Rencana Kepergian Raas

1574 Words
Malam harinya, sesuai dengan apa yang diinginkan Raas. Seluruh Raja dan Ratu telah datang dan berkumpul di ruang perundingan. Dengan gelisah mereka menunggu kedatangan Raas, mereka tidak mengetahui apa maksud dan tujuan Raas mengumpulkan mereka dengan kesan tergesa-gesa pada saat ini. Ini adalah hal yang baru pertama kali mereka alami selama menjadi bawahan dari Raas, sebab selama ini Raas tidak pernah membuat sebuah perundingan mendadak, ia selalu membuat jadwal terlebih dahulu agar setiap Kerajaan bisa menyesuaikan dengan kegiatan kerajaan masing-masing. “Apa yang sebenarnya terjadi?” Clara yang baru saja datang bertanya pada Adam yang telah duduk disampinya. Adam terus memperhatikan pintu masuk, menunggu kedatangan Raas dan mengharapkan penjelasan atas apa yang terjadi saat ini. “Saya sendiri tidak mengetahui apa-apa Clara, sebelumnya pagi ini Baginda hanya bertanya perihal p*********n terhadap kerajaan Teasel yang akan beliau lakukan, dan saya tidak tahu mengapa saat ini kita mengadakan perundingan mendadak.” Adam mencoba menjelaskan pada Clara sedetail mungkin, meski dirinya tidak menatap pada Ratu tersebut. Tidak lama dari saat itu, pintu yang sedari tadi tertutup tersebut akhirnya terbuka memperlihatkan sosok Raas yang datang bersama dengan Ratu Ziona yang lagi-lagi adalah sebuah hal yang jarang mereka lihat. Ziona... Atau Ibunda Ratu bagi mereka semua, tidak pernah sekalipun ikut ke dalam kegiatan perundingan yang Raas adakan. Tetapi sepertinya hal ini melebihi dari taraf kepentingan lainnya, atau adanya situasi gawat yang memaksa Raas untuk mengikut sertakan Ratu Ziona kedalamnya. Setidaknya itulah yang ada di dalam benak para Raja dan Ratu bawahan Monitum. Langsung saja para Raja dan Ratu berdiri dari duduk mereka untuk memberikan hormat, dan menatap Raas yang berjalan menuju takhtanya. “Ada apa Paduka? Apa saat ini keadaan sedang sangat genting?” Raja Sagiso langsung saja bertanya pada Raas yang telah duduk di tempatnya. “Iya.” Jawab Raas dengan singkat, ia bahkan tidak keberatan dengan pertanyaan tersebut. Jika biasanya ia akan merasa marah ketika seseorang bertanya padanya sedangkan dia baru saja datang dan duduk, namun tidak dengan kali ini. Mereka semua terdiam menatap Raas yang terlihat santai walaupun raut gelisah juga ikut terlihat di raut wajahnya. “Apa itu, Baginda?” Haris juga meminta penjelasan lebih mengenai hal yang akan Raas sampaikan itu, disamping para Raja dan Ratu yang lain. Raas terdiam untuk mengambil nafas panjang sebelum ia berkata dengan penuh ketegasan, menjelaskan apa yang telah terjadi. “Aku telah memutuskan untuk melakukan perjalanan mengambil Kitab Hazel.” Mendengar keputusan Raas yang sangat besar tersebut, membuat seluruh Raja dan Ratu terkejut. Sementara Ziona yang duduk di damping Raas, hanya mengangguk diam membenarkan ucapannya. “Tapi Baginda, saya dengar pengambilan Kitab itu akan sangat membahayakan.” Clara angkat suara, membuat seluruh pemimpin itu menatap padanya, “Lagipula Kitab itu sudah lama tersimpan dan tidak ada seorangpun yang selamat dalam perjalanan kesana!” Clara mengingat peristiwa yang terjadi beberapa tahun silam yang pernah kedua orang tuanya ceritakan padanya, bukan hanya itu... Cerita mengenai pengambilan Kitab terlarang itu sudah menjadi cerita popular di seluruh kalangan, baik di kalangan masyarakat biasa maupun pada kalangan Kerajaan. Raas mengangguk, dan membenarkan hal tersebut. “Aku tahu itu, Clara. Tetapi aku tetap harus membawanya.” Namun Raas yang tetap pada pendiriannya dan berbicara seperti itu pada Ratu Clara. Adam yang duduk di samping Clara terlihat diam beribu bahasa menanggapi hal tersebut. Masih banyak hal yang belum ia mengerti dari Raas, dan alasan Raas mengambil kitab terlarang itu pun belum jelas. “Mengapa Kitab Hazel harus dibawa kemari? Bukankah... Kitab tersebut tidak boleh terusik keberadaannya? Jika anda tidak menjelaskan semuanya dengan jelas, maka Kami tidak akan mengerti, Paduka.” Apa yang Steven ucapkan cukup mewakili seluruh rasa penasaran yang ada di dalam benak Adam maupun beberapa Raja lainnya. Raja Steven memang seorang Raja yang tidak segan untuk mengeluarkan pendapatnya, maka jangan salahkan sikapnya itu yang sering terlihat sekalipun pada Raas. Raas menghembuskan nafasnya lebih lama, kemudian ia mengangguk setelah bertukar tatapan dengan Raja Steven dalam waktu yang cukup lama. “Begini masalah yang sedang ku hadapi, Steven. Aku diberi waktu sepuluh hari untuk membawa Kitab Hazel kemari, jika tidak... Ea akan mati.” Raas menjelaskan apa yang menjadi alasannya memutuskan untuk mengambil kitab terlarang itu, tanpa adanya kebohongan. Raas juga tidak menunjukkan ekspresi apapun pada wajahnya, hanya raut dingin yang dapat di lihat oleh mereka semua. Adam yang sedari tadi terdiam, kini merasa terkejut luar biasa mendengar penjelasan Raas yang sangat jelas itu. Ini tidak seperti Raas yang biasanya, yang tidak akan memilih pilihan penting lainnya hanya untuk pilihan penting yang satunya. Karena Raas yang Adam kenal, akan lebih memilih untuk membunuh orang yang berani mengancamnya tersebut. “Jadi maksud Paduka, nasib Pangeran kini berada di tangan Paduka?” Rwanda yang juga merasa khawatir, bertanya demikian untuk memastikan semuanya. “Siapa yang berani mengancam Baginda seperti itu?” Clara ikut membuka mulutnya, ketika merasa pilihan tersebut tidak masuk akal. Raas bungkam tidak menjawab satu pertanyaanpun yang di lontarkan mereka semua padanya, karena ia tidak memiliki kewajiban untuk menjawab semua itu. Sementara Ziona yang mengerti akan kegelisahan dari anak lelakinya itu, akhirnya angkat bicara untuk menenangkan para pemimpin kerajaan. “Begini saja, besok pagi Raas akan mulai melakukan perjalanan untuk mengambil Kitab itu tanpa satu orang Prajurit yang mendampinginya. Jadi Saya harap beberapa dari kalian sudi untuk membantunya melewati tahapan menuju tempat di mana Kitab Hazel disimpan.” Ziona berkata dengan tegas dan penuh harapan agar beberapa dari para Pemimpin bawahan ini mau menemani Raas melalui perjalanan tersebut. Raas yang tidak mengetahui keputusan itu segera melirik keaarah sang Bunda dan menolaknya dengan keras. Ia tidak ingin ada seorangpun yang menemaninya mengambil kitab tersebut, karena itu bisa saja menjadi boomerang bagi dirinya sendiri jika orang-orang yang ikut adalah para pengkhianat. “Bunda, aku bisa melalui itu semua sendiri. Dan aku tidak memerlukan bantuan apapun dari siapapun!” Raas menatap Ziona dengan tatapan meyakinkan bahwa dirinya bisa melakukan semua itu sendirian. Sedangkan Ziona menanggapi penolakan keras itu dengan santai. “Aku mempunyai firasat buruk mengenai hal ini Raas, patuhilah perintahku maka kau akan selamat!” Ucapan tenang namun menusuk yang keluar dari mulut Sang Bunda akhirnya membuat Raas mengangguk pasrah dan terdiam di tempat itu. Melihat keadaan yang sudah mulai mereda diantara ibu dan anak tersebut, akhirnya Adam segera angkat bicara. “Saya akan mendampingi Baginda kemanapun ia pergi sampai akhir!” Adam berdiri dari duduknya seraya menaruh kepalan tangan kanannya diatas d**a kirinya, tanda ia mengabdi penuh pada Raas. Seluruh Raja dan Ratu menatap takjub pada keberaniannya, untuk memutuskan hal tersebut. Raas tidak terlihat terkejut ketika melihat Adam menjadi orang pertama yang mengajukan dirinya. “Tidak Adam, kau harus tetap disini! Tidak ada yang kupercayai untuk menjaga Bunda, dan Ea selain dirimu.” Raas menolak hal tersebut dan menatap Adam yang sedikit mengerenyitkan dahinya, kecewa ketika mendengar penolakan dari Raas. Namun tidak lama kemudian Adam mengangguk paham lalu menurunkan tangannya dan kembali duduk di tempat di mana dia berasal. Disaat yang bersamaan dengan duduknya Adam, Find berdiri dengan cepat dan terkesan tergesa-gesa. “Jikalau begitu... Izinkan saya yang mendampingi anda, Baginda!” Ucap Raja termuda ini seraya menaruh tangan kanannya persis seperti apa yang dilakukan Adam tadi, kali ini Raas menangguk setuju atas permintaan tersebut. “Saya akan membantu Paduka sampai akhir.” Tanpa harus menunggu lebih lama, Guam berdiri menatap Raas dengan tatapan tegas miliknya. Raas mengangguk pelan menyetujui hal tersebut, karena ia pun merasa membutuhkan Raja itu untuk berada di sampingnya. Sosok Ayah, itulah yang ia butuhkan dari hadirnya Guam, meskipun ia tidak memperlihatkan hal tersebut. Tidak lama dari berdirinya Guam, Bodhi… Raja yang memiliki paras tampan itu ikut berdiri dari duduknya. “Saya akan ikut dengan Baginda.” Bodhi melirik dan mengangguk kecil pada Haris yang duduk tepat dihadapannya. Kemudian, dengan cepat Haris pun berdiri dan mengangkat tangannya mengulang posisi yang dilakukan oleh Adam dan Find sebelumnya. “Saya siap mendampingi Baginda!” Ucapnya dengan senyuman tipis yang tidak terlihat mencurigakan bagi siapapun, membuat Raas akhinya mengangguk mengizinkan keduanya untuk ikut bersamanya meskipun dirinya tidak menginginkan itu. “Saya siap Paduka!” Tanpa Raas sadari, Raja Steven telah berdiri dengan santai dihadapannya dan mengajukan diri. Belum sempat Raas menyetujui itu, Robert yang ada di samping Find juga berdiri dan berucap “Saya ikut dengan Baginda.” Maka Raas mengangguk sebagai jawaban setuju pada keduanya. Tidak lama dari anggukkan Raas, tiga Raja Valerian secara bersamaan berdiri dari duduknya. Salah satu dari mereka berucap mewakili dua orang lainnya, “Saya dan Jiwoo akan mendampingi Baginda, sementara Aruba akan membantu Adam menjaga Ibunda Ratu dan Pangeran Ea.” Ronce yang menjadi wakil dari kedua lainnya angkat bicara, disampingnya terlihat Jiwoo dan Aruba mengangguk mengiyakan. Raas menatap sejenak pada ketiga Raja tersebut, lalu tersenyum tipis seraya mengangguk untuk mengizinkan mereka. Maka dari situlah, terkumpul delapan orang Raja yang akan mendampingi Raas menuju tempat di mana Kitab Hazel disimpan. Dan setelah tidak ada lagi Raja yang berdiri ataupun mengajukan diri mereka untuk mendampingi Raas, Ziona segera memberitahu agar Raas memulai semuanya. “Baiklah, besok pagi kita akan mulai berangkat menuju tempat di mana Kitab Hazel disimpan. Inilah wilayah yang harus kalian semua lalui terlebih dahulu, nama wilayah ini...” Raas mulai menerangkan beberapa rincian perjalanan pada mereka semua, ia tidak hanya menjelaskan pada delapan orang Raja yang akan mendampinginya saja, tetapi ia menjelaskan juga kepada para Raja dan Ratu yang tidak ikut. Karena ia ingin mereka semua mengetahui seberapa sulitnya perjalanan yang akan ia dan delapan Raja lainnya lalui. Maka tidak ada satupun dari Raja dan Ratu itu yang akan menganggap enteng perjalanan tersebut.  To be continued 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD