Sedikit Sesal

1019 Words
Setelah terus memasang senyuman untuk para tamu undangan meski tak banyak, tetap saja membuat bibir Aster terasa pegal. Ia berkaca di cermin, merenggangkan kembali pipinya yang terasa kaku. Kini pengantin baru itu tengah berada di kamar luas milik Aster. Di sofa, Sisil hanya duduk dengan piyama polos di tubuhnya. Ia memijat-mijat bahu dan kakinya yang terasa pegal. Dari cermin, Aster bisa melihat apa yang Sisil lakukan. Ia jadi teringat perihal tujuan pernikahan mereka sekarang. Lalu, ia ikut duduk di sebuah kursi tunggal yang berada di sudut kamar. "Sisil," panggil Aster. Sisil menoleh, kedua alisnya terangkat. "Iya? Kenapa, Pak dokter?" "Saya cuma ingin memastikan tentang pernikahan ini. Jadi, bagaimana?" "Eeemmm...." Sisil mengetuk-ngetuk dagunya sendiri dengan pandangan terangkat. "Biar Sisil mulai sekarang aja diskusinya ya, Pak dokter?" "Oke. Biar saya dengarkan perkataan kamu." "Sisil akan berperan menjadi istri yang baik selama 100 hari ke depan. Dan Sisil juga siap jikalau Pak dokter butuh...." Jari telunjuk Sisil menyatu dengan wajah malu-malu. "Oke-oke saya mengerti. Lanjutkan." "Selama Sisil menjadi istri untuk Pak dokter, Sisil nggak bakalan larang Pak dokter untuk dekat dengan siapapun karena Sisil nggak berhak atas itu. Jadi, Pak dokter tenang saja." Aster mengetuk-ngetuk kakinya ke lantai. "Eee... Bagaimana kalo setelah kita pindah ke rumah baru, kita tidur di kamar terpisah? Saya hanya ingin menjadi yang pertama untuk istri saya kelak. Kamu pasti mengerti, karena saya menikahi kamu hanya sekedar membantu saja. Itu bukan berarti kita bisa berhubungan layaknya suami istri. Saya juga butuh ruang privasi." Sisil terdiam sesaat seraya memandang Aster dengan ekspresi tak tertebak. Setelahnya, ia menerbitkan senyuman seperti biasanya. "Gapapa kok, Pak dokter. Sisil akan setuju jika itu bisa membuat Pak dokter nyaman." "Baiklah kalo begitu. Apa ada lagi yang ingin kamu sampaikan?" "Untuk 100 hari akan Sisil hitung dari hari besok." "Oke. Ada lagi?" Sisil menggelengkan kepalanya. "Nggak, Pak dokter." "Kalo begitu, ini sudah malam, sebaiknya kita tidur. Saya tahu kamu pasti lelah." Sisil melirik kearah kasur king size di depannya. Lalu, ia juga melirik kembali pada Aster. "Kita...." Aster menyela perkataan Sisil yang rancu. "Saya tidur di sofa saja. Kamu di kasur." Sisil manggut. Akhirnya, Sisil membawa tubuhnya sendiri dan merebahkan dirinya di atas kasur empuk itu. Rasanya sangat nyaman, berbeda dengan tempat tidur miliknya yang berada di panti asuhan. Namun, Sisil tidak jadi merasa nyaman saat melihat Aster yang sudah merebahkan tubuhnya di sofa dengan satu bantal tanpa selimut. Pasti tidak nyaman tidur di sofa itu. "Oh iya, Sil. Saya lupa bertanya." Aster kembali bangkit dari tidurnya. "Jawab jika sekiranya kamu bisa menjawab, begitupun sebaliknya." Sisil mengangkat kedua alisnya, menunggu lanjutan kalimat Aster yang akan keluar dari bibirnya itu. "Dari sekian banyak seorang dokter. Kenapa kamu ingin menikah dengan saya? Dan kenapa harus 100 hari?" tanyanya. Tanpa ragu Sisil menjawab, "Karena Pak dokter baik. Memangnya siapa yang mau menikahi gadis yatim piatu seperti Sisil? Dan kenapa harus 100 hari, Sisil gak bisa menjawab alasannya kenapa." Ada alasan di balik itu semua. Namun, Sisil tidak akan mengatakannya pada siapapun termasuk Aster. Cukup dirinya saja yang tahu alasan kenapa harus Aster orangnya. Di tempatnya Aster manggut-manggut tanpa melihat kearah lawan bicaranya. "Tapi orang baik bukan hanya saya, Sil." "Pak dokter mau tahu alasan yang lain?" "Iya." "Karena Sisil suka sama Pak dokter." Sisil mengatakannya hanya sekedar menghibur rasa penasaran Aster. Sebenarnya bukan hanya itu, itu sebagian kecil alasannya. Dengan spontan Aster menoleh. "K-kamu suka sama saya?" Sisil menganggukkan kepalanya tanpa malu. "Ah ya, satu lagi yang harus kita sepakati. Sesuai janji kamu 100 hari, kamu jangan pernah berharap saya suka sama kamu ya, Sil?" Sisil malah cengengesan dan tertawa sumbang. "Tenang saja, Pak dokter. Sisil nggak berharap Pak dokter untuk suka balik sama Sisil kok. Pak dokter bisa pegang ucapan Sisil." "Bagus kalo begitu. Saya ngantuk, saya tidur dulu. Tolong matikan lampunya," ucap Aster sebelum kembali merebahkan dirinya. Sejujurnya, Aster jadi tak karuan saat Sisil mengungkap rasa suka terhadapnya, rasanya aneh, dan membuatnya kurang nyaman. Ada pertentangan di hatinya ketika Sisil mencoba mendobrak sebuah pintu di ruang hatinya yang telah lama terkunci. Aster tak terbiasa sedekat ini dengan perempuan. Mungkin itu sebabnya Aster merasa risih berada satu ruangan dengan Sisil. Logikanya saja, Sisil adalah perempuan yang baru dikenal beberapa minggu ini, dan tak mudah membangun kenyamanan bersama orang asing. Hanya 100 hari, Ter. Lo bisa tahan tinggal sama orang asing di hidup lo. Pernikahan ini bukan apa-apa buat lo, Sisil gak lebih dari sekedar orang yang lo bantu, batinnya. Beberapa saat setelah Aster memejamkan matanya, ia merasakan sebuah selimut yang menutupi seluruh tubuhnya, kecuali bagian kepalanya. Aster tahu yang rela mengorbankan selimutnya itu pasti Sisil. Memangnya siapa lagi? Bukan Aster tidak mau meminta satu selimut lagi pada Asisten Rumah Tangganya, hanya saja Aster berpikir lebih apik, karena orang tuanya pasti curiga. "Selamat malam, Pak dokter. Maaf untuk 100 hari ke depan. Maaf karena Sisil tiba-tiba menjadi penggangu di hidup Pak dokter," tutur Sisil pelan sebelum mematikan lampu dan kembali ke tempat tidur. Dengan tidur menyamping, Sisil terus memandangi wajah Aster yang sudah tertidur pulas padahal masih sadar, hanya saja lelaki itu terlalu enggan untuk membuka matanya. Sisil pernah berpikir, kenapa ada orang sebaik Aster di dunia ini? Bahkan, lelaki itu mau menikahinya yang hanya tinggal di panti asuhan. Jika saja Aster adalah lelaki lain, mungkin dia akan mencaci maki Sisil yang dengan lancangnya minta dinikahi. Padahal meminta Aster menjadi suaminya itu hanyalah ide bodoh yang keluar dari mulutnya, dan Sisil tak pernah sekali pun membayangkan Aster akan setuju. Rasanya seperti mimpi yang membuatnya tak ingin bangun dari tidur lelapnya. "Mimpi indah ya, Pak dokter." Sisil kembali berucap lebih pelan, tapi masih terdengar di telinga Aster. Aster membuka matanya lagi ketika pencahayaan di kamar itu sudah temaram. Helaan napas ringannya keluar begitu saja. Ada sedikit berandai-andai di hatinya saat ini. Andai saja ia menikah dengan perempuan yang ia cintai, andai saja ia mendapatkan perempuan yang dicintainya malam itu bukan Sisil, ia tak harus menjalani pernikahan 100 hari ini. Dan ada banyak perandaian yang lain. Bagaimana ia bisa tidur malam ini dengan pikiran yang dipenuhi sedikit sesal? Hanya 100 hari Aster ... Hanya seratus hari. Mantra itu terucap di dalam hatinya sambil mengelus d**a, sekedar menghibur diri sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD