Pernikahan

1250 Words
Suasana tegang memenuhi ruangan dengan sofa mewah serta nyonya dan tuan pemilik rumah yang duduk dengan wajah tanpa ekspresi di hadapan Aster dan Sisil. Rianti memandang penampilan Sisil dari bawah sampai atas. Penampilannya yang sangat sederhana membuat wanita lanjut usia itu memandang aneh. Dalam pikirannya seperti ini kira-kira, "Apakah yang akan menjadi menantu dan yang akan melahirkan pewaris tahta keluarga Adinata adalah wanita seperti ini?" Rambutnya dicepol. Memakai dress motif bunga-bunga selutut dengan warna pastel. Dan tas slempang yang tersampir di bahunya. Penampilannya itu terkesan seperti anak remaja. Itulah yang membuat Rianti tak percaya dengan perempuan yang dibawa oleh putranya. "Apa pendidikan terakhir kamu?" Sisil yang semulanya menunduk, kini mendongak dengan wajah gugup. Tangannnya yang sudah berkeringat itu saling bertautan. Makin gugup kala tatapan Rianti semakin mengintimidasi. "S-saya lulusan SMA." Rianti mengerutkan keningnya dengan ekspresi wajah tak percaya. Kemudian, ia beralih pada putranya yang sedari tadi hanya diam. Sama gugupnya, tapi entah apa yang Aster gugupkan. Mungkin takut perihal Sisil yang tidak diterima oleh orang tuanya. "Kamu beneran bawa dia kesini sebagai calon istri kamu, Aster?" Menghadapi pertanyaan Rianti, Aster lantas mengangguk dengan mantap. "Iya, dia yang akan menjadi istri Aster." "Tapi pendi-" "Mi," tegur Aster berusaha selembut mungkin. "Apapun pendidikan terakhir perempuan yang menjadi istri Aster, Aster akan terima. Karena itu tidak menjadikan Aster kehilangan harga diri sebagai seorang lelaki." Sisil memandang Aster dari samping dengan tatapan kekaguman. Lelaki itu sama sekali tak berubah sejak dulu. Masih tetap menjadi lelaki bijak yang pernah Sisil temui. Sisil tersenyum simpul saat ingat pertama kali mereka bertemu di waktu yang sangat lampau. Rianti menghela napas agak kasar. Ia melirik suaminya. "Menurut Papi, gimana?" Wira yang sedari tadi hanya diam akhirnya angkat bicara. "Aster yang akan menikah. Dia yang berhak memutuskan. Papi hanya akan menuruti putra Papi satu-satunya." "Mami nggak bisa mempercayai perempuan itu untuk melahirkan seorang penerus keluarga Adinata," cetus Rianti yang masih tak luluh juga. "Kapan kamu ingin melaksanakan pernikahan?" sela Wira yang langsung bertanya pada Aster. "Secepatnya. Tapi, Aster tidak ingin pernikahan yang terlalu mewah. Hanya acara sederhana saja," putus Aster. Mendengar putusan dari mulut anaknya, Rianti sudah memasang wajah berangnya. "Nggak! Kita adakan pernikahan yang mewah. Mami akan mengundang seluruh rekan-rekan Mami dan Papi. Kalo hanya acara biasa saja, mau ditaruh di mana muka Mami?" "Ya, di tempatnya'lah!" celetuk Aster. "Aster, kamu jangan aneh-aneh deh!" "Mami yang aneh-aneh, orang Aster pengennya acara biasa. Kalo terlalu mewah sayang uang, mendingan uangnya didonasikan ke yayasan atau apalah. Pokoknya Aster nggak mau pernikahan yang terlalu mewah!" tegasnya. "Putra Papi memang bijak. Papi bangga padamu, Nak!" Wira tersenyum bangga pada anaknya itu. Entah kenapa, akhir-akhir ini Wira selalu membela Aster di depan ibunya. Rianti melipat tangannya di depan d**a dengan hidung mengembang tanda menahan emosi. Namun, ia redamkak kembali dengan memalingkam wajahnya. "Perkenalkan saya dengan orang tua kamu," ucap Rianti setelahnya pada Sisil. Sisil melirik Aster dengan ragu. Setelah mendapatkan kepastian lewat tatapan lembut dan anggukan samar dari lelaki itu, barulah Sisil menjawab, "Saya tinggal di panti asuhan, dan saya yatim piatu." Detik itu juga, Rianti memijat keningnya dengan sedikit frustasi. "Kamu yakin dia bisa mendidik anak kamu kelak? Bahkan dia saja tidak dididik langsung oleh orang tuanya!" Aster sesaat terdiam pandangannya terlihat tak meyakinkan. Ia juga sebenarnya tak yakin akan hal itu. Namun, saat mengingat pernikahan ini hanya berumur 100 hari, ia akan berpura-pura yakin saja. "Sisil seorang wanita, di panti asuhan dia membantu ibu panti untuk merawat anak-anak yang senasib dengannya. Aster yakin, Sisil akan menjadi ibu yang baik untuk anak Aster kelak." Sisil meremas dressnya, seandainya ia meminta pada Tuhan untuk memiliki kesempatan itu. Akankah Tuhan mengijinkan? Ia berjanji akan menjadi istri yang baik dan ibu yang mendidik anaknya penuh kehangatan. Namun, Sisil ragu akan sampai pada hal itu. Aster selalu sukses membuat Rianti bungkam dengan tutur katanya yang sangat teratur dan terdidik tanpa menjatuhkan. Pada akhirnya, Rianti luluh juga. Tatapan yang tertuju pada putra semata wayangnya itu melemah. Lalu, kedua sudut bibirnya terangkat. "Kamu selalu bisa membuat Mami nggak bisa melarang. Jika itu bisa membuat kamu merasa bahagia dengan menikahi gadis ini, Mami akan setuju. Asalkan, gadis ini bisa merawat kamu dengan baik," tutur Rianti. Akhirnya, Sisil mendapatkan senyuman penuh kehangatan dari seorang nyonya di rumah ini. Kekhawatiran di hatinya perlahan memudar kala Aster menatapnya lagi. Tatapan lelaki yang akan menjadi suaminya itu egitu tenang dan damai. *** "Saya terima nikahnya Sisil Samirah binti Alm. Farhanudin dengan seperangkat alat solat dan mas kawin berupa uang senilai satu miliar dibayar tunai." Sisil yang duduk di samping Aster melongo tak percaya. Sebanyak itu'kah? Bahkan ia tak membayangkan Aster akan mengeluarkan uang dalam jumlah yang banyak untuk mas kawinnya. Ah, mungkin saja itu hanya formalitas. Aster dari keluarga terpandang, jadi tidak aneh jika mas kawinnya sebanyak itu. "Bagaimana para saksi? Sah?" "SAHHH!" "Alhamdulillah!" Aster mengusap wajahnya. Kemudian, ia menoleh pada Sisil yang sedari tadi terus menatapnya dengan mata yang sudah berair, jika sedikit saja berkedip mungkin akan meluncur bebas melewati make up yang menempel di wajahnya. Terharu tentunya meskipun Aster tak ikut merasakan keharuan itu. "Sil?" panggil Aster. Sisil mengerjap pelan. Ia tersadar bahwa tangan Aster sudah terangkat dan siap untuk ia cium. Lalu, ia meraih tangan tersebut dan menciumnya dengan cukup lama. Setelah melewati waktu yang cukup panjang untuk segala persiapan pernikahan ini, akhirnya mereka sampai di titik ini. Titik dimana mereka harus menjalankan peran masing-masing dalam rumah tangga tanpa dasar cinta ini. Sesuai dengan keinginan Aster, pernikahan berkonsep Rustic ini terlihat sederhana dan tak banyak tamu undangan yang datang. Toh ini juga bukan momen yang spesial, yang orang lain kira, begitu pikir Aster. "Woyyy, broh! Sold out juga lu akhirnya!" seru Noah yang menghampiri Aster dan Sisil di pelaminan. "Iyalah, gue udah bilang'kan? Nanti juga ada jodohnya," balas Aster sambil bersalaman dengan temannya itu. Kemudian, Noah beralih pada Sisil yang sedari tadi hanya senyum tipis. "Hati-hati ya, mbak. Dia kalo main suka kasar, hahaha!" Sisil mengerutkan kening dengan wajah polosnya. "Main? Main apa emang?" Noah sempat menganga ditempatnya. "Gak tau, ya? Itu main ancol-ancolan." Puk! "Awwwhh!" ringis Noah saat menerima pukulan di punggungnya. "Udah. Gak perlu ngomong yang aneh-aneh! Kebiasaan deh!" tegur sang istri yang berada di belakangnya. "Aseeek! Aster akhirnya bisa ngerasain mesra-mesra sama istri nih!" sahut Pandu yang ada di sana. "Selamat, bro. Gue harap dengan pernikahan ini lo selalu bahagia," ucap Vano saat menyalami Aster dan Sisil. "Thanks, No. Gue seneng kalian dateng." "Harus, dong! Masa iya kita gak dateng ke nikahan orang sugih kayak lu. Kan mayan makan-makan!" timpal Pandu. Padahal Pandu sama sugihnya, tapi tetap saja dia nyerobot kalo sudah datang ke acara seperti ini. Jika ditanya yang makan paling banyak di acara nikahan setiap yang mengundang, jelas mereka akan menjawab, Pandu. "Sana, makan dulu kalian semua. Sepuasnya, ambil aja apapun yang kalian mau!" "Yaudah kalo gitu, gue sama istri makan dulu ya, Ter. Lo jangan kaku-kaku amatlah sama istri. Tawarin dia minum, pucet gitu'loh mukanya." Noah jelas mengada-ngada. Padahalkan wajah Sisil dilapisi make-up, kalo pun pucat tak akan terlihat. Meski begitu, Aster tetap menawari untuk antisipasi jika saja Sisil Haus. "Kamu mau minum, Sil?" Sisil mengusap lehernya. "Iya, Pak dokter. Sisil haus." "Tunggu di sini ya, Sil. Biar saya ambilin." "Emangnya boleh, Pak dokter?" "Saya juga haus. Biar sekalian saya ambilkan." Sisil lantas mengangguk dan membiarkan Aster pergi mengambil makanan dan minuman untuknya. Di posisi duduknya, Sisil tertunduk sambil memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sakit. Setelah berusaha ia menahannya, akhirnya rasa sakit itu hilang dengan sendirinya. Sekarang, ia bisa bernapas lega, dan tersenyum saat Aster kembali ke tempatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD