan terkait reaksi Maminya tentang Sisil yang ia tahu hanyalah seorang pelayan kafe tanpa pendidikan yang cukup tinggi. Tentunya sangat penting bagi Aster untuk memikirkan alasan ia menikahi Sisil untuk meyakinkan Maminya.
Rencananya untuk beristirahat dengan sumpeknya pikiran, tak terlaksanakan karena rasa kantuk yang hilang bagai ditelan bumi. Meski semalaman tak tidur, wajahnya yang lesu dan sayu tergantikan dengan wajah cerah dan segar setelah mandi.
Lelaki berkarismatik dengan pesonanya yang tak pernah habis itu berdiri di depan cermin seraya mengancingkan satu persatu kancing kemeja biru tuanya. Kemudian, ia menyemprotkan parfume di beberapa bagian tubuhnya.
Tak lupa ia memakai jas hitamnya. Bukan ya, bukan jas hujan, karena ia juga bukan ingin menembus badai. Aster sengaja tak memakai dasi agar tidak terlalu formal. Takutnya Aster semakin mempesona. Jadi, ia biarkan satu kancing di kerah kemejanya terbuka.
Aster harus memastikan Rianti lewat tampilannya bahwa ia akan menjemput calon istrinya. Yap, Aster berniat melamar Sisil. Dia berniat membantu perempuan itu. 100 hari bukanlah hal yang sulit. Dalam waktu selama itu, Aster akan berusaha mencari istri yang cocok untuknya. Tak sulit pula mencari alasan bercerai nantinya.
Hal itu juga menguntungkan untuknya. Rianti tidak akan mengoceh lagi minta cucu. Setelah ia menikah, secara tidak langsung Aster akan diizinkan untuk minggat dari rumah. Masa iya sudah menikah Aster masih tinggal dengan orang tua? Malu ‘lah sama umur dan profesi.
"Wihhh! Anak Mami ganteng banget? Mau kemana?" tanya Rianti saat melihat kedatangan anaknya di ruang makan.
"Mau kerja, sekalian mampir ketemu calon istri," jawab Aster setelah duduk di depan Rianti.
Rianti yang mendengar jawaban itu senang bukan main. "Masa iya? Sekarang kamu beneran mau bawa calon ke rumah? Dia siapa? Kerjaannya apa? Orang tuanya kerja apa? Atau marga keluarganya apa? Siapa tahu Mami sama Papi kenal."
Aster memandang lurus Rianti dengan tatapan lesu dan helaan napas lelah. Boro-boro tahu seluk-beluknya, orang Aster baru kenal Sisil kemarin malam.
"Mami bisa simpan pertanyaan itu setelah ketemu dia,'kan? Tapi Mami harus janji dulu, jangan terus-terusan minta cucu lagi setelah Aster nikah. Janji?"
Rianti mengangguk antusias. "Mami nggak janji. Tapi Mami seneng banget akhirnya kamu mau bawa calon juga ke rumah. Siapa namanya, sayang? Mami pengen tahu dong?"
"Nanti, Miiiii...." Aster berusaha untuk lembut pada Rianti.
"Dia lulusan apa? S1? S2? Atau dia juga dokter kayak kamu?"
Lagi-lagi, Aster menghela napas. Saat ia hendak menyuapkan nasi ke mulutnya, Rianti malah terus bertanya. Akhirnya, nasi itu belum juga masuk ke mulut.
"Sudah, Mi. Biarkan Aster makan dulu. Dia harus mengisi perutnya," ujar Wira yang menengahi.
Aster tersenyum kagum pada Ayahnya. Tumben sekali Wira ada di pihaknya. "Papi makin hari makin ganteng ya?" pujinya.
"Mau apa kamu?" tanya Wira tiba-tiba seakan tahu arti pujian itu.
"Hehe... Aster cuma mau minta satu rumah yang ada di komplek sebelah, boleh'kan?" pinta Aster.
Rianti mengerutkan keningnya dengan mata menajam. "Kamu mau pindah rumah?" selanya.
"Ya iyalah, Mi. Setelah Aster menikah, Aster nggak bisa tinggal lagi di rumah ini."
"Kita jadi cuma berdua dong di rumah?"
"Ya biasanya juga emang berdua. Kan Aster juga jarang pulang, Mi."
"Tapi Mami bakalan kangen sama kamu, sayang."
"Boleh, kamu harus belajar mandiri setelah menikah," putus Wira.
"Lho? Pi! Gak bisa gitu dong!" tukas Rianti.
Wira melirik istrinya dengan wajah datarnya. "Aster harus mandiri."
"Tapi Mami pengen Aster tinggal di rumah ini bareng istrinya!"
"Dia juga memiliki hak untuk memilih!"
"Nggak bisa, Mami yang harus putuskan!"
Aster yang nafsu makannya sudah hilang akibat melihat berdebatan Rianti dan Wira, lantas menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sedikit heran ia pada Ibunya itu, kenapa bisa ia merumitkan hal yang belum pasti kedepannya. Bahkan, Aster saja belum tentu akan bertemu dengan Sisil. Siapa yang tahu perempuan itu tengah menipunya?
Karena tak mau ambil pusing, Aster pamit pada kedua orang tuanya. "Mi, Pi, Aster pergi dulu ya?"
"Papi, gak bisa memutuskan hal itu sendiri!"
"Mami! Aster sudah dewasa!"
"Bagi Mami Aster masih anak-anak!"
Aster meringis saat telinganya terasa panas akibat mendengar adu mulut keduanya. Pamitnya pun sama sekali tak didengar oleh Wira dan Rianti. Tidak apa-apa'lah, yang pentingkan dia sudah pamit.
***
Aster menghentikan mobil ferrari hitamnya di depan sebuah halaman rumah. Bukan, ketika ia menelisiknya lebih teliti, bangunan itu tidak seperti rumah pada umumnya. Namun, seperti yayasan. Aster berjalan lebih dekat.
Dan benar saja, bangunan yang agak kuno itu bukan rumah, melainkan yayasan panti asuhan. Buktinya, banyak anak-anak yang bermain di pekarangan bangunan itu.
Kerutan di kening yang nampak semakin jelas.
Muncul banyak dugaan di kepalanya, Apakah perempuan semalam tengah mengerjainya? Ia lirik lagi dengan penuh seksama tulisan pada secarik kertas di tangannya. Tapi memang benar ini tempatnya. Hanya saja, Aster merasa sedikit aneh. Akan lebih baik jika ia memastikan dengan bertanya pada penghuni di tempat ini. Kebetulan sekali ada satu bocah perempuan yang Aster tebak umurnya di antara 10 atau 11 tahun.
"Dek, boleh tanya sesuatu?" tanya Aster.
Bocah yang baru saja lewat itu lantas menoleh. "Tanya apa, Om?"
Dipanggil dengan sebutan Om tidak masalah sih. Demi apapun tidak masalah, hanya saja wajahnya tak setua itu untuk dipanggil Om. Bahkan dirinya saja belum menikah. Kalo di rumah sakit disebut bapak juga tidak masalah karena hal yang formal. Tapi kalo di lingkungan luar, Aster agak tak terima, tapi sekarang bukan waktunya protes dan mempermasalahkan hal itu.
"Kamu kenal perempuan yang bernama Sisil nggak?" tanya Aster menghiraukan rasa mindernya.
"Mbak Sisil?"
Aster seketika membelingarkan matanya, ia seperti menemukan titik terang. "Nah iya, kamu kenal dia?"
"Mbak Sisil ada di dalem. Biar aku panggilin ya, Om?"
"Boleh. Saya tunggu di sini ya?."
Gadis kecil itu berlari kearah pintu utama. Sementara di tempatnya, Aster menunggu sambil menyebarkan pandangannya ke segala arah. Ada taman bermain anak-anak, halaman yang luas, dan saat Aster berbalik ke arah lain, ia melihat sebuah danau yang sangat indah.
Tempat itu masih asri dan jauh dari huruk pikuk udara yang kotor seperti di kota. Pantas saja Aster membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di tempat ini, karena memang tempat ini brgitu terpencil, tapi letaknya bukan di perkampungan, masih di sekitar ibu kota. Namun, Aster sedikit tak menyangka di kota yang begitu padat penduduk ini, masih ada tempat yang lingkungannya sejuk dan bersih.
"Pak dokter?"