Something has been hidden

1692 Words
“Lalu mengapa Pangeran Ea mengakui bahwa dirinya adalah seorang Clairchanter?” Find kembali bertanya dan menatap pada Raja Ronce dengan tidak percaya. Ronce dengan tenang mengambil segelas cangkir teh miliknya dan meminum the hangat tersebut. Ia kembali menjawab pertanyaan Find yang tidak mempercayai penjelasan awalnya mengenai Clairchanter. “Sayapun tidak tahu.” mereka semua terdiam dalam pikiran mereka masing-masing. “Jadi, apa alasan kalian sehingga kalian dengan lancangnya mendengarkan perbincangan antara Pangeran dengan Baginda? Apa kalian mempunyai niat untuk memata-matai mereka?” Jiwoo menatap keduanya ketika ia mengajukan pertanyaan tersebut, ada sedikit rasa curiga yang ia perlihatkan pada Adam dan Find. Mengetahui bahwa dirinya tengah di curigai, Adam segera menggelengkan kepala membantahnya. “Sebelumnya kami sedang berbincang dengan Pangeran. Hanya menanyakan tentang suatu hal.” Find menjawab dengan tersenyum samar melirik Adam, yang tidak di sadari oleh mereka semua. “Menanyakan? Menanyakan apa?” Aruba yang merasa penasaran, melirik kearah Find dengan sedikit memincingkan matanya. Adam menghela nafasnya, ia tahu bahwa akhirnya akan seperti ini. Raja Aruba lah yang akan menaruh rasa curiga yang paling besar di antara kedua Raja lainnya. “Kami telah berjanji untuk tidak mengatakannya pada siapapun!” Adam segera menjawab pertanyaan tersebut agar Find tidak berbicara apapun lagi, karena jika Find menjawabnya, tamatlah riwayat mereka di tangan Raas. Dan untungnya ketiga Raja tersebut mengiyakan dan tidak bertanya lebih lanjut. “Lalu, setelah itu?” Aruba kembali bertanya, ia mencoba mengintrofeksi keduanya lebih dalam karena rasa penasaran yang ia rasakan melebihi dari apa yang mereka jawab. Secara lain, Aruba merasa belum puas dengan jawaban yang di berikan Adam dan Find padanya. “Saat kami hendak pulang dari sana, kami tidak sengaja melihat Baginda datang...” Adam terdiam menggantungkan kata-katanya, ia melirik Find dengan ujung matanya. Yang sepertinya lirikan tersebut tidak di sadari oleh sang Raja muda. “Lalu apa? Jangan pernah menggantungkan kalimat seperti itu, Adam! Itu membuat saya kesal!” Ronce yang merasa sangat penasaran, mendesak Adam agar tidak berbicara setengah-setengah seperti saat ini dan agar mengatakannya secara menyeluruh. “Baiklah! Kami tidak sengaja mendengar Baginda dan Pangeran membicarakan perihal Clairchanter tadi.” Adam melanjutkan kata-katanya sedetail mungkin, kemudian ia terdiam dengan cepat setelah mendapatkan tatapan dari ketiga Raja di hadapannya itu. “Apa?” Aruba, Jiwoo dan Ronce bertanya di waktu yang hampir bersamaan. Adam mendesis seraya mengerenyitkan dahinya ketika mendengar pertanyaan tersebur yang terdengar sangat keras dan menggema di ruangan. “Jadi kalian benar-benar berniat untuk mendengarkan pembicaraan itu secara tidak langsung?” Ronce kembali bertanya, Adam menghela nafasnya dengan pelan dan terdiam tidak menatap ketiganya. Sementara Find tetap menatap ketiga Raja itu dengan wajah tak bersalah dan menjelaskan, “Kami hanya memutuskan untuk diam sejenak disana. Tetapi… Baginda mengetahuinya, dan terjadilah ancaman tadi.” Find menunduk gugup serta merasa bersalah ketika ia telah menjelaskan semuanya dengan jelas. “Huh... Baiklah, hanya saja aku berharap masalah ini tidak sampai menjadi alasan kematian kalian berdua di tangan Baginda nantinya!” Jiwoo kembali menghela nafasnya, dan mengucapkan hal tersebut seraya menatap pada Adam dan Find yang mengangguk kompak mengiyakan ucapan tersebut.   “Apa maksud anda tadi, Kak? Siapa yang mulai mencariku?” Ea bertanya pada Raas yang kini tengah meminum teh hangat miliknya yang telah disajikan oleh para Pelayan beberapa menit yang lalu, Raas kembali menyimpan gelas yang tadi ia angkat ke atas meja dan ia hanya terdiam menanggapi pertanyaan tersebut. Ea mendecis tanpa suara dan menegur sang kakak yang terlihat tidak memperdulikannya, “Kak?!” Raas melirik pada Ea yang saat ini merasa kesal karena ia tidak menanggapi pertanyaan tersebut. “Sudahlah Ea, itu Bukan apapun. Lupakan saja!” Raas menjawab dengan sangat singkat seperti manusia yang tidak peduli sama sekali dengan apapun yang terjadi di dunia ini. Ea mengerenyitkan dahinya kemudian kembali terdiam mengaduk cangkir teh yang ada dihadapannya berulang kali. “Lalu? Apa yang kau bicarakan dengan kedua Raja itu sebelum aku datang, tadi?” Kini giliran Raas yang bertanya pada sang Adik berniat mengalihkan pembicaraan tersebut karena ia tidak mungkin membahas siapa orang yang mengincar adiknya tersebut. Ea tidak sanggup untuk menahan senyumannya, ia menarik kedua sudut bibir itu kepinggir hingga senyuman lebar yang menakutkan dapat terlihat oleh kedua mata Raas. “Mereka menanyakan perihal hubungan kita. Hm… Istilah apa tadi yang mereka gunakan? Ah, Brother complex! Hahaha... Bukankah sudah jelas saya dan Kakak adalah saudara kandung. Mengapa mereka mempertanyakannya lagi hal tersebut dan menggunakan istilah itu pada kita?” Ea tertawa sangat kencang dan menjelaskan semuanya, Raas hanya terdiam mendengar penjelasan tersebut untuk berpikir secara dalam apa yang Ea ceritakan tersebut karena sang adik menceritakannya seraya tertawa. “Lalu kau menjawab apa? Apa yang kau katakana?” Raas kembali bertanya setelah ia mengerti Kearah mana pembicaraan ini, ia meminta detail penjelasan dari sang adik, sebab ia merasakan firasat buruk ketika mendengar tawa sang adik yang sangat besar tersebut. Ea tidak pernah tertawa sebesar ini, tidak sejak Ayahanda mereka tewas. “Saya menipu mereka, saya berkata bahwa Kakak dan saya memang memiliki Brother complex... Kakak terlalu protectif pada saya bukan?” Ea menjawab hal tersebut dengan lebih sedikit tenang, ia menyunggingkan senyuman canggungnya ketika menyadari bahwa hal yang ia lakukan adalah sebuah kesalahan. Sementara itu, Raas yang berdiri di hadapannya membulatkan kedua bola matanya karena terkejut. “Ea!” Raas berdiri dari tempatnya dan menegur Ea dengan nada yang sangat keras membuat ruangan tersebut menggema. Ea menutup telinganya dan menutup matanya menghindari tatapan sang Kakak. Selang beberapa detik, Ea melepaskan tangannya dari kedua telinganya dan duduk dengan tegap menatap pada sang kakak. “Baiklah, baiklah Kak! Saya akan menjelaskan semuanya besok.” Ea mengangkat tangannya kirinya dan meletakan tangan kanannya di d**a kiri, tanda ia telah berjanji pada sang kakak. “Akan ku pegang janjimu itu!” Raas berucap dengan wajah dinginnya, melihat raut wajah itu Ea hanya mampu bergumam dalam hati. ‘Dasar pemarah! Baru berbuat seperti ini saja sudah semarah ini! Apalagi jika aku berbuat melebihi batas?’ Disisi lain, Raas yang menatap raut wajah sebal milik Ea berpikir dengan lelah ‘Dia ini benar-benar menginginkan jika aku berada dalam  sebuah masalah besar!’ Sedangkan dari kejauhan, terlihat seorang wanita menggunakan gaun panjang yang mewah tengah berdiri menatap pada kedua anak laki-lakinya. Ya... Dialah Yang Mulia Ratu Ziona, seorang wanita yang memiliki paras cantik yang harus menerima kenyataan bahwa kini dirinya menjadi seorang janda. Ia hanya tersenyum bahagia melihat kedua anak laki-lakinya yang sangat ia cintai itu, tengah berbincang dengan akur. Tidak ada hal lain lagi di dunia ini yang ia inginkan kecuali kebahagiaan kedua putranya.   “Yang Mulia Ratu Ziona, saya telah membawakan barang yang anda inginkan.” Ziona melirik pada seorang Prajurit Zinnia Scarlet yang datang menghampirinya dan menyodorkan sebuah bungkusan berbentuk kotak pada Ziona. Ziona mengambil kotak itu dengan sangat hati-hati, bagaikan memegang sebuah gelas antik yang dapat retak kapanpun. “Terima kasih, kau boleh kembali!” Ziona berucap pada Prajurit tersebut dan tersenyum puas dengan apa yang telah ia dapatkan. Sang Prajurit mengangguk paham jika tugasnya telah selesai, dan segera kembali ketempatnya bertugas. “Bunda! Benda apa itu?” Sebuah suara yang terdengar oleh Ziona dan sukses membuat Ziona terkejut hingga hampir menjatuhkan kotak yang ia pegang tersebut. Jika saja Ziona tidak berhati-hati, maka kotak tersebut akan mendarat ke atas lantai dan hancur berkeping-keping. Ziona melirik kearah dari mana suara itu berasal dan ia menatap sebal pada orang yang telah mengagetkannya itu, “Kau membuat Bunda terkejut Raas!” Ziona memprotes sang Raja, sementara Raas yang mendapat protesan itu hanya terkekeh pelan sebagai perkataan maafnya. “Maafkan aku Bunda, bukan maksudku untuk membuat Bunda terkejut. Hanya saja... Benda apa itu?” Raas menyampaikan permintaan maafnya dan kembali bertanya seraya menunjuk kotak yang tengah Ziona pegang di tangannya. Dari kejauhan, Ea hanya memerhatikan keduanya. Ia memang hanya diam di tempatnya ketika Raas dengan tiba-tiba berjalan untuk menghampiri sang Bunda saat melihat kedatangan salah satu Prajurit Zinnia. “Bukan apapun!” Ziona menjawab pertanyaan tersebut dengan sangat singkat dan memiliki kesan gugup. Setelahnya ia pergi meninggalkan Raas dengan terburu-buru, sehingga Raas menaikkan satu alisnya dan berbalik memandang sang Adik yang terlihat kebingungan sama seperti dirinya. “Ku rasa sepetinya ada yang Bunda sembunyikan dari kita Ea!” Raas kembali menghampiri Ea yang masih terduduk seperti awal. Ea mengangguk setuju dengan kecurigaan Kakaknya itu, dan menatap kearah lorong yang di mana adalah tempat ibunya berlari tadi. “Apa menurut Kakak kita harus selidiki itu?” Kemudian Ea berbalik untuk menatap Raas yang kembali meminum tehnya. Sebuah gelengan kepala, terlihat olehnya. Raas tidak menyetujui usulan yang diberikan Ea padanya tersebut, karena ia masih memegang teguh kesopan santunan. “Itu tidak sopan Ea!” Mendengar penolakan tersebut, Ea hanya mengangguk pelan kemudian terdiam sejenak untuk memikirkan sesuatu. Namun sebuah ingatan tentang rencana sang kakak yang akan menyerang sebuah kerajaan muncul di dalam pikirannya, membuat Ea mengangkat kepala untuk langsung bertanya pada Raas. “Kakak, dan perihal Kerajaan Tease...” “Tenanglah Ea, aku akan memerangi mereka!” Raas dengan santai memotong perkataan Ea yang belum sempat dikeluarkan seluruhnya. Karena dengan hanya melihat sorot mata sang adik, ia sudah dapat mengetahui apa yang akan Ea ucapkan padanya. “Jangan!” Ea tidak menyetujui hal itu, dalam hatinya ia melanjutkan kata-kata yang tidak bisa ia ucapkan pada Raas. ‘Jangan berperang Kak, aku takut kau tidak kembali seperti Ayah.’ Ea terdiam mengingat kejadian di mana saat Sang Ayah berjanji bahwa ia akan segera pulang dari medan peperangan padanya. Namun pada kenyataannya, sang Ayah pulang dengan keadaan tidak bernyawa. Hal it uterus membekas dalam pikiran Ea, yang menjadikan dirinya ketakutan ketika Raas mengatakan bahwa ia akan pergi berperang. Ia mengalami sebuah trauma yang tidak terlihat dan tidak disadari oleh banyak orang. Raas mengangkat sebelah alisnya menyadari sikap diam Ea yang saat ini terjadi. Lama ia berpikir tentang apa yang tengah di pikirkan sang adik. Namun beberapa saat kemudian, Raas menganggukkan kepalanya dan meyakinkan dirinya bahwa saat ini sang adik pasti mengkhawatirkan dirinya. “Aku tahu apa yang harus kulakukan Ea, tenang saja. Aku pasti akan selamat dari peperangan ini.” Raas menenangkan sang adik dan mengatakan hal itu dengan penuh keyakinan. Setelah selesai mengatakan hal itu, Raas pergi meninggalkan Ea yang memasang raut wajah kecewa sekaligus gelisah.  To be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD