"Pak dokter?"
Ketika mendapatkan panggilan dari seseorang, sesegera mungkin Aster berbalik. "Sisil?" cetusnya.
Gadis dengan rambut digerai lurus tanpa hiasan apapun itu berdiri dengan ekspresi wajah yang tak percaya. Sisil sama sekali tak mengharapkan Aster akan datang, karena dari semalam Sisil sudah meyakinkan dirinya bahwa lelaki itu tidak akan mau menemuinya lagi. Tapi rupanya persepsi dirinya terhadap Aster itu salah, buktinya Aster datang dengan sendirinya.
"Sisil nggak pernah menyangka Pak dokter akan datang ke alamat yang Sisil tulis di kertas kecil itu." Sisil melirik ke tangan Aster yang terdapat kertas berisikan alamat di sana.
"Jadi, saya harus memulai dari mana?"
“Kita masuk saja dulu, Pak dokter. Ada seseorang yang harus ditemui terlebih dahulu untuk memulainya. Tapi tentang kesepatan 100 hari ini ... hanya kita saja yang tahu ya, Pak dokter?” pinta Sisil.
“Baik kalo begitu.”
***
"Jadi maksud kedatangan kamu ke sini mau melamar Sisil?" tanya seorang wanita paruh baya dengan hijab di kepalanya.
Aster yang duduk seraya menyatukan tangan di antara dua lututnya, lantas mengangguk pasti. "Iya, Bu. Saya ingin melamar, Sisil."
"Sudah berapa lama kamu mengenal Sisil?"
"Sudah dari tiga bulan yang lalu. Iya'kan, Pak dokter?" sela Sisil yang memberikan kode lewat tatapannya pada Aster.
"Eee... Iya, kami tidak sengaja dipertemukan. Dan saya jatuh cinta pada Sisil," ucap Aster yang mengada-ngada.
"Sepertinya kamu memang cocok untuk Sisil. Tidak ada alasan untuk saya menolak niat baik kamu, apalagi ini menyangkut masa depan Sisil. Biar Sisil yang memutuskan," tutur Bu Ningrum-Pemiliki panti asuhan.
"Sisil mau kok, Bu. Sisil sudah banyak nyusahin ibu di sini. Jadi, lebih baik Sisil menerima lamaran Pak dokter, supaya Sisil bisa menjadi tanggung jawab Pak dokter."
"Iya, Bu. Saya sudah yakin akan menikahi Sisil." Aster tersenyum canggung pada Bu Ningrum.
"Kalo begitu, Ibu setuju saja dengan keputusan kalian."
Setelah kecanggungan itu, suasana perlahan mencair. Bu Ningrum banyak bertanya mengenai siapa Aster, nama lengkapnya, apa pekerjaannya, lalu apa kebiasannya.
Aster bahkan berkali-kali tertawa kecil akibat lelucon Bu Ningrum yang sesekali keluar dari mulutnya. Tidak lucu sebenarnya, tapi Aster sedang berusaha untuk menghargai. Tidak baik'kan kalo orang tua lagi ngelawak terus kita malah adem-adem tidak ada ketawanya?
Sementara Sisil yang duduk di samping Bu Ningrum, menyorotkan tatapan kagum pada Aster. Tutur kata Aster begitu sopan. Lelaki itu pandai sekali mengambil hati Bu Ningrum dengan tutur katanya yang bijak dan berwibawa serta penuh keyakinan.
"Kalo begitu, kalian ngobrol-ngobrol saja dulu. Ibu harus memasak untuk makan siang anak-anak," ujar Bu Ningrum.
"Oh iya, Bu," balas Aster.
"Sisil, bawa nak Aster jalan-jalan ke sekitar danau. Dia pasti suka dengan pemandangan di sini," titah Bu Ningrum pada Sisil.
Sisil mengangguk nurut. Kemudian, ia beralih pada Aster. "Ayo, Pak dokter!"
Akhirnya, mereka keluar dari ruang tamu. Namun, matanya tak lepas dari anak-anak kecil yang tengah bermain di halaman. Yang menimbulkan pertanyaan di kepalanya adalah, kenapa Sisil berada di tempat ini?
"Pak dokter," panggil Sisil yang sudah berjalan beberapa langkah di depannya.
Aster sadar dari lamunannya. Lalu, langkahnya ia percepat untuk menyusul Sisil. Setelah menapaki beberapa meter perjalanan, mereka sampai di tepi danau yang airnya tenang dan pastinya danau itu dalam. Karena yang tenang selalu menghanyutkan. Ya, begitulah menurut pepatah.
Mereka duduk di sebuah kursi kayu yang ada di bawah pohon pinus. Dalam waktu yang cukup lama mereka terdiam. Hanya ada suara kicauan burung dan angin yang menyapu permukaan air danau. Berada di dekat danau, membuat mereka merasa lebih dekat dengan langit, karena langit cerah itu memantulkan cahayanya pada air danau yang begitu damai..
Situasi lengang pada keduanya berakhir karena beberapa pertanyaan di kepala Aster yang belum terjawab. Aster memulai percakapan, "Kalo boleh saya tahu, kenapa kamu tinggal di sini?"
Yang semulanya Sisil menatap lurus ke depan, kini ia menengok langsung pada Aster. "Karena saya anak panti asuhan."
"Ekhem!" Aster berdeham canggung. "Maksud saya apa yang membuat kamu tinggal di sini? Kamu nggak perlu jawab kalo keberatan."
Sisil menggeleng. "Sisil sama sekali nggak keberatan. Pak dokter memang harus tahu siapa Sisil,'kan? Selama 100 hari Sisil akan menjadi istri yang baik untuk Pak dokter."
"Kalo begitu, Sisil akan mulai dengan perkenalan diri Sisil terlebih dahulu. Nama lengkap Sisil Samirah. Umur 21 tahun. Kedua orang tua Sisil meninggal saat Sisil masih kelas satu SD. Dan Sisil beruntung masih bisa tinggal di panti asuhan karena teman-teman Sisil yang lain sudah diadopsi sejak lama," terang Sisil panjang lebar.
"Kebetulan Sisil kerja di kafe tempat semalam kita bertemu," tambahnya.
Sedangkan Aster menyimak setiap perkataan yang keluar dari bibir tipis itu. Dan ia juga memperhatikan setiap gerakan tangan Sisil yang seakan ikut berbicara. Sisil terlihat menarik dengan wajah yang berseri tanpa melepaskan senyuman di wajahnya. Wajah Sisil itu hangat, ramah, dan lembut. Aster bisa menebak bahwa raut wajah itu mampu mengeluarkan berbagai macam ekspresi.
"Sisil suka warna merah muda, dan biru muda. Sisil juga suka masak. Selama Sisil masih jadi istri Pak dokter, Sisil nggak bakalan biarin perut Pak dokter kosong," celotehnya.
"Sil."
"Sisil juga bakal siapin segala keperluan Pak dokter, nyuci baju Pak dokter, dan Sisil juga bisa bersihin rumah dengan baik."
"Sisil," panggil Aster.
Aster mengetahui satu fakta tentang kebiasaan Sisil, yaitu berbicara panjang lebar tanpa menatap langsung lawan bicaranya. Saking asiknya, Sisil sampai tak menyadari Aster terus memanggilnya.
"Sisil pokoknya bakalan jadi istri yang baik buat Pak dokter. Gimana? Pak dokter sene-"
Perkataan Sisil terpotong oleh tatapan Aster yang tak sengaja ia temukan. Ditatap lekat seperti itu oleh lelaki setampan Aster membuat degup jantung Sisil berdetak lebih cepat dari biasanya. Detak jantung yang tak biasa ini mulai beradaptasi lewat darahnya yang mengalir dengan kehangatan yang berbeda.
"Saya panggil kamu dari tadi. Kamu malah asik sendiri." Aster terkekeh kecil.
"Saya mau ajak kamu ketemu sama orang tua saya. Sekarang, kamu siap-siap ya, Sil?" titahnya.
Sisil yang melongo, lantas mengangguk dengan gelagapan. "I-ya, Pak dokter."