Tragedi Lembah Molder

1263 Words
“Tidak bisa Pangeran, Baginda Raas memberikan wewenang pada kami agar menahanmu untuk tetap diam di dalam Istana.” Sebuah suara menjawab permintaan Ea, yang membuat kedua Ibu dan anak itu menatap pada Adam yang mengatakan hal tersebut. Ea terdiam menyadari bahwa dirinya tidak bisa berontak atas perintah yang telah Raas berikan kepada mereka semua. Adam melihat kekecewaan yang ada pada raut wajah sang Pangeran, “Tenanglah Pangeran, saya yakin jika Baginda bisa menjaga dirinya.” Adam berusaha menenangkan Ea, sementara Ziona yang merasa dirinya tidak harus mengatakan apapun lagi pada sang pangeran terakhir, memilih untuk pergi meninggalkan kamar itu. Ea menatapi kepergian Ziona dengan diam, kemudian ia beralih untuk menatap Adam yang masih berdiri di hadapannya. “Saya juga yakin jika Kakak dapat menjaga dirinya sendiri, tetapi entah mengapa saya begitu khawatir dengan semua ini Adam...” Ea menunduk dengan cemas, ia merasa kegelisahan semakin menyelimuti dirinya ketika mendengar sang Kakak telah pergi tanpa memberikan kata pamit padanya. Adam tersenyum ringan dan tidak menanggapi perkataan tersebut karena ia tahu apapun yang akan ia katakan pada Ea, tidak akan pernah cukup untuk menenangkannya. “Saya permisi Pangeran.” Adam membungkuk sebentar pada Ea, sebelum akhirnya ia berbalik dan berjalan meninggalkan Ea. Namun, langkah kakinya terhenti saat Ea memanggilnya dengan suara yang cukup keras. “Ada apa Pangeran?” Adam menghadapkan dirinya pada Pangeran tersebut dan menunggu ucapan yang akan Ea ucapkan padanya. Ea terdiam melirik arah kiri dan kanan dengan cukup gelisah. “Tentang pertanyaan yang anda dan Find tayakan waktu itu, saya...” Adam tersenyum mendengar suara Ea yang terdengar canggung tersebut. “Anda Bercanda, saya mengerti Pangeran. Kemarin, Baginda telah menjelaskan pada saya hal yang sebenarnya. Dan saya pun tidak terlalu menganggap itu sebagai hal yang serius, karena saya mengetahui bahwa anda masih senang bermain-main.” Ea yang sedikit tersinggung dengan istilah ‘senang bermain-main’ itu segera mengangkat wajahnya untuk menatap pada Adam yang kini menyunggingkan senyuman jahil padanya, dan seletah itu Adam pergi meninggalkan Ea yang hanya mampu terdiam disamping pintu kamarnya dengan kesal. Suasana yang mencekam tiba-tiba Find rasakan ketika ia menggiring kudanya kearah Barat bersama Raja Guam. Tanpa ada sesuatu hal yang pasti, Find seketika menghentikan laju kudanya, dan menatap kearah Guam dengan horror. “Apa anda merasakannya Raja Guam?” Find bertanya seraya menatap kembali arah belakang mereka, yang memperlihatkan siapapun atau apapun disana. Keadaan tanah di dalam lembah itu sedikit berlumpur, pandangan mereka juga sedikit terhalangi oleh kabut tipis yang menghiasi daerah sekitar. Pepohonan kering yang tidak diketahui hidup atau matinya menjulang tinggi, dan hawa dingin yang terasa menusuk kedalam kulit. Suasana tersebut sungguh membuat siapa saja akan merasa takut, tak terkecuali kedua Raja ini. “Ya saya merasakan hal tersebut, dan menurut saya andapun merasakan hal sama seperti apa yang saya rasakan.” Guam menghampiri Find dengan kudanya, mereka saling menatap untuk beberapa saat sebelum akhirnya kembali menjalankan kuda mereka, namun kali ini mereka menjalankan kuda itu dengan perlahan. “Sebenarnya... Mengapa kita harus melalui Lembah ini? Dan mengapa wilayah ini sangat menyeramkan? Tidakkah ada tempat yang lebih indah yang bisa kita lalui?” Find menengok kearah sekitar dengan was-was, seraya mulutnya terus mengoceh dengan suara yang pelan. Raja Guam hanya melirik Find dengan pandangan tidak suka padanya. “Sebenarnya anda masih cukup muda Find, tapi mengapa perjuangan dan keberanian anda sangat kecil.” Guam mengungkapkan sebuah sindiran yang tidak diambil hati oleh Find, ia hanya menjawab dengan entengnya “Saya masih Raja baru.” dan jawaban tersebut berhasil membuat Guam merasa kembali jengkel. Di sisi lain dari Lembah tersebut, dua orang Raja yang terbilang tampan terlihat saling berhadapan menatap satu sama lain dengan cukup tajam. “Apa yang sebenarnya anda dan teman-teman anda rencanakan?” Raja Ronce bertanya seraya menatap pada Bodhi yang juga menatapnya dengan tajam, keduanya memang sempat beradu mulut sebelum akhirnya keduanya turun dari kuda mereka dan saling berhadapan seperti saat ini. “Kau diam saja, Ronce! Kurasa kau masih menyayangi nyawamu itu, jika kau masih ingin mencampuri urusanku, maka aku tidak akan segan untuk membunuhmu!” Bodhi menggeretak dengan gaya sok berkuasanya, dahulu ia memang seorang pemimpin dari hampir seluruh kerajaan Valerian. Tetapi tidak saat ini, Ronce tidak lagi menjadi bawahannya yang setia… Karena kali ini mereka ada di posisi yang sama, mereka sama-sama seorang Raja bawahan dari Kerajaan Monitum. Untuk beberapa saat Ronce memang bungkam, tapi bukan untuk mengikuti perintah Bodhi. Ia bungkam untuk sesaat sebelum akhirnya embuka mulutnya dan mendebat Bodhi. “Saya tidak takut dengan gertakan yang anda lontarkan itu, Raja Bodhi! Jika anda ingin menyerang saya sekarang, maka seranglah... Saya akan memenuhi tantangan itu!” Ronce menjawab ucapan Bodhi dengan santainya. Namun tanpa ia sadari, ia telah memancing emosi dari lawannya ini. “Kurang ajar!” Trang! kibasan pedang Bodhi dapat ditangkis dengan mudah oleh Ronce. Kedua mata Bodhi dapat melihat dengan jelas senyuman meremehkan yang diberikan oleh Ronce padanya. Merasa tidak terima dengan senyuman itu, Bodhi segera menyerang Raja tersebut dengan penuh emosi. Dan sayang seluruh serangan membabi buta itu dapat ditangkis oleh Ronce, sekali lagi dengan sangat mudahnya. “Saya telah mengetahui siapa saja yang berniat buruk pada Baginda! Dan saya tidak akan tinggal diam mengetahui hal tersebut!” Ditengah perkelahian antar Raja tersebut Ronce berbicara dengan penuh penekanan, itu merupakan sebuah peringatan yang ia berikan untuk Raja Bodhi. Lelaki yang menjadi lawannya tersebut pun mengerenyitkan dahinya saat mendengar perkataan itu, ‘Bagaimana orang ini dapat mengetahui semuanya?’ Itulah pertanyaan yang muncul di benak Bodhi saat ini. Bodhi segera menepis pikirannya tersebut dan tertawa kencang untuk menutupi kegugupannya, “Hahaha, baguslah jika kau telah mengetahuinya. Namun sayang, kau tidak akan mengetahui apa yang kami rencanakan dan tidak akan sempat memberitahukan semua itu pada siapapun!” Ronce mendecak sebal ketika mendengar perkataan tersebut, untuk kesekian kalinya ia meremehkan Bodhi dan teman-temannya. ‘Lihat saja, mereka tidak akan berhasil membunuhku! Dan Baginda akan segera mengetahui siapa saja musuhnya di balik selimbut!’ Itulah harapan yang setidaknya Ronce pikirkan saat ini. Ia lupa… Ronce melupakan syarat untuk keluar dari lembah itu dengan selamat. “Lagi pula... Aku dan teman-teman ku telah mengetahui salah satu rahasia terbesar milik Raas selama ini.” Bodhi yang tidak kehabisan akal untuk menggeretak segera berucap membahas rahasia yang ia ketahui dengan senyuman licik miliknya. Pernyataan tersebut mampu membuat Ronce menyipitan matanya dan mengerungkan dahinya, merasa penasaran dengan apa yang Bodhi ketahui. “Apa yang kau maksud, Bodhi?” Ronce bertanya untuk memastikan, Bodhi menghentikan serangannya untuk sesaat. Melihat hal tersebut, Ronce pun menghentikan serangannya dan terdiam untuk menunggu penjelasan. Ronce menatap pada Bodhi yang melangkah mendekatinya tanpa ragu, dan Ronce pun terdiam ditempatnya tanpa merasa takut terhadap lelaki itu. “Kami, telah mengetahui bahwa beberapa dari keluarga Kerajaan Monitum…” Bodhi berhenti tepat di hadapan Ronce yang menatapnya dengan tajam, kemudian ia mendekatkan bibirnya pada telinga Ronce. Membisikan kalimat terakhir yang sukses membuat Ronce terdiam di tempatnya karena terkejut. “Memiliki darah Clairvoyant Enchanter.” Crash! Bodhi dengan cepat menjauhkan tubuhnya dari hadapan Ronce dan mengibaskan pedang miliknya kearah d**a Ronce dengan tiba-tiba. Sehingga Ronce yang belum siap akan serangan tiba-tiba itu merasakan sakit yang luar biasa diseluruh bagian dadanya. Pedang yang Ronce pegang terjatuh dari genggamannya, disusul dengan jatuhnya tubuh Ronce keatas lumpur yang basah itu dengan cukup keras. Dihadapan tubuh yang tergeletak itu, Raja Bodhi tersenyum. Ia menghampiri Ronce dan berjongkok untuk menatap wajah Raja yang kini tengah menggambarkan kesakitan luar biasa itu. “Hahaha... Apa kau pikir kau hebat, Ronce?! Tidak! Kau sangat buruk!” Bodhi meneriakinya dan pergi meninggalkan Ronce yang terluka dalam posisi tersungkur di lumpur tanah seperti itu.  To be continued 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD