Raas berjalan menuju kamarnya, namun langkahnya terhenti ketika ia melewati kamar Ea. Raas merasa bahwa ia mendengar sebuah rintihan dari kamar tersebut, dan itu terdengar cukup jelas. Sontak Raas mendobrak pintu yang terbilang besar dan keras itu, matanya terbelalak ketika menemukan tubuh Ea tergeletak lemah tak berdaya diatas lantai, dengan mulut yang mengeluarkan darah. Raas juga melihat sebuah gelas yang telah pecah di samping tubuh adiknya tersebut.
“Ea!” Raas segera merengkuh tubuh Ea yang hamper tidak sadarkan diri itu, dan memperhatikan gelas yang sudah tidak terbentuk di atas lantai tersebut. “Sial! Ea bertahanlah kumohon!” Raas menatap pada Ea yang sudah tidak dapat bergerak namun masih terlihat bernafas meski dengan tersengal-sengal, dan matanya masih sedikit terbuka.
“Convalesce...” Raas bergumam seraya memejamkan matanya, ia membaca sebuah mantra untuk menyembuhkan sang Adik. (NOTE : Convalesce adalah sebuah mantra penyembuh yang biasa di gunakan oleh para Clairchanter/Clairchantress, yang berguna untuk menyembuhkan segala penyakit dan menghilangkan segala jenis racun yang ada di dalam tubuh.)
“Kakak, Anda...” Ea sempat membuka matanya dengan lebar, ketika ia mendengar dengan samar mantra yang Raas ucapkan tersebut. Namun setelah mantra itu terucap, ia kembali tidak sadarkan diri. Raas hanya menatapi Ea yang kembali bernafas dengan normal, dan mengucapkan syukurnya atas kesempatan yang ia miliki untuk menyelamatkan sang adik.
Seorang Prajurit yang tengah bertugas mengelilingi istana, melihat dengan curiga pada pintu kamar Ea yang terbuka lebar, ia segera berlari untuk mengecek apa yang terjadi, dan mendapati Raas yang sedang memangku sang Pangeran. Keadaan itu terlihat begitu genting di mata sang Prajurit ketika ia melihat kondisi kamar tersebut, “Baginda?! Apa yang terjadi?” Tanyanya yang segera menghampiri sang Raja dengan panik.
Raas menatap pada Prajurit yang baru saja datang tersebut, “Bantu aku mengangkat Ea keatas kasur!” Raas segera memberikan perintah. Dan tanpa banyak bicara, Prajurit itu mengangguk kemudian membantu Raas mengangkat Ea keatas kasur seperti apa yang Raas katakan. Setelahya Prajurit itu melangkah mundur dan menghadap pada Raas, ia menawarkan diri untuk memanggilkan seorang tabib. Namun Raas menggelengkan kepalanya dan menolak, ia justru memerintahkan agar Prajurit itu segera kembali melaksanakan tugasnya seperti semula.
Untuk beberapa saat, sang Prajurit terlihat kebingungan. Namun ia tetap melakukan apa yang Raas perintahkan. Ketika ia berjalan keluar kamar tersebut untuk kembali bertugas, Raas memanggilnya dan kembali memberikan sebuah perintah. “Jangan sebarkan berita ini kepada siapapun!” sang Prajurit mengangguh paham dan kembali berjalan keluar setelah Raas mengizinkannya.
“Bagaimana?” Raja Sebastian yang baru saja datang ke dalam sebuah ruang tamu megah, bertanya pada Josh yang tengah duduk santai disofa Kerajaan miliknya. Lelaki itu melirik dengan santai dan menjawab pertanyaan tersebut.
“Dia berhasil meminum racunnya!” Haris hanya tersenyum mendengar jawaban dari Josh tersebut. Ketiganya terlihat cukup puas dengan hasil dari rencana yang telah mereka susun.
“Tapi, Raas berhasil menyembuhkannya!” Bodhi mengintrupsi perasaan puas itu, seluruh Raja yang sebelumnya gembira tersebut segera melirik dan memandang heran kearah Bodhi yang sedari tadi diam bersandar disebuah tiang dalam ruangan megah milik Kerajaan Quaking tersebut. “Aku mempunyai mata-mata disana.” Bodhi berucap dengan singkat, seolah ia tahu bahwa teman-temannya ini membutuhkan penjelasan atas apa yang baru saja ia katakan.
Sebastian terlihat mendecik dan menatap pada Bodhi dengan sangat serius juga ada sedikit emosi di dalamnya.“Sial, apa dia mengetahui kita pelakunya?” Sebastiab bertanya, ia pun mempunyai rasa takut jika tiba-tiba Raas mengetahui rencana mereka, Bodhi menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut. Sebastian merasa lega atas jawaban yang ia terima, tetapi perkataan yang di katakana Bodhi setelahnya mampu membuat perasaan lega itu kembali hilang tergantikan dengan perasaan khawatir.
“Aku belum mengetahui pasti tentang hal tersebut. Tapi ada satu kabar mengejutkan untuk kita...” Bodhi memasang raut wajah amat serius pada teman-temannya, membuat mereka merasa penasaran dan rasa khawatir mereka semakin besar.
“Apa itu?” Josh yang penasaran dengan hal yang di ketahui oleh Bodhi, segera menghampiri lelaki tersebut dan berdiri di sampingnya. Semantara disaat ketiga orang itu sibuk membicarakan situasi, Raja Haris hanya terlihat terdiam menyimak apa yang terjadi, karena menurutnya lebih baik diam namun mengerti situasi dibandingkan dengan banyak bicara namun tidak mengerti apa-apa.
“Raas adalah seorang Clairchanter!” Bodhi tersenyum seraya merentangkan kedua tangannya kedepan, pose tubuhnya itu seolah-olah menggambarkan bahwa ada suatu kejutan yang istimewa yang mereka semua terima. Tentu saja orang-orang yang mendengarnya terkejut dengan ucapan Bodhi yang cukup keras untuk di dengar tersebut.
“Apa?” Haris yang merasa terkejut mulai membuka mulutnya, ‘Yang benar saja?! Jika Raas memang benar seorang Clairchanter, mungkin saja dari dulu kita sudah... Mati’ Itulah hal yang terlintas di pikiranya. Dan memang benar apa yang Haris pikirkan, jika Raas memanglah seorang Clairchanter maka seharusnya ia mengetahui apa saja hal yang mereka rencanakan dan tidak akan membiarkan mereka berbuat begitu saja. Haris merasa bahwa Bodhi keliru mengenai informasi yang ia dapatkan itu.
“Raas adalah seorang Clairchanter Haris! Apa suaraku terdengar begitu kecil bagimu?” Bodhi bertanya dengan menyandarkan kembali punggungnya pada tiang yang menjulang tersebut, sementara Josh dan Sebastian hanya tersenyum licik mengetahui rahasia yang di miliki oleh Raas. Senyuman mereka bagaikan senyuman seseorang yang telah memenangkan hadiah lottre dari tempat perjudian.
Haris menghela nafasnya ketika mendapatkan jawaban seperti itu, karena bukan itu maksud dari pertanyaannya tadi. “Maksudku apa kau yakin?” Haris memperjelas pertanyaannya, karena ia masih tidak percaya akan apa yang dikatakan Bodhi.
Bodhi dengan santai kembali menjawab apa yang menjadikan dirinya yakin dengan hal tersebut kepada Haris, Josh dan Sebastian. “Tentu saja aku yakin, Haris. Sebab mata-mataku mengatakan bahwa Raas mengucapkan sebuah mantra yang sudah tidak asing lagi ditelinga kita semua. Yaitu mantra Convalesce, mantra seorang Clairchanter!” Bodhi kembali tersenyum menang saat menjelaskannya. Ia tidak bisa untuk tidak merasa menang saat membahas hal ini.
Haris tetap tidak mempercayai perkataan Bodhi, ia merasa ada sebuah kejanggalan yang besar yang harus di pertanyakan. Tetapi sepertinya ketiga Raja yang bersamanya itu tidak ingin mengetahui kejanggalan tersebut dan lebih memilih puas dengan satu informasi saja. “Jika kalian begitu yakin, susunlah rencana selanjutnya!” Haris lebih memilih untuk pergi tanpa pamit meniggalkan Bodhi, Sebastian dan Josh yang menatap heran terhadap perkataan Haris yang terkesan tidak senang.
“Raas, mengapa kau dengan beraninya membaca mantra Valesce?” Ziona yang terkejut ketika mengetahui sang anak membaca mantra tersebut secara blak-blakan, bertanya pada Raas yang terdiam didalam kamar Ea sedari tadi. Raas tidak menjawab pertanyaan tersebut, ia hanya terdiam menatap tubuh Ea yang terlelap diatas Ranjangnya.
“Raas? Jawab Bunda! Kau tahu karena mantra tadi, mereka mengetahui kau adalah seorang Clairchanter!” Ziona menegur Raas ketika sang anak tidak menjawabnya, dan dengan sedikit membentak pada Raas. Karena ia merasa marah dan kecewa pada anaknya yang benar-benar keras kepala ini.
Raas tidak menengok ataupun melirik pada Ziona sedikitpun, “Aku seorang Enchanter, bukan Clairvoyant Enchanter Bunda! Aku tidak bisa meramalkan masa depan Bunda ingat? Aku hanya bisa menyebutkan mantra-mantra!” Raas menjawab bentakan Sang Bunda dengan begitu dingin, yang membuat Ziona terhenyuh dengan perkataan tersebut karena memang itulah kenyataan yang terjadi.
Ziona menghela nafasnya dengan pelan, ia harus tetap bersabar untuk menghadapi sifat sang anak yang benar-benar membuatnya lelah itu. “Tetap saja Raas, Mantra itu tidak boleh kau ucapkan secara gamblang! Kau harus memperhitungkan situasi dan resiko ke depannya!” Ziona berkata penuh dengan penekanan saat ini, walau bagaimanapun juga Ziona harus tetap mengingatkan Raas akan bahaya yang bisa saja terjadi jika seluruh Kerajaan bawahan tahu bahwa Raas memiliki darah seorang Clairchanter.
“Ea sekarat Bunda! Dan aku harus melakukan sesuatu sebelum kita kehilangan dirinya!” Pada akhirnya Raas berteriak di hadapan sang Bunda, saat ini dirinya benar-benar sedang marah pada orang-orang yang menyerang Ea. Namun kesalahannya adalah, ia menuangkan seluruh amarah itu pada Sang Bunda, dan itu tidak seharusnya ia lakukan. Ziona terlihat terkejut bahkan ia hampir menangis karena teriakan tersebut. “Bukankah Bunda sendiri yang mengatakan bahwa Ea sakit? Aku tidak peduli jika mereka mengetahui aku adalah siapa, karena takdirku telah mengatakan bahwa mereka akan mati ditanganku nanti!” Raas belum menyadari kesalahannya, ia tetap melanjutkan perataannya hingga selesai. Tidak lama kemudian, ia menatap pada Sang Bunda yang kini terlihat menahan tangisannya. Disaat itulah Raas menyadari kesalahan yang telah ia perbuat pada Ziona.
“Kau memang keras kepala Raas!” Ziona tidak dapat menahan dirinya lebih jauh lagi, ia benar-benar merasa sedih dan segera pergi meninggalkan Raas tanpa berkata apapun lagi. Raas terdiam menatap pintu yang tertutup dengan keras tersebut, ia menunduk beberapa saat kemudian dan bergumam dengan pelan.
“Aku tahu Bunda, aku tahu. Maafkan aku...” Raas merasa menyesal atas apa yang telah ia lakukan pada Ziona, namun ia hanya mampu terdiam dan menemani Ea sepanjang malam untuk memastikan bahwa sang adik akan baik-baik saja.
To be continued