Seorang wanita yang mengenakan pakaian pelayan dari Kerajaan Holly berjalan menghampiri takhta milik sang Raja, “Baginda, ini teh yang anda pesan. Kami memasukan beberapa herbal seperti… Baginda? Apakah anda baik-baik saja?” Pelayan tersebut yang awalnya menjelaskan bahan yang terkandung dalam minuman sang Raja, tiba-tiba menanyakan keadaan sang Raja yang tidak terlihat baik-baik saja. Raja Holly kini tengah terduduk seraya memegangi atau lebih tepatnya meremas pelan dahinya sedari tadi. Lama pelayan tersebut berdiam untuk mendengarkan jawaban, akhirnya Raja tersebut mengatakan sebuah nama yang membuat sang pelayan merasa kebingungan.
“Ronce...”
Jiwoo yang sedang berjalan bersama dengan Raja Steven, tiba-tiba mendengar ucapan atau lebih tepatnya bisikan dari seseorang ditelinganya. Dan hal itu sukses membuatnya segera menaiki kuda miliknya yang sebelumnya ia tuntun dan melaju dengan cepat kearah Timur dari lembah tersebut.
“Jiwoo! Apa yang terjadi?” Steven terkejut dan segera mengikuti Jiwoo yang mengendarai kudanya dengan tidak tenang serta tergesa-gesa.
“Saya mempunyai firasat buruk!” Hanya itu jawaban dari Raja tersebut, Steven tidak bertanya lebih banyak lagi ia hanya mengangguk walaupun ia tidak begitu paham dengan jawaban yang diberikan dari Jiwoo.
Tidak lama dari perjalan mereka, keduanya melihat kuda yang seharusnya ditunggangi oleh Ronce sedang terdiam disamping sebuah tubuh yang tergeletak diatas lumpur. Keduanya pun tahu, tubuh siapa itu. “Ronce!!” Jiwoo berteriak dan segera turun dari kudanya, ia berlari untuk kemudian mengangkat tubuh Ronce yang kotor akibat lumpur yang telah bercampur dengan darahnya. Steven hanya mampu terdiam menatap terkejut melihat keadaan Ronce yang begitu mengenaskan.
“Ronce! Siapa yang melakukan ini? Katakan!” Jiwoo berucap dengan sedikit berteriak pada tubuh yang sekarat itu. Raja Ronce memaksakan dirinya untuk membuka mata dan menatap pada dua Raja di hadapannya.
“J-Jiwoo, maafkan saya yang tidak bisa melawannya dengan baik. Saya rasa saya tidak dapat bertahan lebih lama.” Ronce berbisik pelan, ia tidak menjawab pertanyaan yang Jiwoo tanyakan padanya. Namun bisikan pelan itu dapat didengar dengan jelas oleh Jiwoo dan Steven.
“Jangan membicarakan hal yang tidak-tidak!” Jiwoo berusaha menenangkan Ronce maupun seorang Raja yang tengah mendengarkan percakapan keduanya dari jarak yang cukup jauh, Steven menghampiri keduanya dan segera mengeluarkan beberapa obat yang ia bawa.
“Izinkan saya mengobati anda!” Steven mengeluarkan beberapa peralatannya, dan menatap pada Jiwoo juga Ronce untuk mendapatkan izin. Raja yang berasal dari Kerajaan Feverfew ini memang mengusai beberapa teknik penyembuhan dan pengobatan alami yang sudah cukup terkenal.
Raja Jiwoo menganggukkan kepalanya, namun tidak dengan Ronce yang terluka itu. “Tidak, saya rasa percuma!” Ronce menolak hal tersebut, dan itu membuat keduanya terkejut. Jiwoo menggelengkan kepalanya tidak percaya atas penolakan yang Ronce putuskan.
“J-Jiwoo, saya tahu anda sangat mengkhawatirkan saya. Terima kasih selama ini anda dan Aruba telah menemani saya, maafkan saya karena...”
“Jangan banyak berbicara dan biarlah Steven mengobati lukamu, Ronce!” Jiwoo memotong perkataan yang sedang Ronce ucapkan dan berkata dengan begitu tegasnya layaknya ia sedang memberikan sebuah perintah.
“Saya mohon, kali ini izinkan saya menyelesaikan perkataan saya seluruhnya...” Ronce berucap dengan pelan, ia meminta kepada sahabatnya tersebut untuk mendengarkan seluruh ucapak yang akan ia katakan. Jiwoo dan Steven hanya terdiam, mereka tahu saat ini Ronce sedang merasakan kesakitan yang sangat dengan keadaannya sekarang.
Terlalu banyak darah yang keluar dari luka itu, sehingga Jiwoo terus mencoba menutup luka tersebut dengan telapak tangannya. “Hh... M-maafkan saya yang hanya bisa memberikan masalah hh... Pada kalian berdua. Saya...” Nafas Ronce terdengar mulai tidak tertatur, Jiwoo khawatir dengan keadaan tubuh Ronce yang sudah mulai bergetar di tangannya. “T-tolong katakan pada Baginda, sa-saya Hh... sangat menghormatinya, dan maafkan saya tidak dapat menjaga Hh... rahasia Kerajaan Monitum.” Kedua tangan Ronce menggenggam tangan Jiwoo yang menutup lukanya itu, Jiwoo dapat merasakan tangan itu begitu dingin menyentuh kulitnya. “Saya rasa... B-baginda sudah mengetahui Hh... Si-siapa saja musuhnya!” Genggaman itu terasa kuat saat Ronce meremas tangan Jiwoo untuk melampiaskan betapa sakitnya luka yang ia rasakan.
“Ronce bertahanlah, jangan tinggalkan kami terutama saya, Aruba dan kedua saudaramu.” Jiwoo memohon kepada sang sahabat agar dapat bertahan lebih lama, dan Ronce hanya tersenyum simpul tidak menimpali permintaan tersebut karena ia tahu itu sebuah hal yang mustahil.
“Jiwoo, ada Hh... Satu hal yang perlu anda, ketahui!” Jiwoo mengerenyitkan dahinya saat Ronce mengisyaratkan agar dirinya mendekat, dengan perlahan Jiwoo mendekatkan telinganya pada bibir Ronce yang pucat dan bergetar kecil itu.
“...”
Kedua mata Jiwoo melebar, ia menjauhkan kepalanya dan kembali menatap Ronce “A-apa?” dengan sedikit tergagap, Jiwoo bertanya untuk memastikan bahwa apa yang ia dengar adalah benar. Ronce menganggukkan kepalanya dengan sangat pelan seraya memejamkan matanya karena lelah menahan sakit.
“Jagalah Hh… Rahasia i-tu meski mereka Hh... Telah menget-tahuinya, Terima kasih karena Anda telah bersedia menjadi Guru saya. Bahkan Anda dan Aruba telah menjadi sahabat terbaik yang saya miliki.” Seiring dengan penuturan pelan yang disampaikan oleh Ronce, Jiwoo merasakan tangan yang tadinya menggenggam erat tangannya, kini mulai melepaskan genggamannya dengan perlahan, nafasnya yang tadi tersengal-sengal, kini tidak terdengar sama sekali di telinganya.
“Ronce?! Saya mohon, Ronce?!” Jiwoo terlihat panik ketika ia melihat keadaan Ronce yang jelas tidak bernafas dihadapannya.
Raja Steven segera mengambil tindakan, “Biarkan saya...” Ucapnya dan mencoba memeriksa keadaan Ronce dengan beberapa alat medis miliknya. Terdiam sejenak, Steven kembali berdiri dari duduknya dan menunduk seraya menggelengkan kepalanya pada Jiwoo.
“Jiwoo maafkan saya, saya sangat menyesali semua ini.” Penuturan yang di ucapkan oleh Steven membuat Jiwoo merasa tidak mempercayainya untuk kali ini. Ia tidak percaya atas apa yang terjadi pada sahabatnya ini.
“Sial! Aaargh!!” Jiwoo berteriak dengan kencang, meluapkan seluruh amarahnya dan menangis memeluk tubuh sahabatnya yang sudah tidak bernyawa tersebut.
Di Kerajaan Holly, Raja Aruba tiba-tiba menangis diatas takhtanya tanpa sebab dan ia berteriak denegan cukup kencang yang menyebabkan seluruh pelayan dan Prajurit merasa khawatir pada keadaan Raja mereka.
Beberapa Prajurit kerajaan berlari dengan tergesa-gesa untuk menghampiri Aruba yang menangis terjatuh ke atas lantai dan merememas kedua tangannya seraya berlutut. “Baginda!”
Haris dan Robert mendengar suara teriakan yang cukup keras dari arah Timur, keduanya saling bertatapan untuk memastikan bukan hanya satu diantara mereka yang mendengarnya. “Bukan kah yang pergi kearah Timur itu, adalah Ronce dan Bodhi? Apa mereka baik-baik saja?” Robert bertanya pada Raja di hadapannya ini, dan tentu saja Haris menggelengkan kepalanya karena ia pun tidak mengetahui apa yang terjadi. Namun ia ragu jika itu bukanlah masalah yang disebabkan oleh Bodhi.
‘Sial, pasti Bodhi melakukan hal yang tidak-tidak. Seharusnya dia tunggu aba-aba dulu!’ Gerutu Haris di dalam hatinya.
“Ayo kurasa kita harus kesana!” Robert mengajaknya dan mengendarai kudanya kearah Timur, di mana yang mereka yakini tempat Ronce dan Bodhi berada. Haris yang mengikutinya dari belakang itu sempat mengumpat dengan bergumam kecil, karena merasa bahwa temannya tersebut pasti telah melakukan sesuatu yang salah. Di tengah perjalanan mereka menuju arah Timur, Robert dan Haris bertemu dengan Raja Find dan Raja Guam yang datang dari arah samping kiri keduanya.
Dengan wajah yang kebingungan, Find bertanya pada mereka disaat mereka semua saling berpapasan. “Ada apa ini?” Robert dan Haris menghentikan kuda mereka, begitupun dengan Find dan Guam.
“Saya pun tidak mengetahuinya, saya dan Haris memutuskan untuk melihatnya saat ini.” Robert menjawab pertanyaan tersebut, Raja Guam mengangguk paham dan pada akhirnya mereka pergi bersama menuju arah Timur, arah di mana suara teriakan tadi berasal.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk mereka mengendarai kuda mereka agar sampai ke tempat tujuan. Keempat Raja itu terkejut ketika menemukan Steven yang berdiri dan Jiwoo yang tengah memeluk Ronce. Tubuh Raja tersebut terlihat tidak bergerak didalam pelukan Jiwoo, membuat Raja-raja disana berasumsi bahwa sesuatu hal yang buruk telah terjadi.
“Apa yang terjadi?” Raja Guam turun dari kudanya dan menghampiri mereka berdua. Steven yang melihat kedatangan keempatnya, segera berbalik dan menjelaskan dengan suara yang pelan agar Jiwoo tidak merasa tersinggung.
“Ronce telah gugur.”
To be continued