Aster pulang ke rumah barunya saat malam sudah sangat pekat. Ketika langkah kakinya masuk ke dapur hendak mengambil minum, ia tak sengaja melihat makanan di atas meja yang sudah tersaji dan dingin karena terlalu lama menunggu sang mulut yang akan melahapnya.
Sisil menepati janjinya, dia tidak akan membiarkan perut Aster kosong. Namun sayangnya, Aster sedang tidak berada dalam mood yang baik untuk menyantap makanan itu.
"Pak dokter?"
Aster menoleh ke asal suara. Sisil baru saja menampakkan dirinya dengan dress tidur motif bunga-bunga kecil. "Pak dokter baru pulang?"
"Iya.”
Sisil menutup mulutnya dengan kaget. "Aduh, makanannya udah dingin. Pak dokter laper ya? Biar Sisil panasin dulu makanannya."
"Eh, nggak usah, Sil. Saya baru saja makan di luar."
Sisil memandang Aster dengan raut wajah kecewa, tapi hanya beberapa saat. Detik selanjutnya, Sisil kembali memperlihatkan deret giginya yang rapi dan kecil dengan matanya yang menyipit. "Kalo gitu, udah malem. Pak dokter pasti capek. Langsung istirahat saja ya?"
Aster mengangguk samar. Tanpa mengatakan apapun lagi, ia melewati Sisil dan pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Sementara itu, di tempatnya Sisil merasakan keganjalan dalam raut wajah Aster yang tak seramah biasanya. Sejak pindah ke rumah ini, Aster tak begitu ramah pada Sisil.
Besok paginya, Sisil sudah menyiapkan sarapan nasi goreng dan secangkir kopi manis untuk Aster. Tak henti-hentinya Sisil tersenyum saat membayangkan Aster akan mencicipi masakannya.
Wajah Sisil makin berbinar saat Aster baru saja turun dari tangga. Ia melewati pantry. Melihat sekilas kearah Sisil sebelum memakai sepatunya di sofa. Wangi masakan Sisil sampai ke indra penciumannya hingga cukup membuatnya tergiur, tapi tak ada waktu untuk sarapan di rumah pagi ini. Aster harus secepatnya ke rumah sakit.
"Pak dokter, Sisil buat nasi goreang. Sarapan dulu sebelum pergi ya?”
"Maaf, Sil. Saya sudah terlambat. Kamu saja yang makan, saya harus pergi sekarang."
Lagi? Sisil harus menelan kekecewaan untuk yang kedua kalinya. Apakah dirinya ada salah? Kenapa Aster bersikap demikian? Sisil menghela napas berat saat Aster sudah tidak ada lagi di pandangannya. Dengan senyuman yang terus melekat di bibirnya, Sisil melahap nasi goreng itu tanpa kehadiran Aster.
Mungkin saja Aster memang sudah terlambat hingga tak ada waktu untuk sarapan. Usai sarapan, ia melihat kearah jam dinding. Masih ada waktu untuknya membereskan rumah sebelum ia berangkat kerja. Untuk menghilangkan pikiran-pikiran buruknya, Sisil harus segera menyibukkan diri.
***
"Udah jam segini.” Darren melirik arlojinya. “Lo belum pulang?"
Aster yang tengah berdiri di rooftop rumah sakit sambil meresapi angin malam yang menerpa wajahnya, lantas menoleh ketika seseorang tiba-tiba berdiri di sampingnya. Hanya sesaat, setelah tahu siapa orang itu, Aster melengos malas. "Belum."
"Harusnya sih lo udah dikelonin sama istri jam segini. Aneh banget. Lo nikah sama dia beneran karena cinta atau cuma terpaksa doang?"
Darren menduga-duga tanpa berpikir terlebih dahulu. Memangnya siapa yang tidak kaget ketika dulu mendengar kabar Aster akan menikah. Saking mendadaknya, Darren sampai merasumsi bahwa Aster menikah karena tidak sengaja membuat seorang wanita hamil.
Sebelum menjawab pertanyaan Darren, Aster menghela napas berat. "Gue juga nggak tahu."
"Gue baru sadar kalo dia pelayan di kafe depan rumah sakit, pantes mukanya nggak asing. Gimana ceritanya lo bisa nikah sama dia?" Darren terus bertanya seolah kepalanya hanya berisikan rasa penasaran.
"Lo kepo banget sama rumah tangga orang," dumel Aster yang mulai kesal.
"Ya gue emang kepo. Masalahnya, lo kayak nggak niat nikah sama dia. Pengantin baru dimana mana tuh ya romantis, terus bulan madu. Lah ini? Lo malah asik-asikan di rumah sakit, padahal jadwal operasi lo bisa dioper alih ke dokter spesialis yang lain," kicau Darren panjang lebar.
"Udah'lah. Sumpek gue lama-lama dengerin lo." Aster mulai pergi meninggalkan Darren di tempatnya.
"Pulang sana! Kasian istri lo nungguin di rumah. Jangan mentang-mentang di sini ada mantan, lo jadi lebih betah di rumah sakit!" seru Darren sebelum gelak tawanya.
Aster tak menanggapinya sampai suara Darren tak terdengar lagi. Sejak tadi, Aster memang berniat akan pulang. Namun, ia mampir terlebih dahulu ke rooftop untuk mendinginkan pikirannya yang terasa panas dan amburadul.
Perasaannya tengah dibuat bimbang oleh sesuatu yang kembali mengusiknya. Ya, tentang Vania-mantannya yang pernah selingkuh, kembali datang. Lebih parahnya, Vania menjadi dokter koas di rumah sakit ini. Aster bimbang mengenai perasaannya yang entah masih sama seperti dulu atau mungkin sudah benar-benar melupakan Vania.
Namun, jika Vania sudah nongol dihadapannya, tentu'lah Aster jadi tak yakin bahwa ia sudah melupakan perempuan itu. Sejujurnya, getaran di hatinya masih terasa meskipun sudah lama tak berjumpa.
Di sisi lain, Aster tiba-tiba terenyuh saat datang ke rumah. Sisil tak bercanda soal menjadi istri yang baik untuknya. Buktinya, Sisil masih menunggunya pulang di sofa sambil ketiduran. Padahal, malam sudah sangat larut.
Aster melihat ke meja makan. Ada makanan yang sudah dingin, yang masih nampak dan belum tersentuh sedikit pun. Sisil tak mudah menyerah, berkali-kali Aster menolak untuk makan, gadis itu tetap memasak untuknya.
Hati Aster terusik untuk berinisiatif memindahkan Sisil ke kamarnya. Sebelum itu, Aster berjongkok di depan wajah manis Sisil. Tangannya terangkat untuk merapikan anak-anak rambut yang menghalangi wajah lugu itu. Tak dapat dipungkiri bahwa Sisil memiliki wajah yang manis dan imut meskipun tidak terlalu cantik.
Tak berlama-lama memandang wajah polos Sisil, Aster akhirnya mengangkat tubuh itu ala bridel style dan membawanya ke kamar. Kemudian, ia merebahkan tubuh ringkih itu di atas ranjang lebar milik Sisil. Lalu, Aster menyelimutinya agar Sisil mendapat kehangatan. Setelah itu, Aster mematikan lampu kamar dan menutup pintu sebelum akhirnya ia pergi ke kamarnya sendiri.
Tanpa Aster sadari, Sisil sebenarnya tak sepenuhnya tidur. Ia masih sadar meskipun rasa kantuk terus menyerangnya. Ketika pintu sudah tertutup, Sisil membuka matanya dan tersenyum tipis. "Sisil makin suka sama Pak dokter. Hehe...."
Aster berjalan menuruni tangga. Langkahnya berhenti di depan sebuah bingkai besar yang berisi foto pernikahannya dengan Sisil. Aster merasa bimbang, apakah pernikahan ini adalah hal benar? Padahal hatinya begitu tak nyaman ketika menyadari bahwa dirinya secara tidak langsung telah menyakiti seorang perempuan polos seperti Sisil.
Ponselnya bergetar dalam saku celananya. Ada pesan dari Vania.
Vania : Ada waktu nggak? Aku mau ngobrol.
Entah dorongan setan atau bukan, Aster membalasnya dengan senang hati. Aster bahkan rela tidur sangat larut demi menyediakan telinga untuk Vania yang berbicara lewat telepon.