Kitab Hazel

1644 Words
Raas yang berjalan dengan tergesa-gesa itu menggerutu di tengah langkah kakinya, “Kenapa, disaat seperti ini?!” Ia hanya bergumam kecil tanpa di dengar oleh siapapun. Setelah sampai di depan pintu Istana, Raas segera membuka pintu besar itu dan keluar Istana untuk menghampiri para penjaga dengan sedikit berlari. Salah satu penjaga yang melihat datangnya sang Raja, merasa lega dan segera menghampiri sang Raja seraya melaporkan situasi. “Baginda, ada yang bertanya...”, “Aku tahu, mana dia?” Raas yang tidak ingin membuang-buang waktu, menyela perkataan dari Penjaga tersebut dan menatap ke arah luar gerbang Istana untuk mencari orang yang datang menanyakan Crown Imperial. “Disana Baginda.” Penjaga tersebut menunjuk kearah seseorang yang mengenakan jubah tengah berdiri ditepi pintu gerbang Istana Monitum dengan gagahnya. Ia membelakangi Raas dan kedua penjaga lainnya, kedua tangannya tersimpan di belakang saling bertautan. Berdiri layaknya seorang panglima yang memantau para prajuritnya yang sedang berlatih menggunakan pedang. Raas menghembuskan nafasnya dengan pelan, untuk mengatur semua emosi yang tengah ia rasakan. “Ada apa kau mencariku?” Raas bertanya dengan suara gagahnya, berjalan menghampiri sosok tersebut tanpa rasa takut. Sementara kedua prajurit tadi bersiaga di belakangnya, jika sesuatu hal yang tidak di inginkan terjadi. Raas dapat melihat bahu dari sosok itu bergetar, terkekeh mendengar pertanyaan yang Raas ucapkan. “Tenyata selama ini, aku salah memasuki wilayah ya?” Sosok tersebut tetap membelakangi Raas yang sudah berada tidak jauh darinya, dan hal tersebut tentu membuat Raas menjadi penasaran sekaligus geram karna tingkah sosok tersebut. “Ada apa kau mencariku?” Raas mengulang kembali pertanyaannya yang tidak dijawab oleh sosok tersebut. Terdengar suara geraman dari sosok di hadapan Raas itu, kedua prajurit yang ada di belakang Raas pun dapat mendengar suara geraman itu dan segera mengangkat senjata milik mereka. “Kau bukan Crown Imperial!” Sosok itu membentak seraya berbalik menghadap pada Raas, ia menggeleng-gelengkan kepalanya ketika menatap Raas yang menyipit menatap wajah tak terlihat milik sosok tersebut. “Crown Imperial masih berada di dalam sana!” Sosok tersebut menunjuk ke arah Istana Monitum dengan tangannya yang berupa tulang berulang. Untuk sesaat Raas terdiam melihat tangan dari sosok tersebut, ia terkejut ketika menyadari bahwa sosok yang ada di hadapannya ini bukan seorang manusia. Namun Raas tidak takut dengan fakta tersebut dan kembali bertanya pada makhluk tersebut. “Mau apa kau menemuinya?” Raas berusaha mencari tahu siapa sosok ini dan mengapa ia sangat ingin bertemu dengan Crown Imperial atau bahkan mengenal Crown Imperial yang tidak banyak di ketahui orang-orang. “Membunuhnya!” Jawaban singkat dari makhluk tersebut sukses membuat Raas merasa emosi dan geram. Raas mengepalkan tangannya dan melangkah untuk menghadap makhluk tersebut. “Kurang ajar! Langkahi dulu mayatku!” Raas memasang badannya untuk melindungi sesuatu yang bahkan sebenarnya tidak ada di dekat keduanya, pembicaraan dan kejadian disana dapat di saksikan langsung oleh para prajurit maupun penjaga yang bertugas di wilayah gerbang Istana. Sosok itu tertawa dengan cukup kencang, “Hahaha! Sangatlah mudah bagiku untuk membunuhmu Raja! Rasanya akan semudah saat aku membunuh 2000 Clairchanter lainnya.” Ancaman yang di ucapkan sosok tersebut membuat Raas diam di tempatnya dan membatu. Ada rasa tidak percaya pada perkataan yang baru saja ia dengar itu, namun… Mengingat sosok tersebut bukanlah manusia biasa, Raas harus setidaknya merasa sedikit terancam. “Ah, Begini saja... Aku akan memberikan mu waktu sepuluh hari Raas, dan akan mulai ku hitung dari esok pagi. Berikan Pangeran Crown Imperial itu, atau kau berikan Kitab Hazel padaku!” Sosok tersebut memberikan sebuah pilihan yang mengejutkan pada Raas, dan kemudian entah dengan cara apa, sosok itu menghilang dari pandangan Raas maupun para Prajurit dan Penjaga yang berdiri di sana. Itu bukanlah sebuah trik sulap sederhana yang dapat mereka lihat, tetapi sosok ini benar-benar menghilang dalam sekejap. “Dari mana ia mengetahui namaku?” Raas bergumam pada dirinya sendiri, ketika ia mendengar ucapan sosok itu tadi. Raas juga tidak percaya akan apa yang baru saja ia lihat. “Baginda!” Para Prajurit dan Penjaga yang ada di sana segera berlari menghampiri Raja mereka ini untuk memastikan bahwa dia baik-baik saja. (NOTE : Kitab Hazel adalah Kitab Perdamaian yang keberadaannya sangat dijaga oleh Kerajaan Monitum, Kitab yang menyimpan kekuatan besar di dalamnya. Monitum memutuskan untuk menyembunyikannya dari orang-orang, karena jika Kitab Hazel jatuh ketangan orang yang salah, perdamaian yang ada akan terusik, peperangan akan terjadi di mana-mana, Langit akan menjadi sangat gelap, suasana mencekam akan terasa kental dan perang saudarapun tidak terhindarkan. Kitab tersebut tersimpan dalam kotak yang sangat dijaga dengan beberapa tahapan perjalanan. Dan tidak ada seorangpun yang mengetahui di mana Kitab itu berada, kecuali keluarga Kerajaan Monitum.) “Apakah Baginda baik-baik saja?” Tanya salah seorang Prajurit Zinnia Scarlet pada Raas yang terdiam lama di tempatnya. Tidak kunjung mendapat jawaban dari Sang Raja, para Prajurit dan Penjaga tersebut saling bertatap heran bahkan ada beberapa yang merasa khawatir jika Raas telah terhipnotis dan lain sebagainya. “Ah... Aku baik-baik saja!” Raas yang sadar dari lamunannya, segera menjawab Prajurit tersebut sebelum kemudian ia mengambil nafas panjang untuk memberikan perintah pada mereka. “Panggilkan seluruh Raja dan Ratu bawahan Monitum, katakan pada mereka bahwa Aku memiliki hal penting yang harus ku bicarakan dengan mereka malam ini!” beberapa Prajurit Zinnia Scarlet yang memang ada di sana, segera mengangguk dan pergi mengikuti perintah Raas. “Dan kalian, kembali bertugas sesuai posisi masing-masing!” Raas berjalan meninggalkan beberapa Prajurit dan Penjaga yang sebelumnya mengatakan ‘Siap Baginda!’ padanya atas perintah yang ia berikan. Raas segera berjalan menuju kamar Ratu Ziona, di mana ia menyuruh agar Ea dan sang Ibu untuk menunggunya. “Bunda, Kakak memerintahkan saya agar menunggunya bersama bunda disini.” Ea yang sebelumnya mengetuk pintu kamar itu, kini berjalan memasuki kamar Ziona yang terbilang lebih luas dari kamar miliknya. Ziona yang sedang berdiri di depan kaca lemari besarnya itu hanya mengangguk kecil seraya menatapi Ea yang berjalan masuk. “Duduklah Ea.” Ziona berucap seraya mencampurkan beberapa air kedalam mangkuk besar yang ada di hadapan kaca lemari tersebut. Ea mengikuti perintah Ziona, berjalan menuju kursi yang berada disamping tempat tidur Sang Bunda dan duduk terdiam dengan sangat lama, memperhatikan bagaimana kegiatan Bundanya mencampurkan seluruh air yang ternyata adalah ramuan tersebut. “Bunda, saya khawatir pada Kakak. Siapa sebenarnya Pangeran Crown Imperial itu? Apakah Crown Imperial yang mereka maksud adalah Kakak?” Ea yang mulai gelisah karena menunggu itupun mengutarakan semua hal yang ada di dalam pikirannya pada sang Ibu. Sedangkan Ziona, menghentikan kegiatannya lalu melirik pada anak bungsunya tersebut untuk menatap wajahnya lebih jelas. “Satu-satunya hal yang membuatku khawatir saat ini hanyalah dirimu Ea...” Tatapan Ziona berubah menjadi sebuah tatapan sedih di mata Ea, sehingga membuat sang Pangeran merasa kebingungan, tidak mengerti maksud dari tatapan sang bunda padanya itu. Ea berdiri dari kursinya untuk menghampiri sang Bunda, dan bertanya. “Bunda, mengapa saya yang bunda khawatirkan? Bukankah Kakak yang seharusnya bunda khawatirkan?” Ziona terdiam, ia tidak bisa untuk terus menyembunyikan rahasia ini kepada Ea lebih lama lagi. Anak bungsunya itu sudah cukup dewasa untuk mengerti siapa dirinya, dan apa bahaya yang saat ini sedang mengintainya. “Karena kau adalah...” “Bunda!” Ziona terkejut ketika mendengar teguran keras yang diiringi dengan terbukanya pintu kamar itu dengan lebar, Ziona terdiam dan bungkam mendengar teguran yang berasal dari mulut anaknya sendiri. Ea melirik untuk menatap Raas yang sekarang berjalan menghampiri keduanya dengan raut wajah yang kesal, sementara Ziona kembali mencampurkan ramuan-ramuannya dengan tangan yang sedikit bergetar karena takut, juga akibat dari teguran tadi. “Apa yang sebenarnya Kakak dan Bunda sembunyikan dari ku?” Ea bertanya pada Raas yang hanya membuang muka kesamping, sementara Ziona hanya terdiam seperti tidak mendengar apapun. “Kakak...”, “Bunda, aku akan mengadakan perundingan mendadak sekarang! Dan ku harap Bunda ikut menghadirinya. Dan atas bentakkan ku tadi, aku meminta maaf Bunda.” Ea terdiam saat Raas memotong ucapanya dan membungkuk hormat kepada Sang Bunda yang tetap membelakangi mereka, sebelum akhirnya Raas pergi meninggalkan Ea tanpa menjawab pertanyaannya. “Bunda...” Ea kini berbalik untuk beralih pada Sang Bunda, menanyakan apa hal yang mereka sembunyikan itu. Namun, saat ia membalikan tubuhnya untuk menatap sang Bunda, disaat itu pula Ziona hanya berjalan melewatinya. Dan yang Ea terima hanyalah angin dari kepergian Sang Bunda yang pergi tanpa suara. Ea terdiam di tempat menyadari bahwa kedua anggota keluarganya telah menyembunyikan sesuatu hal darinya. ‘Apa yang sebenarnya tidak ku ketahui?’ Ea bergumam di dalam hatinya, ia juga sedikit merasa sedih dengan apa yang baru saja mereka lakukan padanya. “Raas, apa keputusanmu?” Ziona berdiri disamping Raas yang diam diatas sebuah balkon Istana, Raas memerlukan sebuah tempat yang mampu menetralkan pikirannya. Saat ini mereka berdua terdiam menatap langit yang mulai menampakkan warna-warni aurora senja yang sangat indah. “Aku akan mengambil Kitab itu!” Raas menjawab seraya menatap Ziona, menunggu reaksi dari sang Bunda yang ia prediksikan antara setuju dan tidak. Ziona terlihat mengangkat kedua ujung bibirnya untuk tersenyum, namun beberapa saat kemudian ia terdiam. ‘Dugaanku benar.’ Gumam Raas dalam hatinya. Meskipun ia mengetahui bagaimana perasaan sang Ibunda saat ini, tetapi ia memilih untuk tidak membahasnya dan memutuskan untuk mencari tahu siapa sosok yang berani memberikannya pilihan seperti itu. “Bunda... Siapa sosok tadi? Bunda pasti mengetahuinya kan?” Raas menatap pada Ziona, menunggu penjelasan yang lebih akurat mengenai siapa sosok itu sebenarnya. “Raas... Ea sakit.” Ziona tidak menjawab pertanyaan tersebut ia justru mengalihkan pembicaraannya, entah karena ia takut dengan sosok tersebut atau karena alasan lainnya. Namun sepertinya Raas tidak menyadari pengalihan pembicaraan itu, justru ia seakan telah diberi tahu mengenai keadaan sang adik yang baru ia ketahui. “Sakit?” Raas mengerenyitkan dahinya dengan bingung, namun kemudian ia terlihat lebih tenang saat menatap raut wajah Ziona. “Baiklah Bunda, Jika ada kesempatan aku akan menyembuhkannya dengan kekuatanku.” Raas tersenyum bermaksud menenangkan Bundanya yang berwajah khawatir namun tanpa Raas ketahui Sang Bunda justru telah berhasil mengalihkan topik pembicaraan mereka. To be continued 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD