Memastikan semuanya

1595 Words
Sebastian, Josh dan Bodhi tengah berada di Kerajaan Quaking. Mereka duduk bersantai dengan segelas anggur yang tersedia, menunggu kedatangan seseorang yang sebelumnya pergi untuk melaksanakan suatu tugas penting yang sudah mereka rencanakkan jauh-jauh hari sebelumnya. “Bagaimana hasilnya?” Bodhi bertanya tanpa melirik seseorang yang datang di belakangnya, akhirnya seseorang yang mereka tunggu telah datang dari misinya. Sosok seseorang yang memakai jubah hitam dan memakai sebuah topeng yang menutupi wajahnya. “Sialan! Adam dan Find masih berada disana saat itu, sangat sulit bagiku untuk membunuhnya.” Sosok berjubah itu duduk di atas sofa mewah di samping para Raja tersebut dengan lelah, ia mengangkat kedua kakinya ke atas sofa sehingga posisinya saat ini setengah berbaring di atas sofa tersebut. Tidak ada sopan santun sama sekali yang ia tunjukkan pada para Raja itu. “Sudah kuduga! Adam akan menghalangi jalan kita, kita harus menyingkirkannya!” Sebastian mengepalkan tangannya dan memukul meja yang ada dihadapannya tersebut, sehingga sebuah dentuman terdengar keras dari meja itu, dan suara gelas yang saling bertubrukan membuat situasi menjadi lebih terdramatisir. Raja Josh terlihat diam memikirkan sesuatu di tempatnya. “Pasti Adam dan Find telah mengetahui suatu hal, sehingga mereka masih berada di Istana Monitum.” Josh menyampaikan pendapatnya yang sedang ia pikirkan, Bodhi mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Josh. Sosok tersebut membuka topeng dan jubahnya, dan ternyata seorang Raja tampan dari Lobelialah di balik semua penyamaran tersebut. Ia terlihat menghela nafasnya dan menaruh jubah serta topeng itu ke atas meja. “Kita desak Find! Bukankah dia hanya seorang Raja baru?” Haris berjalan mengambil cangkir kosong itu memberikan sebuah usulan, dia menuangkan anggur segar yang tersedia dimeja itu kedalamnya kemudian meminum anggur mewah tersebut. Sebastian menggelengkan kepalanya karena tidak setuju. “Tidak semudah itu Haris, Find memanglah seorang Raja baru, namun kulihat dia tidak sebodoh itu.” Ucapnya menatap pada Haris yang duduk di hadapannya dengan santai. “Jadi jika seperti itu, kita harus bagaimana? Apakah kita harus singkirkan Adam?” Bodhi bertanya pada seluruh temannya itu, segelas anggur yang ia mainkan di tanyannya menjadi objek yang sangat menarik untuk ia pandangi dari pada ia harus menatapi satu persatu orang yang ada di dalam ruangan itu. “Menurutku begitu, karena dialah penghalang utama kita.” Sebastian menyetujui usulan dari Bodhi yang sebenarnya adalah sebuah pertanyaan tersebut. Ia sendiri tidak tahu bagaimana cara mereka menyingkirkan Adam, seorang Raja muda yang terbilang lumayan kuat. “Oh... ada satu hal lagi yang harus kalian ketahui! Pangeran Ea mengidap suatu penyakit.” Haris menjelaskan sesuatu yang penting dan pernyataan itu dibalas senyuman gembira oleh Bodhi, Josh dan Sebastian. “Kalau sudah seperti itu, ini rencananya...”   Ronce, Jiwoo dan Aruba tengah berbincang di Istana Kerajaan Broom Negeri Valerian. Ketiga Raja yang berasal dari Negeri yang sama namun berbeda Kerajaan itu, memang bersahabat sejak lama, selain itu umur mereka pun tidak terpaut  jauh dan menjadikan mereka sangat dekat. Seorang pelayan berjalan menghampiri ketiganya yang tengah berbincang santai tersebut, “Permisi Baginda, ada yang ingin bertemu dengan anda.” Ucap sang pelayan yang memberikan hormat pada Jiwoo yang terduduk di ruang tengah Kerajaan bersama dua Raja lainnya. Raja Jiwoo yang mendengar informasi tersebut, mengerenyitkan dahinya. Karena setahunya, hari ini dia tidak memiliki janji bertemu dengan Kerajaan manapun kecuali dengan Aruba dan Ronce. “Siapa?” Jiwoo bertanya pada sang pelayan, memastikan bahwa orang yang datang itu lebih penting dari pada acara minum the dengan kedua sahabatnya. Pelayan tersebut tidak menjawab ketika dua orang yang ia maksud datang memasuki ruangan tersebut. “Kami!” Adam menghampiri ketiganya bersama dengan Find yang mengikuti dari belakang, Adam memang berasal dari Negeri Valerian juga. Namun, ia tidak terlalu dekat dengan ketiga orang teman kakaknya ini. Jiwoo melihat kedatangan keduanya dan mengangguk pada sang pelayan agar pergi dari ruangan itu. “Oh, Adam… Find? Silahkan duduk!” Jiwoo mempersilahkan pada keduanya, dan merekapun segera duduk seraya menghela nafas setelahnya. Ronce dan Aruba saling menatap ketika mereka melihat helaan nafas yang dikeluarkan kedua Raja muda ini di hadapan mereka bertiga. “Ada apa dengan kalian berdua? Sepertinya tertekan sekali!” Raja Jiwoo bertanya pada keduanya saat melihat raut wajah Adam dan Find yang pucat, kedua Raja muda itu menatap padanya dengan tatapan penuh gelisah. “Tentu saja kami tertekan! Bagaimana tidak, ketika Baginda Raas mengancam akan mem...” Adam yang sadar dengan apa yang di ucapkan Find, segera menutup mulut Raja itu dengan telapak tangannya, dan berbisik. “Jangan memberitahu siapapun!” Raja Jiwoo mengerenyitkan dahinya ketika ia masih bisa mendengar apa yang diucapkan oleh Adam pada Find. “Lanjutkan saja Adam! Kami bisa jaga rahasia, apalagi jika ini menyangkut Baginda.” Aruba yang juga mendengar bisikan Adam, berucap padanya. Ia adalah salah satu Raja yang paling Adam hindari, bukan karena takut… Tetapi Aruba memiliki aura yang lain yang membuat orang lain tidak ingin memiliki masalah dengannya. Adam melepaskan bekapan tangannya dan kembali menghela nafas panjang. “Baginda mengancam siapa?” Raja Ronce bertanya memperjelas hal yang di dengar mereka, seluruh Raja itu terdiam ketika beberapa pelayan datang untuk meletakan teh milik Adam dan Find, lalu mereka kembali meninggalkan ruangan tersebut. Setelah memastikan tidak ada siapapun di dalam ruangan itu, Adam mulai menjelaskan pada ketiga Raja ini apa yang sebenarnya terjadi. “Baginda… Mengancam akan membunuh kami.” Adam menjawab pertanyaan tersebut dengan berbisik pelan namun, jawaban itu dapat terdengar oleh ketiga Raja tersebut. “Apa?” Ronce menatap keduanya seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, kemudian ia melirik pada Raja Aruba dan Raja Jiwoo yang juga terlihat terkejut mendengar jawaban Adam. Jiwoo terdiam mengerenyitkan dahinya, ‘Bukan kah Adam sudah dianggap menjadi saudara oleh Raas?’ pikirnya mengingat apa yang selama ini ia lihat ketika Adam bersama dengan Raas. “Mengapa bisa ia mengancam seperti itu pada kalian?” Jiwoo mencoba mengetahui apa alasan keduanya hingga di berikan sebuah ancaman yang seperti itu oleh Raas. Raas bukanlah orang yang akan memberikan ancaman tanpa alasan, ia merupakan seorang Raja yang mempunyai tata karma yang baik. Sehingga mustahil jika Raas akan mengancam sembarang orang semaunya tanpa sebuah alasan. “Sudahlah, kami kesini bukan karena hal itu!” Adam menolak untuk membahas hal tersebut, karena ia memiliki hal lain yang harus ia pastikan. Itulah tujuan mereka menemui para Raja ini di Istana Broom. Adam melirik pada Ronce yang ada di hadapannya, “Saya dan Find mencari anda ke Kerajaan Shamrock. Namun, ternyata anda berada disini, jadi kami kemari untuk langsung menemui anda.” Ronce menaikan satu alisnya mengetahui kedua Raja muda di hadapan mereka ini tengah mencarinya, sementara Raja Jiwoo dan Raja Aruba hanya diam menatap pada Ronce. “Kalian mencari saya? Ada apa sehingga kalian begitu minat untuk datang kemari menemui saya?” Ronce menatap kedua Raja yang lebih muda darinya ini, setelah sebelumnya ia melirik pada kedua sahabatnya yang berdiri di sampingnya itu. “Kami ingin bertanya perihal Clairchanter. Tapi tunggu! Kami bertanya bukan untuk menangkapnya, melainkan untuk mengetahui kebenaran...” Adam berucap dengan pelan dan berhati-hati, karena ia takut ketiga Raja yang lebih tua darinya itu menaruh curiga karena kesalah pahaman. Ronce tersenyum samar mendengar hal tersebut, ia mengerti jika itu tidak mungkin di lakukan oleh Adam dan Find. “Perihal Clairchanter? Silahkan saja Adam.” Ronce menyetujui itu dan mendengarkan apa yang akan ditanyakan oleh Adam perihal Clairchanter. “Mm... Apakah Pangeran Ea adalah salah satu Clairchanter? Apakah Keluarga Baginda Raas adalah keturunan Clairchanter?” Find yang merasa mendapatkan lampu hijau itupun langsung menanyakan intinya tanpa berbasa-basi terlebih dahulu, Ronce terkejut bukan main ketika mendengar nama Pangeran Ea terpanggil sebagai salah satu Clairchanter. ‘Dari mana mereka mendapatkan informasi ini?’ Ronce merasa khawatir ketika mendengar kabar ini, karena ia takut jika berita ini tersebar maka keselamatan sang Pangeran terancam. “Mengapa kalian bisa berpikir seperti itu?” Jiwoo yang ikut terkejut mendengar pertanyaan tersebut, segera melayangkan pertanyaan balik pada keduanya. Find menatap Raja dengan wajah garang itu dengan tatapan lugunya, dan dengan polosnya ia menjawab. “Kami tidak berpikir seperti itu, Raja Jiwoo. Kami tidak sengaja mendengar Pangeran berkata seperti itu pada Baginda Raas beberapa waktu yang lalu.” Ketiga Raja yang baru saja mendengar hal tersebut terkejut, menatap pada Find yang tidak merasa bersalah sama sekali. Sementara di samping Find, Adam yang hanya terdiam sedari tadi, menggelengkan kepalanya saat ia menyadari bahwa Raja di sampingnya itu terlalu blak-blakan dalam menyampaikan suatu hal. “Jangan-jangan, sebab itulah kalian diberi ancaman oleh Baginda Raas? Karena kalian mendengarkan apa yang mereka bicarakan secara pribadi?” Aruba menebak apa yang terjadi pada kedua Raja itu, ia melihat anggukan kepala dari Find dan helaan nafas serta anggukan ragu dari Adam. Jiwoo bersandar pada kursinya dengan menghela nafas berat seraya mengusap dahinya sendiri karena penat yang ia rasakan. ‘Dasar mereka ini! Selalu ingin tahu masalah orang… Jadinya begini kan!’ gerutunya dalam hati, ia belum ingin memberikan ceramah panjangnya pada kedua Raja muda tersebut, ia berpikir lebih baik memberikan ceramahnya setelah mereka melakukan hal yang lebih bodoh lagi dari itu. “Bukan!” Ronce menjawab singkat tanpa berpikir lama mengenai pertanyaan tersebut, jawaban tersebut membuat mereka semua menatap Ronce dengan tatapan heran. Nada suara Ronce yang terdengar dingin itulah alasan keempatnya merasa heran, “Saya mengenal seorang Clairvoyant Enchantress terakhir yang ada di muka bumi ini. Dan itu jelas bukanlah Pangeran Ea, karena Clairvoyant Encanter telah lama tiada. Keturunan hebat itu hanya tersisa satu, yaitu seorang Clairvoyant Enchantress. Namun jika itu mengenai keturunan suci, maka saya tidak tahu... Tetapi yang jelas, Pangeran Ea bukanlah seorang Clairvoyant Encanter karena saya tahu itu!” Ronce menjelaskan dengan penuh penekanan dan keyakinan.  To be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD