Dia datang!

1265 Words
Pagi yang cerah di Kerajaan Iris, mampu membuat seluruh masyarakat bersuka cita meskipun tidak ada pesta yang di rayakan. Pagi itu terasa amat tenang untuk mereka semua, tidak terkecuali Ratu Rwanda yang kini sedang sibuk melihat bunga-bunga yang bermekaran ditaman Kerajaan, dengan ditemani oleh kedua Putrinya yang terbilang cantik jelita. Rwanda selalu menjadikan moment pagi hari adalah moment yang sangat membahagiakan untuk seluruh anggota keluarga kerajaan. Itu sudah menjadi tradisi yang tidak tertulis bagi seluruh masyarakat Kerajaan Iris. “Bagaimana perkembangannya Bunda? Apakah Baginda Nara sudah menjawab tawaran yang Bunda berikan untuknya?” Putri Lydia, anak pertama dari Rwanda yang juga menyandang sebagai Putri pertama Kerajaan Iris itu bertanya dengan penuh semangat pada Rwanda yang kini duduk di salah satu kursi di taman tersebut. Rwanda menatap wajah cantik Lydia dan tersenyum seraya menjawab, “Belum anakku, belum ada jawaban apapun dari Paduka Nara.” Senyuman yang terukir di wajah Rwanda itu adalah senyuman yang selalu mampu membuat kedua anaknya itu bahagia. Kebahagiaan kedua Putri dari Kerajaan Iris adalah hal yang paling sederhana yang pernah ada di muka bumi… Yaitu senyuman sang Ibu. Vanez, Putri kedua Rwanda yang kini sedang asik melihati indahnya bunga mawar itu hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya pelan ketika mendengar percakapan sang Bunda dengan sang Kakak, ia kemudian bergumam kecil. “Anda ini tidak sabar sekali Kak!” mendengar protesan sang adik, Lydia segera melirik kea rah kirinya dan memutar kedua bola matanya dengan tidak peduli. “Tentu saja aku harus cepat, Vanez. Sebelum Baginda menemukan wanita cantik lain, lebih baik aku yang menjadi istrinya kelak kan? Siapa cepat, maka dia yang dapat!” Lydia membalas perkataan Vanez dengan penuh rasa percaya diri, sedangkan Rwanda hanya tersenyum melihat gerakan Lydia yang memainkan rambutnya dengan manja. “Itu pasti anakku, kau pasti mendapatkannya.” Rwanda sangat yakin bahwa salah satu dari Keluarga Monitum akan jatuh hati pada anaknya yang cantik ini. Dia telah memiliki firasat itu sejak lama, dan itu akan terwujud cepat atau lambat. Kegiatan ketiganya terganggu oleh kedatangan seorang pelayan yang tiba-tiba datang dengan berlari kearah mereka, “Ratu! ada yang ingin berbicara dengan anda.” Sang pelayan berucap setengah berteriak pada Rwanda dengan raut khawatir yang terpampang jelas di wajahnya. “Siapa?” Ratu Rwanda segera berdiri dari duduknya dan menemui tamu yang sangat ingin bertemu dengannya itu, sedangkan Lydia dan Vanez di perintahkan untuk masuk ke dalam kamar dan di jaga ketat oleh beberapa prajurit. Rwanda berjalan menuju ruang di mana tamu itu berada, dan terdiam beberapa langkah di hadapannya. “Di mana Pangeran Crown Imperial?” Sesosok makhluk yang mengenakan jubah hitam menakutkan yang menjadi tamunya tersebut bertanya pada Rwanda. Rwanda melangkah mundur dengan kecil ketika ia melihat bagaimana rupa dari makhluk tersebut, dan dengan terbata Rwanda menjawab “D-dia...”.   “Adam, bagaimana menurutmu tentang rencanaku atas p*********n yang akan aku lakukan terhadap Kerajaan Teasel?” Saat ini Raas sedang duduk bersantai di atas takhtanya, tidak ada siapapun yang bersamanya saat ini, termasuk Adam yang tengah ia ajak bicara. Raas hanya duduk sendirian di dalam ruangan itu. “Maaf Baginda, saya tidak bermaksud lancang dengan mengatakan hal ini. Tetapi menurut pandangan dan pertimbangan saya, sebaiknya anda menyelidiki lebih dalam perihal p*********n terhadap Pangeran, sebelum anda menyerang Kerajaan Teasel yang belum tentu pelaku dari p*********n tersebut Baginda.” Adam memberikan saran yang tentu saja akan didengar oleh Raas. Saat ini keduanya memang tidak saling bertemu dan berhadapan, tetapi saat ini mereka sedang berbincang melalui Telepathy. (NOTE : Telepathy adalah kemampuan untuk berkomunikasi atau kegiatan saling bertukar informasi tanpa menggunakan indera, dengan kata lain mereka berbincang hanya dengan menggunakan pikiran mereka.) Mendengar saran yang benar dari Adam membuat Raas menghela nafasnya dan menyandarkan punggungnya pada sandaran yang ada di takhtanya. “Baiklah, aku akan mengikuti saran darimu Adam, Terimakasih.” “Tidak perlu berterima kasih pada saya, Baginda. Saya sudah cukup senang ketika anda memilih untuk bertanya pada saya.” Adam yang mendapatkan ucapan terima kasih dari Raas membantah itu dan mengatakan bahwa Raas tidak perlu berterima kasih padanya, sebab ia sudah merasa senang untuk membantu Raas. “Aku tetap akan berterima kasih! Oh, Adam... Ada hal lagi yang perlu saya jelaskan padamu.” Raas yang tetap teguh pada pendiriannya untuk mengucapkan terimakasih, tiba-tiba teringat akan sesuatu yang harus segera ia luruskan pada Raja tersebut. Sebenarnya bukan hanya pada Adam, tetapi ia rasa ia harus mengatakan ini terlebih dahulu pada Adam sebelum mengatakannya pada Raja yang lain. “Hal? Hal apa itu Baginda?” Adam sedikit terkejut ketika Raas memanggil namanya dengan sedikit berteriak tadi, yang sebenarnya Raas merasa gugup sehingga ia terburu-buru memanggil Adam sebelum mereka menyudahi telepathy itu. “Mengenai Jawaban Ea atas pertanyaan mu dan Find kemarin... Itu hanyalah kejahilannya, kuharap kalian jangan mempercayai perkataannya!” Raas berbicara dengan nada yang serius pada Adam, ia ingin meluruskan apa yang telah ucapkan oleh Ea beberapa saat yang lalu. “A-ah... baiklah Baginda.” Adam sedikit terbata mengingat perkataan yang Ea berikan sebelumnya. Sebenarnya ia sudah melupakan hal itu, dan menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak pernah ia alami, tetapi ketika Raas kembali membahasnya, Adam kembali merasa canggung dan sedikit tidak enak untuk membahasnya. “Dari ucapanmu terdengar seperti kau ragu akan perkataanku?” Raas yang mendengar jawaban terbata dari Adam merasa ragu akan kata ‘Baiklah’ yang tadi ia dengar. “T-tidak Baginda, maafkan saya... Tapi saya sangat percaya dengan apa yang Baginda ucapkan.” Adam berusaha meyakinkan Raas bahwa dirinya telah melupakan masalah itu sehingga tidak pernah mengingatnya lagi. Ia pun sangat percaya pada Raas di bandingkan pada Ea, jadi ketika Raas mengatakan hal itu tidak benar maka hal itu benar-benar salah dan tidak nyata. Raas menghela nafasnya pelan dan menghentikan Telepathy tersebut tanpa berkata apapun pada Adam. Ia hendak beranjak dari tahktanya dan melakukan pengecekan taktik perang di perpustakaan, tetapi belum juga ia berdiri dari tempat itu, terdengar sebuah suara ketukan pintu yang membuatnya sedikit terkejut. Tok-tok-tok! “Ck... Masuklah!” Raas sedikit mendecak kesal karena terkejut, dan mempersilahkan orang di balik pintu itu untuk masuk kedalam ruangannya. Pintu itu terbuka menampakkan sosok Pangeran Monitum yang berdiri dengan raut wajah cemas padanya, Raas yang melihat raut wajah itu pun segera berdiri dan bertanya dengan tak kalah cemas. “Ada apa Ea?” Raas menghampiri sang adik yang masih terdiam di tempatnya, tidak bergerak sesentipun untuk masuk kedalam ruangannya lebih dalam. “Ada yang datang, dan bertanya kepada para penjaga Istana perihal keberadaan Pangeran Crown Imperial!” Ea menjelaskan dengan detail apa hal yang membuatnya merasa cemas, ia yang memang setiap pagi berjalan mengunjungi beberapa penjaga kenalannya itu tidak sengaja mendengar laporan dari salah satu penjaga gerbang yang akhirnya membuatnya memutuskan untuk langsung memberitahu Raas, mendahului para penjaga yang akan melapor. Raas terkejut setangah mati mendengar laporan tersebut, ia melirik pada dua penjaga di belakang lorong sana yang berjalan tergesa-gesa menghampirinya. Raas yakin jika kedua penjaga itu ingin melaporkan hal yang sama dengan Ea. Kedua penjaga itu telah sampai di hadapannya, tetapi sebelum mereka melaporkan keadaan, Raas sudah terlebih dahulu membuka suara dan memberikan perintahnya. “Kawal Pangeran dan Bunda! Dan jangan biarkan siapapun masuk ke dalam kamar Bunda.” Kedua prajurit yang awalnya terkejut itupun  segera mengangguk dan menerima perintah tersebut. Raas menatap pada Ea dan menepuk kedua bahunya, “Ea, diamlah dikamar Bunda bersamanya. Jangan keluar dari sana sebelum aku datang menemuni kalian, kau mengerti?” Raas yang telah memberikan perintah itu segera meninggalkan Ea, tanpa mau mendengar apa yang akan putuskan atas perintah tersebut. Entah Ea akan menerima atau akan menolaknya, yang pasti Ea harus menuruti perintah tersebut.  To be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD