Hari Kepergian

1304 Words
Sang mentari telah datang menyinari Kerajaan Monitum yang sedang bersiap untuk melepaskan kepergian beberapa Raja yang akan mengambil Kitab Hazel yang berbahaya. Terlihat di depan pintu istana telah disiapkan beberapa kuda yang berjajar dengan rapi. Para Raja yang akan mendampingi Raas pun telah bersiap didepan pintu istana itu dengan beberapa barang keperluan mereka. Raas yang juga telah berada di sana bersama dengan para Raja itu, ikut sibuk mempersiapkan diri dan barang bawaannya yang tentu saja di bantu oleh para Prajurit kerajaan. Raas menatap pada seluruh pemimpin yang ada di hadapannya, dan memberikan mereka sedikit sapaan. “Baiklah, aku harap kalian sudah menyiapkan semuanya dengan matang!” Para Raja itu mengangguk dan menaiki kuda mereka masing-masing. Saat Raas ingin menaiki kudanya, suara langah kaki dari seorang wanita dapat Raas dengar dengan jelas, ia pun mengetahui pasti milik siapa suara langkah kaki tersebut. Raas mengurungkan niatnya untuk menaiki kuda, dan berbalik melihat sang Bunda yang menghampirinya dengan kepala yang menunduk, Ziona terlihat membawa sebuah kotak ditangannya. Ketika melihat raut tersebut, Raas mengingat kembali kesalahan yang ia telah lakukan tadi malam. Raas memanggil Ziona dengan lembut dan pelan, “Bunda...” Raas menghampiri Ziona kemudian memeluknya, “Maafkan aku, aku berjanji akan kembali membawa Kitab itu dengan selamat.” Ucapnya menenangkan sang Bunda sekaligus menyampaikan maafnya atas perlakuannya yang kurang ajar semalam. Ziona mengangguk dalam pelukan Raas, dan membalas pelukan tersebut dengan erat, anaknya yang kini sudah lebih tinggi dari dirinya ini membuat dirinya terlihat seperti seorang istri yang akan ditinggalkan suaminya di mata para Pemimpin maupun para Prajurit. “Raas, bawalah ini!” Begitu Raas melepaskan pelukannya, Ziona memberikan sebuah kotak berukuran sedang yang terbungkus kain yang ia bawa sebelumnya kepada Raas. Kotak itu juga adalah benda yang sebelumnya Raas dan Ea curigai. Raas terdiam mengamati kotak tersebut, ia sedikit kebingungan dengan benda yang kini ada di hadapannya itu. “Kau pasti membutuhkannya, gunakanlah ini di saat kau sudah tidak tahu lagi akan pergi kemana.” Jelas Ziona, dan itu sama sekali tidak mengurangi rasa kebingungan Raas. Dengan ragu, Raas menerima kotak tersebut dari tangan sang Bunda. “Bukankah ini kotak yang kami lihat tempo hari?” Raas akhirnya bertanya karena penasaran, Ziona mengangguk dengan senyuman manis yang ia perlihatkan pada sang anak. Raas tidak kembali mempertanyakan hal mengenai benda itu lebih jauh, karena ia harus segera berangkat menuju tempat pertama yang akan mereka tuju. Raas melambaikan tangannya pada Ziona dan mulai mengendarai kudanya ke luar gerbang istana, sementara Ziona hanya melihati kepergian sang anak sampai kuda-kuda itu tidak lagi terlihat dalam pandangannya. Raas dan para Raja berangkat menuju Lembah Molder, tempat pertama yang harus mereka lewati untuk menuju tempat Kitab Hazel. (NOTE : Lembah Molder adalah lembah yang terkenal telah memakan banyak korban jiwa. disebut sebagai lembah molder karena disanalah titik kehancuran semua harapan dan keyakinan berada. Satu hal yang harus dilakukan setiap orang disana agar dapat selamat, yaitu dengan membuang semua harapan.) “Paduka, apakah anda lelah?” Guam bertanya pada Raas saat ia menyadari bahwa Raas mulai mengendarai kudanya dengan pelan. Ia tidak mengetahui bahwa saat ini mereka telah mendekati salah satu tempat paling berbahaya yang ada. “Tidak Guam, aku baik-baik saja. Kurasa saat ini kita harus berhati-hati!” Raas tiba-tiba menghentikan kudanya, ketika posisi mereka memang sudah dekat dengan Lembah Molder. Ia melirik pada para Raja yang ikut menghentikan kuda mereka di belakangnya. “Terhadap apa Baginda?” Robert yang ikut menghentikan kudanya disamping Guam bertanya pada Raas, Ia dan seluruh Raja kini menatap pada Raas dengan serius. Mereka menduga-duga apa yang harus mereka waspadai dari wilayah yang ada di hadapan mereka itu. “Terhadap Lembah yang ada di hadapan kita itu... Dan dengarkan aku! Jangan pernah sekalipun dari kalian memikirkan harapan kalian disana!” Raas menunjuk Lembah yang berada didepan mereka, dan memberi tahu apa yang tidak boleh mereka lakukan ketika mereka melewatinya. Para Raja dihadapan Raas saling bertatapan mendengar perintah yang tidak berdasar itu. “Mengapa kami tidak boleh memikirkan harapan kami, Baginda?” Haris angkat bicara, ketika dirinya merasa penasaran dengan alasan yang mendasari hal tersebut. Raas tersenyum simpul sebelum mejelaskan apa yang sebenarnya akan mereka hadapi disana. “Karena jika kalian memikirkan harapan dan rasa keyakinan pada harapan tersebut, maka kalian tidak akan pernah bisa pulang dengan selamat dari dalam sana!” Raas menjelaskan dengan detail alasan mengapa dirinya memerintahkan agar mereka semua tidak memikirkan harapan mereka di dalam lembah Molder. “Jadi kita harus melewati apapun yang ada didalam sana, Baginda?” Raja Find yang mulai merasa ketakutan bertanya pada sang Raja, dan Raas pun hanya mengangguk menatap pada Find dengan tenang. “Paduka, apakah kami harus berpencar untuk melewati Lembah tersebut?” Steven yang melihat seberapa luasnya lembah di hadapan mereka itu, memberikan sebuah saran yang langsung disetujui oleh Raas. Find yang mendengar hal tersebut cukup ragu untuk menyetujuinya, tetapi apa yang bisa ia lakukan disana? Ia hanya bisa mengikuti perintah yang Raas katakana. “Bodhi dan Ronce, kalian lalui arah Timur lembah ini. Haris dan Robert, ku rasa kalian berjalan kearah Selatan. Find dan Guam, kalian kearah Barat. Steven bersama dengan Jiwoo kearah Utara, sementara aku... Akan ku lalui arah Tenggara.” Raas memberikan komando yang langsung di pahami oleh seluruh Raja tersebut, mereka semua mengangguk ketika pembagian wilayah yang Raas putuskan sudah selesai. Tetapi sebelum mereka mulai berpencar, tiba-tiba Jiwoo membuka suaranya untuk memastikan sesuatu. “Apakah tidak apa-apa jika Baginda pergi sendiri?” Jiwoo menanyakan hal tersebut karena ia merasa sedikit khawatir pada Raas yang memilih untuk memasuki wilayah tenggara seorang diri. “Aku akan baik-baik saja...” Raas menjawab pertanyaan itu dengan sangat singkat dan segera pergi menuju arah Tenggara Lembah Molder tanpa memberikan aba-aba pada Raja lainnya. Kedelapan Raja yang di tinggalkan Raas itu pun hanya mampu saling bertatapan, dan setelah Raas benar-benar tidak terlihat di pengelihatan mereka semua, barulah kedelapan Raja ini melaksanakan tugas mereka untuk masuk ke dalam lembah itu dengan arah yang berbeda. “Sial! Ea bertahanlah kumohon!” “Convalesce!” Sebuah teriakan dan ucapan mantra terdengar dengan jelas di telinga sang Pangeran, yang membuatnya seketika terbangun dari mimpinya tersebut, dan duduk dengan cepat di atas kasurnya. Nafasnya tersengal meskipun itu bukan sebuah mimpi buruk, tetapi mimpi tersebut mampu membuat jantungnya berdetup kencang karena takut. Hal itu adalah hal yang menakutkan menurut Ea, di mana posisinya tengah terbaring sekarat dan sang Kakak yang terlihat sangat panik sehingga membacakan mantra Convalesce. “Apakah itu mimpi? Ataukah itu nyata?” ia gumamnya seraya mengusap dahinya yang berkeringat, ia memandang kearah luar jendela kamarnya yang memperhatikan beberapa penjaga dan pelayan istana di luar sana, sibuk dengan aktivitas mereka. ‘Apakah saya bermimpi?’ Kembali, ia memikirkan apakah hal yang dilaluinya barusan hanyalah sebuah mimpi atau sebuah kenyataan yang kembali tereka ulang dalam mimpinya. Kriet... Ea mengalihkan pandangannya ketika ia mendengar suara pintu kamar yang terbuka secara perlahan, Ea melihat sang Ibunda tercinta tengah berdiri dengan senyum yang mengembang diwajahnya. “Bunda, apakah tadi malam saya...” Ea tidak melanjutkan pertanyaanya ketika ia melihat anggukan kepala dari sang Ibunda. Kemudian ia terdiam untuk beberapa saat sebelum kemudian kembali bertanya pada Ziona yang masih berdiri di ambang pintu kamar tersebut. “Lalu? Di mana Kakak?” “Dia sudah berangkat bersama para Raja yang lainnya beberapa jam yang lalu, untuk memulai perjalanan menuju tempat Kitab Hazel disimpan.” Ziona menjawab pertanyaan tersebut, Ea seketika berdiri dari tempatnya saat mendengar jawaban tersebut dan menghampiri Ziona yang terkejut karena gerakan Ea yang tiba-tiba itu. “Bunda, kita harus hentikan Kakak... Jangan sampai ia dan Raja yang lainnya bertaruh nyawa hanya untuk mengambil Kitab itu!” Ea menggenggam tangan Ziona dan meminta padanya untuk mengehentikan perjalanan sang Kakak. Namun Ziona hanya terdiam, ia menarik tangannya agar terlepas dari genggaman sang anak bungsu. Ia tidak mungkin melakukannya, karena itu sama saja dengan ia menyerahkan nyawa Ea pada sosok yang memberikan ancaman itu.  To be continued 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD