Semua untuk mu

1693 Words
 Tanpa disadari oleh siapapun dari balik pintu ruangan tersebut, seorang Pangeran Monitum tengah terdiam mendengarkan seluruh percakapan itu dengan tidak percaya. ‘A-aku? Jadi aku adalah Pangeran Crown Imperial yang mereka cari? Tapi... mengapa?’ Ea bertanya pada dirinya sendiri, hatinya mendadak merasakan kegelisahan yang luar biasa ketika mengetahui kebenaran itu.   “Wilayah ini terbilang cukup rawan, jadi sebaiknya...” Selama Raas memberikan penjelasan mengenai wilayah-wilayah terlarang pada para Pemimpin, terlihat Ziona hanya terdiam menatap dengan tatapan kosong kea rah pintu yang ada di ujung sana. Sebenarnya sedari tadi ia merasakan sesuatu hal yang mengganjal yang ada di balik pintu itu, yang membuatnya terus menatap kearah sana. “Raas!” Ziona tiba-tiba memanggil nama Raas dengan cukup keras dan penuh kekhawatiran, membuat Raas yang sibuk menjelaskan itu berhenti dan menengok kea rah kanan untuk menatap pada sang Bunda. Melihat raut wajah Ziona yang penuh kekhawatiran itu, membuat Raas memutuskan untuk berjalan dan menghadap pada sang Bunda. Menepuk bahu wanita yang telah melahirkannya itu dengan lembut, seraya bertanya “Ada apa Bunda?” Ziona terlihat pucat, dan kini seluruh Raja serta Ratu dapat melihat wajah cantik Ziona yang terkesan redup. Pancar kecantikannya tergantikan dengan pancaran kekhawatiran yang luar biasa. Merekapun hanya bisa menatap Sang Ratu yang berucap tanpa mengeluarkan suara apapun, mulutnya bergerak mengatakan ‘Ea.’ Beberapa dari mereka mmenyadari hal itu, termasuk Raas yang segera berlari menuju pintu dan membukanya dengan lebar. Saat pintu besar tersebut terbuka, ia dan para pemimpin Negara lainnya melihat Ea tengah terdiam menatap kearah lantai dengan tatapan hampa. “Ea, sedang apa kau berdiri disini?” Raas yang sebenarnya terkejut bertanya dengan tenang, seolah tidak ada apapun yang terjadi. Padahal di dalam hatinya ia berharap Sang Adik tidak mengerti maksud dari pertemuan ini, maupun hal yang mereka bicarakan beberapa saat yang lalu. Para Raja dan Ratu hanya terdiam bungkam, memperhatikan keduanya dari tempat mereka karena tidak ingin salah langkah jika mereka ikut campur kedalam pembicaraan Keluarga Nara.   Ea tidak mengatakan sepatah kata apapun untuk beberapa saat, kemudian ia pergi begitu saja mengabaikan panggilan berulang Raas padanya. Raas berbalik untuk menatap pada Ziona, “Bunda, aku meminta Izin untuk berbicara dengan Ea!” Ziona mengangguk mengizinkannya, maka setelah itu dengan segera Raas pergi meninggalkan ruangan tersebut dan berjalan setengah berlari menuju kamar Ea. Raas membuka pintu kamar Ea dan masuk kedalamnya tanpa suara atau mengetuk pintu terlebih dahulu, untuk sesaat ia mengabaikan tata karma. Raas melihat sang adik kini tengah berjalan mondar-mandir di depan jendela kamar dengan gelisah, kedua tangannya bertautan dan bergetar kecil, saling meremas. Tanpa melihat siapa yang datang pun, Ea telah mengetahui itu pasti adalah sang Kakak yang tadi memanggilnya. “Kakak, jadi saya adalah...”, “Jangan cepat menyimpulkan Ea! Ini tidak sama dengan apa yang kau pikirkan.” Raas memotong perkataan Ea, ia menegur agar Adiknya itu dapat menenangkan dirinya sendiri dan tidak mempercayai apa yang ia pikirkan, meskipun pikiran dan dugaannya adalah benar. Raas tidak ingin Ea mengetahui siapa dia yang sebenarnya, ia melakukan itu karena tidak ingin sesuatu hal buruk terjadi menimpa Ea jika adiknya tersebut tahu bahwa dirinya yang sebenarnya adalah seorang Crown Imperial. “Memang begitu kenyataannya kan, Kak?” Ea berbalik menatap Raas dengan sangat dingin, tatapan yang tidak pernah Ea keluarkan pada Raas maupun Ziona. Namun, kini tatapan itu telak tertuju pada Raas yang terdiam dihadapannya. Ea beralih menatap kedua tangannya dan berkata, “Jika mereka memang menginginkan Pangeran Crown Imperial, mengapa tidak Kakak berikan saja? Mengapa harus serepot ini?” Kemudian Ea kembali menatap Raas dengan mengerenyitkan dahinya. “Ea...”, “Mengapa Kakak justru memilih menyembunyikan kenyataan bahwa saya ini adalah Crown Imperial?” Dengan sangat berani,  Ea memotong perkataan Raas yang belum selesai. “Saya tidak mengerti mengapa mereka menginginkan saya, apa yang sebenarnya mereka inginkan dari saya? Lalu mengapa Kakak lebih memilih jalan membawa Kitab Hazel ketimbang menyerahkan saya pada mereka? Jika mereka menginginkan saya, mengapa tidak Kakak berikan saja saya pada mereka? Dengan begitu Kakak tidak perlu membawa Kitab Hazel dengan mempertaruhkan nyawa Kakak dan para Raja lainnya!”  Ea melanjutkan ucapannya dengan panjang lebar dan penuh penekanan yang secara tidak langsung ia perlihatkan. Raas membuang nafasnya untuk menjadi lebih tenang ketika ia ingin sekali meluapkan emosi yang sama sepeti adiknya tersebut. “Kau tidak mengerti Ea, ini adalah keputusanku untuk membawa Kitab Hazel padanya dan menyelamatkan dirimu darinya.” Raas mencoba membuat Adiknya ini mengerti dengan apa yang telah ia putuskan itu, namun Ea terlihat tidak mengerti dengan maksud dari penjelasannya tersebut, dan kembali bertanya pada Raas. “Mengapa Kakak lebih memilih untuk menyelamatkan saya?” Kali ini pertanyaan yang di ucapkan oleh Ea terdengar seperti lelucon bagi Raas, bagaimana tidak? Ia menanyakan hal seperti itu layaknya orang bodoh yang tidak pernah bersekolah. “Karena kau adalah Adikku, Ea! Dan aku tidak menginginkan hal buruk terjadi padamu!” Raas menjawab pertanyaan tersebut dengan nada yang sedikit ia tinggikan, untuk saat ini Raas tidak bisa menahan dirinya lagi, ia mulai terbawa emosi karena sang Adik tidak kunjung mengerti dengan keputusan sulit yang telah ia ambil untuk keselamatan dirinya. “Itu tidak masuk akal, semua orang akan melakukan hal yang egois apabila mereka terancam. Termasuk mengorbankan keluarganya untuk keselamatan dirinya sebagai pemimpin.” Cukup! Ucapan Ea tersebut sukses membuat Raas geram. “Tapi aku berbeda! Tidak ada yang lebih berharga bagiku selain dirimu dan Bunda!” Raas membentak sang adik dengan sangat keras, membuat Pangeran tersebut hanya bisa menunduk takut. “Meskipun itu Kitab Hazel? Kitab yang membawa kedamaian sekaligus kehancuran di seluruh penjuru Dunia?” Ea kembali bertanya dengan perkataan yang lebih halus diiringi dengan ketakutan yang dia rasakan. Raas menyadari perubahan sikap Ea tersebut dan menyesal karena telah membentak pada sang adik. “Kitab itu, ataupun Dunia tidak ada nilainya di hadapanku. Dan tidak ada yang bisa menghentikanku dalam perjalanan membawa Kitab ini termasuk dirimu Ea.” Raas menjawab pertanyaan itu tidak dengan nada tinggi kali ini. Jawaban tersebut berhasil membuat Ea terkejut, ini adalah ucapan yang tidak pernah ia dengar sebelumnya, seumur hidupnya bersama dengan sang Kakak. Dan ketika ia mengangkat wajahnya, tenyata Raas telah pergi meninggalkan kamar untuk kembali kedalam ruang perundingan. “Jangan membuat dirimu dan Raja lainnya terluka hanya karena melindungiku... Kakak!” Ea hanya mampu berteriak meskipun tidak akan di dengar oleh Raas yang kini sudah berjalan menjauh.   Raas telah kembali ke ruang perundingan beberapa saat yang lalu dengan raut wajah yang keras, menandakan ia marah. Tetapi setelah Raas duduk di hadapan para Raja dan Ratu itu, raut tersebut menghilang menjadi lebih tenang. “Jadi, Baginda... kita akan berangkat besok pagi?” Find bertanya ketika Raas mempersilahkan untuk para Raja yang ikut bersamanya bertanya jika mereka tidak mengerti. Raas hanya mengangguk sebagai jawabannya kemudian ia berdiri dari duduknya untuk menatap seluruh pimpinan Kerajaan. “Aturlah Kerajaan kalian sebelum kalian ikut bersamaku! Pertemuan ini dibubarkan!” Setelah berkata seperti itu, Raas pergi meninggalkan takhtanya bersama dengan Ziona dan para Prajurit yang mengawal keduanya. Para Raja dan Ratu yang mengerti bahwa perundingan hari itu telah selesai, berdiri dari tempat ketika Raas berjalan melewati mereka. Setelah Raas dan Ziona meninggalkan ruang perundingan itu, barulah para Raja dan Ratu tersebut bergegas mempersiapkan segalanya termasuk kembali ke istana mereka. Aruba yang saat ini tengah sibuk merapikan beberapa kertas yang ia bawa sebelumnya. Tiba-tiba sebuah tangan menepuk bahu tegap itu dengan pelan, “Aruba, saya titip Rakyat Shamrock padamu, juga kedua Adik saya yang lucu itu.” Raja Aruba mendengar dengan jelas suara dari Ronce yang menepuk bahunya tersebut, Aruba hanya menoleh dan mengangguk menyetujuinya dengan sebuah senyuman yang ia ukirkan. Raja Jiwoo yang memiliki tubuh paling gagah itu, menghampiri keduanya. “Saya pun demikian, Aruba! Saya menitipkan Rakyat Broom padamu, jangan lupa untuk jaga Pangeran dan Ibunda Ratu. Maaf karena telah merepotkanmu.” Ucap Jiwoo dengan rasa malu karena menitipkan sebuah tugas yang cukup besar dan sulit pada Aruba, Raja yang memiliki umur lebih muda darinya itu. Aruba hanya terkekeh kecil mendengar permintaan maaf tersebut, karena tidak seharusnya Jiwoo mengatakan maaf padanya. Aruba sudah mengerti dengan tugasnya yang harus ia lakukan di sini, karena ia juga mengkhawatirkan keluarga kerajaan Monitum. “Saya mengerti, saya akan lakukan yang terbaik sampai akhir. Begitu pula kalian berdua, jangan sampai sesuatu terjadi pada Baginda maupun diri kalian sendiri.” Aruba tersenyum lebar pada kedua Raja yeng berumur lebih tua darinya. Melihat senyuman tersebut, baik Jiwoo maupun Ronce mengangguk dan ikut tersenyum. Tidak lama kemudian ketiganya bergegas untuk meninggalkan ruangan itu bersama-sama. Sementara Raja-raja yang cukup muda seperti Adam, Clara, Robert dan Find, masih berbincang di dalam ruang tersebut, “Saya titip Baginda padamu Find.” Adam yang merasa bersalah karena tidak dapat mendampingi Raas, tiba-tiba menghampiri Find yang sedang membereskan barang miliknya dan berkata demikian. “Tenanglah Adam... Saya yakin selain saya, Raja lainnya juga akan menjaga Baginda dengan sekuat mereka. Lagi pula, yang seharusnya yang dijaga itu Ibunda Ratu dan Pangeran... Mereka berada jauh dari Baginda itu bukanlah hal yang biasa kan? Oh iya, saya titipkan Rakyat Elder dan Salvia padamu Adam. Mohon bantuannya ya!” Find tersenyum ringan seraya mengulurkan tangannya untuk meminta jabatan tangan Adam, “Baiklah.” Adam membalas uluran tangan tersebut dan tersenyum, kemudian ia menepuk-nepuk pundak Find yang sedikit lebih pendek darinya. Raja Robert datang menghampiri keduanya dan menyenggol lengan Adam dengan pelan, membuat kedua Raja yang sebelumnya tengah berjabatan tersebut melirik heran padanya. “Saya juga ingin menitipkan Kerajaan Myrrh padamu Adam. Selain itu, jaga Clara. Jangan sampai ia memiliki niat untuk berpaling dariku.” Ucapan Robert tersebut sukses membuat Find dan Adam terdiam karena terkejut. “Jadi m-maksud kalian?” Find menatap pada Robert dan Clara secara bergantian, tangannya hendak menunjuk ke arah mereka berdua tetapi dirinya yang sadar segera menarik tangan itu dengan tangan yang lainnya. “Saya pulang terlebih dahulu, permisi.” Clara hanya tersenyum dan pulang begitu saja meninggalkan ketiganya tanpa berbicara dan tidak mengkonfirmasi apapun. Setelah kepergian Ratu cantik nan muda tersebut, Adam segera melirik pada Robert dan bertanya. “Sejak kapan?” dengan suara yang pelan hampir berbisik. Robert tersenyum ketika mendapatkan pertanyaan tersebut, kemudian ia menjawab dengan sedikit santai, “Belum lama...” setelah itu, Raja Robert pergi meninggalkan Adam dan Find. To be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD