Vania : Hai, Aster. Apa kabar?
Hanya satu kalimat, tapi mampu membuat d**a Aster bergemuruh hebat. Bukan isi pesannya yang membuat organ di dalam d**a Aster terasa demikian, melainkan nama si pengirimnya. Dia adalah bagian dari masalalu Aster yang berkesan.
Bertahun-tahun menjalin kasih dengan orang tersebut, membuatnya harus bersusah payah melupakan ketika hatinya dikhianati. Dan setelah sekian lama pergi, orang itu seenaknya datang kembali dengan pertanyaan 'apa kabar?'.
Bagaimana menurut kalian? Apakah Aster harus membalasnya dengan kalimat sarkas seperti ini, 'Saya tidak baik-baik saja setelah kamu pergi. Dan makin tidak baik-baik saja setelah kamu kembali datang.'? Ah, tidak! Aster tidak mungkin mengetik kalimat se-alay itu di keyboard ponselnya.
Meskipun Vania adalah tokoh utama dalam kisah asmaranya dulu yang berusaha ia lupakan, tapi tetap saja Aster membalasnya. Tak dapat dipungkiri, Aster masih merindukan perempuan itu.
Aster : Baik. Kamu?
Vania : Kalo kamu pengen tahu kabar aku,bagaimana kalo kita bertemu?
Aster : Boleh, kapan kita bisa bertemu?
Setelah mengetik balasan terakhir, Aster kembali meletakkan ponselnya di atas meja.
"Pak dokter, bagaimana kalo foto pernikahan kita dipajang di sini saja?" tanya Sisil, menunjuk ke arah dinding yang masih kosong di ruang tamu.
Tak mau ambil pusing, Aster mengiyakan dengan anggukan kepalanya. "Terserah kamu saja, Sil."
Sisil mengatupkan mulutnya saat Aster berekspresi tak seperti biasanya. Dia sedikit lebih dingin pada Sisil semenjak kepindahan mereka ke rumah baru. Dan hari ini, Aster sengaja mengambil cuti untuk beres-beres rumah.
Sebenarnya Aster bersikeras untuk tidak mengambil cuti lagi, tapi Wira memaksanya untuk menikmati bulan madu. Aster sempat mendengus ketika mendengar kata bulan madu, bahkan ia tak pernah memikirkan hal itu sama sekali.
Bukanlah hal mudah untuk Aster sampai di rumah ini. Ia harus melewati perdebatan yang panjang terlebih dahulu dengan Nyonya Besar Adinata. Perdebatan perihal bulan madu. Aster tidak ingin bulan madu, tapi Rianti ngotot ingin anaknya pergi bulan madu ke luar negeri agar lebih cepat memiliki cucu.
Jelas Aster langsung menolak. Jadwal pekerjaannya terlalu padat, karena urusannya bukan hanya di rumah sakit saja. Pandu terus-terusan meminta Aster untuk menghadiri rapat di perusahaannya untuk mendiskusikan banyak hal.
Aster begitu yakin dapat mempersingkat interaksinya dengan Sisil karena kesibukan itu. Namun, rupanya tidak semudah itu, apalagi ia sempat melakukan negosiasi yang sengit dengan orang tuanya perihal bulan madu. Tapi pada akhirnya, ia berhasil membujuk Sang Nyonya dan Tuan Adinata untuk menunda bulan madu ... ya meskipun Aster harus tetap cuti satu hari. Bisa saja Aster menyuruh orang untuk merapikan barang-barang di rumah barunya, tapi Aster tidak ingin ada yang melihat gerak-gerik mereka yang tak layak disebut sepasang suami istri.
Itulah alasan Aster menekuk wajahnya di siang hari ini. Di tambah lagi, Sisil tak berhenti mengoceh perihal barang-barang yang harus diletakkan. Bagaimana Aster tidak risih coba? Pasalnya, Aster tak biasa direcoki seperti itu oleh perempuan lain selain ibunya.
Sisil selalu saja datang dengan meminta pendapat ini itu. Sedangkan suasana hati Aster tak sebaik biasanya. Ia rasa, melakukan pernikahan ini membuatnya sedikit menyesal. Bisa saja Sisil bersembunyi di balik angka 100, tapi sebenarnya Sisil hendak memoroti kekayaannya. Aster merutuki dirinya karena terlalu baik.
Entah apa yang kemarin membuatnya mau menolong atau membantu Sisil. Ingin memiliki suami seorang dokter katanya? Aster sampai mendengus kala mengingat kalimat itu. Memangnya, siapa yang tidak ingin memiliki suami seorang dokter?
"Pak dokter, mau kemana?" tanya Sisil saat melihat Aster yang baru saja keluar dari kamarnya dengan penampilan rapi.
"Saya ada urusan," jawab Aster seadanya.
"Kalo begitu, hati-hati ya, Pak dokter?" Sisil melambaikan tangannya dengan bibir merekah dan matanya yang menyipit karena terdorong oleh sudut bibir yang terangkat. Sedangkan Aster hanya membalasnya dengan anggukkan samar. Namun, setelah ia melangkahkan kakinya, ia berhenti dan berbalik menghadap Sisil lagi.
"Sisil, boleh saya minta tolong?"
"Minta tolong apa, Pak dokter?"
"Saya tidak ingin pernikahan kita terlalu diumbar."
"Maksudnya?"
"Saya hanya ingin pernikahan kita diketahui oleh orang-orang terdekat saja. Saya tidak ingin kamu mengumbarnya pada orang lain, karena pernikahan ini bukan hal yang berharga bagi saya," terang Aster. Perkataannya sopan dan lembut, tapi diam-diam terasa menusuk dalam salah satu organ tubuh milik Sisil yang bernama hati.
Sisil menatap Aster dengan kedipan jarang. Meskipun begitu, Sisil tak membiarkan binar di wajahnya luntur. Satu yang kini ada dipikirannya, Apa mungkin Aster malu memiliki istri seperti Sisil?
"Tenang aja, Pak dokter. Sisil akan tutup mulut. Hehe...."
"Oke kalo begitu. Saya pergi dulu. Jaga rumah baik-baik."
Sisil menghela napas berat. Sentilan di hatinya terasa berkali-kali lipat sakitnya saat melihat jari tangan Aster yang polos. Tak ada cincin yang melingkar di sana. Itu artinya, Aster benar-benar malu memiliki Sisil sebagai istrinya.
Binar di wajah Sisil langsung luntur begitu Aster keluar dari rumah. Tergantikan dengan kemuraman. Tapi tidak apa-apa, Sisil harusnya bersyukur karena Aster mau menikahinya.
***
"Apa kabar?" tanya Aster yang kini tengah duduk di kafe, lebih tepatnya di hadapan gadis cantik nan anggun.
"Aku baik," jawab Vania-gadis yang Aster maksud.
Untuk mencairkan rasa canggungnya sendiri, Aster meneguk sedikit kopi hangat yang ia pesan. Perempuan dengan blazer abu dan rambut yang tergerai rapi dan sedikit bergelombang itu tak berani menatap Aster lama-lama.
"Aku minta maaf, Ter."
"Untuk apa, Nia?"
"Semuanya."
Aster tersenyum simpul. "Kamu gak salah. Waktu itu aku yang salah karena terlalu sibuk, jadinya aku gak terlalu perhatian sama kamu."
"Mulai besok, aku melaksanakan koas di rumah sakit Adinata."
Aster ikut senang mendengarnya. Perempuan yang diketahuinya ikut bergelut dengan profesi yang sama itu hampir menyelesaikan studynya. Wanita itu terlihat makin cantik setelah bertahun-tahun tidak bertemu. Namun, pernah ada momen di mana mereka berpapasan sekilas, dan momen itu pernah mereka temui saat Aster tengah melakukan perjalanan bisnis di luar negeri bersama Pandu.
"Bagus kalo begitu. Selamat ya," ujar Aster.
Vania manggut-manggut kecil. Mungkin mulai dari sekarang suasana di antara mereka akan diselimuti kecanggungan. Bayangkan saja, Aster sendiri sampai bingung harus mengatakan apa lagi. Segala kata yang sudah ia siapkan sebelum berjumpa dengan Vania seketika hilang entah kemana.
"Aster."
"Vania."
Mereka saling memanggil dan beradu pandang secara bersamaan. Setelahnya, kekehan renyah menghiasa kelengangan di antara mereka. Selain itu, musik kafe seakan mengiringi setiap jeda percakapan keduanya.
"Aku mau kita kayak dulu, Ter." Vania mulai melemahkan tatapannya.
Aster cukup terkejut mendengarnya. "Maksud kamu apa, Nia? Bukannya sekarang kamu sudah tunangan dengan Karel?"
"Gak ada laki-laki sebaik dan sesabar kamu, Ter. Aku ternyata sudah salah karena milih lelaki lain, padahal kamu jelas lebih baik dari siapapun."
"Tapi Nia, kita kayaknya cuma bisa sekedar berteman. Aku belum bisa menjalin hubungan lagi sama kamu," tolak Aster selembut mungkin.
Vania harus menelan kekecewaannya. Ia mengangguk dengan berat hati. "Kalo gitu, kita masih bisa berteman'kan? Aku nggak mau ketika di rumah sakit nanti kita sama-sama canggung."
Aster mengusap hidungnya sebentar. "Tenang saja, aku bisa seprofesional mungkin."
"Tapi, mau bagaimana pun, aku masih berharap kalo kita bisa kembali bersama."